Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

OPTIMALISASI WAKTU PENGISIAN DENGAN SMART DUAL CHARGER PLUG AND PLAY PADA KENDARAAN LISTRIK BERTENAGAKAN BATERAI SLA/VRLA Nur, Raybian; Barry, Akmal
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.13070

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbandingan tingkat lama durasi pengecesan menggunakan charger standar dengan smart dual charger plug and play; temperatur saat pengecasan daya minimum 30 persen hingga maksimum; dan perbandingan tingkat nilai SOC dan SOH. Adapun proses pengambilan data diantaranya: Mengamati lama durasi pengecesan mulai 30 persen hingga 100 persen; Pengambilan temperatur baterai setiap 3 jam waktu pengecesan; dan pengambilan data nilai SOC dan SOH  sebelum dan sesudah pengecesan berlangsung. Hasil yang didapatkan adalah dengan menggunakan smart dual charger membuat pengisian baterai lebih efisien dibandingkan charger standar, Pengujian ini menunjukkan bahwa baterai bisa dioptimalkan dengan pengisian yang tepat, namun ada beberapa yang tetap perlu diganti karena kondisi awal yang terlalu buruk atau tidak cukup membaik setelah diisi. Kondisi baterai bisa sangat membaik dengan pengisian yang tepat, seperti terlihat pada Baterai 3 yang awalnya memiliki SOH sangat rendah tetapi menjadi baik setelah diisi. Faktor yang mempengaruhi nilai SOC adalah nilai resistansi internal, karena resistansi internal menunjukkan kemampuan baterai dalam mengalirkan arus. The aim of this research is to determine the comparison of the duration of checking using a standard charger with a plug and play smart dual charger; temperature when charging minimum 30 percent to maximum power; and comparison of SOC and SOH value levels. The data collection process includes: Observing the length of the checking duration from 30 percent to 100 percent; Taking battery temperature every 3 hours of checking time; and collecting data on SOC and SOH values before and after the test takes place. Result is that using a smart dual charger makes battery charging more efficient than a standard charger. This test shows that the battery can be optimized with proper charging, but there are some that still need to be replaced because the initial condition is too bad or does not improve enough after being charged. Battery condition can be greatly improved with proper charging, as seen with Battery 3 which initially had very low SOH but became fine after charging. The factor that influences the SOC value is the internal resistance value, because internal resistance shows the battery's ability to carry current.
ANALYSIS OF VARIATIONS IN LOADING AND SPEED ON THE CONVERSION SPEED OF THE SUZUKI A100 ELECTRIC MOTORCYCLE USING BLDC Rafi’i, Ahmad; Jerri, Jerri; Khalid, Muyassar; Perdana, Yuan; Nur, Raybian
JTAM ROTARY Vol 7, No 1 (2025): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v7i1.13185

Abstract

Penelitian ini bertujuan Untuk  mengetahui langkah Memodifikasi penggerak sepeda motor Suzuki A100 dari mesin Ke BLDC dan menganalisa variasi pembebanan dan speed terhadap kecepatan konversi motor listrik Suzuki A100 dengan penggunaan BLDC tipe Hub.Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang dilakukan dengan melakukan eksperimen, dan kegiatan penelitian ini dilakukan dengan memodifikasi sepeda motor Suzuki A100 dari mesin ke BLDC Dan pengambilan data kecepatan yang dipengaruhi oleh beban dan speed yaitu beban 0 kg, beban 60 kg dan beban 120 kg, dengan Speed 1, 2 dan 3, Hasil penelitian menunjukan bahwa kecepatan pada beban 0 kg terhadap speed 1 sebesar (50 km / jam), speed 2 (61 km/jam), dan speed 3 sebesar (65 km/jam). Beban 60 kg terhadap speed 1 sebesar (47 km/jam), speed 2 (51km/ jam), dan speed 3 (52km/jam). Beban 120 kg terhadap speed 1 sebesar (44 km/jam), speed 2 (47km/jam), dan speed 3 (48 km/jam). This research aims to determine the steps to modify the Suzuki A100 motorbike drive from engine to BLDC and analyze variations in load and speed regarding the conversion speed of the Suzuki A100 electric motorbike using a Hub type BLDC. This research method is quantitative research carried out by conducting experiments and research activities. This was done by modifying the Suzuki A100 motorbike from engine to BLDC and taking speed data which was influenced by load and speed, namely 0 kg load, 60 kg load and 120 kg load, with Speed 1, 2 and 3. The results showed that the speed of the load 0 kg against speed 1 is (50 km/hour), speed 2 is (61 km/hour), and speed 3 is (65 km/hour). A load of 60 kg at speed 1 is (47 km/hour), speed 2 (51km/hour), and speed 3 (52km/hour). A load of 120 kg at speed 1 is (44 km/hour), speed 2 (47km/hour), and speed 3 (48 km/hour).
Iptek bagi Masyarakat dalam Mengolah Biomassa menjadi Biochar dan Asap Cair Menggunakan Pirolisator Portabel Muhammad Helmy Abdillah; Mila Lukmana; Indriani Indriani; Raybian Nur
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 5 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v5i1.1062

Abstract

Diseminasi iptek bagi masyarakat desa menjadi sarana penting untuk mendorong hilirisasi penelitian sehingga inovasi dan invensi tidak hanya di lingkungan civitas akademik saja. Bentuk diseminasi dalam kegiatan ini adalah iptek bagi masyarakat dalam mengolah biomassa menjadi biochar dan asap cair menggunakan pirolisator portabel yang dapat dirakit sendiri. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberi kesadaran dan pemahaman kepada kelompok tani di Desa Karang Indah agar mampu mengolah biomassa sisa petanian dan peternakan menjadi biochar dan asap cair serta mengimplementasikannya agar meningkatkan produktivitas pertanian di lahan sulfat masam yang pada akhirnya menurunkan biaya operasional kegiatan budidaya tanaman. Hal ini berdampak langsung pada pencapaian SDGs Desa yang dicanangkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi serta searah dengan SDGs Dunia. Diseminasi hasil penelitian dan difusi teknologi yang diinisiasi dengan menerapkan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) ternyata efektif mendorong penetrasi iptek kepada petani. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang fungsi biochar dan asap cair sebesar 54.1%, pemahaman tentang cara pengolahan biomassa organik menjadi biochar dan asap cair serta kemamampuan merekonstuksi/ reka-cipta iptek alat pirolisator dengan metode amati-tiru-modifikasi mengalami peningkatan berturut-turut sebesar 31.1% dan 52.6%, sehingga akumulasi rata-rata persentase peningkatan pemahaman peserta untuk keseluruhan indikator capaian setelah dilakukan kegiatan sebesar 45.93%. Science and Technology for Villagers in Processing Biomass into Biochar and Liquid Smoke Using Portable Pyrolysators Science and technology dissemination for village communities is a key means to encourage downstream research so that innovation and invention are not only within the academic community. The form of dissemination in this activity is science and technology for the district in processing biomass into biochar and liquid smoke using a portable pyrolysator that can be assembled by yourself. The purpose of this activity is to provide awareness and understanding to farmer groups in Karang Indah Village so that they can process leftover biomass from agriculture and livestock into biochar and liquid smoke and implement it to increase agricultural productivity in acid sulfate soil which ultimately reduces the operational costs of plant cultivation activities. It has a direct impact on achieving the Village SDGs launched by the Ministry of Villages, Development of Disadvantaged Regions, and Transmigration and is in line with the World SDGs. Dissemination of research results and technology diffusion initiated by applying the Participatory Rural Appraisal (PRA) method turned out to be effective in encouraging science and technology penetration to farmers. The results of the activity showed an increase in knowledge about the function of biochar and liquid smoke by 54.1%, an understanding of how to process organic biomass into biochar and liquid smoke, and the ability to reconstruct/invent science and technology of pyrolysator equipment using the observe-copy-modification method experienced a successive increase of 31.1 % and 52.6% so that the accumulated average percentage of increased understanding of participants for all achievement indicators after the activity was 45.93%.
Upaya Menangani Gejala Virus Tungro Pada Padi Dengan Melatih Petani Membuat Biakan Trichoderma Sebagai Agen Hayati Kesuburan Tanah Dan Kesehatan Tanaman Muhammad Helmy Abdillah; Mila Lukmana; Indriani Indriani; Nurul Nurul; Raybian Nur
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 5 No. 4 (2023): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v5i4.1468

Abstract

Inflasi harga beras diberbagai daerah tidak terlepas dari ketersediaan produk ditingkat petani yang terganggu akibat gagal panen. Faktor utama yang memengaruhi hal tersebut adalah krisis iklim, sehingga mendorong munculnya faktor-faktor lain sebagai sub faktor. Epidemi tungro sebagai salah satu sub faktor yang dibawa oleh wereng hijau (vektor) telah menjadi sebab banyaknya tanaman padi yang gagal tumbuh dan malainya yang hampa. Epidemi ini akibat perubahan cuaca dan masifnya penggunaan bahan sintetik untuk memacu produktivitas tanaman, sehingga terjadi resistensi dan resurgensi organisme pengganggu tanaman. Oleh katena itu penggunaan agen hayati berupa Trichoderma spp diperlukan untuk menekan prevalensi penyakit tungro di Desa Karang Indah, Kecamatan Mandastana. Tujuan kegiatan ini untuk memengaruhi perilaku para petani agar dapat menerapkan Trichoderma spp dalam menanggulangi masalah penyakit dan peningkatan kesuburan tanah. Dalam kegiatan ini diharapkan para petani mampu memproduksi sendiri biakan Trichoderma spp hasil ekplorasi lokal dari Desa Karang Indah. Hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan kesadaran petani dalam tindak agronomi yang diberikan pada tanaman padi. Melalui kegiatan pelatihan ini, banyak dampak yang terasa dalam setiap komponen/ komunitas yang terlibat sehingga pada kegiatan yang akan datang, kolaborasi antar setiap komunitas tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk yang lebih komprehensif.
Kemitraan Masyarakat untuk Membudidayakan Tanaman Sayuran dan Buahan sebagai Upaya Pengendalian Stunting di Desa Lok Baintan Muhammad Helmy Abdillah; Malisa Ariani; Raybian Nur; Budi Styawan
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 6 No. 4 (2024): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v6i4.2335

Abstract

Stunting memiliki dampak besar pada perkembangan anak, sehingga upaya pencegahan dan penanggulangannya dapat dilakukan dengan memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui konsumsi makanan bergizi. Di Desa Lok Baintan, pencegahan stunting dilakukan dengan memberikan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat untuk mendeteksi stunting dan menanganinya dengan membudidayakan tanaman sayuran dan buah di pekarangan rumah, baik dengan cara konvensional maupun non-konvensional. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya asupan gizi dan cara mendapatkannya melalui keterampilan memanfaatkan lahan rumah untuk menanam tanaman pangan sehat, yang diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diawali dengan model PRA (Participatory Rural Appraisal) untuk merancang dan memetakan kebutuhan kegiatan. Dalam pelaksanaannya, digunakan model service-learning yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk memberikan edukasi dan pelatihan kepada kader Posyandu, PKK, dan ibu-ibu di desa. Program ini berlangsung selama tiga bulan dengan enam sesi yang mencakup penyuluhan tentang anemia dan stunting, pelatihan pengukuran stunting, serta praktik budidaya tanaman di pekarangan rumah. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test, serta observasi. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman lebih dari 80%, dan model service-learning efektif meningkatkan keterampilan mahasiswa. Program ini juga berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan stunting melalui ketahanan pangan lokal. Community Empowerment for Cultivated Vegetable and Fruit Plants to control stunting in Lok Baintan Stunting has a significant impact on child development, and preventive and mitigation efforts can be made through family food security by consuming nutritious food. In Lok Baintan Village, stunting prevention is carried out by educating and training community members to detect and manage stunting through the cultivation of vegetables and fruits in home gardens, using both conventional and non-conventional methods. The aim of this activity is to raise awareness about the importance of nutrition and how to obtain it by utilizing home garden land to grow healthy food crops, which is expected to influence families' nutritional behavior. This community service program begins with a Participatory Rural Appraisal (PRA) model to design and map activities based on the needs of the target community. The program is implemented using a service-learning model, involving students from various disciplines to educate and train Posyandu (community health center) cadres, PKK (women's empowerment) members, and mothers in the village. The program lasts for three months and includes six sessions: two on anemia and stunting awareness, two on stunting measurement training, one on the benefits of plants, and one on practical training for cultivating vegetables/fruits in home gardens. The success of the program is assessed using pre-test and post-test evaluations, as well as participant engagement observation. The results show a more than 80% increase in understanding, and the service-learning model was effective in improving students' cognitive skills and communication abilities. This program successfully raised community awareness in Lok Baintan Village about stunting prevention through local food-based food security, resulting in a positive impact on family food security and health independence in the village.
Edukasi Bertani Di Kecamatan Mandastana Sebagai Mitigasi La-Nina Di Bidang Pertanian Abdillah, Muhammad Helmy; Lukmana, Mila; Indriani; Rahmawati, Linda; Ishwahyudi, Herry; Nur, Raybian; Masliyana; Prasetya, Yosef Lucy Dwi
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 7 No 1 (2024): Januari - Maret
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v7i1.7976

Abstract

Rainfall variability has become the biggest challenge in increasing crop yields. Statistical data shows that a decrease of 20% in harvested area and 27% in rice production in Barito Kuala Regency from 2020 to 2023 has a fatal impact on the exchange rate of rice in the market. This is partly due to changes in the duration of the dry season and rainy season due to El-Nino and La-Nina as well as tropical cyclones that occur in Indonesia. The impact is that some coastal and lowland areas will continue to be inundated for a long period as a result of which harvest area and land productivity will decrease. Therefore, education about farming on flood-prone land must be disseminated to increase farmer resilience and encourage farmers to continue using their land even in flood conditions. This activity aims to disseminate knowledge and applicable technology to increase the productivity of rice fields as a weather mitigation effort. The hope is that participants will accept and implement the farming methods presented in this extension. The results show that the material on rice cultivation technology using the floating method, techniques for biological disease control in rice, and weather forecasting for planning agricultural activities can be understood and participants are interested in implementing them as resilience in flood conditions