Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

RITUAL ASYEIK SEBAGAI AKULTURASI ANTARA KEBUDAYAAN ISLAM DENGAN KEBUDAYAAN PRA-ISLAM SUKU KERINCI Sunliensyar, Hafiful Hadi
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1323.154 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.23

Abstract

Penelitian terhadap ritual Asyeik ini bertujuan untuk mengetahui percampuran antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan pra Islam Kerinci. Akulturasi ini tercermin dari berbagai benda-benda arkeologi yang digunakan dalam ritual Asyeik serta dari mantra-mantra yang diucapkan. masalah percampuran kebudayaan maka dalam penelitian ini digunakan teori akulturasi. Penelitian ini dilakukan di wilayah kecamatan Siulak dan Siulak Mukai yang dilakukan secara bertahap. Pada tahap observasi dilakukan studi kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan sumber kepustakaan yang diperlukan dan digunakan dalam riset lapangan yaitu wawancara dan observasi. Selanjutnya pada tahap pengolahan data dilakukan analisis data yang telah terhimpun yakni dengan membuat pemerian yang terinci pada unsur-unsur ritual Asyeik baik unsur-unsur kebudayaan Kerinci maupun unsur-unsur kebudayaan Islam dalam ritual Asyeik. Sebagai hasil penelitian diketahui bahwa ritual Asyeik telah berkembang sesuai dengan perkembangan keyakinan masyarakat suku Kerinci. Terdapat banyak unsur-unsur kebudayaan Islam dalam penyelenggaraan ritual Asyeik dilihat dari material yang digunakan dalam upacara.
Prospek Penelitian Artefak Perunggu Temuan Kerinci Melalui Analisis Metalurgi Sunliensyar, Hafiful Hadi
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1853.031 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.93

Abstract

Temuan artefak perunggu dalam se-abad terakhir di dataran Kerinci diteliti hanya sebatas pada kajian deskripsi dan ikonografi semata. Seringkali data yang didapat belum begitu akurat untuk merekonstruksi budaya masyarakatnya pada masa lampau. Apalagi temuan-temuan tersebut tidak kontekstual lagi. Analisis metalurgi yang telah banyak dilakukan peneliti terhadap temuan artefak perunggu di tempat lain, memberi kesempatan untuk ‘membongkar’ kembali artefak perunggu Kerinci agar dilakukan kajian melalui analisis metalurgi dengan studi komparatif. Melalui pendekatan induktif dalam tulisan ini, penulis mencoba memberikan gambaran tentang prospek penelitian artefak perunggu Kerinci melalui analisis metalurgi. Beberapa prospek penelitian ke depan antara lain: (1) aspek teknis pembuatan artefak tersebut; (2) aspek sosial-ekonomi seperti penelitian jalur perdagangan kuna ke Kerinci pada masa klasik; (3) migrasi artefak atau ideofak mengenai teknologi pembuatan perunggu dari Dongson ke wilayah Kerinci; (4) penelitian mengenai permasalahan apakah artefak perunggu Kerinci diimpor atau diproduksi  secara lokal.
RITUAL ASYEIK SEBAGAI AKULTURASI ANTARA KEBUDAYAAN ISLAM DENGAN KEBUDAYAAN PRA-ISLAM SUKU KERINCI Sunliensyar, Hafiful Hadi
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.23

Abstract

Penelitian terhadap ritual Asyeik ini bertujuan untuk mengetahui percampuran antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan pra Islam Kerinci. Akulturasi ini tercermin dari berbagai benda-benda arkeologi yang digunakan dalam ritual Asyeik serta dari mantra-mantra yang diucapkan. masalah percampuran kebudayaan maka dalam penelitian ini digunakan teori akulturasi. Penelitian ini dilakukan di wilayah kecamatan Siulak dan Siulak Mukai yang dilakukan secara bertahap. Pada tahap observasi dilakukan studi kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan sumber kepustakaan yang diperlukan dan digunakan dalam riset lapangan yaitu wawancara dan observasi. Selanjutnya pada tahap pengolahan data dilakukan analisis data yang telah terhimpun yakni dengan membuat pemerian yang terinci pada unsur-unsur ritual Asyeik baik unsur-unsur kebudayaan Kerinci maupun unsur-unsur kebudayaan Islam dalam ritual Asyeik. Sebagai hasil penelitian diketahui bahwa ritual Asyeik telah berkembang sesuai dengan perkembangan keyakinan masyarakat suku Kerinci. Terdapat banyak unsur-unsur kebudayaan Islam dalam penyelenggaraan ritual Asyeik dilihat dari material yang digunakan dalam upacara.
Prospek Penelitian Artefak Perunggu Temuan Kerinci Melalui Analisis Metalurgi Sunliensyar, Hafiful Hadi
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.93

Abstract

Temuan artefak perunggu dalam se-abad terakhir di dataran Kerinci diteliti hanya sebatas pada kajian deskripsi dan ikonografi semata. Seringkali data yang didapat belum begitu akurat untuk merekonstruksi budaya masyarakatnya pada masa lampau. Apalagi temuan-temuan tersebut tidak kontekstual lagi. Analisis metalurgi yang telah banyak dilakukan peneliti terhadap temuan artefak perunggu di tempat lain, memberi kesempatan untuk membongkar kembali artefak perunggu Kerinci agar dilakukan kajian melalui analisis metalurgi dengan studi komparatif. Melalui pendekatan induktif dalam tulisan ini, penulis mencoba memberikan gambaran tentang prospek penelitian artefak perunggu Kerinci melalui analisis metalurgi. Beberapa prospek penelitian ke depan antara lain: (1) aspek teknis pembuatan artefak tersebut; (2) aspek sosial-ekonomi seperti penelitian jalur perdagangan kuna ke Kerinci pada masa klasik; (3) migrasi artefak atau ideofak mengenai teknologi pembuatan perunggu dari Dongson ke wilayah Kerinci; (4) penelitian mengenai permasalahan apakah artefak perunggu Kerinci diimpor atau diproduksi secara lokal.
MENGGALI MAKNA MOTIF HIAS BEJANA PERUNGGU NUSANTARA: PENDEKATAN STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS Hafiful Hadi Sunliensyar
Berkala Arkeologi Vol 37 No 1 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.991 KB) | DOI: 10.30883/jba.v37i1.71

Abstract

One of Dong Son Culture product is bronze vessels where found in some areas of Indonesia that is Kerinci, Madura, Lampung, Kalimantan dan Subang. Study about bronze vessels is limited on form and ornament description, and analysis. Ornamental study used structrulism approach on bronze vessels was not done. the purpose of this research is to know about bronze vessels structure and to give new meaning about it with Levi-Strauss structuralism approach. From the data and reference study was known that ornament on bronze vessels is an abstract of ideology/ way of life and ideas of their belonging community. These ideas formed a dualism, suchas, about upper world-under world, men-women, feminin-masculin, stability and harmony of universe, fertility and strength.
LANSKAP ARKEOLOGI DALAM PERSPEKTIF PROSESUAL DAN PASCA-PROSESUAL: STUDI KASUS KOMPLEKS MEGALITIK DI DATARAN TINGGI JAMBI Hafiful Hadi Sunliensyar
Berkala Arkeologi Vol 38 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.449 KB) | DOI: 10.30883/jba.v38i2.267

Abstract

The development of archaeology paradigm from processual to postprocessual, influence the archaeologists thought about landscape. Sometimes, the landscape in archaeology is arduous understood because overlapping with other studies. Actually, this problem can be solved if we analyze the development of archaeology paradigm which associated with landscape study. This article attempts to discuss the ambiguity of landscape in archaeology with case study on the megalithic complex in Jambi Highland. Based on the data, it is known that: landscape in procesual study just explain the association between megalithic with burial-jars, mountains, settlements, and natural resources around it. The result which obtained in this perspective, was an explanation of megalithic function based on the relationship between sites and environment. Conversely in post-processual, attempts to interpret about megalithic complex in Jambi Higland based on individual (including researcher perception) or community perceptions. The result obtained in postprocessual, can answer questions about the unevenness of megalithic orientation and the difference of megalithic locations.
Surat-Surat Kerajaan untuk Penguasa Kerinci: Tinjauan Terhadap Naskah Cod.Or. 12.326 Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden Hafiful Hadi Sunliensyar
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 10, No 2 (2019): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2462.881 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v10i2.518

Abstract

Not  all of Jawi manuscripts in the Kerinci had documented and transliterated by Voorhoeve. For example, the document Cod. Or. 12. 326, the collection of Universiteit Leiden Library or the document ML 396, the collection of Perpustakaan Nasional. This research purpose is for knowing the contain of the text  of ML 396/Cod. Or. 12.326 and considering the historical background ofthe text. The method that utilized in this research is collecting of data, transliterating and interpretating text of manuscripts from historical perspective. The result of this research, known that three manuscripts are surat piagam (royal charter) from Jambi Sultanate to Depati Suta Menggala in Tanah Seleman, Kerinci. Meanwhile, two manuscripts other are surat titah (royal commandment letter) for Depati Empat. The first surat titah from Sultan Ahmad Syah and Pangeran Suta Mangunjaya, contains the adjuration of troop assistance to attact Palembang people. The second surat titah from Sultan Ahmad Syah, contains the bidding of Sultan in order to Depati Empat still recognized his authority and cooperated with him, accompanied by special rewards that offered. The five manuscripts was issued in ongoing conflict between two successors of Jambi Kingdom in 17th century.
KISAH NABI ADAM DI DALAM NASKAH INCUNG INI ASAN PULUNG DARI KERINCI Hafiful Hadi Sunliensyar
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.877 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.901

Abstract

The religious manuscripts found in Kerinci were written using Jawi script (Arab-Melayu) generally. However, the Incung manuscript that was found as the sacred heirloom collection of Depati Anum Muncak Alam from Dusun Sungai Tutung, indicated something different. This Incung manus­cript is a religious manuscript that narrates the Adam prophet’s story. This Incung manuscript is titled Ini Asan Pulung with code EAP117-44-1-6. The problem in this study is how the narration of Adam prophet's story in the Incung manuscript Ini Asan Pulung? The purpose of this study is to understand the narration of Adam prophet's story from the perspective of Kerinci society in past. This study utilized the qualitative method and philological approach. Meanwhile, the text of the manuscript is analyzed using the intertextual approach. The result of this study is known that the story of Adam in the manuscript contains a different narration and plot from other manuscripts. The writer of the manuscript was re-compiled  Adam’s story from various religious references and added local cultural elements in his story. Keywords: Adam’s Story, the Incung  Script, Kerinci, Old Manuscript.   Naskah-naskah keagamaan yang ditemukan di Kerinci, umumnya ditulis menggunakan aksara Jawi (Arab-Melayu). Namun, temuan naskah Incung yang menjadi koleksi pusaka Depati Anum Puncak Alam dari Dusun Sungai Tutung mengindikasikan  sesuatu yang berbeda. Naskah tersebut merupakan naskah keagamaan yang berisi kisah nabi Adam. Naskah Incung ini berjudul Ini Asan Pulung dengan kode EAP117-44-1-6. Perma­salahan di dalam kajian ini adalah bagaimana narasi kisah penciptaan Adam di dalam naskah Incung Ini Asan Pulung? Tujuannya adalah untuk memahami narasi kisah Adam menurut pandangan masyarakat Kerinci di masa lalu. Metode yang digunakan di dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan filologi. Tahapannya adalah, inventarisasi, deskripsi, transliterasi dan penerjemahan. Sementara itu, teks naskah ini juga ditelaah menggunakan pendekatan intertekstualitas untuk mengetahui unsur-unsur teks lain yang memengaruhi narasi teks. Hasil kajian menunjukkan bahwa kisah Adam di dalam naskah Incung memiliki narasi dan alur yang berbeda dengan kisah Adam di dalam naskah-naskah lain. Penulis naskah menyusun kembali cerita nabi Adam dari berbagai sumber lain yang ia ketahui seperti Hikayat Nur Muhammad, Hikayat Nabi Adam dan Qishash al-Anbiya. Penulis naskah juga menambahkan unsur-unsur lokal di dalam kisah Adam yang disusunnya. Kata kunci: Kerinci, Kisah Adam, Naskah Kuno, Surat Incung.
Prasasti Tanduk dari Mendapo Rawang Kerinci: Genealogi, Migrasi, dan Relasi Leluhur Orang Kerinci Hafiful Hadi Sunliensyar
AMERTA Vol. 42 No. 1 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2024.2945

Abstract

Abstract. The Horn Inscription from Mendapo Rawang Kerinci: Genealogy, Migration, and Relation of the Ancestors of Kerinci Society. The horn inscription is a typical inscription with a limited distribution in the Southern Sumatra region. These inscriptions were written using local scripts such as the Ulu Script, Lampung Script, and Incung Script. The existence of horn inscriptions in Kerinci has been researched since the Colonial Era by Voorhoeve (1941). However, the result of their research is still limited to transliterating inscriptions. Digitization of the horn inscriptions by the British Library through the EAP117 program in the Mendapo Rawang Kerinci makes it possible to re-read the horn inscriptions. These digitalized inscriptions are the Depati Awal-Depati Janggut Inscription, the Datuk Kitam Inscription, and Depati Sungai Laga Inscription. This research aims to transliterate and translate these horn inscriptions and interpret their contents. The method in this research consists of data collection, pre-analytic or data processing, analysis, and interpretation. The result of this research is that the horn inscriptions from Mendapo Rawang contain information about the origin of the ancestors of the local community who came from other settlements through the migration process. They built a new community in a new settlement with matrimony and socio-political relations. The result of the matrimony relation is explained in genealogical text clearly. The Mendapo Rawang’s inscriptions also contain information about the hierarchy of the system of community leadership consisting of dipati and manti. In addition, the inscriptions suggest the regional socio-political relation between the leaders of the community in Kerinci and Jambi Sultanate through the agent who held the title jenang. Keywords: Horn Inscription, Mendapo Rawang, Incung Script, Kerinci, Jambi Sultanate   Abstrak. Prasasti tanduk merupakan prasasti yang khas dengan sebaran terbatas di Kawasan Sumatra Bagian Selatan. Prasasti ini umumnya ditulis menggunakan aksara lokal, seperti Aksara Ulu, Aksara Lampung, dan Aksara Incung Kerinci. Keberadaan prasasti tanduk di Kerinci telah diteliti sejak era Kolonial, seperti yang dilakukan oleh Voorhoeve (1941). Namun demikian, penelitian yang dilakukan masih sangat terbatas pada alih aksara prasasti. Digitalisasi prasasti tanduk oleh British Library melalui program EAP117 memungkinkan untuk membaca kembali prasasti tanduk di Kerinci terutama dari wilayah adat Mendapo Rawang. Prasasti-prasasti yang didigitalisasi tersebut adalah Prasasti Depati AwalDepati Janggut, Prasasti Datuk Kitam, dan Prasasti Depati Sungai Laga. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan alih aksara dan alih bahasa dua prasasti tanduk tersebut serta melakukan interpretasi terhadap kandungan isinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pengumpulan data, pra-analisis atau pengolahan data, analisis dan interpretasi isi prasasti. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah prasasti tanduk dari Mendapo Rawang berisi tentang asal usul leluhur komunitas yang berasal dari permukiman lain melalui proses migrasi. Mereka membentuk komunitas baru di permukiman baru melalui relasi perkawinan dan sosial-politik. Hasil relasi perkawinan dijelaskan secara jelas melalui teks genealogi. Prasasti dari Mendapo Rawang juga menjelaskan hirarki sistem kepemimpinan komunitas adat yang terdiri dari dipati dan manti. Sebagai tambahan, prasasti tersebut juga mengindikasikan adanya relasi sosial-politik regional antara pemimpin komunitas di Kerinci dengan Kesultanan Jambi melalui agen yang disebut jenang. Kata Kunci: Prasasti Tanduk, Mendapo Rawang, Aksara Incung, Kerinci, Kesultanan Jambi
ASOSIASI GUNDUKAN TANAH, SUNGAI, DAN MENHIR DI PUSAT WILAYAH ADAT TANAH SEKUDUNG, BARATLAUT LEMBAH KERINCI, DATARAN TINGGI JAMBI (KAJIAN FENOMENOLOGI) Hafiful Hadi Sunliensyar
AMERTA Vol. 36 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The Association of Mounds, River and Menhirs in The Central of Tanah Sekudung Indigenous Territory, Northwestern of Kerinci Valley, Jambi Highland (Phenomenology Study). This article discusses about the associations of menhirs with landscape features(river and mounds) in Northwestern of Kerinci Valley. Customarily, this region is called as Tanah Sekudung with its centre in three villages (dusuns) that is Dusun Siulak Gedang, Siulak Panjang dan Siulak Mukai. This research uses phenomenology approach by Tilley. Phenomenological approach stresses the experience and bodily sensory of observer/researcher. The experience is obtained through observation participant method. In this method, the experience and interaction between observer and menhir be a part which is described.As results in this research, it is known that menhirs erection on the mounds or higherlands and its distribution which similarly with direction of the main river flow related with the legend of ancestors, cognitive space, cosmology and metaphora in Tanah Sekudung community. For example, river is refered to determinate of direction traditionally and also was became reference the migration of ancestors in the past.Therefore, menhirs as markers of migration paths, shape distribution similarly with directionof river flow. Keywords: Phenomenology, landscape, Menhir, Kerinci Abstrak. Artikel ini membahas asosiasi menhir dengan fitur lanskap (sungai dan gundukan tanah) di bagian barat laut Lembah Kerinci. Secara adat, wilayah ini disebut pula sebagai Tanah Sekudung, dengan pusatnya berada di tiga dusun, yaitu Dusun Siulak Gedang, Siulak Panjang, dan Siulak Mukai. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang dikemukakan oleh Tilley. Pendekatan fenomenologi menekankan pengalaman dan indra tubuh (bodily sensory) dari pengamat atau peneliti di lapangan. Pengalaman tersebut diperoleh dari pengumpulan data melalui metode observasi partisipan. Dalam hal ini, pengalaman dan interaksi antara peneliti dan menhir menjadi bagian yang akan dideskripsikan. Sebagai hasil penelitian, diketahui bahwa pendirian menhir di atas gundukan tanah dan distribusinya yang searah dengan arah aliran sungai utama terkait dengan legenda para leluhur, ruang kognitif, kosmologi, dan metafora yang dimiliki penduduk. Sebagai contoh, sungai yang dijadikan acuan dalam penentuan arah secara tradisional sekaligus dijadikan sebagai acuan perpindahan leluhur pada masa lalu. Oleh karena itu, menhir yang menjadi penanda lintasan migrasi leluhur membentuk arah distribusi yang sama dengan arah aliran sungai. Kata Kunci: Fenomenologi, lanskap, menhir, Kerinci