Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

GOVERNING INTERFAITH SOLIDARITY: HOW YAKKUM INSTITUTIONALIZES CROSS-FAITH HUMANITARIAN ACTION IN THE 2022 CIANJUR EARTHQUAKE Nurmiati, Dwi Rahayu; Rusyidi, Binahayati; Taftazani, Budi Muhammad; Chen, Yi-Yi
Harmoni Vol. 24 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v24i2.915

Abstract

This study analyzes how interfaith solidarity is negotiated and institutionalized within post-disaster humanitarian governance, focusing on the interaction between the Christian-based YAKKUM Emergency Unit (YEU) and Muslim communities affected by the 2022 Cianjur earthquake in Indonesia. Adopting a sociological approach to religion and humanitarian governance, this research employed a qualitative, in-depth case study design to examine the socially embedded processes of legitimacy, cooperation, and moral negotiation in a religiously homogeneous setting. Data were collected through in-depth interviews with 24 informants, participatory observation across multiple emergency and recovery sites, and analysis of institutional and policy documents. They were analyzed using thematic analysis supported by NVivo 12 Plus. The findings identify four interrelated dimensions that enabled constructive interfaith engagement: equality of status between humanitarian actors and affected communities, shared humanitarian goals grounded in collective moral commitment, intergroup cooperation enacted through participatory practices, and institutional and normative support from state agencies and religious authorities. These dimensions demonstrate that interfaith solidarity in disaster contexts is not a spontaneous moral response, but an institutionalized social practice embedded within local cultural values such as gotong royong and universal compassion. The study contributes to the literature by extending Intergroup Contact Theory into a socio-normative and institutional framework, highlighting the role of cultural legitimacy and governance structures in shaping interfaith relations during crises. Practically, the findings offer empirically grounded insights for strengthening inclusive humanitarian governance and for developing capacity-building frameworks for faith-based organizations operating across religious boundaries in plural societies. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana solidaritas lintas iman dinegosiasikan dan diinstitusionalisasikan dalam tata kelola kemanusiaan pascabencana, dengan fokus pada interaksi antara YAKKUM Emergency Unit (YEU) yang berbasis Kristen dan komunitas Muslim terdampak gempa Cianjur tahun 2022. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis terhadap agama dan tata kelola kemanusiaan, penelitian ini menerapkan desain studi kasus intrinsik kualitatif untuk menelaah proses sosial yang terlekat pada pembentukan legitimasi, kerja sama, dan negosiasi moral dalam konteks masyarakat yang relatif homogen secara keagamaan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 24 informan, observasi partisipatif pada berbagai lokasi tanggap darurat dan pemulihan, serta analisis dokumen kelembagaan dan kebijakan, yang kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik dengan bantuan NVivo 12 Plus. Temuan penelitian menunjukkan empat dimensi yang saling berkaitan dalam membentuk interaksi lintas iman yang konstruktif, yaitu kesetaraan status antara aktor kemanusiaan dan masyarakat terdampak, tujuan kemanusiaan bersama yang berlandaskan komitmen moral kolektif, kerja sama antarkelompok yang diwujudkan melalui praktik partisipatif, serta dukungan institusional dan normatif dari negara dan otoritas keagamaan. Keempat dimensi tersebut menunjukkan bahwa solidaritas lintas iman dalam konteks kebencanaan bukanlah respons moral yang spontan, melainkan praktik sosial yang terinstitusionalisasi dan berakar pada nilai-nilai budaya lokal seperti gotong royong dan welas asih universal. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi dengan memperluas Teori Kontak Antarkelompok ke dalam ranah sosio-normatif dan institusional, dengan menekankan peran legitimasi budaya dan struktur tata kelola dalam membentuk relasi lintas iman pada situasi krisis. Secara praktis, temuan ini memberikan dasar empiris bagi penguatan tata kelola kemanusiaan yang inklusif serta pengembangan kerangka penguatan kapasitas bagi organisasi kemanusiaan berbasis iman yang beroperasi lintas batas keagamaan dalam masyarakat plural.
Stres Pengasuhan dan Risiko Perlakuan Salah pada Anak dalam Keluarga Rentan: Tinjauan Literatur Berbasis Family Stress Theory Sari, Dian Puspita; Apsari, Nurliana Cipta; Taftazani, Budi Muhammad
Share : Social Work Journal Vol 15, No 2 (2025): Share : Social Work Journal
Publisher : University of Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v15i2.66637

Abstract

Kasus perlakuan salah terhadap anak masih menjadi persoalan sosial mengkhawatirkan, khususnya pada keluarga rentan yang menghadapi berbagai tekanan dan keterbatasan. Penelitian ini bertujuan meninjau literatur mengenai keterkaitan stres pengasuhan dalam keluarga dengan risiko perlakuan salah terhadap anak dalam kerangka Family Stress Theory (stressor: A, resources:B, perception:C, outcome:X). Metode yang digunakan adalah systematic literature review terhadap publikasi tahun 2016–2025 dari basis data Scopus dan EBSCO, yang menghasilkan sembilan artikel terpilih untuk dianalisis secara mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa stres pengasuhan berperan sebagai mediator penting antara berbagai tekanan sosial ekonomi dan risiko perlakuan salah pada anak. Hubungan ini bersifat dua arah, di mana kekerasan terhadap anak juga dapat memperburuk stres pengasuhan dan menciptakan siklus berulang yang sulit diputus. Penelitian ini merekomendasikan intervensi multilevel yang menyasar berbagai jalur perubahan, mulai dari pengurangan sumber tekanan, penguatan sumber daya serta pembentukan cara pandang keluarga yang lebih adaptif untuk mencegah risiko perlakuan salah pada anak dalam keluarga rentan.