Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

RENAL RESISTIVE INDEX (RRI) GUIDED BY ULTRASOUND (USG) AS A DIAGNOSTIC PREDICTOR OF ACUTE KIDNEY INJURY IN SEPSIS PATIENTS Satria Pinanditas S; Putu Agus Surya Panji; I Made Gede Widnyana; I Wayan Suranadi; Tjahya Aryasa EM; I Made Agus Kresna Sucandra; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27245

Abstract

This study is an observational analytical study with a cross-sectional design conducted in the intensive care unit of RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah from January 2024 until completion. The study population consisted of patients aged 18-65 years who met the criteria for sepsis diagnosis without chronic kidney disease. Data analysis was performed using SPSS version 26, including descriptive analysis, ROC curve, diagnostic test, and correlation analysis. The mean RRI at 0 hours was ±SB 0.78±0.68 cm/s for the AKI group and ±SB 0.60±0.08 cm/s for the non-AKI group. The mean RRI at 6 hours was ±SB 0.77±0.65 cm/s for the AKI group and ±SB 0.60±0.08 cm/s for the non-AKI group. The cut-off point for RRI at 0 hours was ?0.70 cm/s, with a sensitivity of 84.6%, specificity of 88.9%, accuracy of 86.4%, PPV of 91.7%, and NPV of 80%, with a relative risk of AKI of 4.58 times (95% CI 1.89-11.10; P<0.001). Meanwhile, for RRI at 6 hours, the cut-off point was also ?0.70 cm/s, with a sensitivity of 88.5%, specificity of 88.9%, accuracy of 88.6%, PPV of 92%, NPV of 84.2%, and a relative risk of AKI of 5.83 times (95% CI 2.05-16.56; P<0.001). The correlation coefficient between RRI at 0 hours and serum creatinine was r=0.380, p=0.011, while for RRI at 6 hours, it was r=0.393, p=0.008. RRI at 0 hours showed a correlation with urine production with r=-0.428, p=0.004, while for RRI at 6 hours, it was r=-0.540, p<0.001. In conclusion, RRI guided by ultrasound is a good diagnostic predictor for acute kidney injury in sepsis.
Total Intra Venous Anesthesia (TIVA) Target Controlled Infusion (TCI) Propofol Remifentanil untuk Seksio Sesarea Emergensi pada Pasien Meningioma dengan Peningkatan Tekanan Intrakranial Aryasa, Tjahya; Fajar Apsari, Ratih Kumala; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2536.971 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.251

Abstract

Meningioma sangat jarang ditemukan pada kehamilan, tapi kehamilan dapat memicu pertumbuhan meningioma. Ibu hamil yang menjalani seksio sesarea dengan penyulit tumor otak merupakan indikasi anestesi umum dengan kombinasi Target Controlled Infusion (TCI) propofol dan remifentanil. Propofol pada seksio sesarea dapat mengatasi respons simpatis akibat laringoskopi. Remifentanil berhubungan dengan hasil luaran lebih baik pada neonatus dari opioid lainnya. Perempuan 34 tahun, hamil 37 minggu datang dengan keluhan utama nyeri perut hilang timbul disertai kebutaan dan tanda peningkatan tekanan intrakranial tanpa penurunan kesadaran. Tidak dilakukan CT-Scan kepala karena direncanakan seksio sesarea emergensi. Dilakukan seksio sesarea dengan teknik anestesi umum menggunakan TCI propofol mode Marsh dengan target efek 34 mcg/ml dan TCI remifentanil dengan target 23 ng/ml, dan rocuronium dengan dosis 0,7 mg/kgBB. Pada menit kesepuluh, lahir bayi laki-laki, dengan berat badan 2000 gram dan skor APGAR 78. Selama operasi hemodinamik stabil dan tidak ada komplikasi. pascabedah dilakukaan pemeriksaan CT-scan dan ditemukan meningioma yang besar. Teknik ini memberikan hasil luaran pada neonatal dan ibu yang baik.Total Intra Venous Anethesia (TIVA) Target Controlled Infusion (TCI) with Propofol Remifentanil for Emergency Caesarean Section in Meningioma Patient with Increase Intracranial PressureAbstractMeningiomas are very rare in pregnancy, but pregnancy triggers the growth of meningiomas. Pregnant women who undergo cesarean section complicated with brain tumor are an indication of general anesthesia with Target Controlled Infusion (TCI) propofol and remifentanil. Propofol can blunt sympathetic response due to laryngoscopy. Remifentanil has a better outcomes in neonates than other opioids. A 34-year-old woman, 37-weeks pregnant presented with uterine contractions accompanied with blindness and signs of increased intracranial pressure without decreased consciousness. Head CT scan was not performed because an emergency cesarean section was planned. Caesarean section was performed with general anesthesia using Target Controlled Infusion (TCI) Marsh mode propofol with a target effect of 3-4 mcg/ml and remifentanil TCI with a target of 2-3 ng/ml, and rocuronium 0.7 mg/kg. At the tenth minute, a male baby was born, weighing 2000 grams and an APGAR score of 7-8. During surgery, the hemodynamic was stable without complications. Postoperatively, a CT scan was performed and a large meningioma was found. This technique provided good neonatal and maternal outcome outcomes.
Manajemen Perioperatif Pada Pasien Gravida 35 Minggu Dengan Preeklampsia Berat, Hipertensi, Dan Penyakit Jantung Kongenital ASD Sekundum: Laporan Kasus Khamandanu, Kadek Fabrian; Aryasa, Tjahya; Dewi Sinardja, Cynthia; Gede Utara Hartawan, I Gusti Agung
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 11 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i11.3007

Abstract

Manajemen perioperatif pasien hamil dengan penyakit jantung bawaan dan preeklampsia memerlukan pendekatan multidisiplin yang cermat. Atrial Septal Defect (ASD) dengan shunt bidirectional dan hipertensi pulmonal meningkatkan risiko gagal jantung dan komplikasi obstetrik. Anestesi regional sering dipilih untuk mengurangi dampak hemodinamik, dengan pengawasan ketat terhadap risiko tromboemboli dan stabilitas volume cairan. Seorang perempuan dua puluh dua tahun, hamil tiga puluh lima minggu tiga hari, dengan ASD, hipertensi pulmonal, dan preeklampsia berat, mengalami sesak napas progresif dan sianosis intermiten. Pemeriksaan echocardiography menunjukkan ASD moderat dengan shunt bidirectional, hipertrofi ventrikel kiri, dan fungsi ventrikel kanan yang menurun. Pasien menjalani Sectio Caesarea Transperitoneal (SCTP) dengan anestesi spinal menggunakan Bupivakain hiperbarik tujuh koma lima miligram dan Morfin nol koma lima miligram intratekal. Hemodinamik pasien tetap stabil sepanjang prosedur dengan pemantauan ketat dan manajemen cairan yang cermat dan teliti. ASD dengan shunt bidirectional meningkatkan risiko emboli paradoks, gagal jantung kanan, dan hipoksemia, terutama saat kehamilan. Preeklampsia memperburuk kondisi dengan meningkatkan resistensi vaskular dan disfungsi endotel, yang dapat menyebabkan hipertensi pulmonal progresif dan dekompensasi jantung. Manajemen anestesi bertujuan menjaga stabilitas hemodinamik dengan anestesi spinal dosis rendah untuk menghindari hipotensi mendadak. Morfin intratekal memberikan analgesia pascaoperasi yang efektif tanpa mengganggu fungsi pernapasan dan hemodinamik. Keberhasilan manajemen perioperatif pada pasien dengan ASD, hipertensi pulmonal, dan preeklampsia berat bergantung pada pendekatan multidisiplin yang komprehensif. Penggunaan anestesi spinal dengan Bupivakain dan Morfin intratekal terbukti efektif dalam menjaga stabilitas hemodinamik serta mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular dan neonatal.
Laporan Kasus : Tatalaksana Dengue Shock Syndrome Pada Ibu Hamil di Ruang Terapi Intensif Fikrawan, Putu Filla Jaya; Utara Hartawan, I Gusti Agung Gede; Aryasa, Tjahya; Parami, Pontisomaya; Labobar, Otniel Adrians
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 12 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i12.3150

Abstract

Dengue Shock Syndrome (DSS) adalah bentuk paling berat dari infeksi virus dengue yang dapat menyebabkan syok hipovolemik, trombositopenia, dan perdarahan. Kasus DSS pada ibu hamil memerlukan penanganan yang sangat hati-hati karena dapat berdampak pada kondisi ibu dan janin. Terapi cairan yang tepat merupakan kunci utama dalam manajemen DSS, terutama untuk mengatasi kebocoran plasma yang terjadi pada fase kritis infeksi dengue. Seorang perempuan 31 tahun, hamil 39 minggu, datang dengan keluhan demam tinggi sejak 3 hari sebelumnya disertai nyeri kepala, nyeri otot, dan mual. Pada hari ketiga demam, pasien melahirkan bayi laki-laki yang kemudian meninggal dalam kondisi maserasi. Pasien kemudian mengalami penurunan kondisi berupa syok hipovolemik, penurunan kesadaran, dan hipotensi, sehingga dirawat di ruang ICU. Resusitasi cairan dilakukan dengan cairan kristaloid dan koloid, namun kondisi pasien terus memburuk dan akhirnya meninggal setelah mengalami cardiac arrest pada hari keenam demam. DSS pada ibu hamil sangat kompleks karena selain mengancam jiwa ibu, juga dapat berdampak buruk pada janin. Penurunan volume plasma yang terjadi pada DSS dapat memperburuk syok dan menyebabkan kegagalan organ. Manajemen yang tepat melibatkan pemantauan ketat terhadap cairan, elektrolit, dan kondisi hemodinamik. Pada pasien ini, penanganan difokuskan pada resusitasi cairan yang intensif dan pemantauan ketat meskipun kondisi pasien tidak menunjukkan perbaikan. DSS pada ibu hamil memerlukan penanganan yang intensif dan multidisipliner untuk mencegah komplikasi fatal. Manajemen cairan yang hati-hati sangat penting untuk mengatasi kebocoran plasma dan mempertahankan stabilitas hemodinamik. Pemantauan klinis yang ketat serta pengawasan laboratorium juga diperlukan untuk mengurangi risiko morbiditas dan mortalitas baik pada ibu maupun janin.
Anaesthesia Management in Parturient with Peripartum Cardiomyopathy: A Case Report Leo, Joseph Nelson; Aryasa, Tjahya; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i11.16917

Abstract

Peripartum cardiomyopathy (PPCM) is an idiopathic cardiomyopathy secondary to left ventricle systolic dysfunction towards the end of pregnancy or in the months following delivery. Generally, the clinical presentation and anaesthetic management principle are similar to heart failure due to other causes. We report a case of a 27-year-old woman with a diagnosis of first pregnancy, 34 weeks, single and viable fetus, with preeclampsia with severe presentation and lung oedema et causa PPCM planned to have an emergency cesarean section. Pre-anesthesia evaluation revealed physical status ASA III E with lung edema (SpO2 96% with NRM 10 lpm) and EF 38% from echocardiography. The surgery was done with a regional anaesthesia epidural on L1-L2 using bupivacaine 0.25% with lidocaine 1% volume 10 ml caudally and bupivacaine 0.25% volume 10 ml via the epidural catheter. During surgery, blood pressure drops and is manageable with vasopressor. After surgery, the mother and baby were stable. The patient was treated in intensive care for three days and then transferred to a general ward. PPCM is relatively rare. This case could be used as a reference in managing future PPCM cases.
Airway Management Using Awake Fiberoptic in Thyroid Tumors: Case Report Labobar, Otniel Adrians; Ratumasa, Marilaeta Cindryani Ra; Aryasa, Tjahya; Irawan, Ferry
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.57740

Abstract

This case report aims to evaluate the effectiveness of the awake fiberoptic intubation (AFOI) technique in airway management for a patient with a thyroid mass. This is a descriptive case report that provides a detailed account of airway management in a patient with a thyroid mass. The subject of this study is a 47-year-old female with a thyroid mass. Data were collected through history-taking, physical examination, radiographic evaluation, and assessment using criteria such as MOANS, LEMON, and RODS to identify potential airway challenges. Anesthetic management and the intubation process were meticulously documented during surgery, including vital signs, drug administration, and the intubation procedure. The data were then presented in a narrative format, supported by preoperative clinical images, radiographic evaluation, and intraoperative monitoring. The results indicate that various airway assessment tests can predict difficult airway scenarios, and this case was successfully managed following ASA guidelines. The AFOI technique, which includes premedication, local anesthesia, and sedation, demonstrated a high success rate with minimal complications. In this case, AFOI was successfully performed via the oral route, with the patient remaining calm, awake, and cooperative throughout the procedure.
Manajemen Anestesi pada Pasien Pasca Transplantasi Ginjal yang menjalani Operasi Seksio Sesaria: Laporan Kasus Aryasa, Tjahya; Prema Putra, I Made; Wiryana, Made
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 1 (2025): JATI April 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i01.p05

Abstract

Wanita dengan riwayat pasca transplantasi ginjal harus menjalani persiapan yang matang untuk menjalani proses kehamilan. Manajemen perioperatif pada pasien wanita hamil dengan  pasca transplantasi ginjal juga dibutuhkan kerjasama tim yang meliputi ahli nefrologi, obstetri, dan anestesiologi & terapi intensif. Evaluasi meliputi pemeriksaan preanestesi rutin yang difokuskan kepada efek pemberian obat-obatan imunosupresif pasca transplantasi ginjal dan penyakit komorbidnya. Durante operasi juga harus mempertimbangkan teknik anestesi yang digunakan, interaksi obat dan teknik anestesi yang digunakan terhadap obat-obatan imunosupresi, serta resiko infeksi. Perawatan pasca operasi di ruang terapi intensif dibutuhkan untuk memonitoring status preload pasien, fungsi ginjal, dan juga pencegahan infeksi. Pemahaman mengenai perubahan fisiologi yang terjadi pada wanita hamil dengan  pasca transplantasi ginjal akan memberikan outcome yang lebih baik.