Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pengaruh Budaya Pop Korea terhadap Gaya Hidup Remaja di Kota Denpasar, Bali Ni Made Febriana Sara Dwiyanti; Ida Bagus Gde Pujaastawa; Ida Ayu Alit Laksmiwati
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 2 No. 2: Februari 2023
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v2i2.1357

Abstract

Abstrak: Fenomena menyebarnya budaya pop Korea dikenal dengan istilah Korean Wave atau Hallyu. Berbagai macam produk budaya pop Korea, mulai dari drama hingga musik pop Korea (K-Pop) digemari oleh masayarakat di seluruh dunia, dan tak terkecuali para remaja di Kota Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui faktor yang memengaruhi remaja di Kota Denpasar dalam mengonsumsi budaya pop Korea, 2) menjelaskan gaya hidup remaja di Kota Denpasar sebagai penggemar budaya pop Korea. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif interpretatif dan pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukan bahwa mobilitas spasial antarnegara, teknologi multimedia, investasi perusahaan asing, dan ideologi konsumerisme menjadi faktor-faktor yang memengaruhi remaja di Kota Denpasar dalam mengonsumsi budaya pop Korea. Selain itu juga menunjukan adanya beberapa aktivitas yang berkaitan dengan fansgirling sebagai gaya hidup para remaja penggemar budaya pop Korea di Kota Denpasar.
Fungsi dan Makna Tradisi Dai pada Masyarakat Ndora Elisabeth Kolo; Anak Agung Ngurah Anom Kumbara; Ida Ayu Alit Laksmiwati
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 2 No. 2: Februari 2023
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v2i2.1374

Abstract

Masyarakat Subetnik Ndora seringkali diperhadapkan masalah ekologi seperti iklim kering dan letak geografis desa yang berada kaki Gunung Manungae (habitat babi hutan), menjadi salah satu ancaman terjadinya gagal panen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi dai dan memahami fungsi serta makna tradisi dai pada masyarakat Subetnik Ndora. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, melalui cara observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Hasil temuan penelitian ini berupa proses pelaksanaan tradisi dai yang dikelompokkan ke dalam tiga tahapan yaitu tahapan persiapan, tahapan dai, dan tahapan penyelesaian. Temuan lain dari penelitian ini juga berupa fungsi dan makna yang terkandung dalam tradisi dai. Fungsi yang dimaksudkan berupa tradisi dai sebagai pengendalian hama (fungsi manifest), serta fungsi-fungsi lain yang mengikuti fungsi tersebut (fungsi laten) yaitu fungsi ekologi, fungsi ekonomi, fungsi identitas sosial, dan fungsi gender. Pelaksanaan tradisi dai memberikan dampak positif dalam menciptakan solidaritas sosial yang tercermin melalui keterlibatan masyarakat dalam rangkaian tahapan pelaksanaannya, mencerminkan kehidupan masyarakat yang berkeadilan baik itu terhadap sesama maupun terhadap lingkungan, serta memberikan dampak bagi keseimbangan ekosistem dan pelestarian dalam konteks lingkungan maupun upacara budaya yang memiliki nilai kearifan lokal.
Representasi Budaya Patriarki Karo Dalam Organisasi Muda-Mudi Sirulo Bali di Kelurahan Jimbaran Kecamatan Kuta Selatan Simon Peres Tarigan; Ida Ayu Alit Laksmiwati; Ida Bagus Oka Wedasantara
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4340

Abstract

Muda-Mudi Sirulo Bali adalah organisasi paguyuban etnis Karo yang ada di Bali. Organisasi ini merupakan organisasi yang membawa nilai-nilai budaya etnis Karo itu sendiri, salah satunya adalah budaya dan nilai-nilai patriarki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk budaya patriarki dalam organisasi ini. Fenomena budaya patriarki yang dalam organisasi ini dikaji menggunakan teori representasi Stuart Hall dan teori peran Soerjono Soekanto. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulkan data menggunakan observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam organisasi Muda-Mudi Sirulo Bali terdapat budaya patriarki dengan bentuk-bentuk seperti dominasi laki-laki laki dalam kepemimpinan, dominasi laki-laki dalam pegambilan keputusan, streotipe terhadap perempuan dan stigma negatif terhadap perempuan.
Bentuk Fenomena FOMO di Kalangan Mahasiswa Universitas Udayana, Denpasar, Bali Arnod Brema Karo-Karo; Ida Ayu Alit Laksmiwati; Ida Bagus Oka Wedasantara
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 6: Oktober 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i6.5501

Abstract

Teknologi informasi yang semakin maju dibuktikan dengan hadirnya media sosial memengaruhi kehidupan pergaulan para remaja akhir terkhususnya kalangan mahasiswa. Smartphone dan konten yang ada di media sosial menjadi pemenuh kebutuhan sosial para mahasiswa, menciptakan apa yang dikenal dengan fenomena takut akan ketertinggalan (FOMO). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk FOMO terkhususnya di kalangan mahasiswa Universitas Udayana dengan menggunakan metode kualitatif, serta menggunakan teknik pengumpulan data berbasis wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan sekiranya lima bentuk FOMO yang ada di kalangan mahasiswa Universitas Udayana.
Transmisi Budaya Ngawan Pada Masyarakat Pesisir Desa Seraya Kabupaten Karangasem Tiara Astyaputri; Ida Ayu Alit Laksmiwati; Aliffiati Aliffiati
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6068

Abstract

Terjadi fenomena penurunan jumlah nelayan Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali. Desa Seraya merupakan salah satu desa yang memiliki wilayah pesisir dan terdapat masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Aktivitas melaut ini dikenal dengan sebutan ngawan, yang diambil dari kata awan yang artinya ikan tongkol, sehingga ngawan diartikan pula sebagai kegiatan mencari ikan tongkol. Penurunan jumlah nelayan di Desa Seraya dibuktikan pada Data Profil Desa tahun 2023, yang mencatat pada tahun 2018 terdapat masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan berjumlah 150 orang. Namun pada tahun 2023, jumlahnya menurun sampai pada angka 73 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk transmisi budaya ngawan di wilayah pesisir Desa Seraya dan menjelaskan implikasi dari mekanisme proses transmisi terhadap keberlangsungan budaya ngawan di Desa Seraya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode etnografi serta studi pustaka dalam menjawab pertanyaan yang ada pada rumusan masalah. Penelitian ini menggunakan teori kebudayaan Roger Keesing dan teori transmisi budaya Meyer Fortes. Hasil penelitian ini menunjukkan para nelayan mempelajari cara alat-alat yang digunakan dan cara penggunaannya, pengetahuan lokal yang ada di dalam budaya ngawan melalui proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi yang telah dilakukan sejak kecil melalui aktivitas sehari-hari. Namun seiring dengan perkembangan zaman, proses transmisi budaya ngawan mengalami keterhambatan dikarenakan adanya perubahan pandangan hidup para pemuda yang diharapkan menjadi penerus dari budaya ngawan. Para pemuda kini melihat budaya ngawan sebagai kegiatan mencari nafkah yang dapat digantikan dengan pekerjaan lain. Hal ini didukung dengan para nelayan yang berfokus pada pemenuhan pendidikan anak-anak mereka agar bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
Etnomatematika Weti pada Sa’o di Kampung Adat Gurusina, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur Yogasmara Binsar Putra Wimansyah; Ida Ayu Alit Laksmiwati; Ida Bagus Oka Wedasantara
Dharma Acariya Nusantara: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/jdan.v3i1.1816

Abstract

Knowledge of symbolic meaning urine (carving) on sa'o(traditional house) in Gurusina Traditional Village has so far only been inherited by one traditional elder, so it is vulnerable to being cut off, especially after the major fire incident in 2018. This study aims to expand access to understanding the meaningurineand the ethnomathematical values ​​contained therein, which were previously only known by one individual. The approach used was qualitative with ethnographic methods, through observation techniques, interviews, literature studies, and document analysis. The results of the study showed thaturinecontains ethnomathematic elements that are not explicitly recognized as formal mathematical practices, such as the application of basic geometric forms, geometric elements, and geometric transformations. In addition to being an aesthetic expression,urinealso represents a cultural symbol that contains messages of life, moral values, and customary norms, functioning as ancestral advice in preserving cultural heritage. Thus,urineplay an important role in shaping cultural identity, collective consciousness, and passing on traditional values ​​to the younger generation of the Gurusina community.
Analisis Hustle Culture Terhadap Work Life Balance pada Pekerja Remote di Kota Denpasar Revy Aurlia Adistya; Anom Kumbara; Ida Ayu Alit Laksmiwati
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 6 No. 12 (2024): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal 
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v6i12.4821

Abstract

The rise of remote work is increasingly popular among Generation Z workers in Denpasar, Bali, especially in creative and technical fields. This study analyzes the factors driving the emergence of hustle culture and its impact on work-life balance. Using qualitative and ethnographic methods, data was collected through observation, interviews, and literature review. The findings show that easy access to technology, flexible work patterns, and performance-oriented company culture are key drivers of hustle culture. While this culture enhances creativity, it blurs the line between work and personal life, leading to stress and reduced well-being. The study also reveals how the unique cultural and social context in Denpasar influences this phenomenon. These insights provide guidance for workers and organizations to create a better work-life balance.
Peran Keluarga dan Pengurus Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Kota Denpasar dalam Program Perawatan Lanjut Usia Lydia Sloan Marbun; Ida Ayu Alit Laksmiwati; Putu Karina Pravitasari
Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Vol. 3 No. 5 (2025): Oktober : Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/morfologi.v3i5.2391

Abstract

This study analyzes the role of families and caregivers at Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar in implementing elderly care programs and examines the implications of these programs for the quality of life of older adults. Using a qualitative method with an ethnographic approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. Two theoretical frameworks guided the analysis: Carrolyn Smith-Morris’ Social Support Theory, which highlights the importance of emotional, informational, and instrumental support for elderly well-being, and Robert J. Havighurst’s Activity Theory, which states that active involvement in social, physical, and spiritual activities enhances happiness and life satisfaction in old age. The findings show that families’ involvement remains limited due to time and distance constraints, yet their emotional presence still contributes positively to the psychological comfort of the elderly. Caregivers play a dominant role in meeting the physical, social, emotional, and spiritual needs of residents. The care program demonstrates positive implications, including improved health stability, increased social interaction, strengthened feelings of appreciation, and enhanced spiritual peace. Additionally, Balinese cultural values such as tatwam asi and menyama braya reinforce empathy, togetherness, and respectful relationships within the care system. The study concludes that synergy between families, caregivers, and local cultural values forms a crucial foundation for a meaningful and humane elderly care system.