Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Evaluasi Penggunaan Obat Hipertensi pada Pasien Lansia di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung Ellen Zaquelline Karunia Sari Situmorang; Duma Turu Allo; Titin Sulastri
Tinctura Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v7i1.8250

Abstract

Penuaan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit yang mengurangi fungsi organ, seperti hipertensi. Hal ini menjadi tantangan besar dalam memberikan pengobatan bagi lansia karena adanya risiko interaksi antar obat dan kondisi penyakit lain yang menyertainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi cara penggunaan dan tingkat keberhasilan pengobatan hipertensi pada pasien lansia di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung pada bulan April hingga Juni 2025. Penelitian menggunakan data yang didapat dari 103 catatan medis pasien. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien adalah perempuan (64,08%) dengan usia pra-lanjut (60–69 tahun; 54,9%). Obat yang sering digunakan adalah Calcium Channel Blocker (CCB), yaitu sekitar 43,1%. Obat yang paling sering diresepkan adalah Amlodipin dengan dosis 10 mg dan 5 mg. Dalam hal efektivitas, sebagian besar pasien (65–70%) menunjukkan respons baik terhadap pengobatan, terutama pada kasus hipertensi yang membutuhkan penanganan segera. Penuaan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit yang berkembang perlahan, seperti hipertensi, yang sering terjadi pada orang tua. Faktor seperti interaksi obat dan adanya penyakit lain membuat pemilihan pengobatan menjadi lebih sulit. Penelitian ini mengulas penggunaan dan khasiat obat antihipertensi pada 103 pasien tua di sebuah rumah sakit swasta di Kota Bandung, dari bulan April hingga Juni 2025. Sebagian besar pasien adalah perempuan (64,08%) dan berusia 60–69 tahun (54,9%). Obat yang paling sering digunakan adalah Calcium Channel Blocker (CCB), khususnya Amlodipin dalam dosis 10 mg dan 5 mg. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 65–70% pasien merespons pengobatan dengan baik, terutama bagi yang tidak memiliki kondisi berat. Namun, sekitar 30–35% pasien tidak merasa ada perbaikan, terutama yang juga menderita penyakit lain seperti gagal jantung, stroke, atau masalah ginjal. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas pengobatan antihipertensi sangat tergantung pada kondisi kesehatan pasien. Kesimpulannya, penggunaan obat antihipertensi di rumah sakit ini sudah sesuai dengan standar yang berlaku, tetapi diperlukan pengecekan rutin, pemantauan tekanan darah, dan penyesuaian pengobatan agar hasilnya lebih baik, terutama untuk pasien lansia yang memiliki kondisi penyerta kompleks.
Mekanisme Molekuler Interaksi Pegagan Pada Produksi Nitrat Oksida Secara In Silico: Implikasi Dalam Perawatan Luka Titin Sulastri; Maria Charlottian Suwitono; Marvel Reuben Suwitono
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58733

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme molekuler senyawa aktif Pegagan (Centella asiatica) terhadap isoform enzim Nitric Oxide Synthase (NOS) yaitu endothelial, inducible, dan neuronal, secara in silico untuk mendukung manajemen perawatan luka berbasis bukti. Menggunakan simulasi molecular docking pada target eNOS (PDB code: 4d1o), iNOS (PDB code: 4nos) dan nNOS (PDB code: 4d1n), hasil studi menunjukkan bahwa dari 58 senyawa bioaktif dalam Pegangan yang diteliti, menunjukkan bahwa Isothankunic acid memiliki afinitas ikatan paling kuat dan stabil dengan nilai ΔG mencapai -19,2 kkal/mol (nNOS), -19,9 kkal/mol (eNOS), dan -21,0 kkal/mol (iNOS). Selain itu, senyawa seperti Castilliferol (-11,7 kkal/mol) dan Asiaticoside (-11,3 kkal/mol) menunjukkan interaksi signifikan pada iNOS yang berperan dalam modulasi inflamasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa senyawa aktif Pegagan, khususnya Isothankunic acid, berpotensi besar dalam meregulasi produksi Nitrat Oksida untuk meningkatkan vaskularisasi dan mempercepat fase proliferasi luka. Implikasi hasil penelitian adalah memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam mengintegrasikan ekstrak Pegagan sebagai terapi komplementer topikal yang efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka kronis.
Virtual Screening Senyawa Aktif Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Target Matrix Metalloproteinases (MMP-1 dan MMP-3) William Yustian; Marvel Reuben Suwitono; Titin Sulastri
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25293

Abstract

Penuaan (aging) kulit ditandai oleh degradasi kolagen dan elastin yang dipicu oleh aktivitas berlebihan Matrix Metalloproteinases (MMPs), terutama MMP-1 dan MMP-3. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi senyawa bioaktif kakao (Theobroma cacao L.) sebagai kandidat inhibitor MMP melalui pendekatan Virtual Screening. Sebanyak 30 senyawa aktif dipilih dari database USDA Dr. Duke’s dan PubChem, kemudian diproses menggunakan PyRx dengan AutoDock Vina untuk simulasi docking terhadap reseptor MMP-1 (3SHI) dan MMP 3 (1BIW). Batimastat digunakan sebagai kontrol positif. Hasil docking menunjukkan bahwa beberapa flavonoid kakao memiliki nilai binding affinity yang lebih tinggi dibandingkan batimastat. Isovitexin menampilkan nilai binding affinity tertinggi, yaitu -9,4 kcal/mol terhadap MMP-1 dan -10,4 kcal/mol terhadap MMP-3. Senyawa lain seperti Apigenin-7-O Glucoside, Chrysoeriol-7-O-Glucoside, Luteolin, dan Leucocyanidin juga menunjukkan interaksi kuat melalui ikatan hidrogen, Pi-Pi, dan kontak hidrofobik. Analisis interaksi mengungkap kombinasi jangkar polar dan hidrofobik yang menjaga stabilitas kompleks, meskipun beberapa orientasi ligand masih kurang ideal. Temuan ini menunjukkan bahwa flavonoid kakao berpotensi menjadi sumber kandidat inhibitor MMP untuk aplikasi anti aging berbasis virtual screening.
Virtual Screening Senyawa Aktif Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Target Matrix Metalloproteinases (MMP-1 dan MMP-3) William Yustian; Marvel Reuben Suwitono; Titin Sulastri
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25293

Abstract

Penuaan (aging) kulit ditandai oleh degradasi kolagen dan elastin yang dipicu oleh aktivitas berlebihan Matrix Metalloproteinases (MMPs), terutama MMP-1 dan MMP-3. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi senyawa bioaktif kakao (Theobroma cacao L.) sebagai kandidat inhibitor MMP melalui pendekatan Virtual Screening. Sebanyak 30 senyawa aktif dipilih dari database USDA Dr. Duke’s dan PubChem, kemudian diproses menggunakan PyRx dengan AutoDock Vina untuk simulasi docking terhadap reseptor MMP-1 (3SHI) dan MMP 3 (1BIW). Batimastat digunakan sebagai kontrol positif. Hasil docking menunjukkan bahwa beberapa flavonoid kakao memiliki nilai binding affinity yang lebih tinggi dibandingkan batimastat. Isovitexin menampilkan nilai binding affinity tertinggi, yaitu -9,4 kcal/mol terhadap MMP-1 dan -10,4 kcal/mol terhadap MMP-3. Senyawa lain seperti Apigenin-7-O Glucoside, Chrysoeriol-7-O-Glucoside, Luteolin, dan Leucocyanidin juga menunjukkan interaksi kuat melalui ikatan hidrogen, Pi-Pi, dan kontak hidrofobik. Analisis interaksi mengungkap kombinasi jangkar polar dan hidrofobik yang menjaga stabilitas kompleks, meskipun beberapa orientasi ligand masih kurang ideal. Temuan ini menunjukkan bahwa flavonoid kakao berpotensi menjadi sumber kandidat inhibitor MMP untuk aplikasi anti aging berbasis virtual screening.