Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Language Laboratory Management in Improving Students English Speaking Ability Delli Sabudu; Joulanda A.M Rawis; Mozes Markus Wullur; Viktory N.J. Rotty; Uus Kamajaya Al Katuuk
Tadbir : Jurnal Studi Manajemen Pendidikan Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jsmp.v5i2.3663

Abstract

Proficiency in English is one type of ability to be achieved in teaching English because English is an international language and the main means of communicating with westerners and understanding English books. So it is necessary to optimize learning and teaching English in formal and non-formal education institutions. This research aims at finding out whether or not English laboratory Management affects students’ achievement. As one of basic skills, speaking involves oral and written features. English laboratory may refer to conventional computer uses or the Computer Assisted Language Laboratory (CALL) in the process of English teaching. The English Department of Universitas Negeri Manado uses modern form of language laboratory teaching. The research was conducted in the Department of English in which its population was taken from the first semester students appearing in the academic year 2020/2021 and sitting in five classes and each class had twenty five students. The result is supported by the data showing tobs>ttable (P = 0.05); (df = 48) 8,031 > 2,010(P = 0.05); (df = 48). If t- observed < t-table, the null hypothesis (Ho) is accepted and the alternative hypothesis (Ha) is rejected. There is a difference mean score obtained from both of controlled group at 67 showing 46% and the experimental group reaches 80,08 referring to 59.02 %. The students who had treatment in English laboratory management use successfully got higher score than students who did not have treatment about such management use. So it may conclude that the Language Laboratory management plays an important role in the success of learning English, especially to improve students' English speaking skills.
KECERDASAN BUDAYA KIAI MOJO DALAM MENDIRIKAN KAMPUNG JAWA TONDANO (KIAI MOJO'S CULTURE INTELLIGENCE IN ESTABLISHING KAMPUNG JAWA TONDANO) Kamajaya Al Katuuk
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.851

Abstract

Keteladanan dalam mendirikan komunitas yang memiliki identitas budaya khusus, seperti Jawa Tondano adalah hal yang tidak mudah. Diperlukan kemampuan manajerial mumpuni. Apalagi sebelumnya di daerah tersebut terdapat masyarakat lokal yang memiliki identitas berbeda. Dalam komunitas Jawa-Tondano, identitas dibangun di atas landasan agama Islam dan budaya Jawa.  Adapun  unsur pendukungnya terdiri dari masyarakat pejuang yang diasingkan dari Perang Jawa dan pemukim setempat. Tokoh kunci dari pendiri Jawa Tondano adalah Kiai Mojo. Subyek penelitian adalah berada pada masyarakat Kampung Jawa-Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, terutama warisan manajemen budaya Kiai Mojo yang tetap dirasakan hingga kini. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah manajemen budaya yang diinisiasi oleh Kiai Mojo, serta respons masyarakat Minahasa pada saat kampung Jawa Tondano dibangun. Tulisan ini bertumpu pada konsep kecerdasan budaya dari Brooks Peterson yang merumuskan kecerdasan budaya sebagai kemampuan untuk terlibat dalam serangkaian perilaku yang menggunakan keunggulan interpersonal dalam berinteraksi. Dalam konteks ini, teori kepemimpinan kesatria dari Summet Kumar ditambahkan untuk menginterpretasi sosok Kiai Mojo. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pendirian Kampung Jawa-Tondano terwujud karena kemampuan Kiai Mojo menerapkan manajemen budaya yang bercirikan kemampuan toleransi tanpa mengesampingkan sikap kesatria dalam mempertahankan identitas dan prinsip agama. Hal mana yang juga secara simultan ditunjukkan masyarakat Minahasa pada waktu itu. 
NILAI RELIGIUS ISLAMI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL “KETIKA TUHAN JATUH CINTA” KARYA WAHYU SUJANI DAN IMPLIKASI DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA Priti Pawewang; Joni Junius Loho; Martinus Kamajaya Al Katuuk
KOMPETENSI Vol. 3 No. 02 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan nilai religius Islami tokoh utama dalam novel “Ketika Tuhan Jatuh Cinta” karya Wahyu Sujani serta menjelaskan implikasi tentang nilai religius Islami tokoh utama dalam novel “Ketika Tuhan Jatuh Cinta” dalam pembelajaran sastra di SMA. Sumber data penelitian ini ialah Novel “Ketika Tuhan Jatuh Cinta” karya Wahyu Sujani selain itu sumber data lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian tetang nilai religius dalam tokoh novel. Untuk menganalisis data teknik yang digunakan adalah membaca novel Ketika tuhan Jatuh Cinta yang dijadikan objek penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1. Nilai-nilai Religius yang terkandung dalam novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani meliputi 2 nilai relegius yaitu Aqidah dan Syariah. 1) Aqidah yang merupakan suatu ketetapan mutlak dari Allah kepada hamba-Nya, sedangkan 2) Syariah adalah tata aturan atau hukum-hukum yang diisyaratkan oleh Allah kepada hamba-Nya untuk ditunaikan. Oleh sebab itu dari penelitian ini ditarik kesimpulan bahwa nilai religius dalam novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta karya Wahyu Sujani adalah suatu ketetapan atau aturan Allah yang wajib dijalankan setiap orang yang menganutnya. Nilai religius dalam novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta dapat memberikan implikasi pembelajaran di SMA yaitu, Percaya Kepada Allah.Siswa-siswa yang beragama muslim
PENGGUNAAN DIKSI DAN GAYA BAHASA PADA NOVEL SELAMAT TINGGAL KARYA TERE LIYE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA Jequaline Pangemanan; Uus M. Kamajaya Al Katuuk; Donal Matheos Ratu
KOMPETENSI Vol. 3 No. 5 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini disusun untuk mendeskripsikan diksi dan gaya bahasa yang digunakan dalam novel Selamat Tinggal karya Tere Liye serta implikasinya terhadap pembelajaran sastra. Secara khusus diksi yang didiskusikan dalam tulisan ini adalah diksi denotasi dan konotasi; dan gaya bahasa yang dibahas dalam penelitian ini adalah gaya bahasa perbandingan. Penelitian ini disusun dengan menggunakan pendekatan desrkiptif kualitatif. Novel Selamat Tinggal karya Tere Liye adalah sumber data utama dalam penelitian ini, sehingga penelitian ini merupakan sebuah penelitian pustaka (library research). Data dikumpulkan melalui teknik menyimak dan mencatat (note taking). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis konten (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Selamat Tinggal karya Tere Liye terdapat 8 diksi konotasi dan 5 diksi denotasi. Hasil temuan juga menunjukkan bahwa terdapat 6 jenis majas perbadingan yang terdiri atas 12 majas perumpamaan, 5 majas metafora, 3 majas personifikasi, 1 matas antithesis, 1 majas alegori dan 1 majas koreksio. Novel ini juga dapat memberikan implikasi dalam pembelajaran Sastra di tingkat SMA, khususnya kelas 12, sesuai dengan kompetensi dasar dan materi pembelajaran unsur kebahasaan novel. Pembelajaran ini dapat membantu siswa untuk menemukan tema utama novel dengan lebih mudah, mengembangkan pemikiran kritis, dan memperkaya kosa kata. Adanya penggunaan diksi dan gaya bahasa pada novel Selamat Tinggal dapat dijadikan sebagai referensi tambahan dalam pembelajaran sastra.
TRADISI BERSYUKUR PADUNGKU SEBAGAI KEARIFAN DAERAH MASYARAKAT ETNIK PAMONA POSO DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DAERAH Vinca Evalda Banatau; Kamajaya Al Katuuk; Intama Jemy Polii
KOMPETENSI Vol. 3 No. 11 (2023): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) menemukan dan mendeskripsikan tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh masyarakat etnik Pamona Poso sebelum memasuki masa panen raya Padungku, 2) mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi Padungku, dan 3) mendeskripsikan implikasi dari tradisi Padungku terhadap pembelajaran sastra daerah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan dua tokoh adat Pamona Poso dari desa Kasiguncu sebagai sumber data. Penelitian ini dilaksanakan melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan analisis isi sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan-tahapan yang dilalui oleh masyarakat Pamona Poso sebelum memasuki masa panen raya Padungku melibatkan prosesi awal seperti Mesale, Molanggo, mosangki, mangore, dan mencapai tahap akhir pada Padungku. Selain itu, nilai-nilai kearifan daerah yang terkandung dalam tradisi ini mencakup nilai religi, nilai kebersamaan atau gotong royong, dan nilai toleransi. Implikasi dari tradisi Padungku terhadap pembelajaran sastra daerah adalah peningkatan wawasan dan pengetahuan mengenai makna sebuah tradisi. Tradisi ini tidak hanya dirayakan, melainkan juga melibatkan prosesi yang kaya makna. Oleh karena itu, penting untuk mengemasnya dalam sebuah tulisan komprehensif agar keberadaan tradisi Padungku dikenal oleh masyarakat Pamona Poso dan dapat diajarkan sebagai referensi pembelajaran sastra daerah. Hal ini dapat dilakukan sedini mungkin untuk mendukung pelestarian tradisi tersebut.
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM FILM DI BAWAH UMUR KARYA ERISCA FEBRIANI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA Atika Litod; U. M. Kamajaya Al Katuuk; Intama Jemy Polii
KOMPETENSI Vol. 4 No. 1 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam film Di Bawah Umur dan implikasinya bagi pembelajaran sastra di tingkat SMP. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak-catat (note-taking) terhadap dialog-dialog dan adegan-adegan dalam film Di Bawah Umur karya Erisca Febriani, sebagai sumber data utama dalam penelitian ini. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara desrkiptif. Hasil Penelitian menunjukkan adanya 6 nilai pendidikan karakter: 1) Jujur, 2) Disiplin, 3) Percaya Diri, 4) Bertanggungjawab, 5) Kerja keras, dan (6) Bergaya hidup sehat. Adapun implikasinya terhadap pembelajaran sastra dilihat dari nilai pendidikan karakter yang telah diteliti, peneliti menemukan bahwa film menjadi media yang efektif dalam pembelajaran sastra sehingga dapat membangun nilai pendidikan karakter yang positif.
BIAK LANGUAGE GREETINGS AND THEIR IMPLICATIONS FOR LOCAL LANGUAGE LEARNING IN SCHOOLS Yesika Ohorella; Kamajaya Al Katuuk; Susan Monoarfa
SoCul: International Journal of Research in Social Cultural Issues Vol. 3 No. 1 (2023): SoCul: International Journal of Research in Social Cultural Issues
Publisher : Faculty of Language and Arts (Fakultas Bahasa dan Seni) Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/soculijrccsscli.v3i1.7882

Abstract

The objectives of this research are to describe Biak language greeting words in terms of form and meaning and their implications for local language learning in schools. The method used in this research is descriptive qualitative method. To collect data, the techniques used are observation, listening technique and conversation technique. To analyze the data, the technique used is qualitative analysis technique which includes: 1) Data reduction, namely simplifying the data that has been collected. 2) Presentation of data, namely, presenting data before being simplified through data grouping. 3) Verification, namely checking the accuracy of the data that has been presented. Conclusion, namely drawing conclusions to answer research questions. The results showed: 1) Family greetings: kamam (father), awin (mother), ɛba (brother), ɛknik (younger brother); 2) Kin greetings: mansar (grandfather), insar (grandmother), mɛ (aunt), kabor (nephew), insos (niece), ɛbaya kabor (male cousin), ɛbaya insos (female cousin); 3) Non-relative greetings: /ambɛr beba/ someone who has a position and is older, younger, and so on, /manan wir (community leader), manan wir bɛba (traditional leader). 4) Common greetings: kamam (father), awin (mother), kabor (a man of the same age or younger), insos (a woman of the same age or younger). The implication of this research can be applied in local language learning in schools to better understand and appreciate local culture and grammar.
TRADISI BERSYUKUR PADUNGKU SEBAGAI KEARIFAN DAERAH MASYARAKAT ETNIK PAMONA POSO DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DAERAH Banatau, Vinca Evalda; Katuuk, Kamajaya Al; Polii, Intama Jemy
KOMPETENSI Vol. 3 No. 11 (2023): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/kompetensi.v3i11.6737

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1 menemukan dan mendeskripsikan tahapan tahapan yang harus dilalui oleh masyarakat etnik Pamona Poso sebelum memasuki masa panen raya Padungku< em> 2 mendeskripsikan nilai nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi Padungku< em> dan 3 mendeskripsikan implikasi dari tradisi Padungku< em> terhadap pembelajaran sastra daerah Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan dua tokoh adat Pamona Poso dari desa Kasiguncu sebagai sumber data Penelitian ini dilaksanakan melalui teknik wawancara observasi dan dokumentasi dengan analisis isi sebagai teknik analisis data Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan tahapan yang dilalui oleh masyarakat Pamona Poso sebelum memasuki masa panen raya Padungku< em> melibatkan prosesi awal seperti Mesale< em> Molanggo< em> mosangki< em> mangore dan mencapai tahap akhir pada Padungku< em> Selain itu nilai nilai kearifan daerah yang terkandung dalam tradisi ini mencakup nilai religi nilai kebersamaan atau gotong royong dan nilai toleransi Implikasi dari tradisi Padungku< em> terhadap pembelajaran sastra daerah adalah peningkatan wawasan dan pengetahuan mengenai makna sebuah tradisi Tradisi ini tidak hanya dirayakan melainkan juga melibatkan prosesi yang kaya makna Oleh karena itu penting untuk mengemasnya dalam sebuah tulisan komprehensif agar keberadaan tradisi Padungku< em> dikenal oleh masyarakat Pamona Poso dan dapat diajarkan sebagai referensi pembelajaran sastra daerah Hal ini dapat dilakukan sedini mungkin untuk mendukung pelestarian tradisi tersebut < p>
ANALISIS PESAN MORAL DALAM FILM PENYALIN CAHAYA KARYA HENRICUS WREGAS BHANUTEJA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI TINGKAT PERGURUAN TINGGI Kusmiyati, Yulia Dwi; Katuuk, Kamajaya Al; Meruntu, Oldie S.
KOMPETENSI Vol. 4 No. 7 (2024): KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/kompetensi.v4i7.9072

Abstract

Penelitian ini menganalisis pesan moral dalam film Penyalin Cahaya< em> karya Henricus Wregas Bhanuteja dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di Perguruan Tinggi Film ini dirilis pada 8 Oktober 2021 di Festival Film Internasional Busan Menggunakan metode deskriptif kualitatif penelitian ini menerapkan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi dan simak catat serta analisis isi sebagai teknik analisis data Hasil penelitian mengungkapkan dua kategori pesan moral: individual meliputi eksistensi diri harga diri kepercayaan diri emosi tanggung jawab dan sopan santun dan sosial mencakup berpikiran positif tolong menolong cinta kasih dan saling menghargai Penelitian menyimpulkan bahwa film Penyalin Cahaya< em> merupakan media efektif dalam pembelajaran sastra di perguruan tinggi untuk membangun karakter mahasiswa Film ini relevan dengan kurikulum pembelajaran tingkat perguruan tinggi khususnya Kurikulum Merdeka Implementasinya sangat sesuai untuk mata kuliah Apresiasi Film di semester IV memungkinkan mahasiswa mengidentifikasi nilai nilai positif dalam film untuk pengembangan karakter < p>