Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PENAMBAHAN BIAYA DILUAR TARIF OLEH DRIVER GOCAR PERSPEKTIF YUSUF QARDHAWI : (Studi Kasus Driver GoCar di Kota Medan) Riska Nurajijah Pane; Sugeng Wanto
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 2 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Desember 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i2.1146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perlindungan konsumen terhadap praktik penambahan biaya di luar tarif aplikasi oleh driver taksi online GoCar di Kota Medan, ditinjau dari perspektif Yusuf al-Qardhawi dalam kitab Al-Halal wa Al-Haram Fil Islam. Fenomena ini sering terjadi dengan alasan biaya parkir, biaya tol, kondisi cuaca, jam sibuk, dan faktor lainnya, yang berpotensi merugikan konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis-empiris dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara hukum positif, praktik ini melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Sementara itu, menurut pandangan Yusuf al-Qaradawi, penambahan biaya tanpa persetujuan mengandung unsur gharar, tadlis dan ẓhulm, sehingga bertentangan dengan prinsip tarāḍī dalam akad ijārah dan tidak sah menurut hukum Islam. Peneliti menyimpulkan perlunya pengawasan perusahaan, transparansi tarif, serta edukasi hukum untuk menjamin keadilan dan melindungi hak-hak konsumen.
PERTANGGUNGJAWABAN PENGELOLA GUNUNG MARAPI DALAM KEPUTUSAN MEMBUKA JALUR PENDAKIAN PADA STATUS WASPADA PERSPEKTIF MAQASHID SYARIAH Ryon Kusnandar; Sugeng Wanto
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 5 No. 2 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Desember 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v5i2.1632

Abstract

Penelitian ini menganalisis pertanggungjawaban pengelola gunung marapi yang memberi keputusan membuka jalur pendakian saat gunung berstatus waspada berdasarkan kerangka maqashid syariah dengan menggunakan perspektif Imam al-Ghazali. Maqashid Syariah, sebagai bagian integral dari hukum Islam, bertujuan untuk mencapai kemaslahatan dan menolak kerusakan yang puncaknya diwujudkan melalui perlindungan terhadap Lima Prinsip Esensial (Ad-Daruriyyat Al-Khams). Memberikan izin mendaki saat gunung berstatus waspada diidentifikasi sebagai mafsadah yang mengancam kelima prinsip tersebut, dengan ancaman paling serius tertuju pada Pemeliharaan Jiwa (Hifz an-Nafs) yang menempati prioritas kedua setelah Agama. Upaya penyelamatan jiwa dan penanggulangan medis (Hifz an-Nafs) berada pada tingkat Dharuriyyah tertinggi dan harus didahulukan. Respons terhadap bencana, terutama keselamatan pendaki. Jenis penelitian ini merupakan penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan conceptual approach dan diolah melalui metode kualitaif. Dalam teori maslahah Al-Ghazali, kemaslahatan yang paling tinggi adalah yang bersifat Daruriyyah (primer). Jika ada pertentangan antara maslahat Hifz an-Nafs dengan maslahat di tingkat yang lebih rendah (Hajiyyat atau Tahsiniyyat), maka Hifz an-Nafs harus didahulukan. Erupsi Gunung Marapi telah menginisiasi timbulnya kerusakan (mafsadah) signifikan yang secara langsung mengancam Prinsip esensial Al-Daruriyyat yang wajib dilindungi oleh hukum Islam.
The Relevance of Surah Al-Jinn in Correcting Modern Society’s Understanding of Jinn Myths Sugihardi Sugihardi; Sugeng Wanto; Nur Aisyah Simamora
IJoIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/ijois.1597

Abstract

This study discusses The Relevance of Surah Al-Jinn in correcting social myths about jinn in modern society. Discussions about jinn in contemporary society are often no longer framed within proper theological understanding, but are instead mixed with myths, superstition, popular culture, and exploitation through digital media. Jinn are frequently perceived as beings possessing absolute power, having knowledge of the unseen, determining human destiny, and serving as the primary cause of various psychological disturbances and mystical phenomena. Such conditions give rise to irrational fear, practices of shamanism, the pursuit of wealth through supernatural means, and society’s dependence on unseen powers outside the boundaries of Islamic teachings. The research method used is library research employing a descriptive analytical approach. Primary data consist of the verses of Surah Al-Jinn and classical as well as contemporary Qur’anic exegesis (tafsir) literature, while secondary data are obtained from books, journals, scientific articles, and other literature related to jinn and social myths in modern society. The findings of this study show that Surah Al-Jinn affirms that jinn are creations of Allah SWT who possess intellect, free will, and moral responsibility similar to human beings. Jinn are not beings with absolute power nor do they possess complete knowledge of the unseen. This study also finds that social myths about jinn in modern society emerge from a combination of incomplete religious understanding, local culture, mystical traditions, and the influence of mass media and social media. Surah Al-Jinn plays an important role in correcting these myths through strengthening the values of monotheism (tawhid), rejecting practices of shamanism and dependence on jinn, and emphasizing that all power and knowledge of the unseen belong solely to Allah SWT. Furthermore, Surah Al-Jinn is also relevant in developing a more rational, moderate, critical, and Qur’an-based mindset in modern society when understanding unseen matters.