Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sosiohumaniora

PERAN PEREMPUAN DALAM SISTEM KEBUN TALUN DI DESA KARAMATMULYA, KECAMATAN SOREANG,KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Dede Tresna Wiyanti
Sosiohumaniora Vol 17, No 3 (2015): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.528 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v17i3.8336

Abstract

Ketika figur seorang petani digambarkan, seringkali gambaran yang diperoleh adalah seorang laki-laki dengan pakaian penuh lumpur sedang membajak sawah atau mencangkul. Jarang sekali seorang petani digambarkan sebagai seorang perempuan yang sedang mencangkul lahan pertanian sambil menggendong anak kecil di punggungnya, seorang perempuan yang sedang mencari dan mengumpulkan kayu bakar, atau seorang perempuan muda yang sedang memotong rumput untuk memberi makan ternaknya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perempuan ikut berperan di dalam sistem pertanian, namun seringkali peran perempuan terabaikan.Selain itu, hubungan/relasi antara perempuan dan laki-laki atau relasi gender biasanya dianggap sebagai sesuatu yang mutlak dan tidak dapat dirubah. Untuk dapat mengetahui bagaimana peran perempuan, kerja yang merekalakukan, dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya dalam kegiatan pertanian di lahan kering dalam hal ini di kebun talun maka dilakukan penelitian tentang permasalahan tersebut di Desa Karamatmulya, KecamatanSoreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif melalui wawancara mendalam dengan informan kunci dan focuss group discussion dengan kelompok petani perempuan yang melakukan kegiatan pertanian dengan sistem kebun talun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan terlibat di hampir semua kegiatan kebun talun, termasuk pada kegiatan yang termasuk kategori sangat berat dan berat. Ini ditunjukkan dengan tidak ada jenis tanaman yang ditanam di kebun talun yang termasuk kategori tanaman laki-laki (men’s crop). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perempuan memberikan kontribusi yang tidak lebih kecildibanding laki-laki pada kebun talun. Namun, tidak sebanding dengan peran dan kontribusi perempuan terhadap kebun talun, pengambilan keputusan dalam sistem kebun talun masih didominasi laki-laki. Perempuan dapatmemberikan saran, namun keputusan akhir tetap pada pihak laki-laki. Faktor utama yang mempengaruhi relasi (hubungan) antara laki-laki dan perempuan atau relasi gender di lokasi penelitian adalah kondisi ekonomi.
BECOMING MAJIKAN IN OUR OWN FARM: A STUDY ON WOMEN AND AGROFORESTRY IN CIANJUR, WEST JAVA Dede Tresna Wiyanti; Oekan Soekotjo Abdoellah; Johan Iskandar; Parikesit Parikesit
Sosiohumaniora Vol 25, No 1 (2023): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v25i1.44727

Abstract

This study examines the relation between women and agroforestry in Cijedil and Wangunjaya Villages, Cugenang District, Cianjur Regency, West Java. The study of the dynamics of agroforestry management, which is an agricultural practice carried out on forest land or land that resembles a forest, is carried out using an ecofeminist perspective. The study was conducted in two villages in Cianjur, West Java, Indonesia. These two villages are representatives of agroforestry land variations, which consist of forest, agroforestry, and agricultural land. This land type represents the level of human intervention in forest land management. The research was conducted using quantitative and qualitative research methods, using interviews and observation as key data collection instruments. The results of the study found that the division of labor based on gender in agroforestry practices has changed. Significant changes were also found in the relations between women and agroforestry, as well as gender relations in the decision-making process related to agroforestry in farmer households. From an eco-feminist perspective, this study shows that the dynamics of women in managing agroforestry not only increases the role of women, but also strengthens the position of women as employers in their own agroferestry land.