Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Formulasi Dan Uji Efektivitas Sediaan Patch Ekstrak Etanol 96% Daun Pandan Wangi (Pandanus Amarillyfolius Roxb.) Sebagai Repellent Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti Laila Muarifah; Hasriyani Hasriyani; Fahrudin Arif
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3307

Abstract

Repellent patch adalah salah satu inovasi sediaan repellent penolak nyamuk dalam bentuk stiker atau tempelan, yang dapat ditempelkan pada pakaian atau kulit. Produk repellent umumnya mengandung senyawa kimia DEET (N,N-diethyl-meta-toluamide) yang tidak baik bagi kesehatan, sehingga diperlukan alternatif lain yang lebih aman namun tetap efektif. Salah satu tanaman yang memiliki efek repellent adalah daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.). Daun pandan wangi di esktraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Ekstrak yang didapatkan di uji skrining fitokimia senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan di formulasikan dalam bentuk sediaan patch dengan variasi konsentrasi 25%, 30%, dan 35%. Sediaan patch yang dihasilkan diuji efektivitasnya terhadap nyamuk dan dievaluasi fisik sediaan meliputi uji organoleptis, pH, keseragaman bobot, ketebalan patch, kelembaban, dan daya tahan lipat. Hasil penelitian menunjukkan semua formula telah memenuhi paramenter mutu fisik. Patch dengan konsentrasi 35% memiliki daya tolak tertinggi sebesar 67,11% pada menit ke-10. Uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan pada uji keseragaman bobot dan daya tahan lipat (P < 0,05), sementara pada uji kelembaban tidak terdapat perbedaan signifikan yaitu 0,405 (P > 0,05).
Pengaruh Basis Campuran Beeswax Dan Carnauba Wax Terhadap Sifat Fisik Dan Kadar SPF Pada Formulasi Sediaan Lip Balm Ekstrak Buah Murbei (Morus Alba L.) Nanda Arum Widya Warapsari; Hasriyani Hasriyani; Bintari Tri Sukoharjanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3351

Abstract

Bibir merupakan area spesifik pada kulit yang membutuhkan pelembab yang memadai. Oleh karena itu, sangat penting untuk menggunakan produk yang dirancang untuk melindungi dan menjaga kesehatan bibir dari paparan sinar matahari, termasuk tabir surya atau bentuk perlindungan matahari lainnya. Sinar ultraviolet (UV) bertindak sebagai radikal bebas yang berkontribusi terhadap pigmentasi kulit bibir, yang mengakibatkan bibir menjadi gelap dan pecah-pecah. Penggunaan tabir surya dalam bentuk Lip balm dapat secara efektif mencegah pigmentasi bibir. Antosianin yang ada dalam buah murbei dapat berfungsi sebagai pewarna merah keunguan alami, yang dipengaruhi oleh formulasi spesifik ekstrak buah murbei yang digunakan. Karakteristik ini bermanfaat karena sifat antioksidannya dan kemampuannya untuk menangkal radikal bebas. Lip balm berfungsi sebagai produk kosmetik yang dirancang untuk mengurangi kekeringan dan melindungi bibir dari paparan radiasi sinar UV. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti formulasi ekstrak buah murbei sebagai sediaan Lip balm. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan karakteristik formulasi Lip balm yang menggunakan basis carnauba wax pada konsentrasi 15%, 4%, 6%, 8%, dan 10%. Selain itu, penelitian ini juga menilai apakah formula Lip balm tersebut menunjukkan aktivitas sebagai faktor perlindungan matahari (SPF). Metode penelitian ini menggunakan studi eksperimental dengan menggunakan desain One way Anova satu arah. Formulasi ekstrak buah murbei melibatkan pembuatan empat formula yang berbeda, diikuti dengan proses evaluasi yang komprehensif. Hal ini termasuk melakukan uji organoleptik, menilai homogenitas, mengukur tingkat pH, menguji daya oles, dan mengevaluasi aktivitas SPF.
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Lip Balm Kombinasi Ekstrak Bunga Mawar (Rosa Sp.) Dengan Minyak Biji Anggur (Vitis Vinifera) Desy Dewi Purbaningrom; Hasriyani Hasriyani; Muhamad Khudzaifi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3384

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan lip balm yang menggabungkan keduanya, untuk menciptakan produk yang aman dan efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan formula lip balm dengan kombinasi ekstrak bunga mawar dan minyak biji anggur serta mengevaluasi efektivitasnya dalam menjaga kelembapan, melindungi, dan menutrisi bibir. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji stabilitas dan kenyamanan produk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen formulasi. Beberapa variasi komposisi bunga mawar 5%, 7%, 9% dan minyak biji anggur 5%,10%, 15% diuji untuk mendapatkan formula lip balm yang optimal. Evaluasi dilakukan melalui pengujian fisik (Organoleptis, pH), uji homogenitas, uji daya lekat, uji hedonik dan uji Iritasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksperimental dalam formulasi dan evaluasi sediaan lip balm. Hasil penelitian menunjukkan pada F1 dengan konsentrasi bunga mawar 5% dan minyak biji anggur dengan konsentrasi 5%, F2, dengan konsentrasi bunga mawar 7% dan minyak biji anggur dengan konsentrasi 10%, F3 dengan konsentrasi bunga mawar 9% dan minyak biji anggur dengan konsentrasi 15%, telah memenuhi persyaratan uji pH, homogenitas, uji organoleptik, daya lekat, kesukaan dan uji iritasi. Dapat disimpulkan Ekstrak Bunga Mawar (Rosa hybrida) dan Minyak Biji Anggur (Vitis vinifera) dapat di formulasikan ke dalam sediaan lip balm. Perbedaan variasi konsentrasi dapat berpengaruh pada bentuk fisik dan warna sediaan lip balm. F3 terlihat lebih lembek dari pada sediaan F1 dan F2.
Optimasi Formulasi Granul Effervescent Ekstrak Etanol 96% Buah Murbei (Morus nigra L.): Optimization of Effervescent Granule Formulation of 96% Ethanol Extract of Mulberry Fruit (Morus nigra L.) Rizxan Auria Maharani; Hasriyani; Fahrudin Arif
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.710

Abstract

Mulberry fruit (Morus nigra L.) is known to contain phenolic compounds, particularly flavonoids and tannins, which possess pharmacological effects such as antioxidant, antibacterial and antidiabetic properties. This study aims to formulate effervescent granules from mulberry fruit extract and evaluate the tannin content. This is a quantitative study using an experimental method. Tannin content was determined using the Folin-Ciocalteu method via the formation of a coloured complex, which was analysed by UV-Vis spectrophotometry. Mulberry fruit extraction was carried out using the maceration method with 96% ethanol as the solvent at a ratio of 1:10, yielding a yield of 16.2%. The effervescent granules were formulated in three extract concentration variations: F1 (5%), F2 (10%) and F3 (15%). Evaluation of the preparations included organoleptic testing, homogeneity, flow time (<10 seconds), angle of repose (25°–40°), compressibility (<20%), solution pH (5–7), dissolution time (<5 minutes) and moisture content (<5%). The results of the study showed that the tannin content in the extract was 67.68 mg GAE/g and in the effervescent granules it ranged from 8.50 to 14.96 mg GAE/g. These results indicate that the mulberry fruit extract was successfully formulated into effervescent granules that meet quality requirements and exhibit an increasing tannin content as the extract concentration rises.   ABSTRAK Buah murbei (Morus nigra L.) diketahui mengandung senyawa fenolik terutama flavonoid dan tanin yang memiliki efek farmakologis seperti antioksidan, antibakteri dan antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan granul effervescent ekstrak buah murbei dan mengevaluasi kadar tanin. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan metode eksperimental. Penetapan kadar tanin dilakukan menggunakan metode Folin-Ciocalteu melalui pembentukan kompleks berwarna yang dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis. Ekstraksi buah murbei dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1:10 dan menghasilkan rendemen sebesar 16,2. Granul effervescent diformulasikan dalam tiga variasi konsentrasi ekstrak yaitu F1 (5%), F2 (10%) dan F3 (15%). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, waktu alir (<10 detik), sudut diam (25o-40o), kompresibilitas (< 20%), pH larutan (5-7), waktu larut (< 5 menit) dan kadar air (< 5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tanin pada ekstrak adalah 67,68 mg GAE/g dan granul effervescent dalam rentang 8,50 sampai 14,96 mg GAE/g. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah murbei berhasil diformulasikan menjadi granul effervescent yang memenuhi persyaratan mutu dan memiliki kadar tanin yang meningkat seiring peningkatan konsentrasi ekstrak.
Analisis Daya Hambat Minyak Atsiri Getah Pinus Merkusi (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Menggunakan Metode Difusi Sumuran: Inhibitory Activity Analysis of Merkusi Pine Resin Essential Oil (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) Against Streptococcus mutans Using the Well Diffusion Method Merli Puja Lestari; Hasriyani; Istianatus Sunnah
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.724

Abstract

Dental caries is a highly prevalent infectious disease closely associated with the activity of Streptococcus mutans. The use of synthetic antibacterial agents such as chlorhexidine and topical antibiotics is common; however, prolonged use may lead to adverse effects and bacterial resistance. This has prompted the development of natural-based antibacterial alternatives, including pine resin essential oil (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese). This study aimed to evaluate the in vitro antibacterial activity of pine resin essential oil against S. mutans. Antibacterial activity was assessed using the well diffusion method at concentrations of 10%, 15%, and 20%. Ampicillin and 10% DMSO served as positive and negative controls, respectively. Inhibition zone diameters were measured after 24 hours of incubation at 37°C and analyzed using one-way ANOVA followed by Tukey’s HSD test. Phytochemical screening revealed the presence of terpenoids (α-pinene and δ-3-carene), alkaloids, and flavonoids. The results demonstrated that the inhibition zone diameters against S. mutans at concentrations of 10%, 15%, and 20% were 13,65 ± 2,15 mm; 15,92 ± 1,75 mm; and 20,37 ± 3,46 mm, respectively. These findings indicate that antibacterial activity increased significantly with increasing concentration (p<0.05).   ABSTRAK Karies gigi merupakan penyakit infeksi dengan prevalensi tinggi yang berkaitan erat dengan aktivitas bakteri Streptococcus mutans. Upaya pencegahan umumnya dilakukan melalui penggunaan agen antibakteri sintetis seperti chlorhexidine dan antibiotik topikal, namun penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping serta resistensi bakteri. Kondisi ini mendorong pengembangan alternatif antibakteri berbasis bahan alam, salah satunya minyak atsiri getah pinus merkusi (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antibakteri minyak atsiri getah pinus merkusi terhadap S. mutans secara in vitro. Uji antibakteri menggunakan metode difusi sumuran dengan variasi konsentrasi minyak atsiri sebesar 10%, 15%, dan 20%. Ampicilin digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO10% sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat diukur setelah inkubasi 24 jam pada suhu 37°C dan dianalisis menggunakan One Way ANOVA dilanjutkan uji Tukey HSD. Skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan terpenoid (α-pinene dan δ-3-carene), alkaloid dan flavonoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter zona hambat terhadap S. mutans pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% masing-masing sebesar 13,65 ± 2,15 mm; 15,92 ± 1,75 mm; dan 20,37 ± 3,46 mm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan signifikan daya hambat bakteri seiring kenaikan konsentrasi (p<0,05).  
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE GYSSENS DAN ATC/DDD PADA PASIEN PEDIATRI PNEUMONIA DI PUSKESMAS TLOGOSARI KULON SEMARANG TAHUN 2025 Adzkia Fitri; Hasriyani Hasriyani; Intan Adevia Rosnarita
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57749

Abstract

Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi pada balita dengan indikasi batuk dan pilek yang disertai napas cepat, namun penyakit ini juga dapat menyerang orang dewasa dan lansia. Berdasarkan profil kesehatan Semarang, pada tahun 2024 terdapat 1.542 pasien pneumonia pada balita. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2023 yaitu sebanyak 2.715 kasus dan tahun 2022 sebanyak 4.203 kasus. Kasus pneumonia balita di Kota Semarang tahun 2024 terdiri dari 42% perempuan dan 58% laki-laki. Terapi yang paling sering diberikan adalah antibiotik. Beberapa penelitian menyatakan bahwa sekitar 40% hingga 62% penggunaan antibiotik tidak tepat, misalnya pemberian antibiotik pada penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan terapi antibiotik. Evaluasi penggunaan antibiotik dengan metode Gyssens dan ATC/DDD pada pasien pneumonia anak di Puskesmas Tlogosari Kulon Semarang tahun 2025 dilakukan terhadap 92 pasien. Gambaran karakteristik pasien terbanyak berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki dengan persentase 51,09%, dan kelompok usia terbanyak adalah balita usia 12–59 bulan dengan persentase 81,52%. Profil penggunaan antibiotik terbanyak adalah Amoksisilin dengan persentase 100%. Hasil evaluasi dengan metode Gyssens menunjukkan dari 92 responden tersebut semua data tidak lengkap sehingga masuk dalam kategori VI (100%). Hasil evaluasi dengan metode ATC/DDD menunjukkan nilai DDD sebesar 108,67. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi (p) sebesar 0,216, di mana nilai p > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil evaluasi metode Gyssens dan metode ATC/DDD.
Optimasi Konsentrasi PVA (Polyvynil Alcohol) terhadap Karakteristik Dan Aktivitas Antibakteri (Cutibacterium Acnes) pada Masker Gel Peel Off Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera L.) Astrit Sulastri; Hasriyani Hasriyani; Fahrudin Arif
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.908

Abstract

Acne is a common dermatological problem in tropical countries with high humidity and pollution levels. One of its causes is the growth of Cutibacterium acnes, which can trigger skin irritation and inflammation. Moringa leaves (Moringa oleifera L.) contain bioactive compounds, including flavonoids, tannins, and saponins, that possess antibacterial properties. This study aimed to determine the optimum concentration of polyvinyl alcohol (PVA) as a film forming agent in a peel off gel mask containing Moringa leaf extract and to evaluate its antibacterial activity against Cutibacterium acnes as well as its physical characteristics. Moringa leaf extract was obtained through maceration using 96% ethanol. Peel off gel mask formulations were prepared with varying PVA concentrations: 10% (F1), 12% (F2), and 14% (F3). Physical evaluations included organoleptic properties, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, adhesion, and drying time. Antibacterial activity was assessed using the well diffusion method. Data were analyzed using One Way ANOVA followed by the LSD Post Hoc test. The results showed that all formulations met the required physical characteristics of peel off gel masks. Antibacterial testing demonstrated that F1 produced the largest inhibition zone (8.1 mm),  F2 (7.5 mm) and F3 (6.7 mm). Statistical analysis indicated significant differences among the formulations (p<0.05). The study concluded that variations in PVA concentration influenced the antibacterial activity of the peel off gel mask. Formula F1 containing 10% PVA was identified as the optimum formulation due to its favorable physical characteristics and highest antibacterial activity against Cutibacterium acnes.
Pengaruh Konsentrasi Hydroxyethyl Cellulose (HEC) Sebagai Gelling Agent Terhadap Karakteristik Fisik Sediaan Gel Facial Wash Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.) Dela Munika Sari; Hasriyani Hasriyani; Bintari Tri Sukoharjanti
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.909

Abstract

 Daun kelor mengandung senyawa flavonoid yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, bermanfaat untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas. Salah satu produk kosmetik yang sering digunakan untuk menjaga agar kulit wajah tetap bersih dan lembab yaitu facia Moringa leaves (Moringa oleifera L.) contain flavonoid compounds with strong antioxidant activity that can help protect the skin from free radical damage. Facial wash is a cosmetic product commonly used to maintain facial skin cleanliness and moisture. Hydroxyethyl Cellulose (HEC) is a thickening agent that can be utilized in gel facial wash formulations containing Moringa leaf extract. This study aimed to determine the effect of HEC concentration as a gelling agent on the characteristics of facial wash gel formulated with Moringa leaf extract. This laboratory experimental study formulated facial wash gels containing 3% Moringa leaf extract with three HEC concentrations: 2% (F1), 3% (F2), and 4% (F3). The formulations were evaluated for organoleptic properties, homogeneity, pH, spreadability, adhesion, foam height, viscosity, and syneresis. Irritation and hedonic tests were conducted on 18 respondents. Data were analyzed using SPSS through normality, homogeneity, One-Way ANOVA, and Post Hoc tests. The results showed that variations in HEC concentration significantly affected the physical characteristics of the facial wash gel (p<0.05). Increasing HEC concentration increased pH, viscosity, and adhesion, while decreasing spreadability, foam height, and syneresis. Based on the physical evaluation, F2 (HEC 3%) exhibited the most optimal balance of viscosity, spreadability, and adhesion. However, the hedonic test indicated that F1 (HEC 2%) was the most preferred formulation among respondents. l wash. Daun kelor dapat dikembangkan dalam suatu formulasi sediaan gel facial wash dengan menggunakan gelling agent seperti Hydroxyethyl Cellulose (HEC). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh konsentrasi Hydroxyethyl Cellulose (HEC) sebagai gelling agent terhadap karakteristik sediaan gel facial wash yang mengandung ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L.). Metode penelitiaan yang digunakan adalah eksperimental laboratorium. Formulasi gel facial wash dibuat dengan 3 variasi konsentrasi HEC 2%, 3%, dan 4%, lalu diuji karakteristik fisiknya melipu uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, tinggi busa, viskositas dan sineresis. Uji iritasi dan hedonik dilakukan pada 18 responden. Analisis data menggunakan SPSS (Statistical Product Services Solution) dengan melakukan uji normalitas, uji homogenitas, One Way ANOVA (Analysis of Variance) dan Post Hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi Hydroxyethyl Cellulose (HEC) 2%, 3%, dan 4% berpengaruh terhadap karakteristik fisik gel facial wash ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L.) (p<0,05). Peningkatan konsentrasi HEC menyebabkan pH, viskositas, dan daya lekat meningkat, sedangkan daya sebar, tinggi busa, dan sineresis menurun. Berdasarkan uji karakteristik fisik, formulasi dengan konsentrasi HEC 3% (F2) memberikan hasil terbaik karena menunjukkan keseimbangan optimal antara viskositas, daya sebar, dan daya lekat serta memenuhi seluruh persyaratan mutu sediaan. Namun, hasil uji hedonik menunjukkan bahwa formulasi F1 (HEC 2%) memiliki tingkat kesukaan tertinggi dibandingkan formulasi lainnya.  
Tinjauan Naratif: Efektivitas Nefroprotektif Ekstrak Black garlic (Alium Sativum L.) dalam Menurunkan Kadar Ureum Wulandari Pramuda Wardani; Intan Adevia Rosnarita; Hasriyani Hasriyani
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.923

Abstract

Acute kidney injury can be triggered by gentamicin-induced nephrotoxicity due to drug accumulation in renal cortical epithelial cells, which increases reactive oxygen species (ROS) and causes oxidative stress, as reflected by elevated blood urea levels. Black garlic (Allium sativum L.) contains S-allyl cysteine (SAC), a potent antioxidant that may neutralize oxidative stress and protect the kidney. This narrative review aims to evaluate the effectiveness of black garlic extract in lowering blood urea levels across various animal models of nephrotoxicity. A literature search was conducted on PubMed, Scopus, and Google Scholar for studies published between 2020 and 2025 using the keywords "black garlic", "blood urea", and "nephroprotective". A total of 3 relevant articles meeting the inclusion criteria were analyzed in this review. The results show that administration of black garlic extract was consistently associated with reduced blood urea levels toward normal values in animal models induced by gentamicin as well as other nephrotoxic agents such as cisplatin and sodium benzoate. This blood urea reduction positively correlated with improved renal histopathology, characterized by decreased tubular necrosis and inflammatory cell infiltration. Additionally, black garlic extract increased the activity of endogenous antioxidant enzymes, including superoxide dismutase, glutathione peroxidase, and catalase, while decreasing malondialdehyde levels as a marker of lipid peroxidation. Furthermore, black garlic extract also reduced caspase-3 expression, indicating inhibition of the apoptotic pathway. In conclusion, black garlic extract demonstrates potential as a nephroprotective agent in lowering blood urea levels in various nephrotoxicity models through antioxidant, anti-inflammatory, and anti-apoptotic mechanisms.
Formulasi dan Uji Iritasi Sediaan Body Scrub dari Ekstrak Pegagan (Centella Asiatica) dengan Penambahan Scrubber Cangkang Telur Ayam Niken Maya Suryani; Hasriyani Hasriyani; Bintari Tri Sukoharjanti
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.996

Abstract

Centella asiatica is known to possess anti-inflammatory, antioxidant, and skin regeneration activities. The use of natural ingredients in cosmetic formulations has gained increasing attention, including the utilization of chicken eggshell waste, which is rich in calcium carbonate, as an environmentally friendly scrubber alternative to microplastics. This study aimed to formulate and evaluate a body scrub preparation containing Centella asiatica extract at concentrations of 1%, 2%, and 3% combined with chicken eggshell powder as a scrubber agent. The evaluation included physical quality tests consisting of organoleptic properties, pH, homogeneity, viscosity, and spreadability, as well as irritation and hedonic tests on panelist. Data analysis was performed using normality tests (Shapiro–Wilk) and homogeneity of variance tests (Levene or Bartlett), followed by One-Way ANOVA and post hoc analysis. The irritation test was conducted using the open patch method for 5 minutes to observe the presence or absence of irritation reactions. Hedonic testing was carried out using questionnaires assessing aroma, color, and texture preferences. The results showed that Centella asiatica extract contained flavonoids, tannins, and saponins. All formulations (F0, F1, F2, and F3) met the physical quality requirements for body scrub preparations, including organoleptic properties, homogeneity, viscosity, and spreadability. The irritation test demonstrated that all formulations were non-irritating and safe for skin application. The hedonic test indicated that the most preferred formulation by the panelists was F1 containing 1% Centella asiatica extract.