Putriana Rachmawati
Program Studi Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Literature Review: Treatment Management of Latent Tuberculosis Infection and Novel Drug Delivery Systems Putriana Rachmawati; Lusy Noviani
Bahasa Indonesia Vol 25 No 1 (2026): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v25i2.4206

Abstract

Pendahuluan: Infeksi tuberkulosis (TB) dapat menetap tanpa manifestasi klinis dan berkembang menjadi TB, terutama pada individu berisiko tinggi. Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) merupakan komponen penting dalam pengendalian TB. Sistem penghantaran obat melalui paru-paru dan bertarget pada makrofag dikembangkan untuk meningkatkan paparan obat intraseluler serta berpotensi mengurangi toksisitas sistemik. Metode: Tinjauan pustaka naratif terstruktur dilakukan melalui PubMed, Scopus, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan meliputi “tuberculosis infection”, “latent tuberculosis infection”, “LTBI”, “tuberculosis preventive treatment”, “drug delivery system”, “nanoparticle”, “nanostructured lipid carrier”, “solid lipid nanoparticle”, “liposome”, “microsphere”, “proliposome”, “pulmonary delivery”, “inhalation”, “alveolar macrophage targeting”, dan “mannose”. Bukti terkini diprioritaskan, sedangkan penelitian lama yang bersifat seminal tetap disertakan apabila relevan secara langsung dengan desain pembawa dan penargetan makrofag. Hasil: Pedoman World Health Organization tahun 2024 merekomendasikan kaskade TPT yang meliputi identifikasi kelompok berisiko tinggi, penyingkiran penyakit TB, pemeriksaan infeksi TB sesuai indikasi, pemilihan regimen secara individual, pemantauan efek samping, dan dukungan kepatuhan. Sistem penghantaran yang diteliti mencakup nanostructured lipid carrier, liposom, mikrosfer, nanopartikel lipid padat, dan proliposom. Formulasi rifampisin atau isoniazid, terutama yang difungsionalisasi dengan ligan terkait manosa, umumnya meningkatkan pengambilan oleh makrofag atau memperpanjang paparan obat lokal pada penelitian formulasi, in vitro, ex vivo, atau hewan. Bukti masih heterogen dan terutama bersifat praklinis. Simpulan: Sistem penghantaran obat melalui paru-paru dan bertarget pada makrofag menunjukkan potensi praklinis untuk meningkatkan penghantaran intraseluler obat antituberkulosis. Namun, efektivitas klinis, keamanan inhalasi, reproduksibilitas, dan kemampuannya untuk mempersingkat TPT belum dapat dipastikan. Penelitian farmakokinetik, toksikologi, dan uji klinis masih diperlukan sebelum penerapan secara rutin.
Edukasi Pencegahan Stunting dengan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) Lusy Noviani; Catleya Febrinella; Putriana Rachmawati
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7080

Abstract

Stunting masih menjadi masalah di Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-60, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Barat menyelenggarakan penyuluhan daring mengenai pencegahan stunting dan penggunaan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) dengan mengadopsi konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Baik dan Benar). Proses edukasi dievaluasi melalui kuisioner untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap pencegahan stunting dan penggunaan PKMK. Seluruh responden (100%) memahami bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi selama 1000 hari pertama kehidupan, dan 100% mengetahui bahwa anak stunting memiliki tubuh lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Namun, 36,4% responden masih keliru terkait penyebab utama stunting. Pemahaman terhadap PKMK hanya 64,5% bahwa produk tersebut memerlukan resep dokter. Sebanyak 98,4% memahami prinsip DAGUSIBU, tetapi 14,9% masih beranggapan bahwa PKMK kedaluwarsa dapat dikonsumsi bila tidak berubah warna atau bau. Hasil evaluasi menunjukan bahwa masyarakat memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep dasar stunting dan peran apoteker, namun masih terdapat miskonsepsi mengenai penyebab stunting dan regulasi penggunaan PKMK.
Edukasi Pencegahan Stunting dengan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) Lusy Noviani; Catleya Febrinella; Putriana Rachmawati
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7080

Abstract

Stunting masih menjadi masalah di Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-60, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Barat menyelenggarakan penyuluhan daring mengenai pencegahan stunting dan penggunaan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) dengan mengadopsi konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Baik dan Benar). Proses edukasi dievaluasi melalui kuisioner untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap pencegahan stunting dan penggunaan PKMK. Seluruh responden (100%) memahami bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi selama 1000 hari pertama kehidupan, dan 100% mengetahui bahwa anak stunting memiliki tubuh lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Namun, 36,4% responden masih keliru terkait penyebab utama stunting. Pemahaman terhadap PKMK hanya 64,5% bahwa produk tersebut memerlukan resep dokter. Sebanyak 98,4% memahami prinsip DAGUSIBU, tetapi 14,9% masih beranggapan bahwa PKMK kedaluwarsa dapat dikonsumsi bila tidak berubah warna atau bau. Hasil evaluasi menunjukan bahwa masyarakat memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep dasar stunting dan peran apoteker, namun masih terdapat miskonsepsi mengenai penyebab stunting dan regulasi penggunaan PKMK.