Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Inovasi Kurikulum

Identification of curriculum and empirical needs for the writing BIPA 4 GBL model Dewi Suharyanti; Suci Sundusiah; H. Halimah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.65868

Abstract

As a skill that experts place at the highest level in language acquisition, writing skills become considered the most difficult. BIPA level 4 is the initial level of complex writing according to the SKL BIPA Permendikbud No. 27 of 2017. Writing skills considered difficult should be packaged with a fun and meaningful learning model, one of which is developing a Game-based Learning model. Identifying curriculum and empirical needs is the initial stage carried out in developing Game-based Learning. This research aims to identify the curriculum and syllabus of BIPA 4 writing, which aligns with identifying empirical learning needs through field studies of BIPA teachers at home and abroad. The results showed that argumentation text is the most challenging text to learn, while the most accessible text to learn is persuasion text. In terms of grammar, the affixes me-kan, ke-an, and ter- are the most difficult languages to learn, while the most accessible grammar to learn is sentence expansion, conjunctions, rephrases, and technical terms. The results also found that BIPA 4 learners need to read texts related to Indonesian insights, including culinary, biodiversity, culture, local wisdom, and tourism. AbstrakKeterampilan menulis sebagai keterampilan yang ditempatkan para ahli pada tataran paling tinggi dalam pemerolehan bahasa menjadi sebuah keterampilan yang dianggap paling sulit. Jenjang BIPA 4 merupakan jenjang awal pembelajaran menulis yang kompleks menurut Standar Kompetensi Lulusan BIPA Permendikbud No. 27 Tahun 2017. Keterampilan menulis yang dianggap sulit sebaiknya dikemas dengan model pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, salah satunya dengan mengembangkan model pembelajaran berbasis game edukasi atau Game-based Learning. Identifikasi kurikulum dan kebutuhan empiris di lapangan merupakan tahap awal yang dilakukan dalam pengembangan Game-based Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kurikulum dan silabus menulis BIPA 4 yang kemudian diselaraskan dengan identifikasi kebutuhan pembelajaran secara empiris melalui studi lapangan terhadap pengajar BIPA di dalam dan luar negeri. Hasil penelitian didapatkan bahwa teks argumentasi merupakan teks yang paling sulit dipelajari sedangkan teks yang paling mudah dipelajari adalah teks persuasi. Dari segi kebahasaan, imbuhan me-kan, ke-an, dan ter- merupakan kebahasaan yang paling sulit dipelajari sedangkan kebahasaan yang paling mudah dipelajari adalah perluasan kalimat, kata hubung, kata ulang dan istilah teknis. Hasil penelitian juga menemukan bahwa pemelajar BIPA 4 memerlukan teks-teks bacaan yang berkaitan dengan wawasan nusantara atau wawasan ke-Indonesiaan, di antaranya yaitu kuliner, keanekaragaman hayati, budaya, kearifan lokal dan wisata.Kata Kunci: BIPA 4; GBL; identifikasi kurikulum; kebutuhan pembelajaran empiris; keterampilan menulis
The need analysis of BIPA speaking materials and modules for foreign athletes Ray Ardi Putra; Nuny Sulistyani Idris; Suci Sundusiah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66856

Abstract

BIPA (Indonesian Language for Foreign Speakers) is very popular among the international community. This situation can be seen in many foreign students studying Indonesian. BIPA students come from various backgrounds, including business, health, military, academics, and sports. The BIPA sports learning module has also become necessary for BIPA sports students. This is driven by the interest of foreign athletes in studying BIPA, such as Danish badminton players who want to learn Indonesian. This research is an analysis of research and development (RnD) needs with the ADDIE concept, which will produce a product that is developed and validated for the world of education, intending to renew or innovate the development of existing educational products. There are five RnD research procedures with the ADDIE analysis concept: needs, planning and design, development, implementation, and evaluation. Analysis steps were carried out on BIPA students to get responses regarding Indonesian language needs. The type of product being developed is an open BIPA speaking skills module for BIPA athletes learners. However, this research analyzes the need to develop BIPA modules for athletes. Analysis of needs for developing BIPA modules is necessary for BIPA teachers to provide an overview of what modules should be developed. AbstrakBahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) saat ini sangat populer di kalangan masyarakat internasional. Situasi ini terlihat dari banyaknya pelajar luar negeri yang belajar bahasa Indonesia. Pemelajar BIPA berasal dari berbagai latar belakang, antara lain bisnis, kesehatan, militer, akademik, dan olahraga. Modul pembelajaran BIPA olahraga juga sudah menjadi kebutuhan bagi Pemelajar BIPA olahraga. Hal ini didorong oleh minat olahragawan mancanegara untuk mempelajari BIPA, seperti pebulu tangkis Denmark yang ingin belajar bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis kebutuhan penelitian dan pengembangan (RnD) dengan konsep ADDIE yang akan menghasilkan suatu produk yang dikembangkan dan divalidasi bagi dunia pendidikan, dengan tujuan memperbaharui atau menginovasi pengembangan produk pendidikan yang sudah ada. Terdapat lima prosedur penelitian RnD dengan konsep ADDIE, yaitu analisis kebutuhan, perancangan dan desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Langkah analisis dilakukan terhadap mahasiswa BIPA untuk mendapatkan tanggapan mengenai kebutuhan bahasa Indonesia. Adapun jenis produk yang dikembangkan yaitu modul ajar BIPA keterampilan berbicara bagi pembelajar BIPA olahragawan. Namun, dalam penelitian ini berfokus pada analisis kebutuhan pengembangan modul BIPA untuk para olahragawan.Analisis kebutuhan untuk pengembangan modul ajar BIPA menjadi suatu kebutuhan bagi para pengajar BIPA agar dapat memberikan gambaran seperti apa modul sebaiknya dikembangkan.Kata Kunci: Bahasa Indonesia; BIPA; modul; olahragawan
The technique of listening, asking, and problem-solving on the application of Indonesian language teaching materials Diah Latifah; Suci Sundusiah; Nuny Sulistiani Idris; Y. Yulianeta; Yeti Mulyati; Isah Cahyani
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.64107

Abstract

This research examines the power of listening, asking, and solving problems in training in using Indonesian language teaching materials for Indonesian language teachers for foreign speaker military officers. The problem identified is that Indonesian language teachers for foreign-speaker military officers must update their teaching materials according to student characteristics. Teaching materials need to be updated because there have been many changes in vocabulary, including the addition of several words in everyday life, including slang. The training participants are Indonesian language teachers who teach foreign-speaker military officers at Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. The number of training participants was twenty people. Data analysis was carried out qualitatively and quantitatively. Qualitative research was carried out by interpreting the results of questions from training participants and quantitative quasi-experimental analysis to measure the influence of teaching materials training on understanding the use of Indonesian language teaching materials for foreign-speaker military officers. The research results showed that listening, asking, and solving problems succeeded in helping Indonesian language teachers who taught foreign-speaker military officers understand conceptually how to convey Indonesian language teaching materials to students. AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang kekuatan mendengarkan, bertanya dan memecahkan masalah dalam pelatihan penggunaan bahan ajar bahasa Indonesia bagi guru bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing. Permasalahan yang teridentifikasi adalah guru bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing harus memperbarui bahan ajarnya sesuai dengan karakteristik siswa. Bahan ajar perlu diperbarui karena banyak terjadi perubahan kosa kata, termasuk penambahan beberapa kata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bahasa gaul. Peserta pelatihan adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar perwira militer penutur asing di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Jumlah peserta pelatihan sebanyak dua puluh orang. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dengan interpretasi hasil pertanyaan peserta pelatihan dan analisis kuasi eksperimen kuantitatif untuk mengukur pengaruh pelatihan bahan ajar terhadap pemahaman penggunaan bahan ajar bahasa Indonesia bagi perwira militer penutur asing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan, bertanya, dan memecahkan masalah berhasil membantu guru bahasa Indonesia yang mengajar perwira militer penutur asing memahami secara konseptual cara menyampaikan bahan ajar bahasa Indonesia kepada siswa.Kata Kunci: bahan ajar; pelatihan bahasa; pembelajaran berbasis masalah
The urgency of incorporating real-life conversation into IFL learning materials Nina Amalia Nurichsania; Suci Sundusiah; Ida Widia
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.72253

Abstract

While authenticity plays a vital role in foreign language learning, a significant disparity exists between classroom-based learning and the practical use of language in real-world contexts. IFL resources often lack authenticity, failing to mirror the genuine language encounters that learners face beyond the classroom. Therefore, this research explores the motivations, needs, and prior learning experiences of IFL learners to emphasize the importance of integrating real-life conversations into IFL learning materials. This descriptive qualitative research gathered data via surveys and semi-structured interviews with ten foreigners. The findings underscored the varied motivations of participants in learning Indonesian, including personal and familial connections, communication requirements during travel, interests in language, and cultural identity. Participants engaged in instructor-led and self-directed learning as endeavors to boost their proficiency. Intriguingly, there was a discrepancy between their learning experiences and needs. Although the provided IFL materials had successfully fulfilled the learners’ needs in formal settings, they fell short of adequately equipping them for real-world interactions in the intended social settings. Hence, it is suggested that authentic, real-life conversation be incorporated into the IFL materials to meet the diverse practical communication needs of IFL learners. AbstrakKeautentikan memainkan peranan penting dalam pembelajaran bahasa asing, namun pada kenyataannya terdapat kesenjangan yang signifikan antara pembelajaran di kelas dan penggunaan bahasa dalam konteks kehidupan nyata. Sumber belajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) kerap kali kurang mencerminkan penggunaan bahasa Indonesia sesungguhnya yang dihadapi pemelajar di luar kelas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi motivasi, kebutuhan, dan pengalaman belajar pemelajar untuk menekankan pentingnya pengintegrasian percakapan real-life dalam materi pembelajaran BIPA. Peneliti mengumpulkan data melalui survei dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian deskriptif kualitatif ini menyoroti beragam motivasi pemelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia, yakni hubungan pribadi dan keluarga, kebutuhan komunikasi saat bepergian, minat terhadap bahasa, serta identitas budaya. Para pemelajar belajar bahasa Indonesia secara formal dengan instruktur dan secara mandiri sebagai usaha untuk meningkatkan kecakapan berbahasa Indonesia mereka. Meskipun begitu, masih ditemukan kesenjangan antara pengalaman belajar dan kebutuhan belajar para pemelajar BIPA. Walaupun materi BIPA yang tersedia sudah mengakomodasi kebutuhan berbahasa pemelajar di konteks formal, materi tersebut belum memadai dalam mempersiapkan pemelajar untuk interaksi autentik dalam konteks sosial yang dibutuhkan. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, disarankan untuk mengintegrasikan percakapan real-life ke dalam materi pembelajaran BIPA guna memenuhi kebutuhan komunikasi praktis pemelajar BIPA yang beragam.Kata Kunci: Materi autentik; materi BIPA; percakapan kehidupan nyata
Analysis of the need for a survival thematic BIPA dictionary for Handai Indonesia Agus Setiadi; Suci Sundusiah; H. Halimah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.65951

Abstract

The use of dictionaries in beginner-level BIPA learning is important, considering the limited vocabulary students master. Things like this apply to formal students in class and Handai Indonesia who are in Indonesia. Handai Indonesia refers to foreign citizens who can speak Indonesian. Apart from being required to adapt to learning in the classroom, Handai Indonesia, who immediately learned Indonesian in Indonesia, was also necessary to survive in his new living environment. Therefore, there needs to be supported vocabulary materials packaged based on their needs. Supported by this vocabulary material, it can be made into a special thematic survival dictionary that is easy to use. This research analyzes Handai Indonesia's need for a survival thematic dictionary. The method used in this research is descriptive. The needs analysis results show that public transportation is the place or situation that Handai Indonesia most needs in terms of survivability in Indonesia. Many Handai Indonesians experience vocabulary problems when using public transportation services, so they need a transportation-themed survival dictionary, and the type of dictionary they need is a digital dictionary. Images contain explanations and examples of sentences, conversations, and audio. AbstrakPenggunaan kamus dalam pembelajaran BIPA level pemula merupakan hal yang penting mengingat terbatasnya kosakata yang dikuasai oleh pemelajar. Hal ini tidak hanya berlaku bagi pemelajar formal di kelas tetapi juga para Handai Indonesia yang berada di Indonesia. Handai Indonesia merujuk pada warga negara asing yang mampu berbahasa Indonesia. Selain dituntut untuk dapat beradaptasi dengan pembelajaran di kelas, Handai Indonesia yang langsung belajar bahasa Indonesia di Indonesia juga dituntut untuk dapat bertahan hidup di lingkungan tempat tinggalnya yang baru. Oleh karena itu, perlu adanya sokongan materi kosakata yang dikemas berdasarkan kebutuhan mereka. Sokongan materi kosakata tersebut dapat dibuat menjadi sebuah kamus khusus kesintasan yang bersifat tematik sehingga mudah digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan Handai Indonesia terhadap kamus tematik kesintasan. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa transportasi umum menjadi tempat atau situasi yang paling banyak dibutuhkan handai Indonesia dalam hal kesintasan di Indonesia. Para handai Indonesia banyak mengalami kendala kosakata pada saat menggunakan layanan transportasi umum sehingga membutuhkan kamus kesintasan bertema transportasi dan jenis kamus yang mereka butuhkan adalah jenis kamus digital, rancangan awal kamus dilakukan berdasarkan hasil analisis kebutuhan dengan pengembangan lema kesintasan tema transportasi berbantuan aplikasi digital Android dengan fitur gambar dilengkapi dengan penjelasan dan contoh kalimat, percakapan, dan suara.Kata Kunci: Analisis kebutuhan; Handai Indonesia; kesintasan; kamus tematik kesintasan