Heru Noviat Herdata, Heru Noviat
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Neutrophil lymphocyte ratio and severity of acute kidney injury in septic children Kowita, Nurul Huda; Sovira, Nora; Safri, Mulya; Ismy, Jufitriani; Haris, Syafruddin; Herdata, Heru Noviat; Bakhtiar, Bakhtiar
Paediatrica Indonesiana Vol. 63 No. 6 (2023): November 2023
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi63.6.2023.492-8

Abstract

Background Acute kidney injury (AKI) in sepsis is associated with an inflammatory process in kidney microcirculation and may increase morbidity and mortality in children. The neutrophil lymphocyte ratio (NLR) is an inflammatory biomarker of the inflammatory process in sepsis. Objective To determine the role of NLR in predicting the severity of AKI and to describe the demographic and laboratory characteristics, as they relate to outcomes of pediatric patients with AKI and sepsis. Methods This cross-sectional study was conducted in the PICU at Dr. Zainoel Abidin General Hospital (RSUDZA), Banda Aceh, Aceh. Medical record data were obtained from critically ill children with sepsis and AKI. Chi-square test was used to compare the proportions of each variable. We also calculated odds ratios to evaluate the AKI severity, PELOD-2 score, and patient outcomes. Spearman's analysis was used to look for a possible correlation between NLR and AKI severity in septic children. Results Seventy-one subjects with sepsis and AKI were included. Subject characteristics were as follows: 63.4% males, 63.4% < 1 year of age, 56.3% with respiratory problems as a primary disease, 38% with AKI injury stage, and 54.9% subjects with PELOD-2 score ?10. There was no significant correlation between AKI severity and mortality (OR 3.04; 95%CI 0.990 to 9.378; P=0.052). Subjects with a PELOD-2 score ?10 had a 47.6 times higher chance of mortality in septic children with AKI compared to those with PELOD-2 scores <10. There was no correlation between NLR and AKI severity (r=0.019; P=0.878). Conclusion There is no correlation between NLR and AKI severity. Sepsis accompanied by AKI may increase the risk of mortality in children. Septic children with more severe AKI tends to be less survive.
Manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosis dan tatalaksana abses paru pada anak Bakhtiar, Bakhtiar; Herdata, Heru Noviat; Liansyah, Tita Menawati; Zakaria, Iskandar; Sufriani, Sufriani; Safana, Garsia
Jurnal Prima Medika Sains Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jpms.v5i1.3909

Abstract

Abses paru merupakan rongga berdinding tebal yang mengandung bahan purulen akibat supurasi dan nekrosis pada parenkim paru yang terlibat. Berdasarkan faktor predsposisi, maka abses paru pada anak dapat dibagi menjadi abses paru primer dan sekunder. Penyebab utama terjadinya abses paru primer adalah Streptococcus pneumoniae atau Staphylococcus aureus. Abses sekunder diperberat oleh penyakit paru, misalnya bronkhiektasis, fibrosis kistik, infark paru. Diagnsosis abses paru pada anak ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang. Dicurigai abses paru apabila terdapat keluhan demam dan batuk, dan adanya tanda-tanda konsolidasi paru. Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk memperkuat diagnosis abses paru meliputi rontgen dada, ultrasonografi, dan computed tomography (CT Scan). Tatalaksana abses paru meliputi tatalaksana umum dan khusus. Tatalaksana umum meliputi pemberian makanan dan cairan yang cukup dan oksigen. Pemberian oksigen dilakukan jika ada gejala sesak nafas. Selanjutnya, tatalaksana khusus meliputi pemberikan antibiotika, drainase dan tindakan operatif (lobektomi). Antibiotik secara inta vena yang tepat direkomendasikan sebagai terapi awal untuk abses paru. Jika tidak ada perbaikan klinis dan radiologis yang bermakna, maka dipertimbangkan dilakukan drainase. Seterusnya, jika dengan drainase juga tidak ada perbaikan, maka langkah terakhir adalak dilakukan lobektomi.
Risk factors of mortality in children with acquired prothrombin complex deficiency at Dr. Zainoel Abidin General Hospital,Banda Aceh Munawarah, Syifa; Sovira, Nora; Anidar, Anidar; Herdata, Heru Noviat; Edward, Eka Destianti; Ismy, Jufitriani
Paediatrica Indonesiana Vol. 65 No. 3 (2025): May 2025
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi65.3.2025.253-9

Abstract

Background  Acquired prothrombin complex deficiency (APCD) is a rare but life-threatening bleeding disorder in children. Intracranial hemorrhage (ICH) is the leading cause of death, with an estimated risk affecting 50–80% of cases. Key risk factors associated with mortality in APCD include onset of disease, presence of ICH, and the initial Glasgow Coma Scale (GCS) score. Routine intramuscular administration of vitamin K at birth has been shown to effectively prevent early and late-onset vitamin K deficiency bleeding. However, in settings where vitamin K prophylaxis is not administered or is delayed, the risk of APCD increases significantly. Despite these concerns, other potentially relevant clinical factors contributing to APCD outcomes remain under-investigated. Objective To identify risk factors associated with APCD mortality in children treated at Dr. Zainoel Abidin General Hospital, Banda Aceh. Methods This cross sectional study analyzing children diagnosed with APCD at Dr. Zainoel Abidin General Hospital from October 2022 to October 2024. Data were collected from the medical records of 30 children and analyzed using Chi-square and logistic regression tests. Results This study included 30 subjects, the majority of whom were male and aged 8 days to 6 months. Most of subject were born full term, delivered vaginally, and had birth weight ≥ 2.500 grams. Notably, 25/30 children did not receive vitamin K prophylaxis, 14/18 children were exclusively breastfed without vitamin K prophylaxis, and 25/30 children had good nutritional status. Late-onset APCD was observed in 14 out of 30 cases.  Intracranial vs extracranial hemorrhage was occurred in 21 vs 9 children. Initial GCS scores ≤ 8 at initiation of treatment were noted in 11/30 children. The mortality rate was occurred in 12/30 subjects (40%). Chi-square analysis revealed significant associations between increased mortality and late onset APCD (P=0.030), ICH (P=0.049), and initial GCS score ≤ 8 (P=0.009). Logistic regression analysis revealed initial GCS score was associated with the highest risk of mortality in APCD, with a 16-fold increase in risk (P=0.022; OR 15.9; 95%CI 1.5 to 168.9). Conclusion Intracranial hemorrhage, late-onset APCD, and initial GCS scores ≤ 8 are significantly associated with increased APCD mortality, with initial GCS emerging as the most influential risk factor.
Faktor Risiko Mortalitas Anak dengan Sepsis dan Disseminated Intravascular Coagulation: Peran Penanda Inflamasi dan Koagulasi di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh Nuriyanto, Alivia Rizky; Edward, Eka Destianti; Andid, Rusdi; Sovira, Nora; Herdata, Heru Noviat; Thaib, Teuku Muhammad
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.9-17

Abstract

Latar belakang. Sepsis yang tidak tertangani dapat berlanjut menjadi Disseminated Intravascular Coagulation (DIC). Apabila DIC tidak segera ditangani dapat menimbulkan kegagalan organ dan meningkatkan mortalitas. Memahami pemeriksaan penanda inflamasi dan faktor koagulasi memegang peranan penting dalam prognosis dan upaya mencegah mortalitas pada anak dengan sepsis dan DIC. Tujuan. Untuk mengetahui faktor risiko mortalitas berdasarkan penanda inflamasi dan faktor koagulasi pada anak dengan sepsis disertai DIC di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada anak usia 1 bulan sampai 18 tahun di ruang rawat inap dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sejak Januari sampai Desember 2023 dengan menggunakan data rekam medis 104 anak yang memenuhi kriteria penelitian. Analisa data Bivariat menggunakan uji chi-square dan uji fisher serta uji regresi logistik untuk data multivariat.Hasil. Insiden sepsis dan DIC pada anak sebanyak 104 subjek dengan kelompok meninggal paling banyak dijumpai pada kelompok usia <5 tahun, jenis kelamin perempuan, gangguan respirasi, ? 2 komorbid, lama rawatan yang lebih lama, skor PELOD-2 yang lebih dari 13, skor ISTH yang lebih dari 5, gizi baik dan penggunaan ventilasi mekanik. Faktor risiko mortalitas berdasarkan penanda inflamasi dan faktor koagulasi pada anak dengan sepsis dan DIC adalah Neutrofil to Lymphocyte Ratio (NLR) (p < 0,001) dengan OR 16,16 (IK95%: 4,43-154,42), leukosit (p=0,006) dengan OR 9,05 (IK95%: 1,83-43,79), D-dimer (p=0,006) dengan OR 6,25 (IK95%: 1,67-23,39) dan trombosit (p=0,026) OR 0,22 (IK95%: 0,06-0,835).Kesimpulan. Nilai NLR merupakan faktor risiko mortalitas pada anak dengan sepsis dan DIC.
Penjepitan Tali Pusat Tertunda Terhadap Kadar Hemoglobin dan Hematokrit pada Bayi Baru Lahir Fariyasni, Fariyasni; Darnifayanti, Darnifayanti; Anidar, Anidar; Andid, Rusdi; Sovira, Nora; Herdata, Heru Noviat
Sari Pediatri Vol 27, No 3 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.3.2025.153-8

Abstract

Latar belakang. Anemia pada anak dengan penyebab utama kekurangan zat besi. Salah satu faktor yang memengaruhi jumlah total besi dalam sirkulasi sebagai hemoglobin saat lahir adalah waktu penjepitan tali pusat. Delayed cord clamping (DCC) meningkatkan simpanan zat besi. Penjepitan dan pemotongan tali pusat saat lahir merupakan intervensi paling lama, tetapi tidak ada definisi pasti mengenai waktu optimal untuk penjepitan tali pusat.Tujuan. Mengetahui pengaruh waktu DCC terhadap kadar hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) pada bayi baru lahir.Metode. Penelitian kuasi eksperimen ini dengan rancangan nonequivalent control group posttest-only pada kelahiran pervaginam di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sejak Juli 2023 hingga September 2023 yang memenuhi kriteria penelitian. Sampel kelompok I DCC ?30- – 60 detik dan kelompok II DCC >1-3 menit. Nilai Hb dan Ht bayi diukur maksimal 2 jam setelah lahir. Analisis data menggunakan independent t-test.Hasil. Empat puluh bayi baru lahir dilibatkan dalam penelitian ini, 20 kelompok I dan 20 kelompok II. Karakteristik dasar kedua kelompok sebanding. Rerata kadar Hb pada kelompok I 16,41±1,16 g/dL dan kelompok II 19,79±1,51 g/dL (p=0,001; IK95%: 2,5-4,2). Rerata kadar Ht pada kelompok I 50,07±4,57% dan kelompok II 61,06±4,53% (p=0,001; IK95%: 8,06-13,9). Menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok.Kesimpulan. Penundaan penjepitan tali pusat >1-3 menit memiliki rerata kadar Hb dan Ht yang lebih tinggi
Hubungan Respiratory Distress Syndrom dengan kejadian Acute Kidney Injury pada Neonatus di Neonatal Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh Arsa, Iwan Sabardi; Haris, Syafruddin; Darnifayanti, Darnifayanti; Yusuf, Sulaiman; Herdata, Heru Noviat; Akbar, Zaki
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.36-42

Abstract

Latar belakang. Respiratory Distress Syndrome merupakan penyebab gangguan pernapasan, sering terjadi pada bayi baru lahir dan juga menjadi penyebab paling umum terjadinya morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah Acute Kidney Injury.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Respiratory Distress Syndrome dengan kejadian Acute kidney injury pada neonatus di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Metode. Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik obervasional dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan dari pasien yang dirawat dalam periode Januari 2021-Desember 2021. Sampel penelitian adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel penelitian adalah total populasi. Penelitian bersifat retrospektif dengan variabel dependen dan independen yang diamati secara sekaligus.Hasil. Selama penelitian berlangsung didapatkan 50 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian, jumlah neonatus berjenis kelamin laki-laki (50%) sebanding dengan perempuan (50%). Usia neonatus terbanyak pada kelompok 3 hari yakni 36 subjek (72%). Mayoritas jenis persalinan dijumpai pada kelompok sectio caesarea yakni 45 subjek (90%). Kelompok usia gestasi 34-36 minggu (preterm) terbanyak yakni 32 subjek (64%). Subjek kelompok Berat badan lahir 1000-<1500 gram (Bayi Berat Lahir Sangat Rendah) dijumpai terbanyak yakni 43 subjek (86%). Nilai Skor Downes >7 berhubungan dengan kejadian Acute Kidney Injury. Mayoritas subjek penelitian dengan Respiratory Distress Syndrom tidak dijumpai Acute Kidney Injury, sebanyak 39 subjek (78%) dengan hasil normal.Kesimpulan. Pada penelitian ini didapatkan terdapat hubungan antara Respiratory Distress Syndrom dengan kejadian Acute Kidney Injury (p<0,05), Koefisien korelasi 0,668 menunjukkan hubungan yang kuat.
Nilai Rasio Neutrofil Limfosit dan Red Cell Distribution Width pada Neonatus Sepsis Machya, Farish; Darussalam, Dora; Herdata, Heru Noviat; Haris, Syafruddin; Edward, Eka Destianti; Dimiati, Herlina
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.146-51

Abstract

Latar belakang. Insiden sepsis pada negara berkembang sampai saat ini masih tinggi. Banyaknya faktor risiko yang memengaruhi, menjadikan sepsis sebagai penyumbang tingginya angka kematian pada bayi. Diagnosis yang seringkali terlambat ditegakkan karena pemeriksaan kultur darah sebagai Gold Standard baru bisa didapatkan hasilnya setelah beberapa hari. Deteksi dini sepsis neonatorum dapat diltegakkan salah satunya dengan pemeriksaan rasio neutrofil limfosit dan red cell distribution width.Tujuan. Menilai rasio neutrofil limfosit, red cell distribution width, dan faktor risiko pada neonatus dengan diagnosis sepsis di neonatal intensive care unit - NICU Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh dengan luaran kematian.Metode. Penelitian desain kohort retrospektif dengan data rekam medis neonatus di NICU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh, dari Februari hingga Oktober 2023. Sebanyak 43 neonatus dengan diagnosis sepsis yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografis, hasil laboratorium, serta luaran klinis. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dan analisis multivariat dengan SPSS versi 20.0.Hasil. Diperoleh 88,3% neonatus menunjukkan peningkatan NLR, dan 86,05% mengalami peningkatan RDW. Terdapat hubungan signifikan antara metode persalinan sectio caesaria (p<0,03) dengan peningkatan risiko mortalitas. Neonatus dengan berat badan ?2500 gram dan usia gestasi preterm lebih sering mengalami peningkatan NLR dan RDW. Kesimpulan. Peningkatan nilai rasio neutrofil limfosit lebih banyak terjadi pada neonatus sepsis dibandingkan nilai red cell distribution width.
Lama Pemberian Kortikosteroid dan Perawakan Pendek pada Anak dengan Sindrom Nefrotik Idiopatik di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin Rahmi, Nurul Maulina; Haris, Syafruddin; Andid, Rusdi; Sovira, Sovira; Bakhtiar, Bakhtiar; Herdata, Heru Noviat
Sari Pediatri Vol 26, No 6 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.6.2025.370-4

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik idiopatik (SNI) merupakan penyakit ginjal terbanyak pada anak, dengan kortikosteroid sebagai terapi utama. Namun, pemberiannya dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek.Tujuan. penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan lama pemberian kortikosteroid dengan kejadian perawakan pendek pada pasien SNI di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Metode. Penelitian ini adalah studi analitik observasional, dengan desain kohort retrospektif, menggunakan data rekam medis 50 pasien anak SNI dari 1-30 mei 2024. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney dan kurva ROC untuk menentukan titik potong lama pemberian kortikosteroid. Hasil. Hasil menunjukan 64% anak laki-laki dan 36% anak perempuan. Sebanyak 74% memiliki perawakan normal, sementara 26% perawakan pendek (14% pendek, 12% sangat pendek). Analisis menemukan hubungan signifikan antara lama pemberian kortikosteroid dan perawakan pendek (p=0,029). Pasien yang menerima kortikosteroid >21 bulan berisiko lebih tinggi mengalami perawakan pendek (AUC=0,704; p=0,03; IK95%: 0,537-0,871; sensitivitas 61%, spesifitas 59,5%).Kesimpulan. Pemberian kortikosteroid >21 bulan pada anak dengan SNI berhubungan dengan peningkatan risiko perawakan pendek. Temuan ini menekankan pentingnya pemantauan ketat durasi terapi kortikosteroid untuk meminimalkan dampak pada pertumbuhan linier anak.
Correlation between Platelet Indices and PELOD-2 Score as Prognostic Markers in Pediatric Sepsis at Dr. Zainoel Abidin Hospital Pratiwi, Sari Novita; Sovira, Nora; Edward, Eka Destianti; Herdata, Heru Noviat; Safri, Mulya; Ismy, Jufitriani
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v4i3.613

Abstract

To determine the correlation between Mean Platelet Volume (MPV) and Platelet Distribution Width (PDW) with Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD-2) scores as prognostic markers in pediatric sepsis. This prospective cohort study included 44 pediatric sepsis patients admitted to the PICU at Dr. Zainoel Abidin Hospital from July to September 2024. PELOD-2 scores and blood indices were assessed on admission (Day 1) and Day 3. Pearson correlation was used to analyze the relationship between variables. The majority of patients were female (59.1%) and under one year old (31.8%). By Day 3, 68.2% of patients exhibited MPV levels exceeding 10.4 fL. Significant moderate correlations were found between Day 3 MPV and PELOD-2 (r=0.410; p=0.006), Day 3 PDW and PELOD-2 (r=0.518; p=0.001), and the changes ($\Delta$) in PDW versus PELOD-2 scores (r=0.471; p=0.005). Increases in MPV and PDW are significantly correlated with PELOD-2 scores, suggesting their potential utility as accessible prognostic markers in pediatric sepsis management.
Profile and outcome of atypical progressive acute kidney injury in children in a tertiary care hospital in Indonesia Fitria, Fitria; Sovira, Nora; Haris, Syafruddin; Yusuf, Sulaiman; Herdata, Heru Noviat; Ismy, Jufitriani
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 17, No 1, (2026)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol17.Iss1.art8

Abstract

Background: Atypical progressive acute kidney injury (APAKI) in children is a severe form of acute kidney injury (AKI) marked by rapid progression to end-stage and high mortality. Since August 2022, Indonesia has reported a surge of pediatric AKI, predominantly in previously healthy children, linked to contamination of syrup medications with diethylene glycol (DEG) and ethylene glycol (EG).Objective: The objective of this research is to identify the characteristics and clinical outcomes of children with APAKI at Dr. Zainoel Abidin Hospital in Banda Aceh, a tertiary care hospital in Indonesia.Methods: This analytical observational study used secondary data from pediatric medical records of APAKI cases between June and December 2022. A total sampling technique identified 31 eligible patients aged 1–18 years old. Clinical characteristics, laboratory parameters, and outcomes were analyzed using descriptive statistics and Fisher’s Exact tests.Results: Thirty-one pediatric patients with APAKI are included; most are male (64.5%), aged 1–5 years (93.5%), domiciled outside Banda Aceh (58.1%), and had good nutritional status (80.6%). The mortality is high (74.2%). Genitourinary symptoms such as oliguria/anuria are the most frequent (87.1%), and dialysis is the main therapy (64.5%). Poor outcomes are significantly associated with respiratory symptoms (OR=16; 95%CI: 1.643-155.77), PELOD-2 score ≥10 (OR=10.89; 95%CI: 1.140-103.98), and mechanical ventilation (OR=16; 95%CI: 1.643-155.77). Laboratory predictors of mortality included leukocytosis (OR=11.11; 95%CI: 1.701-72.564), thrombocytopenia (OR=1.90; 95%CI: 1.207-2.957), elevated urea (OR=13.2; 95%CI: 1.124-154.920), elevated creatinine (OR=36.67; 95%CI: 3.124-430.333), reduced eGFR (OR=22; 95%CI: 1.924-251.539), and elevated SGOT (OR=22; 95%CI: 1.924-251.539) and SGPT (OR=36.67; 95%CI: 3.124-430.333). Toxicology testing is correlated with better survival (OR=0.07; 95% CI: 0.006-0.889).Conclusion: APAKI in children is associated with high mortality. Poor outcomes are strongly linked to respiratory involvement, high PELOD-2 scores, mechanical ventilation, and multiple laboratory abnormalities, highlighting the importance of early risk identification and timely management.