Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Benturan Ideologi Tvone dan Kompas Tv dalam Konstruksi Pemberitaan Korupsi Soedarsono M; Ibnu Hajar; Musriani Musriani; Kaharuddin Kaharuddin; Muhammad Musawir
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.2918

Abstract

Fairclough berpendapat bahwa analisis tekstual adalah analisis teks yang terkandung dalam wacana. Sebuah teks dipandang sebagai domain yang mengekspresikan pemahaman dan pengalaman penulis tentang teks itu sendiri. Teks terbuka untuk berbagai interpretasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis konflik ideologi dalam wacana berita korupsi di kanal YouTube, media berita TvOne dan Kompas Tv. Ada tiga tahapan untuk menganalisis wacana dari perspektif Norman Fairclough: deskripsi, interpretasi, dan ekplanasi. Pendekatan penelitian yang digunakan meliputi pendekatan metodologis yaitu pendekatan deskriptif-kualitatif dan pendekatan teoritis analisis wacana kritis Norman Fairclough. Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa TvOne dan Kompas Tv mengalami penyusunan kosakata kembali . Selain itu, metafora lebih umum digunakan saat membangun wacana berita di TvOne. Kedua aspek kosakata tersebut dimaksudkan untuk menekankan dan mengaburkan makna yang sebenarnya. Selain kosakata, analisis tekstual juga meliputi aspek tata bahasa dengan mendayagunakan ketransitifan dan kalimat positif-negatif.
SEMIOTIC ANALYSIS IN FORENSIC LINGUISTICS: THE MEANING OF SYMBOLS IN THE TEMPO NEWS OFFICE TERRORISM CASE Muhammad Musawir; Rahma Fitri Alifah
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 7 No. 1 (2025): Language and Literature Studies
Publisher : LP2M IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v7i1.9473

Abstract

Abstract The act of terror against the Tempo Newsroom through the delivery of physical symbols such as a pig’s head and rat carcasses represents a complex form of threatening communication laden with symbolic meaning. This study examines how the symbolic meanings of these acts of terror can be interpreted through a semiotic approach within the framework of forensic linguistics, and how such symbols function as a form of non-verbal threat communication. The objective of this research is to analyze the pig’s head and rat carcasses as cultural signs used in the context of intimidation against independent media. This qualitative descriptive research employs semiotic theories (Saussure and Peirce), Bourdieu’s theory of symbolic violence, and forensic linguistic analysis of indirect speech acts. Data were obtained through document analysis of online news reports, public statements, and relevant academic literature. The findings reveal that the pig’s head and rat carcasses function as symbolic representamen socially constructed as acts of humiliation and warning. These signs carry connotations of impurity, filth, and threats directed at press institutions as a means of controlling freedom of expression. The symbols serve as indirect speech acts that are coercive and intimidating. The study concludes that symbolic violence in the form of non-verbal physical terror can serve as an effective tool of domination, especially when interpreted within the socio-political and cultural context in which it occurs.
Honesty in Language in Public Figures’ Narratives in Tempo Magazine: A Forensic Linguistic Study Musawir, Muhammad
The Future of Education Journal Vol 4 No 5 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i5.639

Abstract

This study aims to analyze the level of linguistic honesty in public-figure narratives published in Tempo Magazine articles, employing the Statement Analysis in Linguistics (SAL) forensic-linguistic model developed by John Olsson. The investigation arises from concerns about public figures’ communication practices, which are often laden with manipulation when addressing legal cases—such as the “special fugitive” scandal. Using a qualitative-descriptive method, the study examines six narratives by public figures (including Anita Kolopaking, Yasonna Laoly, and Listyo Sigit Prabowo) based on three indicators: narrative structure, sequence of events, and association of the narrator with events. The analysis reveals varying levels of honesty: some narratives exhibit a coherent structure and high personal involvement, while others show signs of deception—such as excessive justification, inconsistent pronoun use, and convoluted narrative flow. These findings demonstrate that a forensic-linguistic approach is effective in identifying linguistic manipulation in public discourse and can serve as an evaluative instrument for assessing the integrity of public figures’ communication.
BAHASA DAN KEKUASAAN DALAM PEMBERITAAN ISU BURUH PERSPEKTIF ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH: LANGUAGE AND POWER IN REPORTING LABOR ISSUES FROM THE PERSPECTIVE OF NORMAN FAIRCLOUGH'S CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS Ramadhany, Suci; Musawir, Muhammad
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 4 No. 3 (2025): FEBRUARI-MARET TAHUN 2025
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v4i3.3208

Abstract

Bahasa menjadi instrumen penting dalam pembentukan realitas sosial tersebut. Melalui pilihan diksi, struktur kalimat, dan narasi yang dibangun, media memiliki kemampuan untuk menonjolkan atau menyembunyikan aspek tertentu dari suatu peristiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana media daring nasional merepresentasikan isu buruh melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Dalam kajian ini, bahasa tidak hanya dipandang sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai praktik sosial yang sarat dengan kepentingan ideologis. Penelitian dilakukan dengan menganalisis tiga dimensi utama: teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Hasil menunjukkan bahwa buruh sering kali dikonstruksi sebagai pihak yang mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi melalui pilihan diksi yang negatif dan narasi yang menyudutkan. Praktik diskursif memperlihatkan bahwa redaksi media tunduk pada kepentingan pemilik modal dan struktur kekuasaan politik, sementara dalam praktik sosial, media berperan aktif dalam mereproduksi ideologi neoliberal yang meminggirkan suara buruh. Penelitian ini menekankan pentingnya kesadaran kritis terhadap wacana media dan perlunya penguatan narasi tandingan yang adil bagi kelas pekerja.
Strategi Linguistik Perempuan dalam Menegosiasikan Identitas Sosial di Forum Digital Atikah Nurul Asdah; Muhammad Musawir
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.1657

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk strategi linguistik yang dominan digunakan oleh perempuan di ruang digital, serta menganalisis praktik stance-taking, positioning, dan indexicality berkontribusi dalam konstruksi representasi diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan lensa sosiolinguistik, khususnya teori identitas dan interaksi dari Bucholtz dan Hall. Data berupa tiga belas data naratif dari forum digital dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan tujuh strategi linguistik dominan: emotif-ekspresif, repetisi dan afirmasi, kontras dan antitesis, afiliatif-kolektif, retoris-reflektif, naratif otobiografis, serta deklaratif-imperatif. Strategi-strategi ini mencerminkan perempuan yang menyuarakan ketahanan emosional, menantang norma gender konvensional, dan membangun solidaritas kolektif. Analisis terhadap stance, positioning, dan indexicality mengungkap bahwa identitas dalam ruang digital bersifat relasional dan emergen dinegosiasikan melalui ekspresi afektif, pemilihan posisi sosial, serta tanda-tanda semiotik yang mencerminkan nilai budaya dan ideologi gender. Kebaruan studi ini terletak pada integrasi antara sosiolinguistik interaksional dan teori wacana feminis dalam memahami praktik kebahasaan perempuan di era digital. Kontribusi penelitian ini penting bagi pengembangan kajian bahasa dan gender, dengan menyoroti penggunaan bahasa sebagai alat perlawanan simbolik dan pemberdayaan identitas dalam komunikasi yang dimediasi teknologi.
Tetum Acronyms Used on WhatsApp Messages in Timor Leste Communication Context Soares, Antonio Constantino; Musawir, Muhammad
Gurindam: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 5, No 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/gjbs.v5i2.38754

Abstract

This research aims to investigate the use of Tetum acronyms in WhatsApp messages among the Timorese in Timor-Leste. The topic was chosen due to the increasing prevalence of Tetum acronyms among Tetum speakers in Dili. A qualitative descriptive research method was employed, supported by a documentation technique to collect the data. Once the data were collected, they were analyzed qualitatively. The findings revealed 16 distinct lexical categories in Tetum acronyms. The data included 4 adverbs, 1 verb, 2 adjectives, 5 nouns, 2 pronouns, and 2 grammatical functions.
DEKONSTRUKSI WACANA PHK MASSAL DALAM SURAT TERBUKA CEO STARTUP TEKNOLOGI INDONESIA (2024-2025) Sabir, Adilah; Musawir, Muhammad
Manifestasi: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol 5, No 2 (2025): Juli
Publisher : Manifestasi: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough untuk mendekonstruksi wacana delapan surat terbuka yang ditulis oleh CEO startup teknologi Indonesia yang melakukan PHK massal selama periode 2024–2025. Hasil analisis menunjukkan surat-surat tersebut memanfaatkan eufemisme – seperti istilah “efisiensi” dan “penyesuaian organisasi” – sebagai pengganti kata PHK. Strategi gramatikal seperti pasivasi dan nominalisasi juga dipakai untuk mengaburkan agensi manajerial. Selain itu, surat-surat tersebut dirancang sebagai teks hibrida untuk audiens internal maupun eksternal, dengan referensi intertekstual pada narasi global krisis teknologi. Pada tingkat sosial, temuan memperlihatkan surat terbuka itu mereproduksi ideologi neoliberalisme sekaligus membatasi imajinasi kebijakan alternatif. Secara keseluruhan, analisis ini mengungkap pola wacana yang berfungsi melegitimasi kebijakan PHK massal.