Claim Missing Document
Check
Articles

Found 44 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Perancangan Dan Realisasi Antena Microstrip Bowtie Untuk Electronic Support Measure (esm) Pada Frekuensi 8 – 12 Ghz Rezki Ronanda Putra; Achmad Ali Muayyadi; Yuyu Wahyu
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Electronic Support Measure (ESM) adalah sebuah peralatan elektronik yang berfungsi untuk menerima (received) sinyal gelombang elektromagnetik, kemudian sinyal tersebut diproses dan dianalisa sehingga diperoleh lokasi (posisi), kuat sinyal (signal strength) dan parameter lainnya. ESM bekerja pada range frequency 2 - 18 GHz, dengan pancaran antena omnidirectonal atau unidirectional, dan memiliki rentang gain 1 – 8 dBi. ESM terdiri dari 3 perangkat utama yaitu antena, receiver dan signal processor. Pada tugas akhir ini antena yang dirancang adalah antena microstrip bowtie (receiver) dengan spesifikasi pola radiasi bidirectional dan polarisasi ellips. Antena ini bekerja pada frekuensi X-band (8 - 12 GHz) dan memiliki gain ≥ 3 dBi. Antena bowtie ini memiliki beberapa keunggulan antara lain berbentuk sederhana, berpita lebar dan mudah untuk dibuat. Bahan yang digunakan adalah Roger Duroid 5880 (εr= 2,2, h=1.57 mm, dan t= 0.035 μm). Teknik yang digunakan untuk optimasi antena adalah teknik pencatuan Coplanar Waveguide (CPW). Pada hasil akhir perancangan antena Microstrip Bowtie ini menghasilkan VSWR ≤ 2 dan mendapatkan bandwidth sebesar 4 GHz, gain yang didapatkan dari hasil realisasi antena sebesar ≥ 3 dBi. Serta pola radiasinya adalah bidirectional dan polarisasi adalah elliptical. Sehingga antena ini layak untuk digunakan pada perangkat Electronic Support Measure (ESM). Kata Kunci : Antena mikrostrip, Electronic Support Measure, Microstrip Bowtie. Abstract Electronic Support Measure (ESM) is an electronic equipment that serves to receive electromagnetic wave signal, then the signal is processed and analyzed to obtain the location (position), signal strength and other parameters. ESM works in the 2 - 18 GHz frequency range, with omnidirectonal or unidirectional radiation pattern, and has a gain range of 1 - 8 dBi. ESM consists of 3 main devices namely antenna, receiver and signal processor. In this final project the antenna designed is microstrip bowtie antenna (receiver) with bidirectional radiation pattern specification and elliptical polarization. This antenna works at X-band frequency (8-12 GHz) and gain ≥ 3 dBi. Bowtie antenna has several advantages, among others, simple-shaped, wide-banded and easy to make. The materials used are Roger Duroid 5880 (εr = 2.2, h = 1.57 mm, and t = 0.035 μm). The technique used for antenna optimization is the Coplanar Waveguide (CPW) unification technique. In the final result of designing the Microstrip Bowtie antenna it produces VSWR ≤ 2 and gets a bandwidth of 4 GHz, the gain obtained from the antenna realization is ≥ 3 dBi. And the radiation pattern is bidirectional and polarization is elliptical. So that this antenna is suitable for use on Electronic Support Measure (ESM) devices. Keywords: Microstrip Antenna, Electronic Support Measure, Microstrip Bowtie
Analisis Perancangan Jaringan Long Term Evolution Advanced Carrier Aggregation Dengan Menggunakan Antena Mimo 2x2 Dan 4x4 Kota Bandung Ganang Arifian; Achmad Ali Muayyadi; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LTE Advanced Feature adalah penggabungan antara wifi dan cellular data, maka output data ratenya akan menjadi double. LTE Advanced merupakan teknologi generasi ke 4 (4G) yang memberikan fitur-fitur terbaru demi mencapai data rate yang tinggi. Data rate untuk LTE Advanced diharapkan mencapai 1 Gbps untuk sisi downlink dan 300 Mbps untuk sisi uplink. Salah satu fitur yang menjadi faktor bertambahnya data rate adalah dengan teknik Carrier Aggregation. Fitur ini dapat menggabungkan dua atau lebih komponen carrier dengan bandwith maksimum sebesar 20 MHz per carrier baik dalam satu band frekuensi maupun berbeda. Antena MIMO (Multiple Input Multiple Output) merupakan sistem komunikasi yang menggunakan lebih dari satu antena dimana keduanya berfungsi sebagai transmiter dan receiver secara bersamaan. Dalam jurnal ini penggunaan carrier aggregation dapat mengoptimalkan frekuensi existing yang saat ini masih ditempati teknologi GSM.Parameter yang dianalisis pada jurnal kali ini adalah RSRP, CINR, Connected user dan Throughput. Kata Kunci : LTE Advanced, Carrier Aggregation, MIMO
Perencanaan Backhaul Microwave Untuk Jaringan Radio Akses Long Term Evolution Di Kota Banyumas Akrom Khoerul Hakim; Achmad Ali Muayyadi; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi pada zaman sekarang sangat cepat. Oleh karena itu, diperlukan suatu layanan yang mampu mengirim informasi dengan cepat dan dapat menampung kapasitas yang besar. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dapat menggunakan suatu model jaringan telekomunikasi Long Term Evolution (LTE). Sedangkan jika dilihat dari sisi lain, jaringan LTE membutuhkan suatu backhaul untuk mengakomodasi sistem jaringan akses dari LTE tersebut. Backhaul memiliki peran yang penting karena dapat mempengaruhi performansi dari jaringan LTE tersebut. Pada penelitian ini akan dilakukan perencanaan Link Backhaul Microwave untuk radio komunikasi pada daerah Kota Banyumas. Perencanaan ini dilakukan dengan meninjau kebutuhan kapasitas trafik jaringan LTE , setelah itu ditentukan frekuensi berdasarkan jarak dan bandwidth berdasarkan kapasitas link. Mengacu pada kebutuhan tersebut, pemilihan perangkat yang tepat juga dilakukan dalam perencanaan ini. Microwave dipilih sebagai media transport karena cocok untuk wilayah yang banyak terdapat pegunungan. Sedangkan performansi yang diinginkan pada penelitian ini adalah daya terima sebesar > -70.50 dBm, SES < 1 detik dan availability > 99,99%. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi, perencanaan backhaul microwave pada daerah Kota Banyumas, telah ditentukan 9 link yang membutuhkan kapasitas link sebesar 160 Mbps serta menggunakan frekuensi kerja 7 GHz, 11 Ghz, 13 GHz dan 15 GHz yang ditentukan berdasarkan jarak dari site perencanaan. Dilihat berdasarkan kebutuhan kapasitas link serta frekuensi kerja yang ditentukan, maka spesifikasi yang digunakan adalah untuk gain antenna sebesar 31,2 dBi untuk frekuensi 7 GHz, 44 dBi untuk frekuensi 11 GHz, 35,60 dBi untuk frekuensi 13 GHz dan 36,80 dBi untuk frekuensi 15 GHz , serta kapasitas sebesar 265 Mbps, dan daya terima minimum sebesar - 70,50 dBm untuk frekuensi 7 GHz dan -70,50 dBm untuk frekuensi 11 GHz, 13 GHz, dan 15 GHz. Pada hasil simulasi, seluruh link backhaul microwave mencapai availability sebesar > 99,99%, hal ini disebabkan oleh level daya terima tiap site lebih besar dari level daya minimum perangkat. Kata kunci : Backhaul, Link Microwave
Implementasi Dan Analisis Channel Coding Dvb-t2 Pada Software Gnuradio Maryam Namira; Achmad Ali Muayyadi; Edwar Edwar
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Channel coding adalah teknik yang digunakan sistem komunikasi dengan tujuan utama mendeteksi dan mengoreksi error. Channel coding yang digunakan pada DVB-T2 adalah Forward Error Correction (FEC) encoding dengan penggabungan dua jenis code yaitu Low Density Parity Check (LDPC) code dan Bose Chaudhuri Hocquenghem (BCH) code sehingga diharapkan dapat menghasilkan Bit Error Rate (BER) yang lebih kecil dari sistem dengan penggunaan satu jenis code saja. Tugas akhir ini mengimplementasikan blok DVB-T2 berdasarkan standar ETSI EN 302 755 V1.3.1 pada software GNURadio. Implementasi pada software GNURadio dilakukan dengan jumlah subcarrier 6817, mapper 64-QAM, besar guard interval 1/8 serta code rate 1/2, 3/5, 3/4, 4/5 and 5/6, sementara itu pada software simulasi BER dengan code rate 1/2 dan 3/5. Hasil simulasi menunjukkan bahwa nilai Eb/N0 terkecil didapatkan pada code rate LDPC 1/2 dengan Eb/N0 0,79 dB dan coding gain sebesar 8,64 dB terhadap kurva BER teori pada BER 10-5 dan Eb/N0 terbesar didapatkan pada code rate LDPC 3/5 dengan Eb/N0 1,2 dB. Kata kunci: DVB-T2, channel coding, GNURadio, TV Digital, code rate. Abstract Channel coding is a technique used in communication system with main purpose to detect and correct errors. Channel coding that has been used in DVB-T2 is Forward Error Correction (FEC) encoding with a concatenation of two code, thus are Low Density Parity Check (LDPC) code and Bose Chaudhuri Hocquenghem (BCH) code. It is expected to obtain lower Bit Error Rate (BER) with the use of concatenation code rather than usage of only one code. This thesis implement DVB-T2 blocks based ETSI EN 302 755 V1.3.1 in GNURadio software. Implementation in GNURadio software is done using number of subcarrier 6817, mapper 64-QAM, guard interval 1/8, and code rate 1/2, 3/5, 3/4, 4/5 and 5/6 while in BER simulation software is done with code rate 1/2 and 3/5. Simulation result smallest Eb/N0 value obtained in LDPC code rate 1/2 with Eb/N0 0.79 dB and coding gain 8.64 dB toward theoritical BER curve in BER 10-5 and biggest Eb/N0 obtained in LDPC code rate 3/5 with Eb/N0 1.2 dB. Keywords: DVB-T2, channel coding, GNURadio, Digital TV, code rate.
Analisis Performansi Dan Optimasi Throughput High Speed Downlink Packet Access Di Dalam Kereta Api Rian Raya; Achmad Ali Muayyadi; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Stasiun Bekasi setiap harinya diberangkatkan 56 rangkaian kereta api Commuter Line dan terdapat 58 rangkaian kereta api Commuter Line yang tiba. Berdasarkan “Data Volume Pendapatan Penumpang Commuter Line Stasiun Besar Bekasi” bulan Oktober 2014 yang didapatkan dari PT KCJ terdapat paling sedikit 20.029 jiwa perharinya yang menggunakan moda transportasi Commuter Line. Dan tidak sedikit diantara mereka para pengguna Commuter Line tersebut yang mengakses Internet dengan menggunakan Smartphone mereka selagi menunggu tiba di Stasiun tujuan. Berdasakan hasil percobaan mengakses Internet didalam kereta api Commuter Line didapatkan fakta bahwa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuka suatu halaman website, pengiriman pesan chatting dan speed download di antara Stasiun Buaran hingga Stasiun Klender Baru cukup lambat, sehingga hal ini dapat mengakibatkan konsumen merasa tidak senang dan bisa mengakibatkan konsumen berpindah ke operator seluler yang lain. Setelah dilakukan optimasi jaringan, terdapat peningkatan nilai RSCP (level daya terima) sebesar 5,85 dBm dan peningkatan nilai RSSI sebesar 5,36 dBm. Dengan penaikan RSCP dan RSSI seperti itu menjadikan peningkatan performansi Ec/No (kualitas kanal) sebesar 3,15 dB. Dengan meningkatnya Ec/No menyebabkan peningkatan performansi throughput dari 164 kbps menjadi 532 kbps. Dengan nilai throughput sebesar 532 kbps telah sesuai dengan standar KPI dari operator X sebesar 500 kbps. Kata kunci : HSDPA, throughput
Analisis Perancangan Jaringan Heterogen Lte-a Tdd Dengan Small Cell Binar Alam Pamungkas; Achmad Ali Muayyadi; Ishak Ginting
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tingginya kepadatan penduduk yang ada di Kelurahan Lengkong Kecamatan Bojongsoang karena pembangunan pemukiman yang semakin masif. Kelurahan Lengkong Kecamatan Bojongsoang hanya memiliki 1 site makro tepatnya di Jalan Cikoneng. Dalam satu hari secara kumulatif site ini menampung lebih dari 3000 pengguna. Berdasarkan evaluasi dari percobaan, 52,19 % penggguna yang mencoba mengakses layanan ditolak. Dalam mengatasi hal ini pada teknologi LTE-A terdapat suatu skema teknologi untuk meningkatkan kapasitas yaitu heteroenous network. Jaringan heterogen (HetNet) merupakan suatu skema pada jaringan seluler yang menerapkan small cell di dalam cakupan macro cell dengan teknologi yang sama maupun yang berbeda. Jurnal ini melakukan perancangan jaringan heterogen untuk teknologi LTE-A TDD dengan small cell berupa micro cell di Kelurahan Lengkong Kecamatan Bojongsoang dengan menggunakan perhitungan capacity calculation dan coverage calculation. Frekuensi yang digunakan yaitu 2360 MHz TDD untuk site makro dan 2360 MHz TDD untuk site mikro. Hasil dari jurnal ini didapatkan skenario dengan jumlah 3 site mikro dengan bandwidth 20 MHz adalah pilihan yang terbaik dari semua skenario yang dilakukan. Performansi yang baik untuk nilai-nilai parameter yang sudah sesuai standar operator. Nilai Reference Signal Receive Power (RSRP) rata-rata hasil dari perancangan jaringan heterogen yaitu -75,29 dBm. Untuk nilai Carrier to Interference Noise Ratio (CINR) rata-rata yaitu 10,27 dB. Nilai throughput yang diperoleh untuk downlink rata rata sebesar 19,665 Mbps dan uplink sebesar 10,578 Mbps. Hasil persentase dari user connected yaitu sebesar 99 %. Dari hasil tersebut maka perancangan jaringan heterogen dengan small cell berupa micro cell layak untuk diimplementasikan. Kata Kunci : LTE-A, TDD, Jaringan Heterogen, Micro Cell Abstract The high population densities that exist in Kelurahan Lengkong Bojongsoang Subdistrict because residential developments that increasingly massif. Bojongsoang Subdistrict Lengkong village only has 1 site in the macro exactly in Cikoneng street. In one day this site cumulatively more than 3000 users. Based on the evaluation of the experiment, 52.19% users who try to access the service denied. To solve this problem in technology LTE-A there is a plan to increase the capacity of the technology that is heteroenous network. Heterogeneous network (HetNet) is a cellular network scheme that applying small cell within the scope of the macro cell with the same technology as well as different. This journal is doing the design of heterogeneous networks for LTE-A TDD technology with small cell in the form of micro cell in Bojongsoang Subdistrict Lengkong Village by using the calculation of capacity calculation and coverage calculation. Frequencies used i.e. 2360 MHz TDD for site macro and 2360 MHz TDD for micro site. The results of this journal study obtained a scenario with the number of 3 micro sites with bandwidth of 20 MHz is the best choice of all the scenarios carried out. Good performance for parameter values that are in accordance with operator standards. Reference Signal Receive Power (RSRP) value average result from the design of heterogeneous networks average i.e -75.29 dBm. For the value of the Carrier to Interference Noise Ratio (CINR) average i.e. 10.27 dB. The value obtained for the downlink throughput averages of 19.665 Mbps and uplink of 10.578 Mbps. The result of percentage of user connected is 99%. From these results, the design of heterogeneous networks with small cells forming micro cells is feasible to implement. Keyword : LTE-A, TDD, Heterogenous Network, Micro Cell
Simulasi Sistem Ofdm Pada Gnuradio Renandy Rifqi Aryandara; Achmad Ali Muayyadi; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penggunaan teknolgi komunikasi terus berkembang sangat pesat, hal ini lah yang mendorong peningkatan standar pada area teknologi komunikasi, dan memerlukan prototype untuk standar yang berbeda dalam waktu yang sangat cepat. Teknologi modern saat ini sudah banyak yang memakai konsep sistem komunikasi radio atau di definisikan sebagai Software Defined Radio (SDR). Hal yang mendasari munculnya konsep sistem komunikasi radio yaitu disebabkan oleh meningkatnya permintaan untuk desain yang fleksibel dan ketersediaan Digital Signal Processing (DSP) serta reconfigurable logic (FPGA, PLD). SDR adalah sistem komunikasi radio dimana komponen yang terdapat pada perangkat keras digantikan dengan pengimplementasian perangkat lunak pada perangkat komputer atau embedded system. Sistem SDR yang umum digunakan adalah GNU Radio. Dalam pengujian Tugas Akhir ini terdapat beberapa parameter yang diuji yaitu frekuensi, amplitude, Fast Fourier Transform (FFT) size, noise dengan menggunakan skema modulasi Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) pada sisi payload, dan Binary Phase Shift Keying (BPSK) pada sisi header. Dan hasil dalam penelitian Tugas Akhir ini berupa keluaran sinyal dari sistem OFDM menggunakan GNU radio dengan ukuran FFT yang berbeda – beda, dengan menggunakan kanal AWGN. Kata Kunci : OFDM, USRP, LTE, GNURadio, BPSK, QPSK Abstract The use of communication technology continues to grow very rapidly, this is what drives the increase in standards in the area of communication technology, and requires prototypes for different standards in a very fast time. Many modern technologies nowadays use the concept of a radio communication system or defined as Software Defined Radio (SDR). What underlies the emergence of the concept of radio communication systems is that it is caused by the increasing demand for flexible designs and the availability of Digital Signal Processing (DSP) and reconfigurable logic (FPGA, PLD). SDR is a radio communication system where components contained in hardware are replaced by implementing software on a computer or embedded system. The SDR system commonly used is GNU Radio. In this Final Project test, there are several parameters tested, namely frequency, amplitude, Fast Fourier Transform (FFT) size, noise using several Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) modulation schemes on the payload side, and Binary Phase Shift Keying (BPSK) on the side header. And the results of this Final Project research are output signals from OFDM systems using GNU radio with different FFT sizes, using AWGN channel. Keywords : OFDM, USRP, LTE, GNURadio, BPSK, QPSK
Implementasi Pengendalian Hama Dan Monitoring Pada Tanaman Terong Berbasis Internet Of Things Muh.wahyu Rizasyawal; Achmad Ali Muayyadi; Asep Mulyana
eProceedings of Engineering Vol 9, No 6 (2022): Desember 2022
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terong (Solanum Melongena L.) merupakan sayuran yang sangat populer dan banyak dicari, namun hama yang terdapat pada tanaman terong tersebut telah menurunkan hasil panen. Terong perlu disemprot pestisida untuk membasmi hama atau mencegahnya datang, sehingga petani perlu menyemprotkan pestisida untuk mengusir hama. Namun, pestisida yang digunakan oleh petani dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan mereka sendiri jika sering bersentuhan atau menghirupnya. Saat ini perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) begitu pesat sehingga penulis bertujuan untuk mempermudah pekerjaan para petani baik dengan irigasi otomatis maupun penyemprotan pestisida otomatis untuk menjaga kesehatan mereka. Alat ini terhubung ke internet dan memungkinkan Anda mengakses data dari smartphone. Alat ini dirancang untuk membantu petani secara otomatis mengairi dan menyemprotkan pestisida pada tanaman terong untuk mengusir atau mencegah hama dan menjaga kesehatan petani. Ini juga memungkinkan petani untuk memantau tanaman mereka dari jarak jauh. Mikrokontroler dan sensor kelembaban tanah digunakan untuk memantau kadar air tanah, dan Real Time Clock (RTC) digunakan untuk menjadwalkan aplikasi pestisida untuk mengumpulkan data dari semua sensor. Nanti akan dilihat melalui aplikasi menggunakan App Inventor. Tugas akhir ini menghasilkan nilai delay rata-rata 394 ms dan nilai throughput rata-rata 1774,143 bps. Kata kunci — Terong, Hama, Pestisida, Penyemprotan Otomatis, Real time Clock, Android
Sistem Pertanian Terpadu Skala Mikro Berbasis Iot Pada Ayam Petelur Alsha, Nando Irawan; Muayyadi, Achmad Ali; Armi, Nasrullah
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertanian tradisional masih dilakukan dengan pengolahan dan pemantauan terhadap komoditas yang dibudidayakan secara manual sehingga menyebabkan kurangnya efektifitas dan efisiensi waktu dan sumber daya. Telur ayam merupakan salah satu komoditas pangan tertinggi yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di indonesia karena memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan menjadi sumber protein utama selain ikan dan daging. Dengan ini dapat dibuat sebuah sistem pertanian terpadu skala mikro berbasis IoT yang dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan waktu dan sumber daya. Dalam pengelolaannya pada sektor peternakan akan dilakukan monitoring dan controlling terhadap nilai suhu pada kandang Ayam petelur. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan sistem dapat menyalakan kipas pendingin secara otomatis pada saat kondisi suhu >25oC dan akan berhenti menyala pada kondisi suhu <25oC. Monitoring kondisi kadar Gas Amonia pada kandang untuk mengetahui kebersihan kondisi kandang, serta melakukan controlling pemberian pakan secara otomatis berdasarkan waktu. Melalui penggunaan IoT, sistem peternakan ini dapat memberikan informasi yang akurat secara realtime sehingga kontrol pada alat dapat bekerja sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi. Dalam implementasinya, sistem pertanian terpadu skala mikro berbasis IoT ini juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Sumber daya yang digunakan oleh salah satu sektor juga berasal dari sektor yang lain (sharing resources). Hal ini diharapkan mampu mengurangi penggunaan lahan sekaligus mengurangi penggunaan sumber daya agar efektif dan efisien. Kata kunci : Pertanian, Ayam Petelur, Telur, Suhu, Amonia, IoT.
Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu Skala Mikro Berbasis IoT pada Front-End Website Lestari, Wina Ayu; Muayyadi, Achmad Ali; Armi, Nasrullah
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Website pada Sistem Pertanian Terpadu Skala Mikro Berbasis IoT mengintegrasikan Sektor Pertanian, Peternakan, dan Perikanan dalam satu sistem infoemasi. Pengguna dapat memantau dan mengontrol budidaya secara real-time melalui website tersebut. Penelitian ini menguji kemudahan penggunaan, responsivitas, dan kecepatan pemuatan website. Angket Google Form diisi oleh 79 responden untuk mengevaluasi kemudahan penggunaan. Mayoritas responden memberikan penilaian baik terhadap tampilan, kemudahan menemukan informasi, kejelasan konten, tata letak, gambar, fitur-fitur, instruksi, dan panduan penggunaan. Namun, perbaikan diperlukan untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Pengujian responsivitas menggunakan Inspect pada browser menunjukkan bahwa website responsif pada berbagai ukuran layar. Semua elemen dan konten tetap terlihat baik, navigasi mudah, dan teks serta gambar jelas. Pengujian kecepatan dengan Lighthouse dan Hostinger menunjukkan performa yang baik dalam kategori Performance. Meskipun demikian, aksesibilitas beberapa halaman perlu diperbaiki. Website pada Sistem Pertanian Terpadu Skala Mikro Berbasis IoT telah memenuhi spesifikasi kemudahan penggunaan, responsivitas, dan kecepatan pemuatan yang baik. Perbaikan masih diperlukan untuk meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan. Kata kunci: IoT, Website, Kemudahan Penggunaan, Responsivitas, Kecepatan Pemuatan.