Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Analisis Pengaruh Spatial Aliasing Pada Teknik Blind Source Separation Untuk Deteksi Kerusakan Mesin Ahmad Barelvie Rasyid; Mamat Rokhmat; Hertiana Bethaningtyas Dyah K.
eProceedings of Engineering Vol 2, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam aktivitas industri terdiri dari beberapa mesin sehingga sinyal suara menjadi tercampur. Untuk memantau kondisi alat dengan teknik analisis getar dibutuhkan sebuah metode untuk memisahkan sinyal suara tercampur. Blind source separation adalah metode untuk memisahkan sinyal suara tercampur, hasil pemisahan blind source separation dapat dilihat dari nilai mean square error (MSE). Nilai rata-rata MSE hasil pemisahan dari suara tercampur convolutive mixture2 input antara mesin normal dan bearing fault adalah 5100,924191, dan MSE hasil pemisahan sinyal suara tercampur antara mesin unbalance dan misalignment adalah 9,53463320. Sedangkan nilai MSE sinyal hasil pemisahan dari suara tercampur instantaneous linear mixture 2 input antara mesin normal dan bearing fault adalah 0,00000702, dan MSE hasil pemisahan sinyal suara tercampur antara mesin unbalance dan misalignment adalah 0,00002066. Nilai rata-rata MSE hasil pemisahan sinyal tercampur dengan teknik convolutive mixture terhadap sinyal asli 3 input adalah 42,754061, dan nilai rata-rata MSE hasil pemisahan sinyal tercampur dengan teknik instantaneous linear mixture adalah 0,016585. Spatial aliasing hanya mempengaruhi perubahan inentsitas pada sudut arah datang suatu frekuensi, namun tidak pada pola frekuensi pada spectogram masing-masing kondisi mesin. sehingga pada proses pemisahan sinyal suara tetap dapat diketahui karakteristik suatu kondisi mesin melalui spectogram hasil pemisahan sinyal suara tercampur. Kata Kunci : Blind Source Separation, Convolutive Misture, Instantaneous linear mixture, Mean Square Error(MSE)
Studi Perbandingan Konfigurasi Koil Met Febriyanti Novitasari; Dudi Darmawan; Mamat Rokhmat
eProceedings of Engineering Vol 2, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi yang berkembang pesat saat ini merupakan efek dari kebutuhan manusia yang semakin meningkat, salah satunya yakni teknologi inspeksi. Teknologi inspeksi ini merupakan proses yang sistematik dan independen untuk memperoleh bukti inspeksi dan mengevaluasinya secara obyektif untuk menentukan sampai sejauh mana kriteria inspeksi terpenuhi. Berbagai tahap inspeksi telah dikembangkan saat ini mulai dari Destructive Testing maupun Non-Destructive Testing. Seiring dari berkembangnya teknologi, metode Non- Destructive Testing yang sering digunakan untuk melakukan pengujian, karena metode Non-Destructive Testing ini adalah pengujian tanpa merusak objek secara kontak langsung. Non-Destructive Testing memiliki beberapa metode, salah satunya metode Eddy Current Testing yang digunakan dalam penelitian topik tugas akhir ini. Dalam penelitian tugas akhir ini, objek uji yang akan digunakan berupa bahan ferromagnetik dan non-ferromagnetik. Sudah diketahui bahwa bahan non-ferromagnetik merupakan bahan yang mempunyai sifat kemagnetan sangat rendah. Oleh karena itu penelitian tugas akhir ini akan membandingkan objek uji yang bersifat ferromagnetik dengan non-ferromagnetik. Pengujiannya masing-masing menggunakan konfigurasi koil yang berbeda hingga mendapatkan konfigurasi koil yang tepat untuk dapat menghasilkan data potensial pada objek. Kata kunci: Destructive Testing, Non-Destructive Testing, Eddy Current Testing, Data Potensial.
Penumbuhan Partikel Cu Menggunakan Fix Current Electroplating Dan Aplikasinya Pada Solar Cell Berbahan Dasar Tio2 Mayanisa Nurfithri; Mamat Rokhmat; Ismudiati Puri Handayani
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam rangka mengembangkan sel surya sebagai energi terbarukan yang memanfaatkan cahaya matahari, maka dilakukan upaya optimalisasi terhadap material yang digunakan untuk mendapatkan kinerja sel surya yang baik. Salah satu sel surya yang banyak dikembangkan adalah sel surya berbahan dasar Titanium Dioksida (TiO2) yang dapat dimanfaatkan sebagai material atau lapisan aktif penyerap foton dari cahaya matahari, memiliki harga yang murah dan dapat difabrikasi dengan metode yang sederhana. Tetapi kendala yang dimiliki TiO2  adalah nilai band gap yang besar sekitar 3,2 eV, yang meyebabkan efisiensi yang dihasilkan rendah. Untuk meningkatkan efisiensi, maka pada penelitian ini dikembangkan sel surya berbahan dasar TiO2 dengan elektroplating Cu. Deposisi TiO2 terhadap substrat FTO dilakukan dengan metode spray dan dilakukan penyisipan Cu dengan metode elektroplating menggunakan sumber arus. Variasi nilai sumber arus dan waktu yang digunakan dalam metode elektroplating   merupakan parameter yang mempengaruhi efisiensi sel surya. Penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi yang dihasilkan oleh sel surya bergantung pada kandungan Cu yang terbentuk akibat nilai sumber arus dan lamanya waktu yang digunakan dalam metode elektroplating. Setelah dilakukan variasi sumber arus dan waktu elektroplating, didapatkan hasil efisiensi tertinggi sebesar 0,29% pada saat TiO2 di elektroplating selama 30 detik dengan arus 10 mA. Kata kunci: Elektroplating , Sel Surya, TiO2, Tembaga (Cu) , Efisiensi
Pengaruh Suhu Dan Kecepatan Putar Spin Coating Terhadap Kinerja Sel Surya Organik Berbahan Dasar Tio2 Aldy Hidayat; Mamat Rokhmat; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 1, No 1 (2014): Desember, 2014
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alat Spin Coating adalah salah satu metode yang digunakan untuk membuat lapisan tipis yang salah satu aplikasinya adalah untuk mendeposisi lapisan aktif dalam aplikasi sel surya organik. Salah satu jenis sel surya organik adalah sel surya berbahan dasar TiO2 yang umumnya digunakan dalam penelitian Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) atau sel surya tersensitasi zat warna. Dalam kajian teoritis, kecepatan putar spin coating berpengaruh terhadap ketipisan film yang dibuat, namun belum ada penelitian lebih lanjut yang menyatakan hubungan antara kecepatan putar spin coating terhadap kinerja sel surya yang dihasilkan. Selain itu, proses pemanasan suhu dalam proses spin coating juga menjadi salah satu bagian yang dapat mempengaruhi kinerja sel surya secara keseluruhan, namun belum ada penelitian yang menjelaskan tentang pengaruh suhu proses spin coating dan pengaruhnya pada kinerja sel surya yang dihasilkan. Tugas akhir ini meneliti tentang pengaruh kecepatan putar dan suhu pada proses spin coating sederhana yang dibuat menggunakan Arduino Uno sebagai kontrol proportional-integral pada motor DC brushless DC fan dan Electric Thermostat sebagai sistem pemanas pada alat yang dibuat, sehingga dapat dilihat pada kecepatan dan suhu yang optimal dalam fabrikasi sel surya organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan putar berpengaruh linier terhadap efisiensi sel surya yang dibuat dengan kecepatan optimal sebesar 2800 RPM (Rotation Per-Minute) menghasilkan efisiensi sebesar 0.008%. Sementara suhu juga mempengaruhi efisiensi sel surya secara linier dengan menghasilkan efisiensi sebesar 0.026% pada kondisi putaran 2800 RPM dan suhu 75° celcius Kata kunci : Spin Coating, Sel Surya Organik, DSSC, TiO2, Suhu, Kecepatan Putar, Efisiensi
Intregrasi Polymer Electrolyte Membrane (PEM) Fuel Cell dan Analisis Pengaruh Jumlah Sel Terhadap Performansi Berdasarkan Data Kurva Karakteristik Nia Malasari; Holia Onggo; Mamat Rokhmat
eProceedings of Engineering Vol 1, No 1 (2014): Desember, 2014
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Satu sel fuel cell menghasilkan tegangan kurang dari 1.16 volt, tegangan ini terlalu kecil untuk diaplikasikan. Tegangan yang tinggi dapat dihasilkan dengan cara menyusun secara seri sebuah fuel cell stack. Daya, potensial sel, dan arus yang dihasilkan oleh stack bergantung pada jumlah sel. Namun, potensial sel yang sebenarnya menurun dari potensial ideal karena beberapa jenis kerugian irreversibel. Penelitian ini mempelajari pengaruh jumlah sel dalam stack terhadap output dari Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell (PEMFC). Pada eksperimen ini, temperature humidifier diatur pada 45oC sedangkan suhu sel dijaga konstan pada suhu kamar. Clamping force adalah sebesar 20 kgf/cm2 , dan backpressure H2/O2 adalah 15 psi. Flow rate H2 untuk satu, dua dan tiga sel masing-masing adalah 50ml/min, 100ml/min, 150ml.min. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa optimasi tekanan dan flow rate meningkatkan kinerja stack secara signifikan. Fungsi daya maksimum yang dihasilkan adalah 1.356n 1.968 dimana n adalah jumlah sel. Kata kunci : polymer electrolyte membrane fuel cell, kurva karakteristik, overvoltage, stacking, irreversible loss, jumlah sel, optimasi
Studi Pengaruh Medan Magnet Terhadap Produksi Gas Oxyhidrogen Pada Generator Tipe Dry Cell Christina Christina; Reza Fauzi Iskandar; Mamat Rokhmat
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Energi merupakan suatu kebutuhan yang memiliki peranan penting bagi kelangsungan hidup manusia. Penggunaan energi tersebut sebagian besar masih berasal dari energi fosil. Pada produksinya energi dari bahan fosil mengalami penurunan. Tetapi, hal ini disertai dengan pertumbuhan energi terbarukan yang terus mengalami peningkatan. Gas oxyhidrogen merupakan salah satu solusi untuk ikut serta dalam meningkatkan pertumbuhan energi terbarukan. Gas oxyhidrogen ini dihasilkan melalui proses elektrolisis pada generator tipe dry cell. Dalam upaya meningkatkan optimasi produksi gas maka dilakukan penelitian dengan menambahkan pengaruh medan magnet eksternal pada generator. Pada penelitian ini dilakukan penambahan medan magnet pada 8 posisi pada generator. Besar medan magnet yang diberikan yaitu 0,0209 – 0,0481 T dengan arus pada generator 5 A dan 3,62 V. Debit rata-rata yang dihasilkan pada arah medan magnet masuk ke generator yaitu pada saat posisi magnet berada di sisi kanan generator sebesar 0,07011 l/m. Serta pada besar arus 1,401 A untuk seluruh posisi menghasilkan debit rata-rata sebesar 0,06671 l/m. Pada arah medan magnet keluar dari generator yaitu pada saat posisi magnet berada pada di sisi kiri generator menghasilkan debit 0,06931 l/m. Serta pada besar arus 1,302 A untuk seluruh posisi menghasilkan debit rata-rata sebesar 0,06920 l/m. Dengan demikian, pada saat gaya lorentz yang diberikan tegak lurus dengan arah elektron memiliki pengaruh dalam memperoleh produksi gas oxyhidrogen yang lebih efektif. Kata kunci : elektrolisis, gas oxyhidrogen, generator tipe dry cell, medan magnet Abstract Energy is a necessity that has an important role for human survival. The use of energy is still largely derived from fossil energy. In production, the energy from the fossil material decreases. However, this is accompanied by renewable energy growth that continues to increase. Oxyhydrogen gas is one of the solution to participate in increasing the growth of renewable energy. This oxyhydrogen gas can be generated by electrolysis process on dry cell type generator. In an effort to increase the optimization of gas production, a study was conducted by adding a magnetic field external on the generator. In this study, the magnetic field is added to 8 positions on the generator. The magnitude of the magnetic field given is 0,0209 – 0,0481 T with a current of the generator 5A and voltage 3,62 V. The average flow rate generated in the direction of the magnetic field toward to the generator when the magnetic position is on the right side of the generator of 0,07011 l/m. And at a current of 1,401 A for all postions yields an average flow rate of 0,06671 l/m. In the direction on the magnetic field out of the generator that is when the position of the magnet is on the left side of the generator produce an average flow rate of 0,06931 l/m. And at a current of 1,302 A for all positions yields an average flow rate of 0,06920 l/m. Thus, when the lorentz force given perpendicular to the direction of the electron has an effect in obtaining a more effective oxyhydrogen gas production. Keywords : electrolysis, oxyhydrogen gas, dry cell type generator, magnetic field
Studi Eksperimental Penentuan Nilai Parameter Sistem Induksi Multi Receiver Faisah Nasution; Dudi Darmawan; Mamat Rokhmat
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas suatu produk dapat dikontrol dan dievaluasi dengan menggunakan metode pengujian Destructive Testing (DT) dan Nondestructive Testing (NDT) yang merupakan metode pengujian produk yang dapat digunakan untuk menguji kelayakan dan kehandalan suatu produk tersebut. Pada dasarnya, pengujian ini dilakukan untuk menjamin bahwa suatu produk yang kita gunakan masih aman dan sesuai. Nondestructive Testing (NDT) merupakan  metode pengujian  produk untuk mengetahui  adanya kesalahan suatu material sebelum dibentuk menjadi suatu produk berupa cacat, retak, atau diskontinu dan juga memprediksi posisi anomali tersebut tanpa merusak kegunaan produk. Dimana Eddy Current Testing (ECT) merupakan salah satu metode NDT yang menggunakan prinsip elektromagnetik dengan tanpa ada interaksi antara sensor (dalam hal ini berupa koil) dengan objek yang diuji. Pada penelitian ini dikaji penerapan ECT untuk studi eksperimental sistem induksi dengan Multi Receiver melalui pengenalan pola terhadap beberapa data parameter yang diberikan dengan sekali induksi menggunakan koil primer dengan membandingkan nilai potensial (tegangan) yang terukur, parameter tersebut akan diuji pada sembilan titik berfungsi sebagai Multi Reciever yang ditentukan pada objek konduktif berupa plat besi. 
Modifikasi Distilator Surya Dengan Penambahan Phase Change Materials Sebagai Material Penyimpan Panas Pada Alas Basin Anjas Aji Budiatma; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada distilasi surya, tidak adanya sumber panas menyebabkan distilator tidak dapat menghasilkan air. Oleh karena itu, distilator perlu dimodifikasi agar panas tetap terjaga sehingga distilator tetap menghasilkan air. Pada penelitian ini, distilator dengan atap dua sisi miring telah dimodifikasi dengan menambahkan material penyimpan panas atau Phase Change Material (PCM) berupa parafin pada bagian alasnya. Pada prinsipnya, adanya parafin akan menjadi sumber panas ketika matahari tenggelam. Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan pada skala laboratorium menggunakan dua bohlam yang pancaran energinya dianggap konstan. Air yang dipakai adalah sampel air garam 33 ppt yang dibuat dengan mencampurkan air minum kemasan dengan sejumlah garam. Pengujian dilakukan dengan membandingkan produksi air distilator tanpa parafin dan distilator dengan parafin. Penggunan parafin membuat produksi air distilator meningkat 19,03 %. Pada penelitian ini juga telah dilakukan pemberian massa parafin yang berbeda untuk mengamati pengaruhnya terhadap produksi air. Penambahan massa parafin cenderung menurunkan produksi air pada pengujian dengan volume air garam yang sama. Selain itu, penelitian ini juga telah diamati bahwa parafin dapat digunakan beberapa kali pada distilator walaupun produksi air yang cenderung menurun. Kata kunci : Desalinasi surya, material penyimpan panas, Phase Change Material, PCM, parafin, skala laboratorium, lampu bohlam, sampel air garam Abstract In solar distillation, the absence of heat source causes the distillator not to produce water. Therefore, distillator need to be modified in order to mantain the heat so that the distilator still produces water. In this study, double slope distillator has been modified by adding a heat storage material or Phase Change Material (PCM) in the form of paraffin at the base. In principle, the presence of paraffins will be a source of heat when the sun sets. Distillator has been tested on a laboratory scale using two bulbs whose energy emission was considered constant. The water used is a 33 ppt brine sample which is made by mixing bottled water with some salt. The test has been done by comparing the water production of distillator without paraffin and distillator with paraffin. The addition of paraffin increases water production of distillator by 19.03%. The distillator has also been given different paraffin masses to observe its effect on its productivity. The addition of paraffin mass tends to decrease water production in tests with the same volume of brine. This study has also been observed that paraffin can be used several times in distillators even though water production tends to decrease. Keyword : Solar desalination, heat storage material, Phase Change Material, PCM, paraffin, laboratorium scale, bulb, brine sample
Penjernihan Air Hujan Yang Telah Berlumut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Media Sorben Erpanda Surya Alam; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air hujan umumnya ditampung agar dapat digunakan kembali, akan tetapi air hujan yang ditampung cukup lama menyebabkan air menjadi keruh dan timbulnya lumut . Oleh karena itu, air hujan harus diolah terlebih dahulu hingga jernih kembali dan tidak berlumut agar dapat digunakan. Pada penelitian ini, air hujan didaerah Ciganitri ditampng selama 3 bulan untuk dijernihkan menggunakan material sorben berupa zeolit dan PAC. Zeolit yang digunakan dicuci terlebih dahulu kemudian dijemur hingga kering. PAC yang digunakan dalam bentuk serbuk dan larutan dengan komposisi 500 gram PAC dan 550 ml aquades. Penggunaan PAC larutan dapat menjernihkan air lebih baik dibandingkan PAC serbuk dengan nilai resistansi 2.2182. Penggunaan zeolit tidak lebih baik dalam menjernihkan air hujan dibandingkan menggunaan PAC dengan nilai resistaansi 2,418. Akan tetapi, PAC mempunyai kekurangan yaitu nilai salinitas tinggi dan adanya koagulasi pada sampel berbentuk endapan. Semetara dengan penggunaan zeolit nilai salinitas tidak berubah (tetap nol) dan tidak adanya endapan. Maka dari itu tujuan dari penilitian ini adalah untuk melihat apakah zeolit mampu menggantikan PAC dalam menjernihkan air hujan. Kata kunci : Zeolit, Teknik pemamanenan air hujan, adsorbsi Abstract Rainwater is generally contained so that it can be reused, but rain water impounded long enough to cause the water to become cloudy and the incidence of lichen. Therefore, the rain water must be prepared in advance to clear back and not mossy to be used. In this study, rainwater in Ciganitri ditampng for 3 months to be cleared up using material sorben form zeolite and PAC. Zeolite used washed first then dried until dry. The PAC is used in form of powder and aqueous solutions with composition of 500 grams of PAC and 550 ml of aquades. The use of a PAC solution can purify water better than PAC powder with the value of the resistance 2.2182. Use of zeolite is not better in the clear water of rain compared to employ the PAC with the value resistaansi 2.418. However, the PAC has a shortage that is high salinity values and the presence of coagulation on a sample shape deposition. Semetara with the use of zeolite salinity value is not changed (fixed zero) and the absence of sediment. Thus the goal of penilitian is to see if zeolite is able to replace the PAC in the purify rain water. Keyword : Zeolite, Adsorbsi, Rainwater harvesting
Optimalisasi Dye Sensitized Solar Cell (dssc) Berbahan Titanium Dioksida Dengan Konfigurasi Tipe Monolitik Ade Istiqomah; Mamat Rokhmat; Natalita Maulani Nursam
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sel surya berbasis dye sensitized (DSSC) banyak dikembangkan dikarenakan berbahan murah dan proses fabrikasi yang sederhana. Beberapa persoalan yang menjadi tantangan dalam fabrikasi DSSC adalah effisiensi yang rendah. Pada penelitian ini dikembangkan DSSC menggunakan konfigurasi tipe monolitik. Metode yang digunakan yaitu metode screen printing dan parameter yang dipelajari meliputi pengaruh variasi ketebalan ZrO2 yaitu 1x, 2x, 3x, dan 6x pelapisan dan pengaruh counter electrode karbon dan platina terhadap efisiensi sel surya. Hasil penelitian ini dikarakterisasi sifat-sifat morfologi permukaan dan nilai sheet resistance masing-masing menggunakan SEM, EDS, dan four point probe. Karakterisasi morfologi dilakukan dengan cara membandingkan morfologi counter electrode karbon dan platina yang menunjukan bahwa karbon memiliki struktur partikel lebih besar daripada platina serta melihat kandungan material ZrO2 yang menunjukan bahwa tidak terdapat material lain selain Zr, O, dan Ti. Hasil karakterisasi sheet resistance menunjukan bahwa nilai rata-rata resistansi karbon sebesar 9,864 Ω/sq dan platina sebesar 10,954 Ω/sq sehingga nilai resistansi karbon lebih rendah daripada platina. Dengan resistansi yang semakin rendah maka performa sel surya semakin baik. Pada hasil karakterisasi I-V memberikan informasi bahwa ketebalan ZrO2 dan jenis counter electrode memiliki pengaruh terhadap nilai efisiensi DSSC monolitik. Dengan menggunakan counter electrode karbon memiliki efisiensi tertinggi pada ketebalan ZrO2 2x yaitu sebesar 0,039 %, sedangkan untuk yang menggunakan counter electrode platina memiliki efisiensi tertinggi pada ketebalan ZrO2 1x yaitu sebesar 0,011 %. Kata kunci : DSSC (Dye Sensitized Solar Cell), Zirconia, counter electrode.