Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Psyche 165 Journal

Kualitas Hidup Pada Ibu dari Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme Putri Fitriana Herdani; Fredrick Dermawan Purba; Yuliana Hanami
Psyche 165 Journal Vol. 15 (2022) No. 1
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.301 KB) | DOI: 10.35134/jpsy165.v15i1.145

Abstract

Ibu dari anak dengan gangguan spektrum autisme akan menghadapi tantangan pengasuhan dan perawatan anak mereka dibandingkan dengan ibu pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kualitas hidup ibu yang memiliki anak dengan diagnosa gangguan spektrum autisme. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 7 orang yang merupakan ibu dari anak yang didiagnosa gangguan spektrum autisme. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara. Pengambilan data dilakukan pada masa pandemi Covid-19 sehingga 3 ibu diwawancarai melalui saluran platform audio call whatsapp dan 4 ibu wawancara secara langsung sesuai dengan protokol kesehatan. Teknik analisis data menggunakan tematik analisis. Hasil penelitian menujukkan terdapat 23 tema yang menggambarkan kualitas hidup ibu dari anak dengan gangguan spektrum autisme yang terdiri dari empat domain yaitu, kesehatan fisik, psikologis, relasi sosial dan lingkungan. Pada domain kesehatan fisik, mereka merasakan lelah secara fisik maupun psikis. Pada domain psikologis, terdapat perasaan yang dirasakan saat menerima diagnosa dan selama merawat anak dengan autisme. Pada domain relasi sosial, ibu dari anak dengan autisme berpengaruh terhadap hubungan dengan keluarga, teman, tetangga dan pasangan. Dengan adanya dukungan yang diperoleh ibu merasa semangat dan bersyukur dalam merawat anak dengan autisme. Pada domain lingkungan, ibu memiliki kebutuhan untuk melakukan terapi dan sekolah. Ibu menerima hal-hal baru dan memperoleh informasi mengenai autisme dari berbagai sumber. Bagi ibu, fasilitas yang dibutuhkan anak dengan autisme dirasa sudah cukup memadai dari fasilitas kesehatan, transportasi dan kondisi lingkungan fisik.
Adaptasi Alat Ukur Professional Quality of Life pada Psikolog Klinis di Fasilitas Kesehatan Nabila Ghassani Putri; Fredrick Dermawan Purba; Yuliana Hanami
Psyche 165 Journal Vol. 16 (2023) No.1
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.555 KB) | DOI: 10.35134/jpsy165.v16i1.224

Abstract

Professional Quality of Life (PROQOL) is the quality one feels in relation to their work as a helper. Both the positive and negative aspects of doing the job influence ones professional quality of life. People who work in helping professions may respond to individual, community, national, and even international crises. PROQOL-V has been widely researched in Indonesia despite the limitation of its measurement tool and its usage on clinical psychologist subjects. Therefore, it is deemed necessary to adapt PROQOL measurement as a research tool for clinical psychologist in Indonesia. This study aims to adapt the Indonesian version of the PROQOL-V measurement by ensuring that the instrument has good measurements characteristics, namely validity and reliability. This study uses quantitative research. The instrument PROQOL-V consisting of 30 items that was administered to 100 professional clinical psychologist. The evidence of validity was acquired from expert judgment when designing the instrument and Pearson correlation.The reliability was tested using Cronbsch's Alpha coefficient (α). The item analysis found that the Pearson correlation values ranged from 0.214 to 0.718 with r table pearson product moment 0.195, and reliability testing resulted a value of α = 0.692. It can be concluded that the Indonesian version of the PROQOL-V instrument usage on clinical psychologist subjects is valid and reliable.
Solo Supermom: Psychological Well-Being pada Ibu Tunggal yang Kehilangan Pasangan Meninggal Dunia Sukmana, Hafiza Putri; Hanami, Yuliana
Psyche 165 Journal Vol. 16 (2023) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v16i4.288

Abstract

A single mother who lost her spouse due to death bears the dual responsibility of being both a father and mother in the family, including managing the household, educating her children, and supporting herself. This situation places significant physical and mental pressure on her. The spouse’s role as a support system is no longer available to the single mom, and the grief experienced as an independent single mom leads to changes in her psychological well-being. This research aims to provide an overview of the psychological well-being of single mothers who have lost their spouses due to death. The study employs a descriptive qualitative approach with thematic analysis. Data collection involves semi-structured interviews with three participants using snowball sampling. The research findings indicate that single mothers undergo changes in self-acceptance and their current experiences after experiencing profound grief due to abandonment for approximately one year. Social support from the family influences a positive connection with their environment, while a lack of social support results in loneliness and reduced self-esteem. Job instability makes it difficult for single mothers to earn a living and be self-reliant. Social pressures related to the assessment of their status as widows and single mothers are felt by them. Single mothers have life goals related to the future of their children, and for those who are pessimistic, life is often entirely dedicated to their children, with limited opportunities for self-development. This research can be used by mental health promotion program designers and policymakers as additional empirical information on the current condition of single mothers' psychological well-being.
Self-Compassion pada Orang Tua yang Memiliki Anak dengan Down Syndrome Pratiwi, Alyaa; Abidin, Zainal; Hanami, Yuliana
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 2
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i2.337

Abstract

Memiliki anak dengan down syndrome dapat menjadi suatu pengalaman tak terduga dan penuh tekanan bagi sebagian orang tua. Berbagai permasalahan yang dihadapi orang tua, terutama yang terkait dengan kondisi psikologis anak dengan down syndrome, memerlukan solusi khusus untuk melalui masa sulit saat beradaptasi. Salah satu strategi untuk mengatasi masalah yang dihadapi orang tua dengan anak down syndrome adalah strategi coping. Salah satu sumber coping yang efektif adalah melalui self-compassion. Mengembangkan sikap self-compassion dapat membantu keluarga mengatasi tantangan dengan lebih baik. Orang tua dengan self-compassion melihat perilaku anak sebagai tantangan yang dapat diatasi dengan sumber daya internal, sehingga mereka tidak terlalu terbebani atau tertekan. Self-compassion adalah sikap berbaik hati, memahami, serta mengakui bahwa pengalaman diri sendiri adalah bagian dari pengalaman umum yang dialami manusia ketika mengalami suatu kesulitan. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh gambaran self-compassion pada orang tua yang memiliki anak dengan down syndrome. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Partisipan pada penelitian ini adalah dua pasang orang tua yang memiliki anak dengan down syndrome. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara semi-terstruktur secara tatap muka dengan para orang tua. Hasil wawancara dianalisis menggunakan metode thematic analysis berdasarkan 6 langkah thematic analysis. Hasil penelitian menetapkan tema-tema yang berkaitan dengan aspek-aspek self-compassion, berupa self-kindness, common humanity dan mindfulness. Limitasi dan saran untuk penelitian selanjutnya juga dituliskan pada kesimpulan.
Mahasiswa Bahagia: Aktivitas Sosial dan Dampaknya terhadap Kebahagiaan Mahasiswa Putra, Raden Farras Nadhif Panji; Hanami, Yuliana; Hanifah
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 2
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i2.365

Abstract

Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang rawan mengalami permasalahan terkait kesehatan mental apabila dibandingkan dengan populasi umum. Maka dari itu dibutuhkan cara untuk bisa menanggulangi kondisi kesehatan mental mahasiswa yang buruk. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebahagiaan pada mahasiswa adalah Positive Psychology Intervention (PPI). PPI dapat dilakukan dalam berbagai cara, salah satunya ialah aktivitas sosial. Berdasarkan penelitian sebelumnya, aktivitas sosial merupakan salah satu bentuk PPI yang didukung kuat oleh penelitian dapat meningkatkan well-being atau kebahagiaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemaknaan mahasiswa akan aktivitas sosial serta berbagai jenis aktivitas sosial yang dilakukan mahasiswa yang dapat meningkatkan kebahagiaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Partisipan penelitian berjumlah 24 orang mahasiswa dari berbagai fakultas yang diperoleh melalui metode convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui google form dengan menanyakan pemaknaan mengenai aktivitas sosial serta aktivitas sosial seperti apa yang meningkatkan kebahagiaan pada mahasiswa. Data pada penelitian ini kemudian dianalisis dengan melakukan pengodean, kemudian dilakukan proses pencarian tema dengan cara mengelompokkan kode-kode yang serupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sosial dimaknakan sebagai aktivitas yang dilakukan bersama orang lain dan aktivitas yang berdampak positif bagi orang lain. Selain itu, ditemukan empat jenis aktivitas sosial yang dilakukan oleh mahasiswa, yang dikelompokan menjadi Aktivitas Kebaikan, Akademik, Non-Akademik, dan Santai. Secara umum, setelah melakukan aktivitas sosial, partisipan merasakan beberapa manfaat, yang dikelompokkan menjadi Self-Development, Enjoyment, serta Social Gain. Meskipun begitu, ketika dilakukan secara berlebihan aktivitas sosial dapat menimbulkan kelelahan.
Balancing Academic and Personal Life: Challenges for Medical Students Fauziah, Rizqia Shafa; Hanami, Yuliana
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.390

Abstract

Medical students are found to experience stress with a considerable impact because of the academic studies they are undertaking. High demands compared to non-medical students can interfere with other life domains, such as personal life. This interference can manifest in several ways, such as diminished time for social interactions and leisure activities. The purpose of this study was to explore and understand the potential impact on the relationship between academic life and personal life. The research was conducted with a sample of 7 medical student participants from Universitas Padjadjaran. Participants completed a questionnaire with 5 open-ended questions designed to capture their experiences and perspectives in detail. The findings revealed that a significant number of participants struggle with time management, feeling that their academic commitments leave them with minimal time for free activities and social engagements. This imbalance contributes to a sense of inadequacy in maintaining a fulfilling personal life. The study highlighted that a well-rounded personal life is crucial for sustaining optimal academic performance. A good personal life can provide good academic conditions, but the lack of free time for personal life makes participants do other alternatives such as postponing, procrastinating, and causing stress. Addressing these issues requires a holistic approach that not only alleviates academic burdens but also promotes a healthy balance between professional and personal domains. It’s essential for ensuring the well-being and success of medical students in both their academic pursuits and personal life.
Generation Z Women's Attitudes Towards Women's Dual Role Decisions Nurbaiah, Salwa; Ninin, Retno Hanggarani; Hanami, Yuliana
Psyche 165 Journal Vol. 18 (2025) No. 2
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v18i2.532

Abstract

Mature this , increasingly Lots woman educated and open opportunity for they participate in various sector . With thus , the more Lots woman decide For play a role double . Although role double can done woman or man , will but term the tend associated For women who have Marry as well as operate activities in the realm domestic and public . However , the decision For play a role bring up challenge separate research​ This important For done Because undergo role double is not easy things​ for women , especially when must face difficulty in balance between the main answer work and family . Imbalance This can cause various problem such as : conflict , tension psychological , burnout , which ultimately influence flexibility work . Research This aim For explore attitude Gen Z women towards decision role double woman . Writer use approach qualitative descriptive with technique convenience sampling . Researchers This involving five participants woman from Generation Z aged 20-26 years who have understanding about role double . Research results show generally woman Generation Z supports role double woman with motivation main in the form of achievement independence financial , fulfillment actualization self , and improvement mark yourself in society . However , they​ realize existence challenges , such as balance role , pressure psychological , and potential conflict between work and life . Factors that influence formation attitude This covering awareness individual , orientation goals , and influence from family , friends and social media . With That's how Gen Z women see it role double as choices that require strategy, such as management effective time and strong support​​ especially from partner For reach balance career and life personal .