Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Prevalence of osteoporosis increased in postmenopausal women with postural scoliosis Rachmawati, Maria Regina; Sidarta, Nuryani; Bastian, Yefta D.
Universa Medicina Vol 31, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2012.v31.63-70

Abstract

BackgroundMenopause is an aging process of the female reproductive system characterized by reduced estrogen levels. This results in increased osteoclastic activity, causing increased bone resorption and thus reduced bone mineral density (BMD). In addition to being influenced by osteoclastic activity, BMD of the lumbar vertebrae is also affected by the erector spinae muscle. The purpose of this study was to determine an association between postural scoliosis and erector spinae muscle endurance and its relation to BMD in postmenopausal women. MethodsThis was a cross-sectional study conducted on postmenopausal women, who were selected by simple random sampling among residents of Mampang Prapatan subdistrict. The postural abnormality of scoliosis was determined by physical examnation, while erector spinae muscle endurance time was assessed using a modified Biering-Sorensen technique, and BMD was measured by bone mineral densitometry, to categorize into normal, osteopenia, and osteoporosis.ResultsA total of 213 postmenopausal women with mean age of 53.52 ± 3.64 years participated in the study. The prevalence of scoliosis was 54.0%, and osteoporosis was 38.1%. The prevalence of osteoporosis was higher in women with scoliosis (48.7%) in comparison with those without scoliosis (31.6%) (p=0.411). In postmenopausal women with strong erector spinae muscle endurance the risk of of scoliosis was lower (0.76;95% Confidence Interval = 0.58 - 0.99) ConclusionsIn post menopausal women with postural scoliosis found a higher incidence of osteoporosis. High endurance of erector spinae muscle lowers the risk of scoliosis. Exercise to improve posture and increase endurance of erector spinae muscle need to be done to prevent decline of BMD.
Validity and reliability of Preschool Language Scale 4 for measuring language development in children 48-59 months of age Sidarta, Nuryani; Tulaar, Angela BM; Nasution, Amendi; Suryanto, Suryanto
Universa Medicina Vol 27, No 4 (2008)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2008.v27.174-182

Abstract

Prevalence rates for speech and language delay have been reported across wide ranges. Speech and language delay affects 5% to 8% of preschool children, often persisting into the school years.  A cross-sectional study was conducted in 208 children aged 48-59 months to determine the validity and reliability of the Indonesian edition of the Preschool Language Scale version 4 (PLS4) as a screening tool for the identification of language development disorders. Construct validity was examined by using Pearson correlation coefficient. Internal consistency was tested and repeated measurements were taken to establish the stability coefficient and intraclass correlation coefficients (ICC) for test-retest reliability. For construct validity, the Pearson correlation coefficient ranged from 0.151-0.526, indicating that all questions in this instrument were valid for measuring auditory comprehension (AC) and expressive communication skills (EC). Cronbach’s alpha level ranged from 0.81-0.95 with standard error of measurement (SEM) ranging from 3.1-3.3. Stability coefficients ranged from 0.98-.0.99 with ICC coefficient ranging from 0.97-0.99 both of which showed an excellent reliability. This study found that PLS-4 is a valid and reliable instrument. It is easy to handle and can be recommended for assessing language development in children aged 48-59 months.
Differences in Physical Activity, Lactic Acid Concentration, and Quality of Life between Gender among First Year Medical Students Rachmawati, Maria Regina; Sidarta, Nuryani; Mediana, Dian
Majalah Kedokteran Bandung Vol 51, No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v51n4.1636

Abstract

Medical students have fewer opportunities to do physical activities (PA) that may increase the risk for chronic diseases. The aim of this study was to assess the correlation between PA, as assessed using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), and Lactic acid (LA) concentration, as well as the differences in IPAQ, LA, and quality of life (QoL) between genders. This was a cross-sectional study conducted in April - November 2017 by a private university in West Jakarta. Subjects of the study were selected using simple random sampling approach with female subjects as the more dominant gender ( n=76, 60%) from the 126 subjects recruited. The median of IPAQ, La- 1, and La-2 in male and female were 707 (474–944) vs 423 (392–501) Mets (p=0.7), 4.6 (3.8–5.4) vs 2.8 (2–3) mmol/L (p=0.001), and 8.4 (7.7–8.9) vs 10 (9.3-10.5) mmol/L (p<0.001) respectively. The higher the IPAQ, the lower of the La- 2 concentration (p=0.012) was when analyzed using Kruskal-Wallis test. Total score of QoL in males and females were 2628.6 (2,496-2757) and 2,765 (2,687–2,859) (p=0.067), respectively, while the concepts of Role Limitation due to Physical Health was higher in female (p=0.006), as shown by Mann-Whitney test. In conclusion, subjects arephysically inactive with females are less active and have a higher La-2 concentration than males. However, the QoL concept of the RLPH is better in female students.Perbedaan Aktivitas Fisik, Asam Laktat, dan Kualitas Hidup antara Jenis Kelamin pada Mahasiswa Kedokteran Tahun PertamaMahasiswa Fakultas Kedokteran memiliki sedikit kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik yang dapat meningkatkan terjadi penyakit kronis. Tujuan penelitian menemukan korelasi aktivitas fisik (PA) yang dinilai menggunakan the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dengan kadar asam laktat (LA), serta perbedaan IPAQ, LA dan kualitas hidup (QoL) antar jenis kelamin. Desain penelitian adalah potong lintang, seleksi subjek secara acak sederhana, pada April–November 2017, pada universitas swasta di Jakarta Barat. Hasil penelitian diperoleh 126 subjek, 76 (60%) perempuan. Rerata IPAQ, LA -1, dan LA -2 pada laki-laki dan perempuan secara berurutan adalah; 707(474–944) vs 423 (392–501) Mets (p=0,7), 4,6 (3,8–5,4) vs 2,8 (2–3) mmol/L (p=0,001), dan 8,4 (7,7–8,9) vs 10 (9,3-10.5) mmol/L (p<0,001). Semakin tinggi IPAQ, semakin rendah LA (p=0,012), dengan Uji Kruskal-Wallis. Skor total QoL pada pria dan wanita adalah 2.628.6 (2496–2.757) vs 2.765 (2.687–2.859) (p=0,067), sementara nilai konsep Role Limitation due to Physical Health (RLPH) pada perempuan lebih tinggi (p=0,006) dengan Uji Mann-Whitney. Kesimpulan, subjek memiliki PA tidak aktif, sementara perempuan lebih tidak aktif dan memiliki LA-2 lebih tinggi. Namun, QoL pada konsep RLPH lebih baik pada mahasiswa perempuan.
Hubungan pes planus dan keseimbangan statis pada anak sekolah dasar Yasmasitha, Zharah; Sidarta, Nuryani
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.84-89

Abstract

LATAR BELAKANGKeseimbangan merupakan kemampuan tubuh untuk mempertahankan pusat massa tubuh terhadap axis tubuh untuk melawan gravitasi bumi yang dipengaruhi oleh proses sensorik atau sistem saraf, motorik atau muskuloskeletal. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan pada anak yaitu, gangguan muskuloskeletal berupa kelainan bentuk telapak kaki. Hasil penelitian yang sudah ada masih menunjukkan kontroversi sehubungan dengan hal tersebut. Penelitian ini dibuat untuk melihat lebih lanjut hubungan pes planus (kaki datar) dengan keseimbangan statis terutama pada anak sekolah dasar. METODEPenelitian menggunakan metode studi observasional dengan desain cross-sectional yang mengikutsertakan 145 siswa-siswa SD X di Tangerang dan SD Y di Batam. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Keseimbangan statis diukur dengan metode Standing Stork Test, sedangkan diagnosa pes planus didapatkan dengan metode Wet Foot Print untuk mendapatkan batas lengkung arkus longitudinal medial kaki. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan yang digunakan 0.05. HASILDari 145 responden, didapatkan 18 anak (12.4%) memiliki keseimbangan statis yang buruk dan 42 anak (29%) didiagnosa dengan pes planus. Terdapat 18 anak dengan keseimbangan statis yang buruk dengan 16 (88.9%) diantaranya memiliki pes planus. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara keseimbangan statis dengan pes planus pada anak sekolah dasar (p=0.000). KESIMPULANTerdapat hubungan signifikan antara pes planus dan keseimbangan statis.
Hubungan tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung Permatasari, Tiara; Sidarta, Nuryani
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.106-112

Abstract

LATAR BELAKANGAcute mountain sickness (AMS) merupakan kelainan yang sering dialami oleh pendaki pemula di ketinggian lebih dari 2.500m. Menurut jurnal yang dikeluarkan oleh Military Medical Research pada tahun 2019, Murdoch mengemukakan bahwa prevalensi AMS sebesar 88.6%. Di Indonesia, masih sangat sedikit studi dan penelitian yang membahas AMS di kalangan pendaki gunung. Pada pendaki memiliki tingkat aktivitas fisik yang baik dapat mempermudah mereka dalam melakukan suatu perjalanan pendakian gunung. Tujuan penelitian ini adalah menilai hubungan tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung. METODEPenelitian dilakukan pada bulan Februari-Juni 2021 di komunitas Mapala (mahasiswa pencinta alam), dan responden yang pernah mendaki gunung dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner GPAQ (Global Physical Activity Questionnaire) dan derajat kejadian acute mountain sickness diukur menggunakan kuesioner LLS (Lake Louise Acute Mountain Sickness Score). Analisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILResponden pada penelitian ini didominasi oleh kelompok usia dari 19 sampai 39 tahun dengan variasi tingkat aktivitas fisik dari kategori sedang (50%) ke berat (40.7%). Seluruh responden mengalami kejadian AMS dari kategori ringan (73.7%) ke sedang (23.7%). Pada kelompok responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik kategori tinggi maka sebagian besar (73.3%) diantaranya hanya mengalami AMS ringan. Sebaliknya, pada kelompok responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik rendah maka mayoritas (62.5%) dari mereka mengalami AMS sedang. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat aktivitas fisik dengan AMS pada pendaki gunung (p=0.034). KESIMPULANTerdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung.
HUBUNGAN ANTARA OSTEOARTRITIS GENU DAN FLEKSIBILITAS PADA LANSIA Maharani, Shanaz Yulia; Sidarta, Nuryani
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 8, Nomor 2, Juli 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i2.15983

Abstract

Osteoartritis (OA) dimasukkan World Health Organization (WHO) sebagai salah satu dari banyak permasalahan kesehatan masyarakat yang memiliki prevalensi yang cukup tinggi dalam skala global. Prevalensi kejadian osteoartritis di Indonesia mencapai sekitar 5% pada usia <40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada lansia >60 tahun. Osteoartritis genu memegang prevalensi terbesar pada osteoartritis. Diperkirakan pada tahun 2025, prevalensi osteoartritis genu akan meningkat sebanyak 40% dengan bertambahnya populasi lansia. Penurunan fleksibilitas  merupakan keluhan utama yang sering didapatkan pada penderita OA Genu dan sangat mempengaruhi kualitas hidup penderita.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan fleksibilitas pada Lansia dengan kejadian Osteoartritis. Penelitian potong lintang ini melibatkan 75 lansia berusia 60-90 tahun yang tinggal di Panti Werdha, Cengkareng.  Sampel dipilih dengan metode consecutive non-random sampling.  Diagnosis OA Genu di ambil dari data di rekam medis  dan pengukuran fleksibilitas dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan Chair Sit and Reach Test. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 27 dengan uji kemaknaan chi-square p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan 56% lansia memiliki OA Genu dan 60% lansia memiliki kemampuan fleksibilitas yang dinilai kurang baik. Uji analisis menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kejadian osteoartritis genu dengan penurunan fleksibilitas (p=0,001). Sesuai dengan hasil yang didapatkan, pengukuran fleksibilitas Lansia penderita OA Genu merupakan salah satu pemeriksaan rutin yang dinilai perlu untuk dilakukan guna meningkatkan kemampuan gerak serta mengurangi resiko jatuh pada Lansia.
PENYULUHAN DIET UNTUK PENDERITA HIPERTENSI Mediana, Dian; Wartono, Magdalena; Samara, Diana; Sidarta, Nuryani; Setiawati, Lenny; Sutanto, Hans Utama
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v1i2.19621

Abstract

Di Indonesia, hipertensi merupakan peringkat ketiga penyebab kematian akibat penyakit tidak menular. Menurut RISKESDAS 2018 sebanyak 34,1% penduduk Indonesia dewasa menderita hipertensi. Angka prevalensi ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan RISKESDAS 2013 sebesar 25,8%. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah menetap dengan sistole ≥140 mmHg dan/atau diastole ≥90 mmHg setelah pemeriksaan berulang (berlaku untuk semua orang dewasa). Penyebab hipertensi berhubungan dengan genetik dan faktor lingkungan, 90-95% kasus adalah hipertensi esensial yaitu bukan disebabkan oleh penyakit lain. Penanganannya tidak hanya dengan medikamentosa, tetapi pasien harus dapat mengikuti gaya hidup sehat, termasuk menurunkan berat badan bila penderita mengalami berat badan berlebih. Diet untuk penderita hipertensi dianjurkan diet rendah garam natrium, tinggi kalium, tinggi kalsium, dan tinggi magnesium. Pilihan makanan yang baik adalah banyak sayur dan buah, daging tanpa lemak dan produk susu, serta zat gizi mikro. Diet yang terbukti paling efektif adalah Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga mengenai masalah hipertensi. Kegiatan penyuluhan dilakukan kepada 30 peserta usia dewasa di RW 011, Kelurahan Tomang, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Hasil dari penyuluhan mendapatkan 22% peningkatan pengetahuan mengenai hipertensi dan diet DASH.
Hubungan Aktivitas Fisik dan Komunikasi Interpersonal dengan Jenis Regulasi Emosi pada Pelajar SMA Dhea Dwi Nanda Az-zahroh, Dhea; Sidarta, Nuryani
MEDIA ILMU KESEHATAN Vol 12 No 3 (2023): Media Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/mik.v12i3.853

Abstract

Latar Belakang: Masa remaja seseorang sering kali mengalami bermacam-macam perubahan mencakup perubahan fisiologis dan juga psikologis. Satu diantaranya yaitu perubahan sosioemosional, yang mana remaja mempunyai ketegangan emosi yang lumayan tinggi. Faktor yang dapat mempengaruhi regulasi emosi salah satunya adalah komunikasi interpersonal dan aktivitas fisik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktivitas fisik, komunikasi interpersonal dan juga regulasi emosi pada remaja mempunyai hasil kurang baik. Tujuan: Meningkatkan kualitas regulasi emosi pada pelajar dengan menilai hubungan aktivitas fisik dan komunikasi interpersonal dengan jenis regulasi emosi pada pelajar SMA. Metode: Studi analitik observasional dengan desain cross sectional. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Non-random sampling dengan metode Consecutive Sampling menggunakan kuesioner google form dengan sampel sebanyak 124 pelajar SMA Negeri 1 Kota Sukabumi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji statistik chi-square menggunakan program SPSS. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dan jenis regulasi emosi (p value = 0,400). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan komunikasi interpersonal dengan jenis regulasi emosi (p value = 0,416). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan hasil tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan jenis regulasi emosi pada pelajar SMA. Dan juga tidak terdapat hubungan antara komunikasi interpersonal dengan jenis regulasi emosi pada pelajar SMA.
14-YEAR-OLD MALE WITH  SELECTIVE MUTISM  – CASE REPORT Sidarta, Nuryani; Nathania, C.
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 9, Nomor 2, Juli 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v9i2.21585

Abstract

Selective mutism is a rare anxiety disorder characterized by an individual's persistent inability to speak in particular social environments, such as at school or in public places, while being able to communicate effectively and comfortably in other environments, like at home or with close family and friends. 1 Selective mutism commonly manifests during early childhood, affecting approximately 0.2% to 0.8% of children, with a higher prevalence observed in preschool environments.2 This disorder can profoundly disrupt a child's developmental trajectory, potentially leading to significant social and academic impairments if not addressed promptly.3. T his case report explores the developmental and communication challenges faced by a 14-year-old teenage boy presenting with significant delays in social communication  skills.  Referred to a developmental facility due to concerns about his social interaction and communication abilities. Patient’s  symptoms and behaviors align with a diagnosis of Selective Mutism as defined by the DSM-V criteria This study provides a detailed account of how  parents facing difficulty  in obtaining an accurate diagnosis, which ultimately impacts the appropriate management and treatment. Limitations in speaking in public are often interpreted as part of a child's shy and quiet personality. As a result, this can lead to delays in diagnosis and eventually affect his language skills. Good awareness from parents and professionals is needed for early detection. As a professional, the ability to make an accurate diagnosis is essential to provide appropriate interventions for better prognosis and prevent further complications.
PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG DEMENSIA MELALUI PENYULUHAN WARGA DI KELURAHAN TOMANG JAKARTA BARAT Sidarta, Nuryani
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMIN) Vol 7 No 1 (2025): JURNAL ABDI MASYARAKAT INDONESIA (JAMIN)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jamin.v7i1.20823

Abstract

Dementia is a condition that mainly affects the elderly. Dementia not only causes disability, but also reduces the sufferer’s quality of life. However, recent studies predict an increase in the prevalence of dementia by almost triple by 2050 compared to 2019. Therefore, various preventive efforts need to be taken. This community service activity aims to socialize physical exercise as one of the preventive efforts that is easy and inexpensive, but has proven to help prevent dementia. Counseling on how to do physical exercise properly was carried out by involving 35 residents, both adult men and women aged 18 – 50 years old.. The participants were selected based on their physical abilities and ability to train their families in the residencies. Not only was the material presentation, but a physical exercise demonstration was also accompanied by this counseling. In this community service, pre-test and post-test scores were also taken from the participants. From this assessment, it was found that the participants’ knowledge increased by 16.11%.