Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENERAPAN LITERASI ADAPTIF DALAM ARSITEKTUR KWITANG EDUKASI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Reynold, Theophilus; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33936

Abstract

Literacy in general is the ability to read and write, and when talking about literacy, it is closely related to books. Books are the windows to the world. That proverb, when applied to the current situation, seems less relevant, considering that books are no longer the only source of literacy used to gain knowledge. Speaking of literacy and books, Kwitang and its surroundings are areas rich in literacy, especially in the form of books. In the 1980s, Kwitang area began to be known as a book-selling district, but the passage of time and technological advancements led to a decline in visitors to Kwitang. Gradually, Kwitang is losing its sense of place as a literacy area. The cause is that physical books, which have been used for literacy and as centers of knowledge for centuries, are slowly being forgotten because interest in literacy through physical books is declining. This research aims to explore how the application of adaptive literacy in the educational architecture of Kwitang can be approached contextually. Adaptive literacy is intended to explore the ability of individuals and communities to access and apply literacy in accordance with the times. The contextual approach is expected to create educational spaces that are not only functional but also responsive to the evolving identity of the community and the changes related to literacy that occur. The desired outcome is the design of a library space and a space that accommodates innovations in literacy media in the form of an export literacy room. The library space that will be designed will continue to preserve books while also accommodating literacy in digital form. Keywords: adaptive; contextual; educational; literacy Abstrak Literasi secara umum merupakan kemampuan untuk dapat menulis dan membaca, ketika berbicara tentang literasi hal ini berkaitan erat dengan buku. Buku merupakan jendela dunia. Pepatah tersebut jika diterapkan pada kondisi sekarang ini nampaknya kurang relevan, mengingat buku pada kondisi sekarang bukan satu-satunya sumber literasi yang digunakan untuk menambah ilmu. Berbicara mengenai literasi maupun buku, Kelurahan Kwitang dan sekitar merupakan kawasan yang kental dengan literasi terutama dalam bentuk buku. Pada tahun 1980-an kawasan Kwitang mulai dikenal sebagai kawasan penjualan buku, tetapi perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat Kwitang mengalami penurunan pengunjung. Secara perlahan Kwitang kehilangan sense of place sebagai kawasan literasi. Penyebabnya adalah buku fisik yang selama berabad-abad dijadikan sebagai bahan literasi dan juga pusat pengetahuan secara perlahan-lahan mulai terlupakan dikarenakan peminat literasi dengan media buku fisik mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana penerapan literasi yang bersifat adaptif dalam arsitektur Kwitang edukasi melalui pendekatan kontekstual. Literasi adaptif yang dimaksud untuk menggali kemampuan individu maupun komunitas untuk dapat mengakses dan mengaplikasikan literasi sesuai dengan perkembangan zaman. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat menciptakan ruang edukasi bukan hanya fungsional tetapi juga merespons identitas masyarakat yang berkembang serta perubahan terkait literasi yang terjadi. Hasil yang ingin dicapai yaitu sebuah perancangan ruang perpustakaan dan juga ruang yang mengakomodasi inovasi dalam media literasi berupa ruang literasi export. Ruang perpustakaan yang dirancang nantinya tetap melestarikan buku selain itu juga mengakomodasi literasi dalam bentuk digital.
PENERAPAN KONSEP RUANG FLEKSIBEL DALAM BANGUNAN TINGGI PADA PUSAT KOMUNITAS DI GONDANGDIA Daniel, Daniel; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33937

Abstract

Boplo Market, also known as Gondangdia Market, was built in the 1920s by N.V. de Bouwploeg in the Nieuw-Gondangdia-Menteng area. The name "Boplo" is a local adaptation of "Bouwploeg," meaning "building group." Reconstructed in 2014 after a fire, the market held significant value for residents during the 1960s-1980s. However, rapid globalization and the shift from conventional to digital transactions have caused a decline in buyers and sellers, revealing the need for architecture to adapt to changing demands. This study seeks to redesign Boplo Market, focusing on creating a flexible structure that can accommodate evolving functions. Applying the regenerative approach introduced by Pamela Mang and Bill Reed, the redesign emphasizes revitalizing the natural environment and strengthening the surrounding community. The regenerative concept ensures the building's capacity for continuous renewal, making it future-proof and relevant over time. The design transforms what was once a placeless space—devoid of unique local identity—into an adaptive, contextually harmonious environment that responds to local needs and characteristics. Through a balance of tradition and innovation, the proposed redesign positions the market as a resilient space capable of withstanding the challenges of globalization while fostering a strong connection to its cultural and social context. This approach ensures that the market remains a vital, functional part of the community for years to come. Keywords:  boplo; community; flexible; placeless; regenerative Abstrak Pasar Boplo atau yang dikenal sebagai pasar Gondangdia, merupakan pasar yang dibangun pada tahun 1920-an, oleh N.V de Bouwploeg dan berada di kawasan Nieuw-Gondangdia-Menteng. N.V. Bouwploeg merupakan sebuah biro arsitektur yang bertujuan menata kawasan tersebut menjadi kota taman, dan nama Boplo merupakan pelafalan yang lebih lokal dari kata Bouwploeg oleh warga lokal, yang memiliki arti sebagai ‘kelompok membangun’. Pasar yang pernah mengalami pembangunan ulang pada tahun 2014 akibat kebakaran ini mempunyai arti penting bagi warga lokal pada tahun 1960-1980. Akibat dari globalisasi yang begitu cepat, perubahan kebutuhan dan proses jual-beli barang dan jasa antar manusia dari pembayaran konvensional menjadi pembayaran digital, Pasar Boplo kini mengalami penurunan jumlah pembeli dan penjual. Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan bahwa arsitektur perlu fleksibilitas dalam ruangnya, fleksibilitas yang dapat memfasilitasi perubahan fungsi yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang kembali bangunan Pasar Boplo, sehingga dapat lebih fleksibel terhadap perubahan fungsi di masa depan. Pendekatan regeneratif, seperti yang dikemukakan oleh Pamela Mang dan Bill Reed, diterapkan dengan tujuan untuk merevitalisasi lingkungan alam dan komunitas di sekitarnya. Konsep ini memungkinkan bangunan untuk terus-menerus memperbarui dirinya seiring waktu. Dalam pengembangan narasi arsitektur, konsep regeneratif diterapkan pada ruang yang awalnya tidak memiliki identitas lokal (placeless), sehingga mampu menciptakan ruang yang adaptif dan selaras dengan kebutuhan serta karakteristik lokal. Bangunan ini dirancang agar tetap relevan dan bertahan menghadapi tantangan globalisasi.
SOSIALISASI TEMUAN DAN USULAN STRATEGI PENATAAN GUNA LAHAN DAN INTENSITAS PEMANFAATAN DI SUB KAWASAN 3, MANGGARAI, JAKARTA SELATAN Suteja, Mekar Sari; Tjung, Trisha Kaylie; Limarg Stefanyqueen; Tangguh, Alysia Chandra
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i1.33702

Abstract

Jakarta, as a metropolitan city experiencing severe traffic congestion, has increasingly adopted Transit-Oriented Development (TOD) strategies to improve urban mobility and spatial efficiency. One of the key areas undergoing rapid transformation through this approach is the Manggarai Area, which is projected to become a major regional transportation interchange. Manggarai Station, the busiest transit hub in the Greater Jakarta region (Jabodetabek), supports multiple transportation modes, including the Commuter Line (KRL), Transjakarta, and the Airport Rail Link. Despite its strategic location and historical significance, the Manggarai Area currently lacks a formal Urban Design Guideline (Panduan Rancang Kota/PRK) to direct future development. This paper presents a community service initiative conducted in collaboration with the DKI Jakarta Provincial Government Spatial Planning Agency (Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan Pemprov DKI Jakarta). The initiative aimed to provide an urban design assessment and planning recommendations to support the formulation of an Urban Design Guideline in accordance with the 2023–2026 Strategic Plan (Renstra). This program is a continuation of previous research activities, including field surveys, comparative analysis with the Detailed Spatial Plan (RDTR), and the identification of planning issues in Subarea 3. Research dissemination continued through a Focus Group Discussion (FGD) with institutional partners to identify critical urban design elements requiring intervention. The process concluded with the presentation of planning recommendations for Subarea 3 and the submission of a booklet containing the results of this community service activity. This paper specifically focuses on the land use conditions and land use intensity within Subarea 3 of the Manggarai Area, South Jakarta. ABSTRAK Sebagai kota dengan tingkat kemacetan tinggi, pemerintah kota mulai banyak mengembangkan Transit Oriented Development system pada ruang-ruang kota Jakarta. Salah satu kawasan yang memiliki perkembangan pesat dan direncanakan menjadi simpul transportasi interchange dan terintegrasi regional dalam sistem TOD adalah Kawasan Manggarai. Stasiun Manggarai merupakan stasiun tersibuk di Jabodetabek dan merupakan simpul transportasi yang melayani moda transportasi Kereta Rel Listrik (KRL), Transjakarta dan Kereta Bandara. Perkembangan yang ada sekarang didominasi oleh permukiman padat penduduk, perdagangan dan jasa serta fasilitas umum dan sosial. Walaupun memiliki nilai kesejarahan dan lokasi yang strategis, sampai saat ini kawasan Manggarai belum memiliki Panduan Rancang Kota (PRK). Tulisan ini merupakan hasil Pengabdian Kepada Masyarakat untuk Mitra Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan DKI Jakarta, yaitu dengan memberikan kajian dan rekomendasi penataan, sebagai dasar pertimbangan dalam pembuatan Panduan Rancang Kota di Kawasan Manggarai sesuai Renstra 2023-2026. Kegiatan pengabdian ini tidak terlepas dengan hilirisasi penelitian sebelumnya terkait kawasan Manggarai mulai dari identifikasi dengan metode survey, analisis komparasi dengan Rencana Detail Tata Ruang sampai diperolehnya permasalahan apa yang terjadi di subkawasan 3. Sosialisasi hasil penelitian berlanjut dengan focus group discussion (FGD) dengan Mitra untuk mengetahui elemen-elemen rancang kota yang penting dan dibutuhkan penataannya. Kemudian sosialisasi dilanjutkan dengan presentasi rekomendasi penataan pada subkawasan 3 Manggarai dan pemberian booklet hasil PKM kepada Mitra. Tulisan ini berfokus pada kondisi tata guna lahan dan intensitas pemanfaatan lahan di subkawasan 3 Kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.  
PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DALAM PERANCANGAN DORMITORI MAHASISWA DI UNIVERSITAS TARUMANAGARA Angelo, Jevan; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35559

Abstract

The increasing number of out-of-town students at Tarumanagara University (UNTAR) has intensified the need for adequate, comfortable, and sustainable student housing. Most students currently live in boarding houses or apartments that lack thermal comfort, energy efficiency, and support for social and academic activities. This study investigates key issues in these living environments, such as poor ventilation, limited communal spaces, and low spatial efficiency. The research methods include questionnaires, literature review, field observations, and precedent studies. The design process adopts a sustainable and tropical architectural approach, integrated with the AKARASA philosophy as a conceptual framework, where spatial functions grow organically, much like a tree, from roots to fruit, creating a layered, adaptive, and holistic living environment. The proposed dormitory addresses the specific needs of interdisciplinary students in a tropical urban context, offering adaptive design strategies that optimize natural resources such as daylight and cross ventilation. Beyond providing shelter, the dormitory fosters a vibrant learning and living environment that promotes students’ physical, mental, and social well-being. It serves as a contextual and sustainable model of future tropical student housing that is both efficient and holistically responsive to user needs and environmental challenges. Keywords: comfort; dormitory; student; sustainable architecture; tropical Abstrak Kebutuhan akan hunian mahasiswa yang layak, nyaman, dan efisien semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa luar kota di Universitas Tarumanagara (UNTAR). Sebagian besar mahasiswa memilih tinggal di kos atau apartemen yang umumnya belum memperhatikan aspek kenyamanan termal, efisiensi energi, serta kurang mendukung aktivitas sosial dan akademik secara menyeluruh. Penelitian ini menggali berbagai permasalahan yang dihadapi mahasiswa selama tinggal di kos atau apartemen, seperti ventilasi yang buruk, kurangnya ruang komunal, hingga efisiensi ruang yang rendah. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data melalui kuesioner, studi literatur, observasi lapangan, dan analisis studi preseden. Proses perancangan dilakukan melalui pendekatan arsitektur berkelanjutan dan tropis yang dikombinasikan dengan filosofi AKARASA sebagai kerangka konseptual, di mana fungsi ruang dikembangkan secara organik layaknya pertumbuhan pohon dari akar hingga buah guna menciptakan ruang hidup yang berlapis, adaptif, dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep sustainable dormitory yang dirancang khusus untuk konteks tropis dan kebutuhan mahasiswa lintas disiplin ilmu di lingkungan kampus UNTAR. Hasil temuan digunakan sebagai dasar dalam merumuskan desain dormitori yang adaptif, hemat energi, serta mampu mengoptimalkan sumber daya alam seperti pencahayaan dan penghawaan alami. Proyek ini tidak hanya bertujuan menciptakan tempat tinggal, tetapi juga menghadirkan lingkungan belajar dan hidup yang mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan sosial mahasiswa. Rancangan dormitori ini diharapkan dapat menjadi model hunian mahasiswa yang nyaman, efisien, dan kontekstual terhadap kebutuhan pengguna. Dormitori ini sebagai hunian tropis adaptif yang mampu merespons tantangan iklim dan kebutuhan pengguna secara kontekstual dan berkelanjutan, serta menjadi contoh pengembangan hunian mahasiswa masa depan yang holistik.
DESAIN SISTEM REGENERATIF PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DENGAN KONSEP ARSITEKTUR PERMAKULTUR DI LEBAK BULUS, JAKARTA SELATAN Nathania, Flavenie; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35560

Abstract

The phenomenon of organic waste processing sites in Indonesia particularly the accumulation of fruit and vegetable peels being transformed into valuable products such as eco-enzymes, compost, animal feed, biogas, and bioplastics has attracted public attention as an effective solution to reduce waste and support environmental sustainability. The issue of organic waste highlights the growing need for processing spaces that are not only practical but also foster harmony between humans and nature. The absence of such spaces that can create this harmony has now become a pressing concern. The aim is to establish an organic waste processing facility through the application of permaculture architecture and fermentation principles to build a regenerative system and encourage community involvement in waste management. This research employs a qualitative approach by conducting literature reviews, survey interviews, and on-site observations. The writing process begins with data collection, followed by analysis to develop the permaculture architecture concept. The findings show that applying permaculture principles such as care for the Earth, care for people, and fair share along with the management of zones zero to five as part of a productive ecosystem, has significant ecological and social impacts. Located in Lebak Bulus, this project serves as a regenerative laboratory that integrates architecture, waste, and community, while reviving the land’s former agricultural function. The program includes educational facilities, community spaces, and productive land that support food security and long-term sustainability. Keywords: community; fermentation; permaculture; regenerative; waste  Abstrak Fenomena tempat pengolahan sampah organik yang menumpuk di Indonesia, terutama kulit buah dan sayur, menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti eco-enzym, kompos, pakan hewan, biogas, dan bioplastik, memikat perhatian masyarakat sebagai solusi efektif untuk mengurangi sampah dan mendukung kelestarian lingkungan. Isu sampah organik mendorong munculnya kebutuhan ruang pengolahan yang tidak hanya praktis, tetapi juga membangun keharmonisan antara manusia dan alam. Ketiadaan tempat pengolahan yang dapat menciptakan keharmonisan antara manusia dan alam ini kini menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Tujuannya adalah menghadirkan tempat pengolahan sampah organik melalui penerapan prinsip arsitektur permakultur dan fermentasi untuk membangun sistem regeneratif serta mendorong keterlibatan komunitas dalam pengelolaan sampah organik. Metode penelitian ini mengaplikasikan pendekatan kualitatif dengan melakukan kajian pustaka, wawancara survei, dan observasi di lokasi. Langkah penulisan dimulai dengan pengumpulan data, kemudian dianalisis untuk mengembangkan konsep arsitektur permakultur. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa penerapan prinsip permakultur seperti kepedulian terhadap bumi, manusia, dan pembagian yang adil, serta pengelolaan dari zona nol hingga lima sebagai bagian dari ekosistem produktif memberikan dampak ekologis dan sosial yang signifikan. Berlokasi di Lebak Bulus, tempat ini berfungsi sebagai laboratorium regeneratif yang mengintegrasikan arsitektur, sampah, dan komunitas serta menghidupkan kembali fungsi lahan perkebunan. Temuan program mencakup fasilitas edukasi, ruang komunitas, dan lahan produktif yang mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan.
TRANSFORMASI SOSIAL DALAM PARADIGMA TENGGELAM MELALUI RUANG PEMBERDAYAAN KOMUNITAS NELAYAN DI PESISIR MUARA ANGKE Dewabrata, Valentinus Bagas; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35561

Abstract

The city of Jakarta is gradually experiencing geographical and ecological transformation due to land subsidence, sea level rise, and the continuous imbalance of urban development. One of the most significantly affected areas is Muara Angke, a coastal zone in North Jakarta inhabited by fishing communities, yet burdened by dense warehousing, piles of domestic waste, and the pressure of urbanization. Rather than preserving land that is constantly at risk of submersion, this project responds through a regenerative architectural approach—one that accepts the submergence of land as a natural phase, where spatial solutions to coexist with water can be created. The design methodology includes social and ecological observation, site analysis, spatial function mapping, and modeling based on three main phases: the development of adaptive warehouses, the transformation of fishermen's community housing, and the conservation of mangrove areas as a form of rewilding. The massing is composed through a vertical fractal system with abstract tectonics that responds to tidal fluctuations and supports the sustainability of the fishing community. It integrates a fish distribution system, waste management, and circular-based production spaces. The outcome of this design offers a new paradigm: that submersion is not the end, but rather the beginning of ecological and social regeneration. Architecture is no longer a fortress against nature, but a mediator that merges, adapts, and reinforces the continuity of both human and environmental life. Keywords: Angke; coastal; fisherman; mangrove; regenerative Abstrak Kota Jakarta secara perlahan mengalami transformasi geografis dan ekologis akibat penurunan tanah, kenaikan air laut, dan ketidakseimbangan pembangunan yang terus menerus meningkat. Salah satu kawasan yang terdampak signifikan adalah Muara Angke, sebuah zona pesisir Jakarta Utara yang dihuni oleh banyak komunitas nelayan, namun juga dipenuhi oleh area pergudangan, tumpukan limbah sampah domestik, dan tekanan urbanisasi. Daripada mempertahankan kondisi daratan yang terus-menerus terancam tenggelam, proyek ini meresponnya melalui pendekatan arsitektur regeneratif-sebuah metode yang menerima air tergenang di sebuah daratan sebagai fase alami dimana solusi spasial untuk hidup berdampingan dengan air dapat diciptakan. Metodologi perancangan yang dilakukan yaitu melalui observasi sosial dan ekologis, analisis tapak, pemetaan fungsi spasial, dan pemodelan berbasis tiga fase utama: pembangunan gudang adaptif, transformasi hunian komunitas nelayan, dan konservasi kawasan mangrove sebagai bentuk rewilding. Gubahan massa dibentuk dengan sistem fraktal vertikal, dan tektonik abstrak yang menyesuaikan kondisi pasang surut air laut serta mendukung keberlanjutan komunitas nelayan. Di dalamnya terintegrasi sistem distribusi ikan, pengelolaan limbah, serta ruang produksi berbasis sirkular. Hasil dari rancangan ini menawarkan sebuah paradigma baru bahwa tenggelam bukanlah akhir, melainkan awal dari proses regenerasi ekologis dan sosial. Arsitektur hadir bukan sebagai benteng terhadap alam, melainkan sebagai mediator melebur, beradaptasi, dan memperkuat keberlangsungan hidup manusia dan lingkungan.
TELAAH TERHADAP PENERAPAN PANDUAN RANCANG KOTA KAWASAN CIKINI PADA SUB KAWASAN 5 DAN 6 Suteja, Mekar Sari; Stefani; Setiawan , Jennifer; Veronica , Adinda; Amnah; Cindy , Birgitta
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i2.29292

Abstract

The Cikini area in Menteng District, Central Jakarta is one of the areas that is expected to become an urban tourism magnet in Jakarta. This area has been planned to become an urban art center and creative hub area with several potential tourist attractions such as historical buildings, educational and cultural buildings, as well as various arts programs. According to Regional Spatial Planning Regulation (RTRW) for DKI Jakarta Province 2030, this area has been designated as one of the central system activities of the Central Jakarta Administrative City. However, the Cikini area still has the spatial characteristics of its old area. There are many places with memories which are still exist today. The issuance of the Draft Law Nusantara National Capital (IKN) has had an impact on changing the function of the City of Jakarta from The capital becomes the Special Region of Jakarta. The relocation of the capital must be adapted to developments occurring in the spaces of the city of Jakarta, including the Cikini area. An actual Urban Design Guidelines (UDGL) must also be evaluated every 5 years. Since the enactment of Gubernatorial Regulation No. 98 of 2020 concerning the UDGL Cikini, it has been 3 years since the plan was implemented and its realization should be monitored. Through descriptive-analytical-comparative methods, the Community Service team tries to see the real conditions and problems that exist in the field. It is hoped that this Community Services can help the Government to see and observe directly changes and developments in the Cikini area so that it can become evaluation material for the revision of the 2025 Cikini Urban Design Guideline.
DISEMINASI TEMUAN DAN REKOMENDASI PENATAAN AKTIVITAS PENDUKUNG DAN JALUR PEDESTRIAN DI SUB KAWASAN HARMONI Suteja, Mekar Sari; Priscilla Epifania Ariaji; Jason Christian Adam; Andrea Devananda Sukasna; Janita Prillia Wijaya
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i2.35119

Abstract

The construction of Jakarta's Mass Rapid Transit (MRT) Phase 2A, designated as a National Strategic Project, has had a significant impact on the urban dynamics of the areas it traverses, including the Harmoni area. This area, rich in historical and cultural value, is undergoing rapid transformation driven by urbanization and infrastructure development. However, unlike areas along the MRT Phase 1 corridor, Harmoni has not yet been equipped with an Urban Design Guideline (Panduan Rancang Kota/PRK). The absence of this document risks the degradation of the area’s character and a lack of spatial function integration. This Community Service (PKM) activity aims to provide initial spatial planning recommendations to support the preparation of the PRK by the Jakarta Provincial Office of Human Settlements, Spatial Planning, and Land Affairs (DCKTRP) as the institutional partner. The study focuses on two key urban space components: supporting activities and pedestrian pathways. Data were collected through interviews and focus group discussions (FGDs), followed by a SWOT analysis to identify the area’s strengths, weaknesses, opportunities, and threats. Findings reveal that while Harmoni holds significant cultural and connectivity potential, issues persist in the form of inadequate pedestrian infrastructure, disorganized street vendors (PKL), and a lack of proper public spaces. Planning recommendations focus on improving pedestrian elements and managing supporting activities to realize an inclusive, contextual, and sustainable urban environment. ABSTRAK Pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta Fase 2A yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional memberikan dampak signifikan terhadap dinamika kawasan yang dilaluinya, salah satunya adalah kawasan Harmoni. Kawasan ini, yang memiliki nilai historis dan kultural tinggi, mengalami percepatan perubahan akibat urbanisasi dan pengembangan infrastruktur, namun belum dilengkapi dengan dokumen Panduan Rancang Kota (PRK) sebagaimana yang telah dimiliki oleh kawasan di koridor MRT Fase 1. Ketiadaan dokumen ini berpotensi menyebabkan degradasi karakter kawasan serta ketidakterpaduan dalam pengembangan fungsi ruang. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberikan rekomendasi awal penataan kawasan yang dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan PRK oleh Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan (DCKTRP) DKI Jakarta selaku mitra. Fokus komponen ruang kota pada aktivitas pendukung dan jalur pedestrian. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pengumpulan data melalui wawancara dan diskusi kelompok terarah, serta analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman kawasan Harmoni. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun kawasan ini memiliki potensi besar dari aspek kultural dan konektivitas, terdapat sejumlah permasalahan pada infrastruktur pedestrian, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang tidak tertata, serta kurangnya fasilitas ruang publik yang layak. Rekomendasi penataan diarahkan pada perbaikan elemen pedestrian dan pengelolaan aktivitas pendukung guna mewujudkan kawasan yang inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan.
EVALUASI PEMANFAATAN LAHAN DAN TATA BANGUNAN PADA SUB KAWASAN HARMONI, JAKARTA PUSAT Mekar Sari Suteja; Priscilla Epifania Ariaji; Sharon Esther Thessalonia M.; Lidya Zoraya Pranata; Alvina Daniella Susanto
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (IN PRESS)
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/v86yv942

Abstract

Kawasan Harmoni merupakan salah satu kawasan strategis di Jakarta Pusat yang mengalami transformasi signifikan dalam aspek pemanfaatan lahan dan penataan bangunan, terutama setelah diberlakukannya Peraturan Gubernur (Pergub) No. 31 Tahun 2022 sebagai pengganti Peraturan Daerah (Perda) No. 1 Tahun 2014. Penelitian ini bertujuan agar dapat menganalisis dinamika perubahan fungsi lahan dan bentuk bangunan di Kawasan Harmoni, serta mengkaji relevansi dan urgensi penyusunan Panduan Rancang Kota (PRK) sebagai instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yang adaptif terhadap perkembangan perkotaan. Penelitian dilaksanakan dengan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur, pengamatan di lapangan, dan analisis kebijakan spasial. Fokus kajian diarahkan pada zona perencanaan P1 dan P2 yang menjadi representasi area dengan potensi perubahan tertinggi akibat pengaruh pembangunan infrastruktur strategis seperti MRT fase 2 serta pendekatan Transit Oriented Development (TOD). Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran fungsi lahan dari hunian menuju komersial yang signifikan, serta perubahan bentuk, massa, dan skala bangunan yang cenderung berkembang secara vertikal dan padat. Transformasi ini terjadi dalam rentang waktu antara implementasi Perda No. 1 Tahun 2014 hingga diberlakukannya Pergub No. 31 Tahun 2022. Temuan tersebut memberikan kontribusi penting sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan kebijakan tata ruang dan rancang kota di Kawasan Harmoni, yang diharapkan dapat dituangkan dalam penyusunan Panduan Rancang Kota Kawasan Harmoni guna mendukung pengendalian pemanfaatan ruang yang berkelanjutan dan responsif terhadap dinamika perkotaan.
EVALUASI PEMANFAATAN LAHAN DAN TATA BANGUNAN PADA SUB KAWASAN HARMONI, JAKARTA PUSAT Suteja, Mekar Sari; Ariaji, Priscilla Epifania; Thessalonia M., Sharon Esther; Pranata, Lidya Zoraya; Susanto, Alvina Daniella
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (IN PRESS)
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/v86yv942

Abstract

Kawasan Harmoni merupakan salah satu kawasan strategis di Jakarta Pusat yang mengalami transformasi signifikan dalam aspek pemanfaatan lahan dan penataan bangunan, terutama setelah diberlakukannya Peraturan Gubernur (Pergub) No. 31 Tahun 2022 sebagai pengganti Peraturan Daerah (Perda) No. 1 Tahun 2014. Penelitian ini bertujuan agar dapat menganalisis dinamika perubahan fungsi lahan dan bentuk bangunan di Kawasan Harmoni, serta mengkaji relevansi dan urgensi penyusunan Panduan Rancang Kota (PRK) sebagai instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yang adaptif terhadap perkembangan perkotaan. Penelitian dilaksanakan dengan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur, pengamatan di lapangan, dan analisis kebijakan spasial. Fokus kajian diarahkan pada zona perencanaan P1 dan P2 yang menjadi representasi area dengan potensi perubahan tertinggi akibat pengaruh pembangunan infrastruktur strategis seperti MRT fase 2 serta pendekatan Transit Oriented Development (TOD). Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran fungsi lahan dari hunian menuju komersial yang signifikan, serta perubahan bentuk, massa, dan skala bangunan yang cenderung berkembang secara vertikal dan padat. Transformasi ini terjadi dalam rentang waktu antara implementasi Perda No. 1 Tahun 2014 hingga diberlakukannya Pergub No. 31 Tahun 2022. Temuan tersebut memberikan kontribusi penting sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan kebijakan tata ruang dan rancang kota di Kawasan Harmoni, yang diharapkan dapat dituangkan dalam penyusunan Panduan Rancang Kota Kawasan Harmoni guna mendukung pengendalian pemanfaatan ruang yang berkelanjutan dan responsif terhadap dinamika perkotaan.