Claim Missing Document
Check
Articles

KRITIK MENGENAI MORALITAS ORANG KOTA DI FILM-FILM SI KABAYAN Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina
KABUYUTAN Vol 3 No 3 (2024): Kabuyutan, Nopember 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i3.293

Abstract

Si Kabayan dikenal sebagai sosok jenaka, cerdik, dan penuh hikmah dalam menangani masalah sehari-hari. Dalam film-filmnya, ia tidak hanya menjadi simbol kehidupan pedesaan yang sederhana, tetapi juga sering berperan sebagai kritik sosial terhadap gaya hidup, moralitas, dan nilai-nilai orang kota. Konflik yang muncul antara Kabayan dengan tokoh-tokoh "orang kota" kerap menggambarkan perbedaan pandangan moral, di mana moralitas orang kota sering kali digambarkan sebagai ambisius, individualis, bahkan manipulatif, berbanding terbalik dengan nilai-nilai kekeluargaan dan kejujuran yang dipegang teguh oleh masyarakat desa. Kajian ini menganalisis kritik terhadap moralitas masyarakat perkotaan yang direpresentasikan dalam dua film Kabayan, yakni Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) dan Si Kabayan Mencari Jodoh (1994). Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui bagaimana film-film Si Kabayan merepresentasikan kritik-kritik mengenai moralitas orang kota, terutama dalam film Si Kabayan Saba Metropolitan dan Si Kabayan Mencari Jodoh. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis tekstual, penelitian ini mengkaji bagaimana elemen naratif dan visual dalam kedua film tersebut merefleksikan perbedaan nilai moral antara masyarakat kota dan desa. Film Si Kabayan Saba Metropolitan menunjukkan kritik terhadap masyarakat kota yang materialistis dan jauh dari nilai spiritual melalui adegan interaksi Kabayan dengan makelar tanah asal Jakarta. Sementara itu, Si Kabayan Mencari Jodoh mengkritisi pergaulan bebas dan ambisi materialistik melalui konflik antara Kabayan, seorang pemuda desa, dengan seorang wanita kota yang berusaha merayunya. Kajian ini menegaskan relevansi karakter Kabayan sebagai medium kritik sosial terhadap fenomena urbanisasi dan modernitas, serta menggarisbawahi pentingnya nilai tradisional dalam menghadapi perubahan sosial.
TEKS MANUSKRIP MANTRA SUNDA KETERJALINAN IRAMA, DIKSI, DAN SIMILE Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 4 No 1 (2025): Kabuyutan, Maret 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i1.313

Abstract

Manuskrip sebagai dokumen budaya, teksnya di era generasi Z saat ini masih berperan dan memiliki fungsi yang sangat penting, karena mampu mengungkap makna yang bermanfaat sebagai referensi literasi bagi ilmu lain, khususnya bidang sastra, bahasa, budaya, dan komunikasi. Jika dilihat dari strukturnya, teks mantra Sunda termasuk ke dalam bentuk puisi Sunda, yang terikat oleh aturan kepuitisan sebuah karya sastra. Unsur irama, diksi, dan simile tidak terlepas dari rima dan citraan dalam upaya menunjang kepuitisan teks mantra itu sendiri, Keterjalinan unsur irama, diksi, dan simile menarik perhatian pembaca, membuat lebih hidup, serta dapat menimbulkan gambaran angan dan harapan. Irama dan diksi memperjelas makna dalam pembacaan dan teks mantra, demikian juga dengan simile mampu menghidupkan perasaan yang akan diungkapkan lebih nyata dan jelas, dan lebih ekspresif. Bahasa yang digunakan dalam teks mantra melalui keterjalinan irama, diksi, dan simile, melalui kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya yang biasa, menjadi luar biasa, untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan makna serta ekspresi dengan cara memanfaatkan irama, tekanan, diksi, serta simile melalui perbandingan, pertentangan, dan pertautan yang ada dalam sebuah teks mantra. Kajian ini termasuk penelitian kualitatif, melalui metode penelitian deskriptif analisis, dan metode kajian sastra lewat struktur puisi mantra dan maknanya, sehingga hasil dari keterjalinan irama, diksi, dan simile bermanfaat untuk mempejelas dan memperhalus perkataan (cerita) agar lebih indah’, karena bahasa itu dianggap hanya sekadar ‘bahan’, keindahan dan kehalusan bahasa menjelma setelah mengalami pengolahan melalui gubahan seorang pengarang.
KRITIK SOSIAL DALAM FILM-FILM KABAYAN DI ERA ORDE BARU: KETIMPANGAN DESA-KOTA, PERILAKU MATERIALISTIS DAN DAMPAK GLOBALISASI Rangga Saptya Mohamad Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 4 No 1 (2025): Kabuyutan, Maret 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i1.316

Abstract

Artikel ini membahas representasi kritik sosial dalam dua film Kabayan produksi awal 1990-an, yaitu Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) dan Si Kabayan Mencari Jodoh (1994), yang hadir di tengah situasi sosial-politik Orde Baru Indonesia. Kedua film ini tidak hanya menawarkan hiburan komedi, tetapi juga menyisipkan kritik terhadap ketimpangan pembangunan antara desa dan kota, perubahan nilai-nilai masyarakat desa, serta penetrasi budaya global akibat arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menerapkan metode analisis naratif dan semiotik untuk menelaah simbol, dialog, sinematografi, serta representasi karakter dalam kedua film tersebut. Temuan menunjukkan bahwa karakter Kabayan digunakan sebagai metafora dari masyarakat desa yang lugu namun cerdas, yang harus berhadapan dengan kompleksitas modernitas kota. Isu-isu seperti gagap teknologi, stereotip sosial, materialisme, dan disorientasi nilai ditampilkan melalui konflik naratif dan simbol visual, seperti eskalator, jembatan penyeberangan, dan jam tangan. Narasi jenaka yang digunakan menjadi strategi efektif untuk menyampaikan kritik secara halus (polite criticism), mengingat ketatnya sensor budaya pada masa Orde Baru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Kabayan tidak hanya menjadi cermin dari realitas sosial saat itu, tetapi juga menjadi arsip budaya yang mencatat transformasi ideologis masyarakat Indonesia dalam menghadapi ketimpangan dan globalisasi. Dengan demikian, film populer dapat berfungsi sebagai media perlawanan kultural yang penting dalam studi pembangunan dan komunikasi.
KRITIK SOSIAL DALAM FILM-FILM SI KABAYAN DI ERA ORDE BARU: LEGALISASI JUDI, SISTEM IJON, DAN KETIDAKAMANAN MASYARAKAT Rangga Permana; Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.352

Abstract

Artikel ini membahas representasi kritik sosial dalam tiga film Kabayan, yaitu Si Kabayan (1975), Si Kabayan Saba Kota (1989), dan Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), yang diproduksi dalam kurun waktu pemerintahan Orde Baru. Penelitian ini mengangkat tiga isu utama yang terekam dalam narasi film: pertama, legalisasi judi oleh pemerintah dan dampaknya terhadap masyarakat; kedua, sistem ijon yang mencengkeram petani miskin di desa; dan ketiga, ketidakamanan sosial termasuk maraknya penculikan pada era tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis tekstual dengan pendekatan kultural-politik, yang memadukan telaah terhadap unsur sinematografi, dialog, serta konteks historis-sosiologis film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film-film Kabayan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang efektif. Film Si Kabayan (1975) menyindir keras kebijakan negara dalam melegalkan praktik judi yang merusak tatanan moral masyarakat. Film Si Kabayan Saba Kota (1989) secara eksplisit menampilkan penindasan sistemik terhadap petani melalui praktik ijon, sekaligus memperlihatkan ketidakberdayaan aparat desa. Sedangkan dalam Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), kekhawatiran atas penculikan mencerminkan kondisi sosial-politik di mana rakyat merasa tidak aman, baik oleh kriminalitas maupun oleh represi negara. Dengan menjadikan Kabayan sebagai simbol perlawanan kaum marjinal, ketiga film ini menyuarakan keresahan rakyat kecil terhadap ketimpangan struktural di era Orde Baru. Dengan demikian, film Kabayan dapat dibaca sebagai teks kultural yang menawarkan wacana perlawanan terhadap hegemoni negara.
EKSISTENSI SENI TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT SUNDA DI ERA GENERASI Z Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.401

Abstract

Zaman berkembang dan berubah dari masa ke masa seiring pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Hal itu berlaku juga terhadap ketujuh unsur budaya Sunda. Kenyataan ini tentu saja memengaruhi situasi dan kondisi serta eksistensi tatanan kehidupan masyarakat, termasuk unsur seni. Di era Gen Z saat ini, kecanggihan yang terjadi berimbas pula terhadap perkembangan kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada beberapa suku Sunda yang masih bersikukuh dan taat asas mempertahankan ketradisionalan dan adat istiadatnya. Salah satunya masyarakat adat Sunda yang ada di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti Kampung Naga, Kanekes Baduy, Kampung Dukuh, Kampung Kuta, Kampung Sinar Resmi atau Ciptagelar. Terkait dengan hal itu, tentu saja masyarakat adat tersebut harus lebih kuat membentengi diri dari pengaruh luar, yang semakin menggerus unsur-unsur budaya, salah satunya unsur seni, termasuk waditra yang digunakan dan mengiringinya, agar seni yang mereka miliki tidak musnah ditelan masa. Beragam serpihan terpendam berkenaan dengan seni, dapat kita gali dan kita ungkap, dalam upaya menelusuri dan mengkaji warisan tinggalan leluhur orang Sunda. Untuk mengkaji masalah tersebut, tulisan ini menggunakan metode kualitatif, melalui metode deskriptif analisis. Melibatkan metode kajian estetika, hermeneutik, historiografi seni, filosofi seni, sosiologis, antropologis, maupun kajian budaya secara umum.
Jejak Transformasi Budaya: Evolusi Komunikasi Manusia dari Era Lisan hingga Algoritma Digital Rangga Saptya Mohamad Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i1.32459

Abstract

Since the beginning of civilization, communication has progressed from simple gestures and body language to intricate digital systems. Communication is not merely a means of transmitting information; it is also an essential social process in the production of meaning, cultural identity, and societal evolution. This research seeks to examine the evolution of communication as a driving force in the formation, preservation, and transformation of culture over time. Using a descriptive qualitative method and an in-depth literature review approach, this study integrates perspectives from history, anthropology, sociology, and digital media studies, enriched with archaeological data and analysis of two contemporary regulatory case studies: GDPR in the European Union and misinformation handling in the United States. The findings show that every breakthrough in communication—writing, printing, and digitalization—causes structural changes in society, such as the emergence of imagined communities, the differentiation of intellectual classes, and the formation of a surveillance capitalism culture. In the digital era, this shift accelerates cultural norm changes and fosters the emergence of new symbols in cross-cultural communication, while also posing severe issues such as social fragmentation, access inequality, and a digital ethics crisis. This study underlines the importance of a balanced regulatory strategy, collective ethical awareness, and cross-disciplinary cooperation in managing the effects of communication evolution.
Ciri, Peran, dan Kedudukan Seorang Istri terhadap Suami dalam Naskah Babad Awak Salira Isep Bayu Arisandi; Titin Nurhayati Ma'mun; Undang Ahmad Darsa
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.123

Abstract

The entry of Islam in Sundanese area also influenced the written tradition that was present before. One of the results of cultural acculturation is the ancient manuscript Babad Awak Salira (BAS), which contains Islamic teaching values. The BAS manuscript is idenfied into the category of the Sundanese manuscript of the Pesantren literature. The teachings of adab or morals contained in the BAS text relate to the characteristics of a woman, the role of a wife, and the position of a wife in Islamic view. The author chooses to use an Islamic perspective, because the relationship between the discussion in the value of the content is analyzed with the wife's recommendation in Islamic teachings, as well as the relevance of the value of the content to the conditions of Islamic teachings that enter and affect the written tradition. The results showed the same correlation between the content values ​​contained in the BAS text, and the content values ​​in Islamic teachings. In other findings, the BAS text contains high language, because the form of the text is a wawacan (poetry), however, the aesthetic value of past poetry forms does not hinder the delivery of the content value in the text. === Masuknya Islam di Tatar Sunda turut memengaruhi tradisi tulis yang hadir sebelumnya. Salah satu hasil akulturasi budaya adalah naskah kuna Babad Awak Salira (BAS), yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam. Naskah BAS teridentifikasi masuk ke dalam kategori naskah Sunda pustaka pesantren. Ajaran adab atau akhlak yang terkandung di dalam teks BAS berkaitan dengan ciri wanita salihah, peran seorang istri, dan kedudukan seorang istri dalam pandangan Islam. Penulis memilih menggunakan pandangan Islam, karena keterkaitan pembahasan dalam nilai kandungan dianalisis dengan anjuran istri dalam ajaran Islam, serta relevansi nilai kandungan dengan kondisi ajaran Islam yang masuk dan berpengaruh pada tradisi tulis. Hasil penelitian menunjukkan korelasi yang sama antara nilai kandungan yang terdapat di dalam teks BAS, dengan nilai-nilai kandungan dalam ajaran Islam. Dalam temuan lain, teks BAS mengandung bahasa yang tinggi, karena bentuk teks merupakan sebuah wawacan (puisi). Meskipun demikian, keterikatan nilai estetis terhadap bentuk puisi masa lalu tidak menghambat penyampaian nilai kandungan dalam teks.
Speech Acts Study in Text Discourse of Sundanese Mantra Elis Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i3.36463

Abstract

Language evolves alongside the rapid development of technology, science, and globalization, leading modern perceptions to frequently marginalize the Sundanese language as difficult, obsolete, or plebeian. Consequently, the younger generation often loses pride in their identity and prefers foreign languages over their mother tongue. However, as cultural heirs, preserving past history and traditions—ngaraksa, ngariksa, tur ngamumulé—remains vital because contemporary life is deeply rooted in historical developments that reveal the milestones of Sundanese literacy. Contrary to widespread concerns that Sundanese is "dying," the language remains safely documented and preserved across written texts and vibrant oral traditions. This enduring vitality is exemplified by agricultural mantras used by farmers, treatment mantras applied by traditional healers, and ajian kawedukan (power mantras) that persist in modern practice. Adopting a descriptive-analytical research method combined with discourse study, this paper examines these Sundanese mantra texts to analyze their underlying language speech acts. It presents a comprehensive exposure of locutionary, illocutionary, and perlocutionary speech acts, while further evaluating the forms of utterance, impossibility, expressiveness, and assertiveness embedded within the mantras. Ultimately, this study demonstrates how sacred written and oral traditions safeguard the Sundanese language, proving that its rich linguistic heritage and cultural identity remain active, relevant, and well-preserved.