Hafid Nur Muhammad
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al-Multazam, Indonesia

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Al Muhafidz

URGENSI TAFSIR AL-TARBAWI DALAM PENDIDIKAN Hafid Nur Muhammad
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2021): Available online since 25 Februari 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.352 KB) | DOI: 10.57163/almuhafidz.v1i1.3

Abstract

Mejadi salah satu langkah penting dan juga merupakan terobosan yang dilakukan oleh akademisi keilmuan khususnya dalam bidang pendidikan menuju pendidikan yang benar-benar islami dengan berlandaskan al-Qur’an sebagai pedomannya. Dalam ijtihadnya akdemisi pendidikan dijadikan mata kuliah Tafsir Tarbawi sebagai mata kuliah wajib di setiap jurusan keguruan khususnya di PTIN dan PTIS. Dengan hal tersebut warna pendidikan nampak jelas sudah pendekatan yang dilakukan para akademisi bukanlah langkah yang salah. Disisi lain tafsir tarbawi juga memberikan kesan keteguhan iman dan akhlakul karimah yang tidak diajarkan dalam pendidikan bernuansa barat, maka tafsir tarbawi bisa dikatakan objektif memegang peran ini walaupun bukan merupakan disiplin ilmu sendiri. Abstract To be an important step and also a breakthrough made by scientific academics, especially in the field of education, towards a truly Islamic education with the Koran based on as recently. In its ijtihad, education academics is used as a Tarbawi Tafsir course as a compulsory subject in every teacher training department, especially in PTIN and PTIS. With this, the color of education seems that the approach taken by academics is clearly the wrong step. On the other hand the tarbawi interpretation also gives the impression of the firmness of faith and morals that do not teach in western-style education, so the tarbawi interpretation can be said to be objective in holding this role even though it is not a discipline in itself.
FEMINISME DALAM AL-QUR’AN (Analisis Penafsiran Fatima Mernissi Surat An-Nisa Ayat 34) Hafid Nur Muhammad; Fitri fitri
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2021): Available online since 25 Agustus 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.463 KB) | DOI: 10.57163/almuhafidz.v1i2.17

Abstract

Feminisme dalam Al-Qur’an Analisis Penafsiran Menurut Fatima Mernissi sesuai Qs. An-Nisa ayat 34. Pembahasan mengenai feminisme sudah banyak dikumandangkan baik dalam kalangan umum maupun kalangan akademisi Indonesia. Fokus pembicaraan yang dibahas ada yang bersifat umum menyangkut hak-hak dan pemberdayaan perempuan. Ada pula yang bersifat khusus dikaitkan dengan pemikiran Islam, terutama tentang penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an serta pemahaman hadits-hadits Nabi yang berhubungan dengan masalah perempuan. Seusai dengan penjelasan metode maudhu’i oleh Abu Hayy Al-Farmawi agar sampai kepada pengetahuan ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an yang memiliki pembahasan serupa dengan penelitian serta mendalami makna yang terkandung dalam setiap ayatnya. Penelitian ini akan menunjukkan sudut pandang Fatima Mernissi dengan sudut pandang para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan feminisme dan gender.
CORAK ADABI IJTIMA’I DALAM KAJIAN TAFSIR INDONESIA (Studi Pustaka Tafsir Al-Misbah danTafsir Al-Azhar) Dewi Purwaningrum; Hafid Nur Muhammad
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2022): Available online since 25 Februari 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v2i1.38

Abstract

Adabi ijtimai merupakan salah satu corak penafsiran Al-Qur’an yang mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kondisi masyarakat sehingga masyarakat akan lebih mudah menerima penyampaian isi dan makna Al-Qur’an. Oleh karena itu penelitian terkait corak adabi ijtima’i ini sangat penting untuk membongkar ayat-ayat yang berhubungan dengan aturan-aturan yang berjalan dan ditegakkan di masyarakat Indonesia. Seperti halnya Hamka dan Quraish Shihab juga menafsirkan Al-Qur’an dengan corak sosial kebudayaan masyarakat. Dengan adanya tafsir adabi ijtima’i ini maka masyarakat Indonesia lebih mudah lagi menerima kandungan-kandungan Al-Qur’an. Adapun Tafsir Al-Misbah lebih cenderung kepada peraturan-peraturan pemerintah yang diterapkan di Indonesia, sedangkan tafsir Al-Azhar karena mufassir tafsir tersebut adalah seorang sufi dan sastrawan jadi dalam penafsiran beliau lebih cenderung kepada tasawuf dan juga memainkan kata-kata sastra sehingga bahasa yang digunakan tampak indah.
KONSEP KEPEMIMPINAN WANITA DALAM QS. AN-NISA AYAT 34 (Studi Komparatif Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an Karya Imam al-Qurthubi dan Tafsir Kebencian Karya Zaitunah Subhan) Isti Khoiroh; Agus Setiawan; Hafid Nur Muhammad
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2022): Available online since 30 Agustus 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v2i2.45

Abstract

Penelitian ini membahas tentang konsep kepemimpinan wanita dalam QS. An-Nisa ayat 34, dimana permasalahan tentang kepemimpinan wanita merupakan topik yang selalu menarik, bahkan seakan menjadi polemik berkepanjangan, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan sendiri, kaum intelektual maupun kaum awam. Hal ini juga menjadi permasalahan kontroversial di kalangan ulama klasik dan kontemporer, masing-masing mempunyai argumentasi untuk membolehkan atau tidaknya wanita menjadi pemimpin. Penelitian ini menggunakan teori Abdul Hayy Al-Farmawi yaitu metode muqarran (perbandingan). Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mencari ayat Al-Qurán yang berkaitan dengan topik permasalahan kemudian mengemukakan pendapat para mufassir baik khalaf maupun salaf, membandingkan kedua pendapat tersebut, dan terakhir membuat kesimpulan dengan analisis penulis. Yang mana dari penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam rumah tangga, mutlak oleh laki-laki. Sedangkan dalam kepemimpinan public, baik laki-laki maupun wanita keduanya memiliki hak untuk memimpin dengan syarat yang telah ditentukan.
MAKNA AL-QAMISH PADA KISAH NABI YUSUF DALAM AL-QURAN : (Kajian Tematik: Surat Yusuf) Ridho Adi Anggara; Salwa Haliza Asshiddiqii; Muh. Makhrus Ali Ridho; Hafid Nur Muhammad
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2023): Available online since 24 Februari 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v3i1.66

Abstract

Usaha dan upaya dari Orientalis adalah menjauhkan Al-Qur’an dari Muslim, dengan menyebarkan isu-isu keraguan kebenaran Al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa Al-Qur’an merupakan hasil karya dari Nabi Muhammad bukan perkataan Allah SWT, didalamnya menceritakan banya kisah-kisah yang menyesatkan. Pemahaman tersebut bertolak belakang dengan beberapa kisah dalam Al-Qur’an jika dipelajari, dipahami secara benar. Dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an bisa diambil hikmah dan pelajarannya. Penelitian ini mencoba untuk mengkaji perbedaan makna qamish dalam surat Yusuf. Untuk itu medode deskriptif dan analitis akan digunakan untuk mendeskriptifkan makna qamish dari pengertiannya. Selanjutnya dengan menganalisa perbedaan dari masing-masing makna qamish pertama, kedua dan ketiga. Hasilnya bahwa qamish pertama adalah baju kebohongan, baju yang dibawa oleh saudara Yusuf yang dilumuri darah, bukanlah dari darah serigala, qamish kedua merupakan baju kesaksian, ketika Nabi Yusuf difitnah melakukan kemaksiatan, maka baju tersebut menjadi saksi karena robek dari bagian belakang yang menunjukan akan besarnya fitnah perempuan, dan qamish ketiga adalah baju kebahagiaan, baju tersebut dapat menyembuhkan mata Nabi Ya’qub dari kebutaan yang menjadikan baju ini sebagai buah akan kesabaran Ya’qub setelah musibah menimpanya.
SIKLUS AIR DALAM QS. AR-RA’D AYAT 17 MENURUT AL JAWAHIR FI TAFSIR AL-QUR'AN AL-KAREEM Putri Fathiya Nietarahmani; Hafid Nur Muhammad; Agus Setiawan
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2024): Available online since 25 February 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v4i1.98

Abstract

The role of water is very important for the sustainability of life. Given that water is the primary need of all creatures on earth, including humans, including animals, plants and so on. That way the rotation of the water cycle that continues to run makes water will not run out and is always maintained. By understanding the vital role of water for the sustainability of life on earth, did you know that this water cycle is mentioned in the Qur'an with various terms. In scientific terms this is referred to as hydrology.  In this research, the author seeks to explore and understand how the interpretation of QS. Ar-Ra'd verse 17 and how the cycle occurs in the Qur'an. The data obtained in this research comes from library research. This research reveals how the interpretation of QS. Ar-Ra'd verse 17 which is reviewed from the analysis of the book Tafsir Al Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an Al-Kareem which is the work of Sheikh Thantawi Jauhari. The resulting research is that the Qur'an explains about water with various terms starting with how the process of lightning, lightning and rain occurs so that it is continuous with the water cycle that occurs on earth. Sheikh Thantawi Jauhari interpreted this verse with various parables, so that what is useless will be blown away then what is useful will continue to exist on earth like water.
Ibnu Ashur's Interpretation On Qs. An-Nahl Verse 78 Regarding The Character Building Of Prenatal Children Hafid Nur Muhammad; Muslich Marzuki Mahdhor; Sidney Famela
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2024): Available online since 27 August 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v4i2.138

Abstract

Prenatal character building reflects the importance of educating children well. Character education can start from the prenatal period in accordance with the Qur'anic verse in QS. Al-A'raf verse 172 which tells the story of fetal interaction with God during the allegiance. Although there is a view that prenatal children cannot be educated on the grounds of the verse QS. An-Nahl verse 78, but learning potential such as hearing and vision can be started early. This research studies the pattern of character building of prenatal children based on the perspective of tafsir at-tahrir wa at-tanwir by Ibn Ashur and its application in society. This research method is a literature study with a descriptive approach of tarbawi interpretation to understand the context of QS. The character building of prenatal children is directed to optimize the potential of as-sam'a, al-abshar, and al-af'idah as mentioned in QS. This involves the coordination of these three potentials to understand the science and nature of things so that children understand the right way to live. Based on the author's analysis, character education methods for prenatal children must pay attention to fundamental values such as al-fitrah, al-samahah, al-musawah, and al-huriyyah by using appropriate methods such as prayer, worship, reading, dhikr, dialogue, joint activities, and naturally conducive methods.
SIKLUS AIR DALAM QS. AR-RA’D AYAT 17 MENURUT AL JAWAHIR FI TAFSIR AL-QUR'AN AL-KAREEM Nietarahmani, Putri Fathiya; Muhammad, Hafid Nur; Setiawan, Agus
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2024): Available online since 25 February 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v4i1.98

Abstract

The role of water is very important for the sustainability of life. Given that water is the primary need of all creatures on earth, including humans, including animals, plants and so on. That way the rotation of the water cycle that continues to run makes water will not run out and is always maintained. By understanding the vital role of water for the sustainability of life on earth, did you know that this water cycle is mentioned in the Qur'an with various terms. In scientific terms this is referred to as hydrology.  In this research, the author seeks to explore and understand how the interpretation of QS. Ar-Ra'd verse 17 and how the cycle occurs in the Qur'an. The data obtained in this research comes from library research. This research reveals how the interpretation of QS. Ar-Ra'd verse 17 which is reviewed from the analysis of the book Tafsir Al Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an Al-Kareem which is the work of Sheikh Thantawi Jauhari. The resulting research is that the Qur'an explains about water with various terms starting with how the process of lightning, lightning and rain occurs so that it is continuous with the water cycle that occurs on earth. Sheikh Thantawi Jauhari interpreted this verse with various parables, so that what is useless will be blown away then what is useful will continue to exist on earth like water.
Ibnu Ashur's Interpretation On Qs. An-Nahl Verse 78 Regarding The Character Building Of Prenatal Children Muhammad, Hafid Nur; Mahdhor, Muslich Marzuki; Famela, Sidney
Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2024): Available online since 27 August 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Al Multazam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57163/almuhafidz.v4i2.138

Abstract

Prenatal character building reflects the importance of educating children well. Character education can start from the prenatal period in accordance with the Qur'anic verse in QS. Al-A'raf verse 172 which tells the story of fetal interaction with God during the allegiance. Although there is a view that prenatal children cannot be educated on the grounds of the verse QS. An-Nahl verse 78, but learning potential such as hearing and vision can be started early. This research studies the pattern of character building of prenatal children based on the perspective of tafsir at-tahrir wa at-tanwir by Ibn Ashur and its application in society. This research method is a literature study with a descriptive approach of tarbawi interpretation to understand the context of QS. The character building of prenatal children is directed to optimize the potential of as-sam'a, al-abshar, and al-af'idah as mentioned in QS. This involves the coordination of these three potentials to understand the science and nature of things so that children understand the right way to live. Based on the author's analysis, character education methods for prenatal children must pay attention to fundamental values such as al-fitrah, al-samahah, al-musawah, and al-huriyyah by using appropriate methods such as prayer, worship, reading, dhikr, dialogue, joint activities, and naturally conducive methods.