Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

POLA PEMBERIAN MAKAN OLEH IBU PADA ANAK BALITA STUNTING USIA 12–59 BULAN Meutya Nabilah Azzahirah; Dedah Ningrum; Delli Yuliana Rahmat
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 16, No 1 (2025): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v16i1.2633

Abstract

Pola pemberian makan merupakan salah satu faktor penyebab tidak langsung status gizi pada balita. Balita dengan riwayat pola pemberian makan yang tidak tepat lebih besar kemungkinan terkena stunting. Padahal, stunting memiliki dampak negatif seperti berkurangnya kemampuan kognitif dan prestasi akademis, daya tahan tubuh menurun sehingga mudah terserang penyakit, besarnya peluang terkena penyakit tidak menular, dan gangguan kesehatan lainnya di usia lanjut. Berbagai dampak stunting tersebut melatarbelakangi untuk dilakukan penelitian ini. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran pola pemberian makan oleh ibu pada anak balita stunting usia 12–59 bulan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode cross sectional. Sampel penelitian sebesar 36 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik subjek penelitian sebagian besar anak balita berusia antara 36–47 bulan, berjenis kelamin perempuan, dan lahir urutan kedua dalam keluarga. Karakteristik responden penelitian sebagian besar adalah ibu pada kelompok usia produktif dan tidak berisiko, berpendidikan dasar, tidak bekerja, dan memiliki anak berjumlah dua orang. Selanjutnya, mayoritas status gizi anak balita masuk dalam kategori pendek (stunting). Sedangkan berdasarkan pola pemberian makan maka dapat digambarkan bahwa sepertiga dari total jawaban responden dalam memberikan makan pada anak balita stunting adalah tidak tepat. Implikasi keperawatan dari penelitian ini mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam mencegah dan menangani kejadian stunting pada anak balita. Selain itu, perlu adanya peningkatan kompetensi perawat dalam mendeteksi, mencegah, dan mengatasi masalah stunting sehingga dapat mendukung program pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
Hubungan Dukungan Informasional Keluarga dengan Motivasi Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri di SMAN 1 Sukatani Kabupaten Bekasi Rimba Aprillia Asmara; Dewi Dolifah; Delli Yuliana Rahmat
Jurnal Keperawatan Galuh Vol 8, No 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jkg.v8i1.21999

Abstract

Iron deficiency anemia among adolescent girls affects physical health, learning concentration, and academic achievement, while adherence to iron supplement tablet consumption remains low. This study aimed to analyze the association between family informational support and the motivation of adolescent girls to consume iron supplement tablets. This quantitative study employed a correlational design with a cross-sectional approach and was conducted at SMAN 1 Sukatani, Bekasi Regency, involving 215 students selected through proportional stratified random sampling. Data were collected using two Likert-scale questionnaires, each consisting of 20 items measuring family informational support and motivation to consume iron supplement tablets. Data analysis included univariate analysis and Spearman’s rho correlation test. The results showed that 61.86% of respondents had low levels of family informational support, and 63.72% had moderate motivation to consume iron supplement tablets. Spearman’s rho analysis yielded a correlation coefficient of r = 0.665 with p < 0.001, indicating a strong and significant positive association between family informational support and motivation to consume iron supplement tablets. The study concludes that family informational support plays an important role in enhancing adolescent girls’ motivation to consume iron supplement tablets. The implications highlight the need to strengthen family-based health education through accurate and consistent information delivery, as well as enhancing collaboration between schools, health personnel, and parents to improve adherence to iron supplement tablet consumption.
Hubungan Literasi Kesehatan Reproduksi dengan Perilaku Seksual pada Remaja Pertengahan Delli Yuliana Rahmat; Dewi Dolifah; Diding Kelana Setiadi
TRILOGI: Jurnal Ilmu Teknologi, Kesehatan, dan Humaniora Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/trilogi.v7i1.14759

Abstract

Reproductive health literacy is an individual's ability to access, understand, assess, and apply information regarding reproductive functions and processes, which is expected to influence adolescent sexual behavior. This study aimed to determine the relationship between reproductive health literacy and the sexual behavior of middle adolescents. A quantitative research design with a correlational approach was employed, involving 137 respondents selected through accidental sampling. Data were collected using validated and reliable Likert-scale questionnaires for reproductive health literacy and sexual behavior. Data analysis was performed using the Fisher’s Exact Test. The results indicated that the majority of respondents possessed good reproductive health literacy (85.4%), while only a small percentage reported engaging in sexual behavior (1.5%). Statistical analysis yielded a p-value of 0.272 (p > 0.05). In conclusion, there is no significant relationship between reproductive health literacy and the sexual behavior of middle adolescents at SMA N 1 Cimalaka. Efforts to prevent risky sexual behavior include strengthening family roles, providing counseling, fostering positive social environments, monitoring media use, and encouraging participation in organized activities, sports, arts, and religious programs. Limitations of this study include a design that cannot establish causality and an imbalanced data distribution that may influence the analysis.