Claim Missing Document
Check
Articles

RAJA-RAJA SUNDA PERIODE KERAJAAN PAJAJARAN BERDASARKAN TRADISI TULIS SUNDA KUNO: RAJA-RAJA SUNDA PERIODE KERAJAAN PAJAJARAN BERDASARKAN TRADISI TULIS SUNDA KUNO Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.185

Abstract

Sumber data penelitian ini berdasarkan tradisi tulisan Sunda kuno berupa naskah daun lontar pada Kropak 406 yang berjudul Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan. Perbandingannya dilakukan dengan menggunakan teks piagam pelat tembaga Kebantenan dan prasasti Batutulis Bogor. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji bukti-bukti tertulis yang menggambarkan kondisi kehidupan para Raja Sunda pasca berdirinya Kerajaan Pajajaran, serta mengungkap latar belakang kondisi sosial yang menyebabkan kronologis berakhirnya pemerintahan kerajaan di wilayah Sunda. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diambil pendekatan teori filologi karena berkaitan dengan proses pengkajian sumber tradisi tertulis, disertai dengan upaya penafsiran isi teks pada sumber data tersebut dengan menggunakan pendekatan hermeneutika. Metode penelitian kualitatif diterapkan untuk memahami fakta di balik realitas yang dapat diamati atau dirasakan secara langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa Kerajaan Sunda lebih dikenal dengan sebutan “Kerajaan Pajajaran” yang berlangsung selama kurun waktu 97 tahun (1482-1579 M). Kerajaan ini diperintah oleh 6 raja: (1) Maharaja Sri Baduga yang menjadi Maharaja Sunda pertama dan Galuh atau Maharaja Pajajaran yang berkuasa selama 39 tahun; (2) Prabu Surawisesa yang bertahta sebagai Maharaja Pajajaran selama 14 tahun; (3) Prabu Ratudewata yang memerintah sebagai Maharaja Pajajaran selama 8 tahun; (4) Sang Prabhusakti yang menyandang gelar Maharaja Pajajaran selama 8 tahun; (5) Prabu Nilakendra yang menjadi Raja Pajajaran; dan (6) Prabu Ragamulya yang merupakan Raja Pajajaran terakhir yang memerintah selama 16 tahun. Pada tahun 1579 M, Kerajaan Pajajaran lenyap dan melebur menjadi Kesultanan Banten dan Cirebon.
MANUSKRIP WAWACAN PANJI WULUNG KRITIK TEKS DAN KAJIAN HERMENEUTIK KARYA SASTRA: MANUSKRIP WAWACAN PANJI WULUNG KRITIK TEKS DAN KAJIAN HERMENEUTIK KARYA SASTRA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i1.213

Abstract

Tulisan ini mengambil objek kajian manuskrip berjudul Wawacan Panji Wulung, karya H. Muhamad Musa, salinan tahun 1862. Manuskrip tersebut diyakini satu-satunya karya sastra Sunda berujud manuskrip, yang disalin ke dalam teks manuskrip Jawa. Manuskrip Wawacan Panji Wulung (WPW) berdasarkan hasil penelitian Sumarlina (1990), teridentifikasi sebanyak delapan buah, terdiri atas dua buah teks naskah dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip) dan enam buah teks naskah cetakan. Namun dalam tulisan ini secara khusus hanya melibatkan tiga buah manuskrip. Teks-teks naskah WPW dimaksud menggunakan huruf Cacarakan dan huruf Latin, berbahasa Sunda dan Belanda. Kedelapan manuskrip itu teksnya tidak ada yang utuh. Melalui garapan filologis, baik kodikologis maupun tekstologis, akhirnya dapat ditentukan tiga buah teks naskah WPW yang lebih banyak digunakan dalam rangka menyusun sebuah Edisi Teks Wawacan Panji Wulung yang lengkap dan bebas dari kesalahan, agar dapat lebih mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat pada saat ini, sehingga akhirnya bisa dipertanggungjawabkan dan dipandang mendekati teks aslinya. Metode penelitian menggunakan deskriptif analisis komparatif. Penggarapan teks didasarkan kepada metode landasan dan metode gabungan. Untuk teks WPW melibatkan pendekatan filologi dan hermeneutik. Kecacatan WPW ini disebabkan oleh gejala salah tulis di dalam tradisi penurunan sepanjang sejarah perkembangannya, meliputi penggantian (substitutions), penghilangan (omissions), penambahan (additions), dan perubahan (transpositions). Edisi Teks WPW yang digubah dalam bentuk wawacan, meliputi sebanyak 28 pupuh yang terdiri atas 1018 pada. Manuskrip WPW termasuk ke dalam salah satu khazanah susastra Sunda yang memiliki nilai tinggi, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra lainnya yang sejaman. Hal ini tampak dari hasil tinjauan dari sudut pandang karya sastra, meskipun tinjauan yang dilakukan belum menyeluruh dan mendalam. Tinjauan dari aspek sastra pada dasarnya hanyalah sebagai pembuka jalan bagi penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai referensi literasi bagi ilmu lain.
IMPLEMENTASI & PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA) KANEKES BADUY BERBASIS MANUSKRIP TATAMBA: IMPLEMENTASI & PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA) KANEKES BADUY BERBASIS MANUSKRIP TATAMBA Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa; Wina Erwina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.236

Abstract

Di era milenial yang serba modern ini, kearifan lokal budaya tinggalan karuhun orang Sunda yang terpendam dalam manuskrip, selayaknya digali, dikaji, dan dikembangkan secara berkesinambungan. Sebagai dokumen budaya, manuskrip memberikan informasi beragam pengetahuan yang masih relevan untuk diimplementasikan dan dimanfaatkan saat ini. Salah satunya teks manuskrip Tatamba, yang berisi seluk beluk Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan pengobatan tradisional, yang masih diimplementasikan terutama di masyarakat adat Kanekes Baduy, yang pada saat Pandemi Covid-19 hampir tidak ada yang terkena wabah tersebut. Hal ini dimungkinkan, karena mereka memanfaatkan TOGA dalam kesehariannya. Tanaman obat keluarga merupakan tanaman hasil budidaya yang berkhasiat sebagai obat, yang bisa ditanam di pekarangan rumah, kebun atau ladang, yang terdiri atas enam kelompok, yakni tanaman liar, umbi-umbian, tanaman pagar hidup, tanaman hias merambat, tanaman hias perdu, dan tanaman pohon peneduh. TOGA yang ditemukan di masyarakat adat Baduy dideskripsi, diinventarisasi, dibandingkan dengan Teks Naskah Tatamba melalui metode deskriptif analisis komparatif, melibatkan metode kajian kualitatif, melalui kajian filologis, yang meliputi kajian kodikologis dan tekstologis, serta kajian budaya secara umum secara multidisiplin. Hasil yang dicapai, selain terkumpulnya berbagai jenis TOGA, yang berguna bagi masyarakat, juga agar masyarakat dapat memanfaatkan TOGA lebih efektif dalam mengobati berbagai penyakit, melalui jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatan yang benar.
KABUYUTAN DALAM TRADISI SUNDA: KABUYUTAN DALAM TRADISI SUNDA Undang Ahmad Darsa; Rangga Saptya Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.244

Abstract

Artikel ini berjudul Kabuyutan dalam Tradisi Sunda. Sumber data kajiannya didasarkan pada tradisi tulis Sunda Kuno berupa naskah lontar, piagam lempengan logam, maupun prasasti. Adapun tujuannya penulisan artikel adalah menelusuri bukti jejak-jejak tempat aktivitas keagamaan berupa kabuyutan yang terpantulkan dalam lingkungan tradisi masyarakat Sunda Kuno pada zamannya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut ditempuh melaui pendekatan filologi karena berkaitan dengan proses kajian sumber tradisi tulis dalam upaya peafsiran data yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian kualitatif diterapkan dalam upaya memahami fakta di balik kenyataan yang dapat diamati atau diindera secara langsung.Hasilnya diperoleh bukti, pertama, kabuyutan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda sudah sangat akrab, baik di telinga maupun di hati. Istilah kabuyutan ini adalah kosa kata asli Sunda dari kata dasar buyut (artinya: 1. generasi ke-4 dari ego: anak-indung/bapa-nini/aki-buyut; 2. pamali ‘tabu, bertuah, suci’) ditambah konfiks ka-an menunjukkan tempat atau lokasi. Jadi, kabuyutan secara generik mengandung arti suatu lokasi yang oleh masyarakat setempat dianggap mempunyai kesaktian, bertuah, angker, suci, atau sebuah tempat keramat. Istilah keramat itu sendiri berasal dari kosa kata bahasa Arab: karamah yang mengadung makna ‘mulia’. Kedua, menurut catatan yang tertuang dalam teks-teks tradisi tulis Sunda Kuno, artinya sejauh hal itu terdapat dalam berbagai sumber data, tempat yang dianggap keramat dan suci yang dinamakan kabuyutan itu dapat diduga ada yang dengan sengaja didirikan atau dibangun langsung pada masanya. Akan tetapi, tidak jarang masyaarakat itu cukup menata dan hanya memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam di lingkungan tempat tinggalnya. Apabila sebuah tempat sudah dianggap sebagai kabuyutan, apakah di situ ada benda cagar budaya atau tidak, bukan menjadi sesuatu perdebatan yang utama. Bagi masyarakat sekitarnya, lokasi-lokasi semacam itu adalah tempat suci dan keramat sehingga hampir tidak ada yang berani bertindak gegabah di situ.
UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN STUNTING DALAM MANUSKRIP SUNDA KUNO ABAD XVI M. Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.381

Abstract

Manuskrip yang lebih dikenal dengan istilah naskah, di era Generasi Z saat ini masih eksis dan sangat dibutuhkan. Itu sebabnya, manuskrip perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Banyak teks naskah Sunda Kuno Abad XVI Masehi tersebut yang belum terungkap isinya, terutama yang terkait dengan antistunting. Hal ini dimaklumi, karena para pegiat naskah Sunda kuno terkendala dengan penguasaan aksara, bahasa, dan kandungan isinya. Padahal berdasarkan informasi dari katalog, museum, perpustakaan, pasulukan, maupun tempat penyimpanan naskah lainnya, ada puluhan manuskrip Sunda kuno yang ditengarai mengungkap seluk beluk cara pencegahan, perawatan, dan pemeliharaan janin sejak dalam kandungan Ibu hamil hingga remaja, dengan memanfaatkan tanaman obat tradisional, yang mampu mencegah gagal tumbuh kembangnya bayi. (stunting). Jika isi hasil penelitian dan pengkajian antistunting tersebut tidak segera disosialisasikan dan diinformasikan, maka akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan para Gen Z ke depannya. Manuskrip Antistuting mengungkap beragam jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui metode penelitian deskriptif analisis komparatif. Adapun metode kajiannya melibatkan metode kajian filologis, baik secara kodikologis maupun tekstologis, hermeneutik, sosiologi, leksikografis, serta kajian budaya secara umum. Tulisan ini diharapkan mampu mengungkap upaya pencegahan dan penanggulangan stunting berbasis manuskrip Sunda Kuno yang terungkap dalam tanaman obat tradisional. Hasil tulisan ini diharapkan mampu menjadi referensi literasi yang bermanfaat bagi ilmu lain secara multidisiplin.
FENOMENA PANORAMA MASA LAMPAU DALAM MANUSKRIP SUNDA SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN: FENOMENA PANORAMA MASA LAMPAU DALAM MANUSKRIP SUNDA SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.195

Abstract

Manuskrip sebagai dolumen budaya masa lampau, sampai saat ini masih belum dikenal luas di masyarakat. Keberadaan manuskrip hanya populer di kalangan filolog saja. Manuskrip sebagai objek kajian filologi berfungsi sebagai sumber informasi bagi ilmu lain, karena berisi berbagai data dan informasi ide, gagasan, pikiran, pandangan hidup, dan pengetahuan sejarah, serta kearifan lokal budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu, yang isinya meliputi tujuh unsur budaya. Sehubungan dengan hal itu, hasil kajian bidang filologi melalui penggalian, penelitian, dan pengkajian manuskrip, teksnya bisa menjadi referensi literasi bagi ilmu lain secara multidisiplin. Kearifan lokal yang terungkap dalam sebuah manuskrip berakar dari sejarah dan budaya masa silam. Berkat sejarah pula kita sampai di masa kini. Kita sepakat bahwa keberadaan budaya suatu ‘masyarakat’ saat ini merupakan hasil perjalanan sejarah dan pengolahan serta proses perubahan budaya masa lampau. Salah satunya kearifan lokal yang terpendam dalam teks manuskrip Sanghyang Siksakandang Karesian, yang dianggap sebagai ensiklopedia panorama budaya masa silam. Mengapa? Karena beranekaragam kearifan lokal yang ada di masa silam, masih eksis dan berguna sebagai tuntunan moral dalam kehidupan kita saat ini. Tulisan ini diharapkan dapat mengungkap kearifan lokal yang meliputi tujuh unsur budaya Sunda yang terpendam dalam teks manuskrip Sunda Kuno berjudul Sanghyang Siksakandang Karesian. Dikaji menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, dan metode kajian filologis, yang meliputi kajian kodikologis & tekstologis, kajian budaya, dan komunikasi sosial. Meliputi metode kajian tersebut, membuktikan bahwa kearifan lokal yang terdiri atas tujuh unsur budaya tersebut tercantum dalam teks naskah Sanghyang Siksakandang Karesian sebagai ensiklopedia panorama masa lampau, yang bermanfaat bagi ilmu lain secara multidisiplin.
KETERKAITAN ANTARA PENCERAHAN DI EROPA DAN TRADISI KRITIK BARAT: KETERKAITAN ANTARA PENCERAHAN DI EROPA DAN TRADISI KRITIK BARAT Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.199

Abstract

Tradisi kritik Barat ialah sebuah tradisi kritik yang turut memengaruhi cara dan metode kritik manusia akan sebuah fenomena, teks, atau seseorang, baik itu dalam cara pikir masyarakat awam atau di kalangan akademisi. Tradisi kritik Barat tidak seragam, serta mencakup beragam teknik dan sudut pandang. Selain itu, terdapat kritik terhadap karakteristik ini dan kemungkinan bias budaya dalam tradisi kritik Barat. Sejarah tradisi kritik Barat luas dan beragam, namun banyak karakteristik unik yang dapat ditemukan . Akar dari lahirnya tradisi kritik Barat ini tidak bisa dilepaskan dari munculnya Era Pencerahan atau Enlightenment yang merupakan sebuahgerakan intelektual dan filosofis yang berkembang di Eropa pada abad ke 17 dan ke 18. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mencoba mengungkap bagaimana tradisi kritik Barat terlahir dari pemikiran pemikiran para filsuf yang hidup di E ra Pencerahan, serta untuk mengetahui bagaimana tradisi kritik Barat dan Pencerahan berkaitan satu sama lain. Penulis menggunakan kajian literatur sebagai metode penelitian pada paper ini. Penulis mengumpulkan berbagai referensi, mulai dari buku, artikel jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian, hingga sumber-sumber referensi yang berasal dari internet. Seluruh sumber tersebut mencakup konsep-konsep mengenai kritik secara umum, Era Pencerahan di Eropa, dan tradisi kritik Barat secara khusus. Hasil menunjukkan bahwa Pencerahan meletakkan landasan intelektual bagi tradisi kritik Barat dengan mengedepankan nalar, individualisme, hak asasi manusia, dan komitmen terhadap penyelidikan empiris. Prinsip prinsip ini terus membentuk cara individu dalam masyarakat Barat melakukan pendekatan terhadap pemeriksaan dan evaluasi gagasan, institusi, dan norma norma masyarakat.
NASKAH PARANTI NGARUAT EDISI TEKS, KAJIAN MAKNA DAN FUNGSI: NASKAH PARANTI NGARUAT EDISI TEKS, KAJIAN MAKNA DAN FUNGSI Yogie Aditya Saputra; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.209

Abstract

Sumedang berada di wilayah Jawa Barat yang memiliki berbagai tradisi, salah satu satunya yaitu Tradisi Ngaruwat, dalam masyarakat Rancakalong dikenal dengan nama Ngaruwat Jagat yang dilakukan sampai akhir tahun 1960-an dan dilakukan sebagai tradisi tahunan. Untuk mengungkap makna serta fungsi dari tradisi ngaruwat ini penulis menggunakan metode deskripstif analisis, serta pendekatan hermeneutik, metode ini bertujuan untuk mencatat, menuturkan, dan menafsirkan data melalui suatu proses pemahaman yang akan bergantung pada keadaan data dan nilai bahan atau objek penelitian yang digarap (Sumarlina, 2016:68) serta menggunakan edisi naskah tunggal (Coder Uniqus) yang ditempuh dengan cara edisi standar atau edisi kritis (Editio Critica) dengan maksud untuk memulihakan isi naskah ke bentuk semula yaitu dengan memperbaiki kesalahan kesalahan tulis, seperti memperbaiki kata, kalimat, penggunaan huruf kapital, memperbaiki ejaan dengan ketentuan ejaan yang berlaku. Pengedisian dilakukan atas dasar pemahaman dari perbadingan dengan naskah-naskah sejenis, serta terungkapnya makna dan fungsi dari teks naskah. Naskah ini berisi tentang kumpulan doa sehari-hari maupun doa/mantra yang dibacakan pada waktu tertentu. Hasil yang didapat, adanya keselarasan antara tradisi yang dilkukan di masyarakat dengan teks manuskrip yang dijadikan sebagai objek kajian tulisan ini.
GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL: GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa; Rangga Saptya Mohamad Permana
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.227

Abstract

Eksistensi budaya yang berkembang di era milenial saat ini tidak terlepas dari budaya masa lampau, sebagai hasil perjalanan sejarah serta proses perubahan budaya dari masa ke masa. Namun, keberadaan Gunung Padang tersebut, baru-baru ini sedikit terusik oleh ketidaksepahaman para ahli, yang masing-masing bersikukuh sesuai dengan kepakarannya. Padahal, sepatutnyalah kita bergandengan tangan dalam upaya merawat dan melestarikan tinggalan nenek moyang dimaksud, apalagi kalau tempat tersebut sudah disepakati dan ditetapkan sebagai situs, yang eksistensinya tidak dapat dinilai dengan materi. Karena setiap bidang ilmu memiliki pendekatan dan metode kajiannya masing-masing. Aspek budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu daerah, setidaknya berguna untuk mengungkap tonggak bagi suatu kehidupan masyarakat. Kita menyadari bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai budayanya. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa pun dapat dilihat dari tinggalan budayanya. Demikian halnya dengan karuhun ‘nenek moyang’ orang Sunda, yang memiliki manuskrip kuno yang tidak sedikit, yang di dalamnya menyimpan beragam ide, gagasan, dan pemikiran cemerlang, yang salah satunya berkaitan dengan Gunung Padang. Lewat manuskrip, dapat ditelusuri bahwa Gunung Padang termasuk ke dalam sistem tataruang kosmologis Sunda yang saling memengaruhi dengan tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat-tempat yang ada di sekitarnya, baik secara geologis, geomorfologis, arkeologis, antropologis, filologis, historiografis, folklor, dan religi, yang tidak terlepas dari budaya zaman batu. Penelitian ini mencoba menelusuri keselarasan antara Gunung Padang dengan kearifan lokal budaya Sunda, dari kajian filologis, arkeologis, religi, dengan budaya Kenabian, melalui metode kajian filologis dan kajian budaya, sehingga didapatkan hubungan yang harmonis antar keduanya, melalui pendeskripaian data, sesuai dengan fakta yang ada.
MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI: MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.249

Abstract

Keanekaragaman kearifan lokal budaya yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan sarana dan prasarana penunjang dalam upaya memperkaya kebudayaan daerah. Kearifan dimaksud dapat berfungsi juga sebagai filter dan alat yang tangguh untuk membendung arus masuknya budaya mancanegara yang tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian serta kepentingan bangsa kita. Kita dituntut untuk memilah dan memilihnya dengan teliti, lewat pengetahuan yang mewadahi latar belakang penciptaan dan sosiokultural. Kearifan lokal budaya masyarakat adat Baduy sebagai ‘icon’ yang masih kuat dan taat memegang adat istiadat dalam tradisi dan religi, merupakan bahasan utama tulisan ini. Metode penelitian secara khusus menggunakan deskriptif analisis, yang disesuaikan dengan metode kajian agar mampu menganalisis dan menafsirkan data-data kongkrit yang terjadi di Masyarakat Adat Kanekes Baduy, melalui suatu proses pemahaman yang akan sangat bergantung pada keadaan data dan objek kajian, sehingga didapatkan hasil adanya keterjalinan yang harmonis antara adat, tradisi serta religi yang dianut oleh masyarakat adat Kanekes Baduy.