Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PENERAPAN MEMORABLE TOURISM EXPERIENCE (MTE) PADA PERANCANGAN WISATA GASTRONOMI DAN BATIK BETAWI SEBAGAI URBAN ACUPUNCTURE DI SETU BABAKAN Gitta Nathania; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21807

Abstract

Culture is always attached to humans. Whenever and wherever the area is, humans always have a culture because it is a way of life that develops and is shared by a group of people that is passed down from generation to generation. The first function of culture in people's live is as identity. The presence of culture is a characteristic of certain groups. Culture and creativity have the potential to provide social, economic and spatial benefits for cities and communities, thereby contributing to the competitiveness and sustainability of cities. The culture that is grasped will show where the region and its identity come from. Betawi is the original culture identity of Jakarta which is divided into several types, including clothing, handicrafts, and food. This tourism project, which is located in Setu Babakan Betawi Village, aims to preserve the history of Betawi culinary in Indonesia, especially for the younger generation who are currently starting to lose interest in regional food. Not only that, this project also has a Betawi batik activity program which aims to introduce and preserve the way of batik using handpicking techniques and natural dyes that are environmentally friendly. The method used to support this project is the principle of urban acupuncture and the concept of Memorable Tourism Experience. The architectural design in this paper are expected to be able to embrace the potentials of Betawi culture in Setu Babakan, connect tourists with local communities, improve the quality of life and environment through the memorable space experience. Keywords:  Betawi; culture; memorable tourism experience; tourism; urban acupuncture Abstrak Kebudayaan akan selalu lekat dengan kehidupan manusia. Entah kapan dan di manapun daerahnya, manusia akan selalu berbudaya. Pasalnya, budaya merupakan cara hidup yang terus berkembang serta dimiliki bersama oleh kelompok orang yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Fungsi pertama budaya dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai identitas. Kehadiran budaya merupakan ciri khas terhadap suatu kelompok tertentu. Budaya dan kreativitas memiliki potensi yang besar untuk memberi manfaat baik secara sosial, ekonomi, maupun spasial kota dan masyarakat, sehingga memberikan kontribusi pada daya saing dan keberlanjutan dari suatu kota. Budaya yang digenggam akan menunjukkan di mana daerah dan identitasnya berasal. Budaya Betawi merupakan identitas asli Kota Jakarta yang terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain busana, kerajinan tangan, serta makanan. Proyek wisata yang terletak di Kampung Betawi Setu Babakan ini bertujuan untuk mempreservasikan sejarah kuliner Betawi di Indonesia, terkhusus bagi generasi muda yang saat ini mulai kehilangan minatnya terhadap makanan daerah. Tidak hanya itu, proyek ini juga memiliki program aktivitas batik Betawi yang bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan cara membatik dengan teknik pencoletan dan pewarna alami yang ramah lingkungan. Metode yang digunakan untuk mendukung proyek ini adalah prinsip urban acupuncture dan konsep Memorable Tourism Experience. Hasil perancangan arsitektur dalam tulisan ini diharapkan dapat merangkul potensi-potensi kebudayaan Betawi yang tersebar di Setu Babakan, menghubungkan wisatawan dengan komunitas lokal, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungannya melalui pengalaman ruang yang dihadirkan
PERANCANGAN KOMPONEN STRUKTUR PENYUSUN BANGUNAN DENGAN PENDEKATAN CIRCULAR ECONOMY DAN KONSEP “EDITABLE MODULAR BUILDING” Kevin Handali; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22634

Abstract

Tanjung Pasir Village is a village located north of Tangerang, Banten. Residents in this village have a unique habit of the buildings. They are used to building the house gradually in the core areas (bedrooms, kitchen and living room) then adding other rooms over time. This habit has a negative impact on development activities that are not running effectively and efficiently. A lot of material is wasted even though it can still be reused to minimize expenses during construction. By using the Circular Economy principle, namely the use of multifunctional materials, namely reusing existing materials with different functions. This principle works in extending the duration of material use. This design idea was inspired by the formation of LEGO which was created in 1949 and has a consistent shape and connection so that it can still be played today. The design concept is made simple modular which is manageable and sustainable. Application of the principle to this concept occurs in the use of permanent, semi-permanent, variable components and members of constant MEP structures. Keywords:  Circular Economy; component; lego; recycled material; structure Abstrak  Desa Tanjung Pasir merupakan desa yang terletak di utara Tangerang, Banten. Penduduk di desa ini memiliki kebiasaan yang unik pada bangunan-bangunannya. Mereka terbiasa untuk membangun rumah secara bertahap pada area inti (kamar tidur, dapur, dan ruang keluarga) kemudian menambahkan ruang-ruang lain dengan berjalannya waktu. Kebiasaan ini memberikan dampak buruk terhadap kegiatan pembangunan yang berjalan secara tidak efektif dan efisien. Banyak material yang terbuang sia-sia padahal masih dapat dipakai kembali untuk meminimalisir pengeluaran saat pembangunan. Tulisan ini mencoba menggagas prinsip Circular Economy dalam mendesain suatu struktur penyusun bangunan. Konsepnya adalah penggunaan kembali material yang sudah ada agar multifungsi. Prinsip ini bekerja dalam memperpanjang durasi pemakaian material. Ide desain ini terinspirasi dari bentukan LEGO (tahun 1949) yang memiliki bentuk dan sambungan yang konsisten sehingga tetap bisa dimainkan hingga saat ini. Konsep desain dibuat modular sederhana yang dapat diatur dan berkelanjutan (editable modular). Penerapan konsep ini pada penggunaan struktur permanen, semi-permanen, komponen yang dapat diubah serta bagian struktur MEP konstan.
PERANCANGAN RUANG EDUKASI DAN INTERAKSI MAHASISWA SEBAGAI RUANG KETIGA DI JAKARTA BARAT Gabriella Baptista Varani; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24279

Abstract

The learning process is one of the important activities in a student’s daily life. The higher level of education would get more academic demands that will lead to the regular learning processes and concentration needed. The needs for good quality of learning process is also experienced by college students. Based on the level of the study period time, college students are divided into first, middle, and final levels. Each level has a different way of learning. Sometimes stress or pressure arises due to academic demands and the difficulties experienced by college students in their learning process. A comfortable ambiance in the study room is needed to support the learning process and reduce student’s stress. Based on this phenomenon, college students are starting to look for other places outside their campus and homes that can accommodate their learning needs and reduce stress. Public buildings and facilities are chosen by them as a place for their learning activities. The use of public spaces has begun to function as study spaces because college students consider these places more comfortable and flexible for studying individually or in groups. The higher the need, a public facility that is built for college student learning activity is needed. Not just as a space, but specifically designed to be able to support various ways of learning and be able to reduce the student’s stress. Keywords:  flexible; learning; public; space; student Abstrak Kegiatan belajar tidak lepas dari kehidupan sehari-hari pelajar, terutama mahasiswa. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka tuntutan akademik semakin besar sehingga proses belajar yang rutin dan konsentrasi yang cukup diperlukan. Keperluan akan tingginya kebutuhan belajar turut dialami oleh mahasiswa perguruan tinggi. Berdasarkan tingkatannya masa studinya, mahasiswa terbagi menjadi tingkat pertama, menengah, dan akhir. Masing-masing tingkatan memiliki cara belajar yang berbeda. Tidak jarang timbul stres atau tekanan yang dialami akibat tuntutan akademik dan kesulitan yang dialami oleh mahasiswa dalam proses belajar. Kenyamanan dalam ruang belajar diperlukan untuk menunjang proses belajar dan meminimalisir stres mahasiswa. Berdasarkan fenomena tersebut, mahasiswa kini mulai mencari tempat lain di luar kampus dan rumah yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar dan mengurangi stres yang terjadi dalam prosesnya. Bangunan dan fasilitas publik dipilih oleh mahasiswa untuk melangsukan kegiatan belajarnya. Akibatnya penggunaan ruang publik mulai banyak yang terfungsikan sebagai ruang belajar karena mahasiswa menganggap tempat tersebut lebih nyaman, leluasa dan fleksibel untuk belajar secara individu maupun berkelompok. Semakin tingginya kebutuhan tersebut, maka diperlukan suatu fasilitas publik yang dibangun untuk kegiatan belajar mahasiswa. Tidak sekedar ruang saja, tetapi yang terdesain secara khusus untuk dapat menunjang berbagai cara belajar dan mampu mengurangi stres yang dialami oleh mahasiswa.
PERANCANGAN FASILITAS PEMBINAAN DAN REKREASI TUNANETRA DENGAN PENDEKATAN INDERA Evangelista Putri Herlambang; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24315

Abstract

According to the Indonesian Ministry of Health, the blind population in Indonesia is estimated to be around 1.5% of the total Indonesian population, including those who are totally blind or have milder visual impairment. The Ministry of Women's Empowerment and Child Protection, explained that individuals with visual disabilities are those who have a visual clarity level of less than 6 per 60 after correction or have no visual ability at all. This significant amount is still not comparable to the provision of special facilities for the blind. Social discrimination is also experienced by blind people in Indonesia. In everyday life, children with visual impairments really need parental guidance and vice versa, parents who act as caregivers and intermediaries for children in the community must adapt to their child's condition. They need to learn a lot in assisting with special needs and monitoring the growth and development of their children. The design uses behavioral and narration methods through direct observation of the visually impaired which is very dependent on the senses of hearing and touch. The way the blind "see" is by hearing, tapping and touching. In addition, objects or furniture around become a way of finding for the blind. The design solution uses an empathetic architecture which is a key element of human-centred design. The design focuses on sensory design which is expected to help the blind to get to know their surroundings better and make it easier for them to move. Aspects of the building that are strengthened are lighting, texture, aroma, and location of space. This design accommodates the needs for mobility and sensory development for blind people aged 0-17 years and families with disabilities. Apart from that, it provides educational recreation for the public so they can empathize with the blind in a veiled and enjoyable way. Keywords:  blind; development; family; recreation; society Abstrak Menurut Kementerian Kesehatan RI, populasi tunanetra di Indonesia diperkirakan sekitar 1,5% dari keseluruhan penduduk Indonesia, termasuk mereka yang mengalami kebutaan total maupun gangguan penglihatan yang lebih ringan. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menjelaskan bahwa individu dengan disabilitas penglihatan adalah mereka yang memiliki tingkat kejelasan penglihatan kurang dari 6 per 60 setelah koreksi atau tidak memiliki kemampuan penglihatan sama sekali. Jumlah yang signifikan ini ternyata masih belum sebanding dengan penyediaan fasilitas khusus bagi para tunanetra. Diskriminasi sosial juga dialami oleh penyandang tunanetra di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari anak penyandang tunanetra sangat membutuhkan bimbingan orang tua dan sebaliknya orang tua yang berperan sebagai perawat dan perantara anak kepada masyarakat harus menyesuaikan kondisi anaknya. Mereka perlu banyak belajar dalam mendampingi kebutuhan khusus dan mengawasi tumbuh kembang anaknya. Perancangan menggunakan metode perilaku dan narasi melalui observasi langsung pada tunanetra sangat bergantung pada indera pendengar dan peraba. Cara tunanetra "melihat" adalah dengan mendengar, mengetuk dan meraba. Selain itu, benda atau perabot sekitar menjadi way of finding bagi tunanetra. Solusi desain menggunakan arsitektur empati yang merupakan suatu elemen utama dari desain yang berpusat pada manusia. Perancangan berfokus pada desain sensorik yang diharapkan dapat membantu tunanetra untuk lebih mengenal sekitar dan mempermudah mereka beraktivitas. Aspek bangunan yang diperkuat merupakan pencahayaan, tekstur, aroma, dan lokasi ruang. Perancangan ini mewadahi kebutuhan pembinaan mobilitas dan indera penyandang tunanetra usia 0-17 tahun dan keluarga penyandang. Selain itu memberikan rekreasi edukatif bagi masyarakat agar dapat berempati pada tunanetra dengan cara yang terselubung dan bisa dinikmati.
PEMAPARAN DOKUMEN EVALUASI REALISASI DAN REKOMENDASI PENGENDALIAN PANDUAN RANCANG KOTA, KAWASAN PONDOK INDAH: SUB KAWASAN DI RUAS 2 Suteja, Mekar Sari; Josephine, Jane; Hans, Elbert; Wijaya, Calvin
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v7i2.32714

Abstract

Jakarta must be ready to face all the challenges of change, when the capital city moves to Kalimantan. The Urban Design Guideline (UDGL) or Panduan Rancang Kota (PRK) which is created by the city government is one of the development control tools in facing all forms of change. This article is the result of community service which aims to assist the government in observing and reviewing the implementation of the UDGL. The Pondok Indah’s UDGL was stipulated in Gubernatorial Regulation No. 185, with the last revision in 2012. This area has a structuring strategy as an integrated area, a business and trade center connected to four MRT stations (Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete and Haji Nawi). This evaluation is divided into 3 service teams which focus on the sub area in section 1, the sub area in section 2, and the sub area in section 3. The essence of this article explains the intensity of land use and building planning that occurs in the sub area in section 2. The method is carried out using a descriptive-analysis-comparative method which always tries to compare the government's plans and existing conditions. Data were collected using literature review and survey methods, so that the analysis process culminated in the conclusion of whether the UDGL had been realized or not and what factors influenced the unrealization in the field. It is hoped that this article will serve as input for future UDGL plans for the Pondok Indah area, where usually all UDGLs will be reviewed every 5 years. ABSTRAK Jakarta harus siap menghadapi segala tantangan perubahan, saat Ibu Kota berpindah ke Kalimantan. Urban Design Guideline (UDGL) atau Panduan Rancang Kota (PRK) yang dibuat pemerintah kota merupakan salah satu alat pengendali pembangunan dalam menghadapi segala bentuk perubahan. Tulisan ini merupakan hasil pelaksanaan pengabdian pada masyarakat yang bertujuan membantu pemerintah dalam mengamati dan mengkaji kembali pelaksanaan Panduan Rancang Kota. PRK Kawasan Pondok Indah ditetapkan dalam Pergub No 185 dengan revisi terakhir pada tahun 2012. Kawasan ini memiliki strategi penataan sebagai kawasan terpadu, pusat bisnis dan perdagangan yang terkoneksi dengan PRK 4 Stasiun MRT (Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete dan Haji Nawi). Evaluasi PRK Kawasan Pondok Indah terbagi dalam 3 tim pengabdian yang berfokus pada sub kawasan di ruas 1, sub kawasan di ruas 2, dan sub kawasan di ruas 3. Inti tulisan ini menjelaskan Intensitas Pemanfaatan Lahan dan Tata Bangunan yang terjadi pada sub kawasan di ruas 2. Metode dilakukan dengan cara deskriptif-analisis-komparatif yang selalu berusaha membandingkan rencana pemerintah yang termuat di PRK dengan kondisi eksisting. Pengumpulan data dengan metode literature review dan survey, sehingga proses analisis berujung pada kesimpulan apakah PRK sudah terealisasi atau belum dan faktor apa yang berpengaruh terhadap belum terealisasinya PRK yang terjadi di lapangan. Tulisan ini diharapkan menjadi bahan masukan untuk rencana PRK Kawasan Pondok Indah ke depan, yang mana biasanya semua PRK akan dikaji ulang setiap 5 tahun.
PERANCANGAN RUANG KELAS BAGI ANAK USIA SEKOLAH DASAR PENYANDANG ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER Surya, Claurent; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27189

Abstract

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) is a disorder that often appears in elementary school-age children (6-12 years). Its prevalence in Indonesia is estimated at around 5% (Dewi, 2011), reaching 26.2% among elementary school children in the DKI Jakarta area (Saputro, 2009). Global trends also show a significant increase in ADHD cases (Abdelnour et al., 2022). The impact greatly influences children's adaptation to various aspects of life, from academic contexts to social relationships and psychological aspects. At elementary school age (ages 6-12 years), children are at the beginning stages of learning to manage school with ADHD. Therefore, it is crucial to provide appropriate accommodation to facilitate their adaptation to the learning environment. One way is by modifying the classroom's learning environment according to their needs. This research uses qualitative methods (observation and in-depth interviews) to identify ideal classroom designs for elementary school-age children with ADHD. The research began by examining the behavior of children with ADHD and analyzing their space needs. From the research that has been carried out, good classroom design criteria for children with ADHD will be produced, along with applying these design criteria to the classroom design. It is hoped that the research will help examine the design of good learning spaces to help maintain the focus and mental well-being of children with ADHD. Keywords: attention deficit hyperactivity disorder; classroom; school-age children Abstrak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan salah satu gangguan yang kerap muncul pada anak usia sekolah dasar (6-12 tahun). Prevalensinya di Indonesia diperkirakan sekitar 5% (Dewi, 2011), angka ini mencapai 26,2% di anak sekolah dasar wilayah DKI Jakarta (Saputro, 2009). Tren global juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kasus ADHD (Abdelnour et al., 2022). Dampaknya sangat memengaruhi adaptasi anak-anak dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari konteks akademik hingga hubungan sosial dan aspek psikologis. Pada usia sekolah dasar (usia 6-12 tahun), anak-anak berada pada tahap awal dalam belajar mengelola sekolah dengan ADHD. Maka dari itu, sangat penting untuk memberikan akomodasi yang tepat supaya mempermudah adaptasi mereka di lingkungan pembelajaran. Salah satunya, yaitu melalui modifikasi lingkungan belajar di ruang kelas sesuai dengan kebutuhan mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (studi literatur dan in-depth interview) untuk mengidentifikasi desain ruang kelas yang ideal bagi anak usia sekolah dasar dengan ADHD. Penelitian dimulai dengan mengkaji perilaku anak dengan ADHD dan menganalisis kebutuhan keruangan mereka. Dari penelitian yang telah dilakukan, akan dihasilkan kriteria desain ruang kelas yang baik bagi anak dengan ADHD, beserta dengan penerapan kriteria desain tersebut terhadap perancangan sebuah ruang kelas. Penelitian diharapkan dapat membantu mengkaji desain ruang pembelajaran yang baik untuk membantu menjaga fokus dan kesejahteraan mental dari anak penyandang ADHD.
PENERAPAN KONSEP PLAYFUL DALAM PERANCANGAN RUMAH TUMBUH KEMBANG ANAK DI KAWASAN CASA JARDIN, JAKARTA BARAT Hanny, Marcella; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27500

Abstract

Early childhood, often referred to as the golden age, represents a critical period in a child's development that spans from birth to eight years old. During this time, children undergo rapid growth and development, shaping moral, religious, physical, social, emotional, linguistic, artistic values, and acquiring knowledge and skills appropriate to their developmental stages. In relation to this crucial phase, known as the "Golden Period" between ages 0-5, the formation of brain nerve cells serves as the foundational basis for a child's intellectual development. Both genetic and environmental factors play pivotal roles in assessing a child's quality, influencing motor, cognitive, and language development. An emerging innovative approach involves integrating the concept of playfulness. This journal aims to explore the application of the playful concept in child development centers, focusing on its benefits for child development and the challenges that may arise during its implementation. Through literature reviews, the journal illustrates that a playful approach can stimulate creativity, social interaction, and healthy physical activities that are enjoyable for children. By combining theory and practice, this journal offers profound insights for design professionals, educators, and parents on leveraging the playful approach to create environments conducive to optimal child development. Keywords: age; child; gold; playful Abstrak Usia dini, sering disebut sebagai usia emas, menjadi periode kritis dalam perkembangan anak yang mencakup kelahiran hingga delapan tahun. Selama masa ini, anak-anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cepat, membentuk nilai-nilai moral, agama, fisik, sosial, emosional, bahasa, seni, serta memperoleh pengetahuan dan keterampilan sesuai tahap perkembangan mereka. Terkait dengan fase krusial ini, dikenal sebagai "Masa Emas" pada usia 0-5 tahun, pembentukan sel syaraf otak menjadi landasan utama perkembangan kecerdasan anak. Faktor genetik dan lingkungan memainkan peran penting dalam evaluasi kualitas anak, mempengaruhi perkembangan motorik, kognitif, dan bahasa. Salah satu pendekatan inovatif yang sedang berkembang adalah integrasi konsep playful. Jurnal ini memiliki tujuan yaitu untuk mengeksplorasi penerapan konsep playful dalam rumah tumbuh kembang anak, dengan fokus pada manfaatnya terhadap perkembangan anak dan tantangan yang mungkin dihadapi dalam implementasinya. Melalui studi literatur, jurnal ini menunjukkan bahwa pendekatan playful dapat merangsang kreativitas, interaksi sosial, dan aktivitas fisik yang sehat dan menyenangkan bagi anak. Dengan menggabungkan teori dan praktik, jurnal ini memberikan wawasan mendalam kepada profesional desain, pendidik, dan orangtua tentang bagaimana memanfaatkan pendekatan playful untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan optimal anak.
RUANG MUSIK DAN KERJA PADA BANGUNAN EX TOKO TIO TEK HONG DI PASAR BARU JAKARTA PUSAT Williyanto, Daniel; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30909

Abstract

Pasar Baru is a trading area in the Sawah Besar District, Central Jakarta. Established in the 19th century, it is one of Jakarta's oldest shopping centers. Initially a bustling trading hub inhabited by the Chinese and Dutch, Pasar Baru's historical buildings have now undergone functional transformations, with diminishing community recognition of their historical significance. Over time, many historic buildings in Pasar Baru have lost their identity, becoming "placeless places" despite their strategic location near transit points and iconic areas of Central Jakarta. The research aims to revive this historically significant area amidst the development of the city's cultural tourism districts. Revitalization efforts involve introducing activity programs designed to attract visitors and restore the original functions of these heritage buildings. Emphasis is placed on preserving the cultural heritage of the area. The study anticipates enhancing the cultural image of Pasar Baru, transforming it from a neglected "placeless place" into a culturally vibrant center that holds meaningful relevance in contemporary Jakarta. Keywords: education; historical; iconic Abstrak Kawasan Pasar Baru merupakan kawasan perdagangan di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pasar Baru merupakan kawasan yang dibangun pada abad ke-19, dan kawasan di sekitarnya merupakan salah satu pusat perbelanjaan tertua di kota Jakarta. Awal mula berdirinya kawasan ini merupakan pusat perdagangan yang banyak dihuni oleh orang Tiong Hoa dan juga Belanda. Namun, kawasan Pasar Baru dengan banyaknya bangunan historical yang ada di dalamnya, sekarang telah berubah fungsi dan masyarakat tidak lagi mengenal nilai historical bangunan yang penting dalam kawasan tersebut. Seiring waktu, banyak bangunan historic di kawasan Pasar Baru kehilangan identitasnya dan menjadi placeless place, padahal tempat ini memiliki potensi dan lokasi strategis yang berada dekat dengan beberapa titik transit dan kawasan bangunan ikonik Jakarta Pusat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali tempat bersejarah yang terhimpit oleh perkembangan kawasan wisata budaya kota, metode revitalisasi dilakukan dengan menambahkan program-program aktivitas yang mendukung dan menarik pengunjung untuk datang. Revitalisasi dilakukan dengan fokus utama pada pelestarian warisan budaya kawasan ini. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan citra budaya dari bangunan yang saat ini placeless place menjadi aktif kembali dan memberikan kontribusi signifikan dalam memperkaya citra budaya Pasar Baru yang saat ini terpinggirkan, menjadi pusat aktivitas kultural yang berarti dan relevan.
MARKET HALL YANG INKLUSIF DAN BERKELANJUTAN PADA PASAR GLODOK, JAKARTA BARAT Agung, Andreas Rahmat; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30910

Abstract

Glodok is a Chinatown area that has been established since the 17th century, located in Taman Sari Village, West Jakarta. The name Glodok comes from the word 'Golodog' which means the entrance to the Sunda kingdom before it was controlled by the Dutch. The Glodok area itself is famous as a trading area that sells wholesale goods ranging from electronics, textiles, culinary delights and even traditional Chinese medicine which has been around since the early 18th century. One example is Glodok Market, which is the largest electronics market in Jakarta and known to all Indonesian people as a center for wholesale electronic goods and has become one of the wheels of the economy in Jakarta in its era. This legendary electronics market, which has been around since 2001, is starting to fade to the point of almost closing, especially since the emergence of the e-commerce market and the Covid-19 outbreak. There is also a reason why Glodok Market cannot compete because the function and space program is very homogeneous and there is no new and fresh innovation. The aim of this research is to revive Glodok Market with new innovations and more heterogeneous programs, so that visitor interest can return. It is hoped that qualitative and quantitative approaches, through the Re-design design concept that will be applied to this building, can provide new and innovative program variations. Keywords: heterogeneous; innovation; market Abstrak Glodok merupakan kawasan pecinan yang telah berdiri sejak abad ke 17, yang berada pada Kelurahan Taman Sari, Jakarta Barat. Nama Glodok berasal dari kata ‘Golodog’ yang memiliki arti pintu masuk kerajaan Sunda sebelum dikuasai oleh Belanda. Kawasan Glodok sendiri terkenal sebagai kawasan perdagangan yang menjual barang – barang grosiran mulai dari elektronik, tekstil, kuliner bahkan pengobatan tradisional Chinese yang telah berdiri dan sejak awal abad 18. Salah satu contoh adalah Pasar Glodok, yang merupakan pasar elektronik terbesar yang ada di Jakarta dan dikenal seluruh masyarakat Indonesia sebagai pusat barang grosir elektronik dan telah menjadi salah satu roda perekonomian di Jakarta pada era-nya. Pasar elektronik legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 2001 ini kian mulai meredup hingga nyaris tutup terlebih lagi sejak adanya pasar e-commerce  dan wabah Covid-19. Ada pula alasan mengapa Pasar Glodok tidak dapat bersaing karena fungsi dan program ruang yang sangat homogen serta tidak adanya inovasi yang baru dan segar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali Pasar Glodok dengan inovasi yang baru serta program yang lebih heterogen, sehingga minat pengunjung dapat kembali. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif, melalui konsep perancangan Re-design yang akan diterapkan pada bangunan ini diharapkan dapat memberikan variasi program yang baru dan inovatif.
PENDEKATAN FENGSHUI DALAM DESAIN RUANG PUBLIK UNTUK MENGEMBALIKAN CITRA PASAR BARU, JAKARTA PUSAT Meivoda, Ivy; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30911

Abstract

Historically, Pasar Baru has long been the trading centre of Jakarta.  Being one of trading area at West Jakarta, Pasar Baru became a meeting place of various ethnics and social groups that created a place of acculturation and tradition.  Formerly, Pasar Baru was known as a place where the locals and travellers go to buy textile, clothes, shoes and sport accessories.  Now Pasar Baru is challenged when it has to face the era of globalization and modernization that making it a deserted place.  Competition among modern shopping centres and electronics has pressed the volume of selling at Pasar Baru down while its conventional design of architecture has made this area no more an interesting place to visit, hence being deserted by the customers.  Hence, its popularity is continuing to decrease.  Many shops closed or moved to more popular locations.  That is to say that Pasar Baru has experienced a degradation of trading and cultural value. Such is the phenomenal case of ‘placeless place’, when Pasar Baru being the area with such a magnitude and powerful meaning has now been losing everything.  The objective of this study is to revive the busy and interesting image of Pasar Baru. The method used is the feng shui approach, starting from data analysis, field observations and interviews in order to comprehensively understand the socio-economic dynamics and environmental conditions in Pasar Baru. A holistic approach is taken by combining efforts to preserve cultural heritage and sustainable economic development. It is hoped that the results of this research can become a new strategy in re-developing Pasar Baru's identity as a rich trading center with a rich cultural heritage. Keywords: image; Pasar Baru; placeless place Abstrak Pasar Baru telah lama menjadi pusat perdagangan dan kawasan bersejarah Kota Jakarta. Berfungsi sebagai salah satu kawasan perdagangan di Jakarta Barat, Pasar Baru menjadi titik pertemuan berbagai kelompok etnis dan sosial serta menciptakan ruang pertukaran budaya dan tradisi. Dahulu, Pasar Baru dikenal sebagai tempat penjualan tekstil, pakaian, sepatu, dan perlengkapan olahraga yang menjadi daya tarik bagi pengunjung lokal maupun wisatawan, namun sekarang Pasar Baru menghadapi berbagai tantangan ketika berhadapan dengan era globalisasi dan modernisasi yang menjadikan kawasan tersebut mulai sepi. Persaingan dengan pusat perbelanjaan modern dan perdagangan elektronik telah menekan tingkat penjualan di Pasar Baru, sementara desain arsitektural yang konvensional membuat kawasan ini kurang menarik sehingga popularitas Pasar Baru menurun dan ditinggalkan pengunjung. Banyak toko yang tutup atau berpindah ke lokasi yang lebih diminati. Dengan perkataan lain, Pasar Baru mengalami degradasi perdagangan dan nilai budaya. Fenomena ini merupakan contoh kasus placeless place, yaitu saat ketika Pasar Baru sebagai kawasan yang pernah memiliki daya tarik dan kekuatan makna sekarang kehilangan segalanya.  Tujuan dari penelitian ini adalah mengembalikan citra kawasan Pasar Baru yang ramai dan diminati masyarakat tadi. Metode yang digunakan adalah pendekatan fengshui digunakan mulai dari analisis data, observasi lapangan dan wawancara guna memahami secara komprehensif dinamika sosial ekonomi dan kondisi lingkungan di Pasar Baru. Pendekatan secara holistik dilakukan dengan menggabungkan upaya pelestarian warisan budaya dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi strategi baru dalam pengembangan kembali identitas Pasar Baru sebagai pusat perdagangan yang kaya dengan warisan budaya yang kaya.