Articles
PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR ANAK OLEH PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK (PSAA)
Dian Haerunisa;
Budi Muhammad Taftazani;
Nurliana Cipta Apsari
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2015): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (453.431 KB)
|
DOI: 10.24198/jppm.v2i1.13232
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui apa saja kebutuhan anak yang diberikan oleh lembaga panti sosial asuhan anak (PSAA). Sumber data penelitian ini adalah pihak yang terkait dalam lembaga PSAA. Aspek kebutuhan anak yang dipelajari adalah kebutuhan fisik, psikososial, dan sosial emosional.Artikel ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, studi kepustakaan dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah pihak yang terkait di dalam lembaga pendidikan anak usia dini.Dari hasil Artikel dapat diketahui bahwa pemenuhan kebutuhan anak oleh PSAA sudah dapat terpenuhi secara baik, sehingga anak-anak yang berada di lembaga PSAA tersebut merasa senang dan nyaman karena kebutuhan yang mereka perlukan sudah terpenuhi. Dengan terpenuhinya kebutuhan tersebut sehingga anak-anak yang ada di PSAA mampu mengembangkan kemampuan dirinya dan potensi yang dimilikinya.
PERANAN PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN EKONOMI KELUARGA (STUDI TENTANG PERANAN PETUGAS K3L PEREMPUAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR (ZONA: REKTORAT))
Shafila Mardiana Bunsaman;
Budi Muhammad Taftazani
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2018): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (480.487 KB)
|
DOI: 10.24198/jppm.v5i2.18373
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga para petugas K3L (Kebersihan, Kenyamanan, Keindahan Lingkungan) Universitas Padjadjaran Jatinangor dan juga untuk mengetahui motivasi apa saja yang membuat perempuan memiliki keinginan untuk bekerja. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif serta metode pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara mendalam, buku referensi dan juga penelitian-penelitian terhadulu. Hasil penelitian yang didapatkan menyatakan bahwa peranan perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga K3L terbagi menjadi dua peran, yang pertama adalah peran perempuan di dalam keluarga, diantaranya adalah peranan sebagai seorang ibu dan juga peranan sebagai pendamping suami. Yang kedua adalah peranan perempuan di luar keluarga yaitu sebagai pencari nafkah. Para perempuan ini bekerja untuk dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga. ABSTRACTThis study aims to determine the role of women in improving the family welfare of the K3L officers of Universitas Padjadjaran Jatinangor and also to find out what motivation makes women have the desire to work. The method used in this research is qualitative descriptive and data collection methods used through in-depth interviews, reference books and also research studies. The result of the research shows that the role of women in improving the economic welfare of K3L family is divided into two roles, the first is the role of women in the family, such as the role of a mother and also the role of the husband's companion. The second is the role of women outside the family as the breadwinner. These women work to improve the economic welfare of the family.
PELAYANAN SOSIAL BAGI PENYANDANG PSIKOTIK
Budi Muhammad Taftazani
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (546.698 KB)
|
DOI: 10.24198/jppm.v4i1.14222
Ciri utama dari penyandang gangguan psikotik yaitu mereka mengalami delusi dan halusinasi. Psikotik termasuk gangguan mental yang serius dan dapat membawa dampak kritis baik pada penderita maupun terhadap keluarga dan lingkungan mereka.Penyebab gangguan psikotik tidak semata-mata disebabkan oleh faktor kekurangan internal individu melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling mempengaruhi. Faktor psikososial sepeti stres, gangguan kognitif, adanya relasi dan komunikasi yang buruk, serta kesulitan sosial ekonomi dapat melengkapi kerentanan biologis dalam memunculkan gangguan psikotik.Para penyandang gangguan mengalami banyak hambatan dan keadaan bermasalah. Mereka mengalami kekacauan fikiran, afek yang dangkal, dan menarik diri. Kondisi lain yang memungkinkan penyandang gangguan berada dalam situasi tidak beruntung adalah ditolak dari keluarga, disembunyikan dari pergaulan masyarakat, dan mengalami berbagai perlakuan lain yang tidak manusiawi.Penanganan gangguan psikotik terdiri dari tiga domain yang satu sama lain tidak bisa diabaikan untuk menghasilkan efektivitas dan dampak penanganan yang berarti yaitu domain biopsikososial. Penanganan ini terdiri dari medikasi, perawatan, rehabilitasi psikososial, psikoterapi, intervensi keluarga, dan psikoedukasi. Rangkaian intevensi ditujukan untuk pengelolaan simptom, pemulihan sosial dan vokasional, serta edukasi kepada keluarga penyandang gangguan.
PENGEMBANGAN PRODUKTIVITAS PENGRAJIN BAMBU MELALUI PELATIHAN OLAHAN ANEKA KERAJINAN BAMBU DI DESA GENTENG KEC. SUKASARI SUMEDANG
BUDHI WIBHAWA;
SAHADI HUMAEDI;
AGUS WAHYUDI RIANA;
BUDI MUHAMMAD TAFTAZANI;
MAULANA IRFAN;
BINAHAYATI BINAHAYATI
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v4i2.14347
Kegiatan PPM ini bertujuan untuk menangani salah satu kebutuhan masyarakat Desa Genteng akan pemanfaatan sumber daya alam bambu. Dalam hal ini, kekayaan sumber daya alam bambu belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat lokal sehingga belum memiliki daya jual yang tinggi karena kreativitas produksi yang masih rendah. Oleh karena itu, PPM ini secara khusus ditujukan bagi para pengrajin bambu Desa Genteng. Adapun tujuan dari kegiatan PPM adalah meningkatkan keterampilan para pengrajin agar lebih mampu untuk menghasilkan produk kerajinan yang bernilai estetika yang tinggi. Berdasarkan hasil pemetaan sosial dan observasi lapangan, masalah yang selama ini dirasakan oleh pengrajin tersebut adalah rendahnya nilai jual hasil kerajinan bambu yang lebih disebabkan produk yang dihasilkan belum memiliki nilai seni yang tinggi.Dalam mengatasi masalah tersebut, tim bermaksud mengadakan kegiatan yang mampu memberikan dampak postif terhadap peningkatan produktifitas anyaman bambu mengadakan sebuah kegiatan Pelatihan Hasil Produksi Kerajinan Bambu bagi para pengrajin bambu di Desa Genteng. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan produktivitas masyarakat melalui kerajinan bambu kreatif bernilai jual tinggi. Kegiatan PPM ini akan berlangsung selama 7 bulan, dan dapat ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan yang mendukung pelatihan hasil produksi kerajinan bambu.Hasil dari kegiatan pelatihan tersebut, nampak bahwa warga lebih termotivasi mengembangkan kreativitas dari hasil produksi bambu guna bernilai jual tinggi yang akan berdampak terhadap pengembangan industri rumah tangga dari hasil olahan bambu tersebut. Selain itu, peserta pelatihan yang didominasi oleh pengrajin bambu rumah tangga berhasil menghasilkan berbagai macam kreasi seni bambu yang menarik dan siap untuk dijual.
PERLINDUNGAN ANAK DARI BAHAYA KEKERASAN
Anita Listyani;
Budi Muhammad Taftazani;
Risna Resnawaty
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2015): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v2i1.13234
Artikel ini dilatarbelakangi oleh semakin merebaknya kasus pelanggaran hak anak. Padahal anak merupakan aset negara yang akan menentukan keberhasilan suatu negara di masa yang akan datang. Dimana untuk menghindari terjadinya pelanggaran akan hak anak, setiap individu diharuskan untuk memiliki kesadaran awal akan pentingnya menjaga dan melindungi hak anak. Hak anak dapat terpenuhi dengan didukung oleh keberhasilan seorang anak dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai umurnya dan juga kebutuhannya sebagai seorang anak. Pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam hal ini yaitu mulai dari yang paling dekat dengan anak, ialah orang tua dan keluarga, kemudian masyarakat pada umumnya, kemudian barulah negara dan pemerintah. Apabila anak-anak tidak berada dalam pengawasan yang tepat, mereka dapat beresiko dilanggar hak-haknya oleh pihak-pihak tidak bertanggung-jawab seperti pada kasus di panti asuhan The Samuels yang melanggar hak 6 orang anak penghuni panti tersebut. Dimana anak-anak panti disana tidak mendapatkan hak untuk tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar, juga hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan, hak untuk memperoleh identitas diri, hak untuk mengetahui orang tua kandungnya, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan jaminan sosial, dan hak untuk memperoleh pendidikan yang sesuai. Pemenuhan kebutuhan dan tugas perkembangan anak ini dapat dimulai dari setiap individu yang dimulai dengan kesadaran diri sendiri, dimana ketika melihat adanya kondisi yang berpotensi memunculkan suatu pelanggaran hak anak, melaporkan kondisi tersebut kepada KPAI yang menyediakan pelayanan untuk melindungi anak.
UPAYA PENINGKATAN KEBERFUNGSIAN SOSIAL TERHADAP EKS PASIEN COVID-19
Sahadi Humaedi;
Afina Azizah;
Budi Muhammad Taftazani
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2020): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v7i2.28873
Artikel ini berusaha mengkaji tentang upaya meningkatkan keberfungsian sosial eks pasien COVID-19. Dunia saat ini sedang dilanda pandemi COVID-19. COVID-19 sendiri merupakan bagian dari keluarga corona virus. COVID-19 ditemukan pertama kali di pusat Tiongkok, Kota Wuhan menjadi pusat perhatian dunia terhitung sejak Desember 2019, dan telah menyerang hingga ke hampir 110 negara dan memilik 118 ribu kasus penularan. Terkait dengan pandemi ini, seperti pasien yang pernah tertular, keluarganya serta tenaga Kesehatan yang merupakan garda terdepan (frontliner) dalam perawatan pasien dengan kasus COVID-19 banyak yang merasakan dampak tidak baik dari masyarakat yaitu berupa stigma dan diskriminasi. Hal tersebut dikarenakan dampak dari rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan dari masyarakat. Rasa takut dan khawatir tentu wajar dirasakan oleh setiap pihak, namun berbeda halnya jika rasa takut dan khawatir itu memunculkan stigma dan diskriminasi. Dalam hal ini tentu pasien yang pernah tertular, keluarganya serta tenaga Kesehatan akan merasakan perbedaan sikap dari masyarakat yang akan berdampak bagi perilaku dirinya ke depan. Untuk itu perlu adanya membangun dan menjaga hubungan sosial dengan eks pasien COVID-19 agar dukungan sosial kepada eks pasien COVID-19 tetap terjaga. Dengan adanya dukungan sosial yang didapatkan dari lingkungannya, eks pasien COVID-19 tentu dapat menjalankan keberfungsian sosialnya dengan baik.
PELATIHAN PENGEMBANGKAN KAPASITAS IBU DALAM PENGASUHAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR
Meilanny Budiarti Santoso;
Nurliana Cipta Apsari;
Budi Muhammad Taftazani
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5, No 3 (2018): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.242 KB)
|
DOI: 10.24198/jppm.v5i3.19419
Keluarga adalah tempat yang utama dan pertama dalam kehidupan seorang anak. Ibu memegang peran utama dalam memberikan pengasuhan kepada anak. Adanya peranan ibu memiliki dampak besar terhadap anak, karena terdapat ikatan secara batin antara anak dan ibu sejak dalam kandungan. Agar orang tua terutama ibu mampu melaksanakan fungsinya dengan baik, maka orang tua terutama ibu perlu memahami tingkat perkembangan anak, menilai pertumbuhan dan perkembangan anak dan mempunyai motivasi yang kuat untuk memajukan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan proses pengasuhan anak yang sesuai dengan perkembangan anak, maka tim pelaksana kegiatan pengabdian pada masyarakat (PPM) melakukan pelatihan pengembangan kapasitas ibu dalam pengasuhan anak, terutama pengasuhan bagi anak usia sekolah dasar di Desa Cisempur Kecamatan Jatinangor Propinsi Jawa Barat. Dengan menggunakan metodologi pelatihan andragogi yaitu metode pembelajaranbagi orang dewasa, dengan memposisikan peserta pelatihan sebagai orang dewasa yang sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman, sehingga harus didorong untuk berperan aktif dalam setiap tahapan proses pelatihan. Aktivitas pelatihan pengembangan kapasitas Ibu dalam melakukan pengasuhan yang dilakukan dalam Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) ini akan didorong sebagai wujud dari habitat bagi tumbuh-alaminya rasa butuh untuk tumbuh bersama pada diri setiap ibu, sebagai upaya untuk membentuk komunitas sebagai sarana mengoptimalkan kualitas pengasuhan.
PENDIDIKAN BAGI ANAK TUNA GRAHITA (STUDI KASUS TUNAGRAHITA SEDANG DI SLB N PURWAKARTA)
SITI FATIMAH MUTIA SARI;
BINAHAYATI BINAHAYATI;
BUDI MUHAMMAD TAFTAZANI
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v4i2.14273
Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang dilahirkan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus yang berbeda dari manusia pada umumnya sehingga membutuhkan pelayanan khusus. Seseorang dengan memiliki hambatan kecerdasan sudah dipastikan bahwa ia adalah penyandang tunagrahita. Anak dengan tunagrahita memiliki kecenderungan kurang peduli terhadap lingkungannya, baik dalam keluarga ataupun lingkungan sekitarnya. Masyarakat pada umumnya mengenal tunagrahita sebagai retardasi mental atau terbelakang mental atau idiot. Menurut Kustawan, D. (2016) merupakan anak yang memiliki inteligensi yang signifkan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan. Ia juga mengatakan bahwa anak dengan tunagrahita mempunyai hambatan akademik yang sedemikian rupa sehingga dalam layanan pembelajarannya memerlukan modifikasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan khususnya. Selaras dengan pendapat Kustawan bahwa anak dengan tunagrahita mempunyai hambatan dalam memproses pembelajaran bagi anak pada umumnya. Meskipun anak tunagrahita memiliki hambatan tersebut, tidak menutup kesempatan untuk menerima pendidikan yang layak dan tepat baik di rumah dan khususnya di sekolah. Agar anak dengan tunagrahita memiliki masa depan yang cerah, sama seperti anak pada umumnya.
PENGARUH JUMLAH TANGGUNGAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN EKONOMI KELUARGA PEKERJA K3L UNIVERSITAS PADJADJARAN
Agung Purwanto;
Budi Muhammad Taftazani
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 1, No 2 (2018): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/focus.v1i2.18255
Dalam suatu keluarga biasanya memiliki jumlah tanggungan yang berbeda-beda dan biasanya mereka juga memiliki tingkat kesejahteraan yang berbeda-beda juga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah tanggungan setiap keluarga terhadap kesejahteraan keluarga pekerja K3L Universitas Padjadjaran. Metode analisis data yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif, bersifat kuantitatif karena data yang didapatkan adalah hasil menyebarkan kuesioner kepada pekerja K3L yang bekerja di wilayah zona 7 Universitas Padjadjaran. Kemudian bersifat kualitatif karena data tersebut diolah menjadi sebuah hasil pemahaman dan analisis serta ditambahkan dengan hasil penelitian dan artikel yang telah ada sebelumnya. Data yang digunakan pun merupakan data primer dan data sekunder yang didapatkan masing-masing langsung dari responden dan dari literature yang memang telah ada sebelumnya.Hasil dari penelitian dan analisis menunjukkan bahwa jumlah tanggungan yang dimiliki responden masih bisa dikatakan cukup atau diangka rata-rata karena mereka pada umumnya hanya memiliki jumlah tanggungan rata-rata 2 orang saja. Namun melihat hasil analisis, bisa dikatakan bahwa keluarga K3L memiliki tingkat kesejahteraan menengah ke bawah karena mereka masih mengeluh akan upah dan pendapatn mereka dari bekerja sebagai K3L Universitas Padjadjaran. Kesimpulan dari penelitian ini adalah jumlah tanggungan akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga apabila memang tidak diimbangi dengan pendapatan yang cukup, sehingga jumlah tanggungan akan terus berbandaing lurus dengan jumlah pendapatan sebagai patokan tingkat kesejahteraan keluarga.
PRAKTIK PENGASUHAN TERKAIT PENGEMBANGAN ASPEK KOGNITIF PADA ANAK USIA PRASEKOLAH OLEH ORANG TUA
Budi Muhammad Taftazani;
Nurliana Cipta Apsari;
Ishartono Ishartono Ishartono
Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol. 17 No. 4 (2018): Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial
Publisher : Balai Besar Litbang Pelayanan Kesejahteraan Sosial
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2590.078 KB)
|
DOI: 10.31105/jpks.v17i4.1520
Praktik pekerjaan sosial selain diarahkan kepada tindakan mengatasi masalah sosial, juga bergerak pada isu yang berorientasi pencegahan dan pengembangan. Salah satu isu yang terkait dengan orientasi pengembangan dan pencegahan masalah adalah kualitas pengasuhan anak oleh orang tua. Riset ini secara praktis dapat dijadikan bahan kajian untuk mengembangkan intervensi pekerjaan sosial dalam meningkatkan kualitas pengasuhan anak oleh orang tua. Artikel secara khusus menggambarkan tentang praktik pengasuhan orang tua terkait pengembangan aspek kogntif anak usia prasekolah. Artikel ditulis berdasarkan riset deskriptif yang dilakukan melalui survey pada populasi keluarga yang memiliki anak usia prasekolah yang tinggal di apartemen transit Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung. Â Praktik pengasuhan yang dilakukan menunjukkan mayoritas orang tua memberi dukungan kepada anak melalui pemberian aktivitas yang menantang anak. Orang tua memberikan kesempatan kepada anak melakukan aktivitas atas inisiatif mereka sendiri. Saat anak mencapai keberhasilan tidak semua orang tua memberi apresiasi pada anak. Hanya sebagian orang tua mengetahui batas kemampuan berfikir anak yang berguna sebagai patokan pembelajaran. Sebagian orang tua pernah menyebut anak mereka malas atau tidak mampu, sebagi hal yang berlawanan dengan pengasuhan efektif yang seharusnya lebih banyak memberi dukungan dan motivasi. Mayoritas orang tua mempraktikan pengasuhan yang sejalan dengan persiapan memasuki tahap perkembangan berikutnya diantaranya belajar mengembangkan persepsi dengan mengajarkan anak memahami keadaan orang lain dan menunda kesenangan. Interaksi dan aktivitas bersama antara orang tua dan anak memungkinkan terjadinya dialog sebagai media untuk meningkatkan kemampuan anak.Untuk meningkatkan kualitas pengasuhan dan mencegah terjadinya perlakuan kurang tepat, pekerja sosial yang bekerja di arena kesejahteraan anak dan keluarga perlu mengembangkan program edukasi terkait praktik pengasuhan yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan anak.