Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PERBEDAAN KUALITAS SPERMATOZOA SEXING SAPI SIMENTAL METODE BOVINE SERUM ALBUMIN (BSA) DARI DUA MACAM PENGENCER Indah Agustina Ekowati; Arum Setiawan; Arfan Abrar; Muhammad Gunawan; Oktora Dwi Putranti
Cannarium Vol 21, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v21i1.5788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas semen beku sexing menggunakan pengencer Tris Kuning Telur (TKT) dan Bovifree (BF). Dalam penelitian ini digunakan sampel semen segar sapi Simental jantan sehat, berumur 4 tahun. Setelah penampungan semen, dilakukan pemeriksaan kualitas semen segar secara makroskopis dan mikroskopis.  Kemudian dilakukan tahapan proses sexing. Selanjutnya diperoleh semen hasil sexing pada kolom atas dan kolom bawah yang masing masing dibagi lagi menjadi dua kelompok. Pada kelompok 1 (P1), dilakukan pengenceran semen dengan pengencer TKT. Pada kelompok 2 (P2), dilakukan pengenceran semen dengan pengencer BF. Penelitian dilakukan ulangan sebanyak 4 kali. Parameter kualitas spermatozoa yang diukur adalah persentase motilitas, viabilitas, dan abnormalitas. Data yang diperoleh dianalisa secara statistik menggunakan uji paired two sample t test dengan bantuan program software SPSS 16 for windows dan Microsoft excel. Hasil penelitian menunjukkan persentase motilitas spermatozoa kelompok P1 dan P2 masing-masing adalah ; 26,9%; dan 38,7%. Persentase viabilitas spermatozoa kelompok P1 dan P2 masing-masing adalah 55,65% dan 40,9%. Persentase abnormalitas P1 dan P2 masing masing adalah 5,88% dan 7,06%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan  motilitas, viabilitas dan abnormalitas semen beku Simental hasil sexing. Kata Kunci : Semen beku Sexing,Tris Kuning Telur, Bovifree.
HUBUNGAN DIAMETER FOLIKEL DE GRAAF TERHADAP SUHU BADAN SAAT SIKLUS ESTRUS PADA SAPI BRAHMAN Oktora Dwi Putranti; Langgeng Priyanto; Bayu Utomo
Jurnal Pertanian Khairun Vol 2, No 1: (Juni 2023)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jpk.v2i1.6367

Abstract

Success in achieving pregnancy in cows can be done with the right lust detection. Measurement of the Graaf's follicle greatly determines the estrus cycle in cattle. Precise heat detection can be done by measuring body temperature in cattle. Measurement of body temperature can be done as a way to detect estrus in cows. The purpose of this study was to determine the relationship between the diameter of the Graaf follicle and body temperature  during the estrus cycle in Brahman cattle. Data collection was carried out by observing the diameter of de Graaf follicles using ultrasound, the duration of estrus, body temperature in Brahman cattle which is done every day. The data obtained will be analyzed descriptively and presented in graphical form then the data from ultrasound observations on the diameter of the de Graaf follicle will be presented in tabular form. Based on the results of research on farms at BPTU-HPT Sembawa, it was shown that the size of the Graaf follicles of Brahman cattle during estrus was 29 mm. Body temperature  during estrus were 39.3℃. Based on the results of the study it can be concluded that Brahman cows during estrus experience an increase in body  temperature. An increase in body temperature  is also followed by an increase in the size of the Graafian follicle. The increase in body temperature  is caused by an increase in estrogen levels, which is indicated by an increase in the size of the Graaf follicles during estrus. The high hormone estrogen causes an increase in blood flow body temperature to rise. Keywords: De graaf follicles, Estrus, Body Temperature.
Quantitative and Qualitative Characteristics (Phenotype) of Laying Ducks in Ternate City as the Basis for Local Livestock Breeding in North Maluku Province Fatmona, Sariffudin; Utami, Sri; Putranti, Oktora Dwi
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 16 No. 1 (2023): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v16i1.1518

Abstract

Duck is a producer of animal protein whose production is eggs and meat, is a type of poultry that has the potential to be developed in the city of Ternate. However, until now there has been no characterization research in Ternate City. The aim of the study was to determine the phenotype characteristics as the basis for breeding local cattle in North Maluku. The materials used were adult male and female laying ducks, the variables observed were male ducks, qualitative characteristics were the character of coat color, beak color, eye color and quantitative characteristics were measured body size including femur length, tibia length, shank length, shank circumference, length wingspan, chest length, chest width, chest depth and hip width. calculating the mean formula, standard deviation and coefficient of diversity, qualitative characteristics of ducks using relative frequency analysis. The results showed that the quantitative characteristics of female ducks were more similar than those of male ducks. While the qualitative nature, the color is relatively the same both males and females have brown fur, only one is blackish brown, the skin color of the legs and beak is more dominantly black and brown compared to yellow, black yellow and brown yellow.
Lama Kembali Estrus Pasca Terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Sapi Potong di Kabupaten Jember Jawa Timur Priyanto, Langgeng; Muhakka, Muhakka; Nurdin, Aptriansyah Susanda; Husna, Nisa Aulia; Luqmanulfakim, Arif; Putranti, Oktora Dwi
Cannarium Vol 23, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v23i1.9658

Abstract

Penyakit Mulut dan Kuku memiliki penularan yang sangat cepat pada ternak yang berkuku belah genap dan agen utama penyebab penyakit PMK ini adalah virus foot mouth disease (FMDV). Tujuan penelitian untuk mengetahui kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang ada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2023 di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan pendekatan survey dan penarikan sampel dengan cara purposive sampling dan metode pengumpulan data primer dan data sekunder. Parameter yang diamati pada penelitian ini antara lain jenis sapi potong, riwayat vaksin, sapi kembali estrus, lama sapi sembuh dari PMK. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa populasi sapi potong terbanyak adalah sapi Limosine 63% (110 ekor), Simental 23% (40 ekor), PO 6%  (11 ekor), Simpo 6% (11 ekor) dan Limpo 2% (4 ekor), dengan riwayat vaksin  dua kali 41%, belum pernah 23%,  1 kali 19% dan lebih dari 2 kali 17%, dan lama sapi sembuh serta kembali estrus yaitu 4 – 6 bulan  (35% ; 49%), 1-3 bulan (32% ; 22%) dan lebih dari 6 bulan (33% ; 29%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa jenis sapi potong yang ada di Kabupaten Jember terbanyak adalah Limosine 63% (110 ekor), dengan riwayat vaksin dua kali  41%, sapi potong akan sembuh kembali setelah terserang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dana lama kembali estrus  selama 4 – 6 bulan. Kata Kunci      : Penyakit Mulut dan Kuku, Sapi Potong, lama estrus.
PERBEDAAN KUALITAS SPERMATOZOA SEXING SAPI SIMENTAL METODE BOVINE SERUM ALBUMIN (BSA) DARI DUA MACAM PENGENCER Ekowati, Indah Agustina; Setiawan, Arum; Abrar, Arfan; Gunawan, Muhammad; Putranti, Oktora Dwi
Cannarium Vol 21, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v21i1.5788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas semen beku sexing menggunakan pengencer Tris Kuning Telur (TKT) dan Bovifree (BF). Dalam penelitian ini digunakan sampel semen segar sapi Simental jantan sehat, berumur 4 tahun. Setelah penampungan semen, dilakukan pemeriksaan kualitas semen segar secara makroskopis dan mikroskopis.  Kemudian dilakukan tahapan proses sexing. Selanjutnya diperoleh semen hasil sexing pada kolom atas dan kolom bawah yang masing masing dibagi lagi menjadi dua kelompok. Pada kelompok 1 (P1), dilakukan pengenceran semen dengan pengencer TKT. Pada kelompok 2 (P2), dilakukan pengenceran semen dengan pengencer BF. Penelitian dilakukan ulangan sebanyak 4 kali. Parameter kualitas spermatozoa yang diukur adalah persentase motilitas, viabilitas, dan abnormalitas. Data yang diperoleh dianalisa secara statistik menggunakan uji paired two sample t test dengan bantuan program software SPSS 16 for windows dan Microsoft excel. Hasil penelitian menunjukkan persentase motilitas spermatozoa kelompok P1 dan P2 masing-masing adalah ; 26,9%; dan 38,7%. Persentase viabilitas spermatozoa kelompok P1 dan P2 masing-masing adalah 55,65% dan 40,9%. Persentase abnormalitas P1 dan P2 masing masing adalah 5,88% dan 7,06%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan  motilitas, viabilitas dan abnormalitas semen beku Simental hasil sexing. Kata Kunci : Semen beku Sexing,Tris Kuning Telur, Bovifree.
Pengaruh Pasca Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap Estrus dan Kebuntingan Sapi Potong di Provinsi Jawa Timur Priyanto, Langgeng; Putranti, Oktora Dwi; Susanda, Aptriansyah; Ekowati, Indah Agustina; Abrar, Arfan; Maemunah, Siti
Cannarium Vol 22, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v22i2.9145

Abstract

Salah satu penyakit menular yang bersifat akut infeksius adalah penyakit mulut dan kuku (Foot Mouth Diasease) atau sring disebut dengan PMK. Penyebaran wabah PMK di Indonesia yang di akibatkan oleh adanya salah satunya  lalu lintas ilegal dari negara yang belum terbebas dari PMK. Awal mula outbreak PMK terjadi di Provinsi Jawa Timur, kabupaten Gresik  menjadi kabupaten pertama sebagai awal mula terjadinya outbreak PMK yang kemudian menyebar kebeberapa kabupaten lainnya seperti Mojokerto,  Lamongan dan Sidoarjo. Metode penarikan sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan metode purposive sampling dalam menentukan pengambilan sampel. Wilayah sampel penelitian terdiri dari 5 kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur dengan 31 kecamatan. Kriteria pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu peternak yang memiliki 1 ekor sapi yang terkena PMK. Berdasarkan kriteria populasi tersebut maka diperoleh sampel sebanyak 549 Peternak. Variabel yang diamati yaitu sapi kembali estrus dan sapi mengalami Kebuntingan. Hasil penelitian menunjukkan persentase sampel sapi yang terkena PMK yang dihasilkan pada kuisoner paling tinggi berada di Kabupaten Situbondo 33%, Jember 32%, Lamongan 15%,  Kediri dan Tulungagung 10%. Sapi estrus setelah PMK 1-3  bulan sebanyak 40% , 4-6 bulan sebanyak 44% dan diatas 6 bulan yang lalu sebanyak 16%. Sapi mengalami kebuntingan setelah PMK memiliki persentase yang rendah yaitu hanya 30% sedangkan sapi potong yang belum mengalami kebuntingan sebanyak 70%. Kesimpulan dari penelitian ini penampilan reproduksi sapi potong pasca PMK di Provinsi Jawa Timur mengalami perlambatan kinerja reproduksi dengan panjangnya siklus estrus yang diakibatkan oleh lama sembuh ternak dari PMK, selain itu rendahnya keberhasilan kebuntingan yang diakibatkan asupan pakan yang menurun selama ternak teinfeksi akan menurunkan BCS, sehingga adanya penyimpangan kinerja hormon-hormon reproduksi.
PENGARUH PENAMBAHAN KAFEIN PADA SPERMA KAUDA EPIDIDIMIS SAPI BALI PASCA THAWING TERHADAP JUMLAH OOSIT YANG TERFERTILISASI Putranti, Oktora Dwi
Cannarium Vol 22, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v22i1.8005

Abstract

Penelitian “Pengaruh penambahan kafein pada sperma kauda epididimis sapi Bali pasca thawing terhadap jumlah oosit yang terfertilisasi telah dilakukan selama 10 bulan.  Koleksi testis diambil dari Rumah Potong Hewan (RPH) Cibinong, proses pembekuan sperma epididimis dilakukan di laboratorium Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR), Departemen Reproduksi dan Pathologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, analisis sperma beku pasca thawing dilaksanakan di laboratorium Reproduksi, Pemuliaan dan Kultur Sel Hewan, Puslit Bioteknologi LIPI Cibinong dan proses fertilisasi in vitro (IVF) dilaksanakan di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang Bogor. Tujuan penelitian ini untuk mengukur fertilitas sperma kauda epididimis pasca thawing dengan penambahan kafein pada keberhasilan in vitro fertilisasi (IVF). Metode penelitian ini adalah koleksi sperma kauda epididimis di RPH. Analisis kualitas sperma kauda epididimis pasca thawing dilakukan dengan perlakuan penambahan kafein T0 (0 mg/ml), T2 (2 mg/ml), T4 (4 mg/ml), dan T6 (6 mg/ml) dengan 4 kali ulangan. Parameter utama yang dianalisis adalah fertilitas sperma kauda epididimis secara in vitro fertilisasi. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu arah dan dilanjutkan uji Tukey-W-Procedure dengan SPSS 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fertilitas sperma kauda epididimis pada T2 dan T4 berbeda nyata lebih tinggi (P0,05) dibandinngkan dengan T0 dan T6. Kesimpulan penelitian ini adalah keberhasilan oosit terfertilisasi secara  in vitro pada sperma kauda epididimis pasca thawing dengan penambahan kafein 4 mg/ml adalah 37,50%.
Pengaruh Waktu Sentrifugasi Pada Sexing Spermatozoa Dengan Media Bovine Serum Albumin Terhadap Membran Plasma Utuh Spermatozoa X-Y Sapi Simmental Priyanto, Langgeng; Putranti, Oktora Dwi; Riswandi, Riswandi; Gunawan, Muhammad; Susanda, Apriansyah; Setianingsih, Eva
Cannarium Vol 20, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v20i2.5290

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu sentrifugasi yang tepat pada sexing spermatozoa dengan media Bovine Serum Albumin terhadap membran plasma utuh spermatozoa  X-Y pada sapi Simmental. Penelitian ini dilaksanakan Oktober 2021 sampai dengan November 2021 di Laboratorium Reproduksi dan Kesehatan Ternak Balai Pembibitan Hijauan Pakan Ternak Sembawa. Penelitian ini menggunakan rancangan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan (P1: waktu sentrifugasi 4 menit; P2: waktu sentrifugasi 8 menit; dan P3: waktu sentrifugasi 12 menit) dan 4 ulangan. Parameter yang diamati adalah membran plasma utuh spermatozoa X dan Y. Hasil menunjukan bahwa perlakuan waktu sentrifugasi berpengaruh nyata terhadap membran plasma utuh spermatozoa pada spermatozoa X dan Y (P0,05).  Hasil penggunaan waktu yang tepat yaitu pada P1 dengan waktu sentrifugasi 4 menit dimana nilai lapisan atas membran plasma utuh X semen sexing yaitu sebesar 62,93%, lapisan bawah Y sebesar 63,94%. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu sentrifugasi yang tepat pada sexing spermatozoa dengan media Bovine Serum Albumin terhadap membran plasma utuh spermatozoa  X-Y pada sapi Simmental. Penelitian ini dilaksanakan Oktober 2021 sampai dengan November 2021 di Laboratorium Reproduksi dan Kesehatan Ternak Balai Pembibitan Hijauan Pakan Ternak Sembawa. Penelitian ini menggunakan rancangan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Parameter yang diamati adalah membran plasma utuh spermatozoa X dan Y. Hasil menunjukan bahwa membran plasma utuh spermatozoa pada spermatozoa X dan Y berpengaruh nyata (P0,05) terhadap perlakuan waktu sentrifugasi.  [D1] Hasil penggunaan waktu yang tepat yaitu pada P1[D2]  dengan waktu sentrifugasi 4 menit dimana nilai lapisan atas membran plasma utuh X semen sexing yaitu sebesar 62,93%, lapisan bawah Y sebesar 63,94%.  [D1]Bukan membran plasma yang berpengaruh nyata terhadap perlakuan waktu sentrifugasi, namun sesuai judul, perlakuan waktu sentrifugasi yang berpengaruh nyata terhadap membran plasma [D2]Perlu dijelaskan terlebih dahulu definisi P1, P2, P3 di dalam abstrak
PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KUALITAS AIR PADA KOLAM PEMELIHARAAN IKAN NILA MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDIDAYA SKALA KECIL DI DESA MAFFA, HALMAHERA SELATAN Findra, Muhammad Nur; Samadan, Gamal M.; Putranti, Oktora Dwi; Supyan, Supyan; Duwila, Aryo; Saputra, Adam Dwi
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 4 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i4.2006

Abstract

Small-scale fisheries generally refer to fisheries activities carried out by individuals or small groups using simple equipment and relatively small production capacity compared to large commercial fisheries. It has many obstacles and challenges faced by the perpetrators, including the technology used tends to be very simple. The same problem is also faced by tilapia farmers in Maffa Village, East Gane District, South Halmahera Regency. This community service activity aimed to implement an effective water quality management system in community tilapia rearing ponds, especially small-scale ones in Maffa Village. The activity was carried out in August-September 2024. The stages of activity implementation start from the preparation stage by the implementation team, socialization of activities, counseling to target partners in the form of delivering material related to the topic of activities, implementing the technology of aquaculture pond water quality management systems, and evaluation. The result of this activity is the implementation of counseling activities on effective water quality management systems in aquaculture ponds. In addition, the application of technology in the form of an aeration system was also well implemented, where the target partners' aquaculture ponds currently use a blower equipped with a diffusser to supply dissolved oxygen in the pond. The evaluation of the activity showed that more than 80% of the target partners understood and had skills in the application of this technology, where 81.82% of the cultivator group members understood the material about the technology applied and 90.91% actively participated and had skills in the technology application activities carried out. In conclusion, this activity has been successfully carried out in the form of counseling and the availability of aeration systems in the target partners' tilapia farming ponds.