Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Perempuan Post-Menopause dengan Pseudocyesis di Daerah Rural : Segi Perspektif Sosial Budaya I Made Wikrama Resindra; Jessica Gloria Mogi; Rivo Mario Warouw Lintuuran
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 74 No 3 (2024): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.74.3-2024-1231

Abstract

Introduction: Pseudocyesis originates from the Greek language, consisting of 2 syllables, namely: Pseudo (false) and Kyesis (pregnancy). Pseudocyesis is a mental health condition where the affected individual believes they are pregnant, accompanied by signs and symptoms of pregnancy. The Kei society adheres to a patrilineal kinship system and has preserved customary laws handed down through generations known as “Larvul Ngabal”. These customary laws regulate several aspects of life including marriage and descent.Case Report: A 60-year-old woman came to the outpatient clinic to checked her pregnancy. The patient stated that for the past 2 months, her abdomen had been growing larger and she felt fetal movements inside. Obstetric examination and supporting tests did not reveal the presence of a fetus. The patient was educated that she was not pregnant, but she remained convinced that she was pregnant.Case Discussion: This patient has already entered post-menopausal age and has been married for the second time. The patient and her husband desire to have a male child. The Kei society adheres to a patrilineal system, where a male child is hoped to continue or strengthen the paternal lineage. However, the patient currently does not have any offspring. Therefore, this situation may have an impact on her condition.Conclusion: Pseudocyesis reflects somatization disorder in the patient due to the unfulfilled desire to have offspring. This condition can be influenced by several factors including socio-cultural ones.
Menjembatani Komunitas Tuli dan Dengar melalui Pelatihan Komunitas untuk Kesehatan Mental: Penelitian Rivo Mario Warouw Lintuuran; Laura Lesmana Wijaya; Herbert Klein; Adhesatya Ningsih Moodoeto; Michelle Layanto
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5252

Abstract

Masalah kesehatan mental lebih banyak ditemukan pada komunitas Tuli dibandingkan populasi dengar, namun banyak kebutuhan belum terpenuhi akibat keterbatasan pengetahuan kesehatan mental di kalangan Tuli serta kurangnya pemahaman tentang bahasa dan budaya Tuli di kalangan profesional kesehatan mental dengar. Pelatihan bersama berbasis komunitas dilakukan di Jakarta, Indonesia, dengan melibatkan 18 pemimpin Tuli serta 13 ahli (psikolog dan psikiater) untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi dalam menjawab kebutuhan kesehatan mental Tuli. Metode pelatihan menggunakan edukasi kesehatan dengan pre/post-test tentang pengetahuan dan refleksi diri, skrining kesehatan mental peserta Tuli, dan diskusi bersama bertema kesehatan mental. Data dikumpulkan melalui Self-Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20), diskusi kelompok Tuli–dengar, serta tes pengetahuan dan refleksi diri pra dan pascapelatihan. Hasil menunjukkan bahwa 77% pemimpin Tuli terindikasi memiliki masalah kesehatan mental dan 32% melaporkan ide bunuh diri. Diskusi menyoroti tema antara lain kebutuhan mendesak akan layanan kesehatan mental yang aksesibel, program dukungan sebaya, dan kebijakan layanan kesehatan yang inklusif. Pascapelatihan, terdapat perbaikan rata-rata skor pengetahuan  (4% Tuli, 43,65% profesional), dan pemahaman atau refleksi diri antara lain pemimpin Tuli terhadap gejala kesehatan mental meningkat dari 65% menjadi 90%, sementara kesadaran profesional tentang pentingnya bahasa dan budaya Tuli dalam konsultasi meningkat dari 75% menjadi 92%. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan bersama berbasis komunitas bagi pemimpin Tuli dan profesional kesehatan mental dapat secara efektif meningkatkan pengetahuan kesehatan mental, pemahaman bersama, dan kolaborasi lintas komunitas. Pendekatan ini penting untuk memperkuat dukungan sebaya, meningkatkan akses layanan, serta mendorong kebijakan layanan kesehatan yang inklusif dan lebih responsif terhadap kebutuhan kesehatan mental komunitas Tuli.