Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

QURANIC RASM AND ITS RELATIONSHIP WITH INTERPRETATION AND UNDERSTANDING B, Gunawan Edi; Mahdi, Imam; Iqbal, Moch.
FOKUS Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jf.v9i1.10278

Abstract

An understanding of RASM can help to prevent errors in transcription and maintain the sanctity of the Qur’an. The aims are to explore the essence of the Qur’anic RASM and its relationship with the interpreting and understanding the holy verses. This study employs the library method of collecting, reading, recording, and analyzing, then elaborates on a deep understanding of the relevant scholarly literature from journal databases, books, and scientific articles. The study results reveal that RASM Al-Qur’an or The RASM of Utsmani is the procedure for writing the Qur’an that was established during the Ustman Bin Affan, adhering to specific rules. Some ulama that RASM Al-Qur’an is tauqifi, but the majority hold that is not tauqifi. Then, the relationship between The RASM of Utsmani and the understanding of the Qur’an lies in the fact that, in the early days of Islam, the Quranic manuscript (mushaf) did not have diacritical marks (punctuation marks) or line. This difficulty became more pronounced as the Islamic world expanded into non-Arab regions, such as Persia in the east, Africa in the south and other non-Arab areas in the west.
Perbandingan Pendidikan di Indonesia dan Pendidikan di Finlandia Haryanto, Bambang; Iqbal, Moch.
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.13837

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi perbandingan sistem pendidikan di Indonesia dan Finlandia. Mengingat Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara lain dalam hal pendidikan. Saat ini, hal yang paling krusial dan signifikan bagi masyarakat adalah pendidikan. Keberhasilan pendidikan telah diakui secara global, terlihat dari tingginya kualitas pendidikan di Finlandia. Perbandingan sekolah dengan Indonesia nampaknya sangat berbeda. Metodologi penelitian yang digunakan adalah tinjauan pustaka, yaitu pengumpulan data dari buku-buku atau jurnal yang telah dilakukan analisis berdasarkan isu-isu terkini. Sistem pendidikan di kedua negara ini berbeda dalam beberapa hal. Pertama, meskipun Finlandia menjunjung tinggi prinsip kesetaraan, pendidikan Indonesia lebih sering dimanfaatkan untuk acara kompetensi. Kedua, meskipun Finlandia tidak menerapkan sistem serupa, terdapat sistem yang berlaku bagi siswa yang kemampuannya di bawah rata-rata dan berada pada peringkat. 3) Orang Finlandia belajar sekitar 30 jam seminggu, sedangkan orang Indonesia belajar sekitar 40 jam seminggu. Di Indonesia, pendidikan sebagian besar dilakukan di ruang kelas, sedangkan Finlandia menggunakan pendekatan pemecahan masalah. 5) Tugas selalu diselesaikan secara langsung bagi siswa di Indonesia, namun tidak di Finlandia, di mana pekerjaan rumah tidak menjadi suatu kesulitan. Dan yang terakhir, 6) Jika Finlandia mempertahankan persyaratan minimum gelar Master untuk instruktur, maka pendidik Indonesia mungkin setidaknya bergelar D4. (S2). Siswa di Indonesia perlu menerima surat referensi resmi dari instruktur mereka untuk mendaftar di sekolah dasar.
KESENJANGAN TATA KELOLA AI DI INDONESIA: ANTARA REGULASI LEMAH DAN IMPLEMENTASI TEKNOLOGI YANG MELESAT Iqbal, Moch.; Trisiana, Ratih; Wijaya, Mohammad Surya Trias; Hariyanto, Rudi
Yurijaya : Jurnal Ilmiah Hukum Vol. 7 No. 3 (2025): DESEMBER
Publisher : Universitas Merdeka Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51213/yurijaya.v7i3.229

Abstract

Pertumbuhan teknologi kecedasan bauta (AI) di Indonesia berlangsung secara masif dan signifikan, namun belum diimbangi dengan landasan hukum yang kuat dan menyeluruh kemudian untuk percepatan implementasi tersebut juga belum diimbangi dengan kerangka tata Kelola dan regulasi yang memadai sehingga artikel ini mengkaji kesenjangan antara kemajuan teknologi AI dan lemahnya kebijakan pengaturannya di Indonesia. Meskipun pemanfaatan AI telah merambah berbagai sektor seperti administrasi public, sistem layanan keuangan, layanan Kesehatan, dan pendidikan, regulasi yang mengaturnya masih bersifat fragmentaris, tidak memiliki kekuatan mengikat, serta belum menjamin perlindungan hak individu dan kepastian hukum yang jelas. Kajian ini menganalisis ketimpangan antara adopsi AI dan lemahnya sistem pengaturan hukumnya di Indonesia.
Al-Baqoroh Ayat 29 sebagai Kaidah al-Masyaqqoh at-Tajlibu al Taisir ( Studi Fenomena Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak ) Hendri, Jul; Mahdi, Imam; Iqbal, Moch.
QIYAS: JURNAL HUKUM ISLAM DAN PERADILAN Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/qys.v8i2.4383

Abstract

Abstracts: The phenomenon of increasing fuel oil (BBM) prices in Indonesia occurred after the government itself agreed to a policy taking into account several reasons. This does not happen because there is no underlying cause, seeing that the greater the difference between the real market price and the retail price of subsidized fuel will certainly burden the state budget. If it is not addressed, the State Revenue and Expenditure Budget (APBN) will collapse. The increase in basic commodities also occurred in addition to the increase in fuel prices, giving rise to new problems for people in Indonesia, especially in the economy. However, the government should not remain silent watching what is happening in this country, they should continue to try to find steps to solve the problems that occur in society as a result of the increase in fuel prices. In this matter, the qaidah Al-masyaqqoh at-tajlibu al taisir (difficulty causes ease or difficulty brings ease) is a serious consideration for the government in making the right decision to eliminate the difficulties or difficulties that occur in this country by looking at the things that arise due to the increase in fuel prices itself which has negative and positive impacts on the country and the people within it.Keywords: Fuel Oil (BBM), Increase in basic commodities, Al-masyaqqoh at-tajlibu al taisir. Abstrak : Fenomena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM ) di Indonesia terjadi setelah disepakatinya  kebijakan dari pemerintah sendiri dengan mempertimbangankan beberapa sebab. Hal tersebut terjadi bukan karena tidak adanya sebab yang mendasarinya, melihat bahwa semakin besar selisih antara harga pasar riil dan harga eceran BBM bersubsidi tentunya membebani anggaran negara. Jika tidak diatasi, maka Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) akan jebol. Kenaikan bahan pokok juga terjadi disamping naiknya harga BBM tersebut, sehingga menimbulkan masalah baru bagi masyarakat di negara Indonesia terutama dibagian Ekonomi. Namun pemerintah juga tak seharusnya tinggal diam melihat apa yang terjadi di negara ini , mereka terus berupaya mencari langkah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dimasyarakat akibat dari kenaikan BBM tersebut. Dalam masalah ini , qaidah Al-masyaqqoh at-tajlibu al taisir (kesulitan menyebabkan adanya kemudahan atau kesulitan mendatangkan kemudahan) menjadi pertimbangan yang serius bagi pemerintah dalam mengambil keputusan yang tepat untuk menghilangkan kesulitan atau kesusahan yang terjadi dinegara ini dengan melihat hal-hal yang timbul akibat kenaikan harga BBM itu sendiri yang menimbulkan dampak negatif dan positif bagi negara dan masyarakat yang ada didalamnya.Kata kunci: Bahan Bakar Minyak (BBM), Kenaikan bahan pokok , Al-masyaqqoh at-tajlibu al taisir.
SOWING HARMONY: INCLUSIVE EDUCATION FOR ACTIVE TOLERANCE IN MULTICULTURAL SCHOOLS OF THE LAND OF RAFFLESIA Iqbal, Moch.; Wahyuni, Betti Dian; Ridwan, Wachid
EDURELIGIA: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Nurul Jadid University, Paiton Probolinggo, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/edureligia.v9i1.10488

Abstract

This study aimed to explore the practice of active tolerance in the multicultural school in Bengkulu City. The school is known, for its diversity, being a multicultural institution with students of diverse ethnicities and religions. This research employed a qualitative research with a case study design involving school principals, Islamic teachers, students, and parents of students at SMA Sint Carolus, Bengkulu City. Data were collected through participatory observation to understand school interactions, in-depth interviews, and document analysis to understand the school's curriculum and religious materials. Using qualitative research methods with a field research approach provides more space to explore the implementation of active tolerance more deeply in Catholic schools. This study showed that the implementation of three strategic efforts, the Dual Lens Curriculum, the Empathy Circle Forum, and the Communal Solution Project, significantly transformed students' character from passive tolerance to inclusive active tolerance. The findings revealed that strengthening cognitive flexibility through multi-perspective materials and developing radical empathy in a safe encounter space successfully broke down prejudice and primordial barriers in multicultural schools. The implications of this research emphasized the importance of synergy between schools and families. This research proved that respect for self-identity rooted in the home was the main key in building organic solidarity and sustainable harmony in Bumi Rafflesia.
Nilai-nilai Sosial Masyarakat Pendatang Tapanuli Selatan dalam Pelaksanaan Pernikahan Menggunakan Tradisi Adat Tari Tor Tor Naposo Nauli Bulung di Wilayah Kota Bengkulu Siregar, Muhammad Safii; Suradi, Ahmad; Iqbal, Moch.
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11456

Abstract

Abstract : This study aims to: (1) describe the tradition of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance in the context of migrant community life in Bengkulu City; and (2) analyze the meaning and interpretation of the social values contained in the implementation of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance according to the perspectives of traditional leaders, dance performers, and the Tapanuli Selatan migrant community. This research uses a qualitative approach with a descriptive research type. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation involving informants consisting of traditional leaders, dance performers, and members of the Batak Tapanuli Selatan community in Bengkulu City. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the tradition of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance plays an important role in the life of migrant communities, namely as: (a) a means of cultural preservation that is maintained despite being far from the homeland; (b) a symbol of ethnic identity of the Batak Tapanuli Selatan community in a different social environment; (c) a medium to strengthen social relationships and solidarity among members of the migrant community; and (d) a means of cultural education for the younger generation in understanding traditional customs.Furthermore, the meaning and interpretation of the social values contained in the implementation of the Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dance include: (a) the value of togetherness and mutual cooperation reflected in collaboration among community members in every stage of the tradition; (b) the value of cultural preservation and ethnic identity shown through efforts to maintain traditions amid modernization; and (c) the value of respect for parents and ancestors, which is manifested through traditional procedures, dance movements, and polite behavior in the implementation of the tradition.Keywords: Tradition, Tor-Tor Dance, Naposo Nauli Bulung, migrant community, social values. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan Tradisi Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung dalam konteks kehidupan masyarakat perantauan di Kota Bengkulu; dan (2) menganalisis makna serta pemaknaan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam pelaksanaan Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung menurut pandangan tokoh adat, pelaku tari, dan masyarakat pendatang Tapanuli Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri dari tokoh adat, pelaku tari, serta masyarakat Batak Tapanuli Selatan di Kota Bengkulu. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat perantauan, yaitu sebagai: (a) sarana pelestarian budaya yang tetap dijaga meskipun berada jauh dari kampung halaman; (b) simbol identitas etnik masyarakat Batak Tapanuli Selatan di lingkungan sosial yang berbeda; (c) media untuk mempererat hubungan sosial dan solidaritas antaranggota masyarakat perantauan; serta (d) sarana pendidikan budaya bagi generasi muda dalam memahami adat istiadat. Selain itu, makna dan pemaknaan nilai-nilai sosial dalam pelaksanaan Tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung meliputi: (a) nilai kebersamaan dan gotong royong yang tercermin dalam kerja sama antaranggota dalam setiap pelaksanaan tradisi; (b) nilai pelestarian budaya dan identitas etnik yang terlihat dari upaya mempertahankan tradisi di tengah arus modernisasi; serta (c) nilai penghormatan terhadap orang tua dan leluhur yang diwujudkan melalui tata cara adat, gerakan tari, serta sikap sopan santun dalam pelaksanaan tradisi.Kata Kunci: Tradisi, Tari Tor-Tor, Naposo Nauli Bulung, masyarakat perantauan,  nilai sosial.