Claim Missing Document
Check
Articles

KONSEP MURAQABAH: WACANA KEILMUAN TASAWUF BERDASARKAN NASKAH FATHUL ‘ARIFIN: KONSEP MURAQABAH: WACANA KEILMUAN TASAWUF BERDASARKAN NASKAH FATHUL ‘ARIFIN Fauzan, Mohammad Hazmi; Darsa, Undang Ahmad; Nani Sumarlina, Elis Suryani
KABUYUTAN Vol 2 No 1 (2023): Kabuyutan, Maret 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i1.145

Abstract

Penelitian ini menganalisis konsep Muraqabah pada Naskah Fathul ‘Arifin yang merupakan salah satu naskah corak keagamaan bidang tasawuf (Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah). Salah satu naskahnya tersimpan di Lembaga Suaka Luhung Naskah (SULUAH) Padang, Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan makna dan impelementasi konsep muraqabah pada Naskah Fathul ‘Arifin. Penelitian ini menggunakan pendekatan filologi dan tasawuf model tematik. Pendekatan filologi adalah pendekatan yang dilakukan untuk menganalisis teks kuno atau tulisan tangan. Sedangkan pendekatan tematik dalam pengkajian tasawuf yakni pendekatan yang mencoba menyajikan ajaran tasawuf sesuai dengan tema-tema tertentu. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif analitis artinya analisis yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat analisis deskriptif yang berarti menggambarkan konsep muraqabah dalam wacana keilmuan tasawuf yang terdapat dalam Naskah Fathul ‘Arifin. Penulis menemukan delapan jenis muraqabah dan maknanya dalam Naskah Fathul ‘Arifin, diantaranya yaitu muraqabah ahadiyah, berupa jenis mawas diri atas sifat Maha Esanya Allah SWT; muraqabah ma‘iyyah, berupa jenis mawas diri akan makna kebersamaan dengan Allah SWT; dan muraqabah aqrabiyah, yaitu berupa jenis mawas diri yang memperhatikan dengan seksama kontemplasi akan makna dan hal kedekatan Allah SWT
KABAYAN, SANG TRICKSTER SUNDA: ANTARA HUMOR DAN KRITIK: KABAYAN, SANG TRICKSTER SUNDA: ANTARA HUMOR DAN KRITIK Mohamad Permana, Rangga Saptya; Nani Sumarlina, Elis Suryani; Ahmad Darsa, Undang
KABUYUTAN Vol 2 No 2 (2023): Kabuyutan, Juli 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i2.163

Abstract

Kisah Trickster, dalam tradisi lisan di seluruh dunia, adalah sebuah cerita yang menampilkan seorang protagonis yang memiliki kekuatan magis dan dicirikan sebagai ringkasan dari hal-hal yang berlawanan. Genre cerita rakyat Trickster muncul dalam beberapa bentuk di setiap budaya, termasuk di Indonesia, khususnya di masyarakat Sunda, lewat sosok Kabayan. Kabayan merupakan sosok yang bisa dititipi pesan, tergantung dari tujuan, motivasi dan misi pengarangnya. Dalam setiap dongengnya, Kabayan tidak pernah lepas dari unsur humor dan beberapa pencipta memasukkan unsur-unsur kritik dalam nuansa humor Kabayan. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan kajian mengenai Kabayan sebagai medium kritik. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menjelaskan bahwa Kabayan bisa digolongkan sebagai sosok Trickster dan untuk menjelaskan bagaimana sosok Kabayan bisa digunakan sebagai medium kritik. Penulis menggunakan metode kajian literatur dalam kajian ini, dengan menggunakan referensi-referensi yang membahas konsep-konsep mengenai Trickster, Kabayan dan tokoh-tokoh sejenisnya, dan Kabayan sebagai medium kritik. Hasil menunjukkan bahwa Kabayan adalah Trickster berwujud manusia yang tergolong ke dalam “Pahlawan Cerdik”, di mana tokoh Trickster lain yang mendekati sosoknya adalah Juha dan Abu Nawas dari Timur Tengah. Kabayan juga diakui secara global sebagai salah satu sosok Trickster dalam buku Trickster and Hero: Two Characters in the Oral and Written Traditions of the World (2012) karya Harold Scheub. Terkait dengan Kabayan sebagai medium kritik, salah satu contoh yang paling relevan adalah ketika Utuy Tatang Sontani menggunakan sosok Kabayan dalam karya pementasan teaternya yang berjudul Si Kabayan (1959), di mana ia menggunakan Kabayan sebagai medium untuk mengkritisi masyarakat Indonesia yang terlalu bergantung pada hal-hal mistis untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka miliki.
MENGUNGKAP PATILASAN KEARIFAN LOKAL SUNDA: MENGUNGKAP PATILASAN KEARIFAN LOKAL SUNDA Nani Sumarlina, Elis Suryani; Ahmad Darsa, Undang; Husen, Ike Rostikawati
KABUYUTAN Vol 2 No 2 (2023): Kabuyutan, Juli 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i2.170

Abstract

Seiring Perkembangan zaman, tinggalan budaya masa silam di era kasajagatan kini, keberadaannya kian terabaikan dan terkikis ‘materi’. Ini bukti ‘kekurangengeuhan’ pemerintah dalam upaya melindungi, memelihara, serta melestarikannya. Patilasan budaya Sunda termasuk benda-benda pusaka yang berada di museum, keraton, maupun kesultanan, karena kurangnya dana pemeliharaan dan penjagaan, beberapa benda pusaka raib digondol orang yang tidak bertanggung Jawab hanya demi segenggam ringgit. Sungguh sangat disayangkan, pedang dan beberapa benda pusaka lainnya pun ada yang raib berpindah tangan ke negeri orang, tidak terkecuali naskah-naskah Sunda buhun ‘kuno’. Benda pusaka, selain yang tersimpan di keraton atau museum, masih banyak patilasan budaya Sunda masa silam yang perlu mendapat perhatian dan perlakuan yang sama dari pemerintah. Di antaranya, prasasti, kabuyutan, situs, maupun naskah serta kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Kepedulian masyarakat Sunda terhadap budaya dan patilasan budaya karuhunnya memang sudah ada yang teraktualisasikan. Tinggalan kearifan lokal budaya Sunda dimaksud termasuk naskah Sunda kuno, ada yang sudah tersimpan aman di Museum Sri Baduga Maharaja Bandung, Museum Geusan Ulun Sumedang, dan Kraton Kacirebonan, Kanoman, Kasepuhan, Museum Pasulukan Loka Gandasasmita Garut, dan Museum Lintas Budaya Nusantara di Mahpar Galunggung, yang tak ternilai harganya. Tulisan ini berupaya mengenalkan kembali tinggalan kearifan lokal dimaksud, melalui metode penelitian deskriptif dan metode kajian filologis, arkeologis, dan kajian budaya. Hasil yang didapat, jika dipelihara dan dikembangkan, serta dikemas dengan baik, tinggalan kearifan lokal Sunda tersebut dapat menjadi objek wisata yang sangat menguntungkan, di samping wahana ilmu pengetahuan dan sarana pendidikan.
TUNAS BERSEMI DI BUMI NUSANTARA: PERTALIAN ANTARA TARUMANAGARA - KUTAI KARTANEGARA BERDASARKAN TRADISI PERNASKAHAN KUNO: TUNAS BERSEMI DI BUMI NUSANTARA: PERTALIAN ANTARA TARUMANAGARA - KUTAI KARTANEGARA BERDASARKAN TRADISI PERNASKAHAN KUNO Ahmad Darsa, Undang; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Nani Sumarlina, Elis Suryani
KABUYUTAN Vol 2 No 2 (2023): Kabuyutan, Juli 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i2.171

Abstract

Pada saat ketika seluruh sistem geopolitik dan ekonomi global nampak berada dalam perputaran perkembangan tatanan baru, sebuah penelaahan terhadap teks-teks tertulis khususnya tradisi naskah kuno mengenai dasar-dasar ideologis dari pemerintahan asli bukanlah tidak pada tempatnya dan malahan mungkin akan menjadi penarik perhatian yang melebihi minat teoretika semata-mata. Konsepsi-konsepsi ideologis keagamaan dan filsafat (religio philosophical) yang menjadi dasar dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masa lalu masih merupakan energi-energi yang hidup yang harus kita perhitungkan, dan tentu saja dengan memasukkan buah-buah pemikiran baru. Dengan demikian, kita mengelakkan pemutusan seluruhnya hubungan dengan masa silam, suatu penghancuran yang berbahaya bagi pemikiran dan kebudayaan bangsa.
Local Expertise the Baduy Indigenous Community as a Literacy Reference in The Millennium Era Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Ganjar Kurnia; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 10 No 1 (2023): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v10i1.25131

Abstract

Every ethnic group has inherited local cultural wisdom from their predecessors. Similarly, the Sundanese people's riches include a wide range of great ideas, religious systems, and perspectives on life. This local wisdom can be utilized as a reference for the next generation, as it is still relevant to modern millennial life. One is related to the habits, traditions, and religious systems practiced by the Baduy traditional community. This indigenous wisdom is reflected in rituals and traditions that the community still follows and fiercely adheres to. This is inextricably linked to their belief system. Baduy society's beliefs are based on Sundanese Wiwitan teachings. The existence of these teachings is intimately related to the customs. This page also seeks to reveal the calculation and calendar system, which will serve as a reference and guideline for 'kolénjér' and 'literature' calculations. This study employs both descriptive analytical research methodologies and multidisciplinary cultural study methods, such as ethnography, social anthropology, communication, and oral traditions. The findings can disclose practices, traditions, religious systems, calculations, and calendars that have previously been hidden and unknown to individuals outside Baduy and are generally significantly different from other belief systems. The findings of this study can be used as a literacy resource for other scientific domains in a multidisciplinary context. 
The Relevance of the Tatamba Mantra Manuscript and Family Medicinal Plants (TOGA) in the Baduy Indigenous Community Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Wina Erwina; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 10 No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v10i2.25774

Abstract

Sundanese manuscripts are still relatively unknown in today's society. Perhaps it is regarded a new science with no benefit to scientific development. In truth, manuscripts and writings as subjects of philological study have been known in Alexandria from the third century BC, according to a character named Erasthothenes. Manuscripts as cultural documents and literary references for other sciences must be made aware of their existence in the current millennium, as many manuscripts' contents remain unknown. One of them is Family Medicinal Plants (TOGA), which is revealed in the manuscript text of the Tatamba mantra and is used by the Baduy indigenous community to boost endurance and immunity. The Tatamba manuscript's significance to Baduy TOGA must be maximized in order to determine the kind, function, dose, processing technique, and therapy actions, as well as the usage of TOGA for health maintenance based on the Tatamba manuscript. Descriptive research, comparative analysis, and text criticism study methodologies, as well as codicology and textology, pharmacology, health communication, and transdisciplinary cultural studies, were investigated. TOGA in the Tatamba mantra manuscript is relevant to the lives of the Baduy indigenous community because it is supported by the ngukus tradition, which is a ngajampé ceremony'reciting mantras' to pray for the safety, health, and welfare of the Baduy indigenous community, which is performed once a year when the ngalaksa tradition is carried out. This topic is relevant not only to philology, but also to other multidisciplinary fields such as agriculture, pharmacy, medicine, cultural communication, anthropology, and public health.
The Integration of the Requirements and Characters of the Pupuh in the Wawacan Panji Wulung Manuscript Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Abdul Rasyad; Wina Erwina
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i1.28065

Abstract

Manuscripts, as a legacy and cultural inheritance of predecessors, are vital cultural documents for the advancement of a society's culture. Consequently, manuscripts must not be undervalued. This is comprehensible, as their existence can still be realized in the Generation Z age. The important and interesting manuscripts studied in this article are manuscripts in the Sundanese literature category in the form of Wawacan, which is closely related to pupuh. Wawacan has an influence on the Sundanese literary treasury. The purpose of this study is to explain the definition, position and classification, as well as the requirements and character of pupuh in an effort to support understanding of the ins and outs of WPW. This article's examination of the literary elements aims to offer an overview, context, and elucidation of the Wawacan Panji Wulung text, which was widely esteemed and utilized as an educational reference, culminating in six print editions during its era. This article is part of qualitative research, employing descriptive analysis methodologies through sociological literary approaches, hermeneutics, which are intrinsically linked to philological studies, both codicologically and textologically, as well as cultural studies in general. The study's results demonstrate the interconnection between the requirements and characteristics of the pupuh, together with the complexities of Wawacan Panji Wulung. This page serves as a reference for literacy across several scientific disciplines in a multidisciplinary context.
Strategi Transliterasi pada Serat Ngelmu Bumi Asia untuk Mengoptimalkan Kemahiran Membaca Aksara Jawa Wening Pawestri; Elis Suryani Nani Sumarlina; Ahmad Undang Darsa; Bani Sudardi
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i2.29942

Abstract

Javanese language lessons have been implemented in schools since elementary school. The decline in the interest and ability of the younger generation in reading Javanese script is a major challenge in preserving the cultural heritage of Indonesian literacy. This study aims to examine the transliteration strategy of the Serat Ngelmu Bumi Asia text as a pedagogical effort to optimize Javanese script reading skills in educational environments. Therefore, a study was conducted on grade X students of SMK Kita Bojonegoro to optimize Javanese script reading skills. The study was conducted using sources from ancient manuscripts and utilizing learning media to achieve optimal results. The method used in this study was a classroom action trial divided into two stages consisting of planning, action, observation/interpretation, and reflection. The results showed a significant increase in student abilities after the implementation of the transliteration strategy using learning media, with an average score increasing from the pre-cycle to the second cycle. Students who initially had difficulty reading Javanese script showed good progress, achieving higher mastery.
Education and Character Development in the Sundanese Manuscript Texts Pupujian and Nadoman in the Millennial Era Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal IKADBUDI Vol. 14 No. 2 (Special Issue) (2025): Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Dae
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v14i2.90487

Abstract

Collecting, describing, transliterating, editing, and studying the Pupujian texts derived from Sundanese manuscripts, codified at Islamic boarding schools, is a challenging endeavor. The contents are religious/Islamic, representing cultural assets derived from the ingenuity of Sundanese forebears, whose presence in the contemporary millennial era is hardly acknowledged in madrasas, mosques, prayer rooms, or Islamic boarding schools. If neglected and unpreserved, it will be lost to history. The examination of Character Education in Sundanese manuscript texts is conducted from a literary and cultural standpoint, focusing on the elements that shape the character of the nation's youth, encompassing discipline, responsibility, heroism, faith, Islamic teachings, prophetic history, Islamology, and the relationships between humans and God, among humans, and with the environment. Utilized descriptive comparative analysis, philological methodologies, codicology, textology, and hermeneutic studies of literary and cultural works to serve as a literacy reference for other disciplines in the contemporary millennial age. The Pupujian manuscript is intricately connected to the 'yellow book,' which is significantly linked to the development of the nation's character and identity.
RINEKASASTRA MAJAS DALAM TEKS NASKAH MANTRA SUNDA: RINEKASASTRA MAJAS DALAM TEKS NASKAH MANTRA SUNDA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.177

Abstract

Unsur majas dalam sebuah teks puisi tidak dapat dilepaskan dari kajian linguistik dan stuktur karya sastra. Demikian pula dalam teks mantra yang memiliki fungsi sangat penting, dalam upaya menunjang kepuitisan teks mantra itu sendiri, di samping unsur rima, irama, diksi, dan citraan. Melalui majas itulah teks mantra mampu menarik perhatian pembaca, membuat lebih hidup, serta dapat menimbulkan kesegaran, terutama dalam upaya menimbulkan kejelasan gambaran angan. Unsur Majas dalam teks naskah mantra Sunda mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain agar gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan lebih hidup. Yang dimaksud majas dalam teks mantra Sunda adalah kiasan kata untuk menghidupkan lukisan maupun perasaan yang akan diungkapkan lebih nyata, tergambarkan lebih jelas, lebih terasa, dan lebih ekspresif. Bahasa yang digunakan dalam majas lebih menonjol, melalui kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya yang biasa, menjadi luar biasa, untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan makna serta ekspresi dengan cara memanfaatkan perbandingan, pertentangan, dan pertautan hal yang satu dengan hal lainnya yang ada dalam sebuah teks mantra. Menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, melalui metode kajian struktur puisi mantra dan maknanya, sehingga majas yang terdapat dalam teks mantra Sunda, yang meliputi majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas pertautan dapat ditelusuri melalui rinekasastra-nya ‘upaya memperhalus perkataan (cerita) agar lebih indah’, karena bahasa itu dianggap hanya sekadar ‘bahan’, keindahan dan kehalusan bahasa menjelma setelah mengalami pengolahan (digubah oleh pengarang).