Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal Cerdas Mahasiswa

PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGEMBANGKAN BUDAYA ISLAMI DI SMP IT CAHAYA MAKKAH PASAMAN BARAT Dio Syahestio; Zainal Asril; Sermal Sermal
Journal Cerdas Mahasiswa Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.973 KB) | DOI: 10.15548/jcm.v3i2.3520

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi karena peneliti menemukan beberapa permasalahan terkait pengembangan budaya Islami yang masih belum berjalan secara keseluruhan. Peran kepala sekolah dalam mengembangkan budaya Islami sebenarnya sudah dilaksanakan secara maksimal namun masih terdapat hal yang perlu ditingkatkan dan dibenahi lagi mengingat masih ditemukannya peserta didik yang tidak melaksanakan budaya Islami secara keseluruhan. Oleh sebab itulah peran kepala sekolah harus dimaksimalkan lagi terutama dalam mengembangkan budaya Islami. Tujuan penelitian ini adalah dapat mengetahui peran kepala sekolah dalam membuat perencanaan program mengembangkan budaya Islami; peran kepala sekolah dalam pelaksanaan program mengembangkan budaya Islami; peran kepala sekolah dalam mengevaluasi program mengembangkan budaya Islami di SMP IT Cahaya Makkah Pasaman Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan: (1) peran kepala sekolah dalam membuat perencanaan program mengembangkan budaya Islami sangatlah besar perannya. Karena kepala sekolah adalah pemimpin, sehingga ialah yang berhak untuk memutuskan atau menetapkan suatu program yang dirancang. (2) peran kepala sekolah dalam pelaksanaan program mengembangkan budaya Islami sudah maksimal dilaksanakan. Sebab sebagai pemimpin ia juga melaksanakan program budaya Islami tersebut, kemudian ia menerapkannya kepada guru dan karyawan, sehingga lebih mudah nantinya ketika mengajarkan kepada peserta didik terkait program budaya Islami tersebut. (3) peran kepala sekolah dalam mengevaluasi program mengembangkan budaya Islami yaitu kepala sekolah melakukannya sendiri juga dibantu oleh guru dan karyawan. Dalam melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program budaya Islami, kepala sekolah melakukannya cara memantau, mengawasi dan mengontrol segala aktivitas terkait pelaksanaan program budaya Islami.
PERJUANGAN TUANKU IMAM BONJOL (MUHAMMAD SHAHAB) DALAM MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN DAN DAKWAH DI BONJOL KABUPATEN PASAMAN PADA TAHUN (1803-1821) Retna Areta; Sermal Sermal; Ahmad Nurhuda
Journal Cerdas Mahasiswa Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.45 KB) | DOI: 10.15548/jcm.v3i1.3499

Abstract

Pendidikan dapat terjadi apabila adanya interaksi secara langsung dan interaksi secara tidak langsung hal tersebut terjadi ketika proses belajar mengajar secara langsung di sekolah dan dakwah. Pada hakikatnya dakwah Rasulullah SAW untuk membebaskan  akidah masyarakat dari sistem akidah yang menjadikan subjek manusia yang dipersonifikasikan dalam bentuk berhala. Oleh karena itu perlu di lihat serta dipelajari untuk generasi berikut. Adapun tujuan untuk  mengetahui Biografi Tuanku Imam Bonjol, untuk mengetahui bentuk perjuangan Pendidikan dan  Dakwah guna mengetahui hambatan atau kendala yang ditemukan Tuanku Imam Bonjol dalam melakukan dakwah. Penelitian ini menggunakan Metode Penelitian Kepustakaan dengan  mengunakan langkah-langkah: pengumpulan sumber data dengan menyiapkan alat perlengkapan, menyusun bibliografi kerja, mengatur waktu dalam  penelitian, membaca dan membuat catatan  penelitian.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tuanku Imam Bonjol (Muhammad Shahab) lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat pada tahun  1772. Setelah dua tahun belajar di Aceh Tuanku Imam Bonjol sudah yakin dan matang dengan ilmunya sehigga beliau mengadakan pembaharuan didaerah beliau sendiri yaitu di Bonjol, hingga Tuanku Imam Bonjol meninggal di Pineleng, Minahasa 6 November 1864 (2) Misi dakwah yang disampaikan yaitu mendirikan surau, membuka sekolah agama dan mengajarkan muridnya tentang pentingnya hukum syariat dan berusaha memurnikan ajaran agama Islam dari pengaruh kepercayaan dan menghapus kebiasaan-kebiasaan anak Nagari seperti minum tuak, menyabung ayam dan lain-lain. (3) hambatan atau kendala yang dialami Tuanku Imam Bonjol dalam mngembangkan  dakwah di Bonjol yakni masyarakat di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol dalam melawan Belanda dan Belanda
PEMBINAAN TENAGA KEPENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN KINERJA DI MTsN 9 PADANG PARIAMAN Ms, Febria Caesar; Sermal, Sermal; Awida, Awida
Journal Cerdas Mahasiswa Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jcm.v6i2.10980

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi karena kurangnya kinerja tenaga kependidikan dalam menyelesaikan pekerjaan, pemerataan pembinaan tenaga kependidikan, ketidaksesuaian tugas dengan bidang tenaga kependidikan, serta pengelolaan administrasi belum maksimal. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut pembinaan tenaga kependidikan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dengan subjek penelitian yaitu kepala madrasah, wakil kepala madrasah bidang kurikulum, 2 orang tenaga kependidikan, 2 orang tenaga pendidik di MTsN 9 Padang Pariaman. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Perencanaan pembinaan tenaga kependidikan sudah berjalan namun belum sepenuhnya sesuai dengan konsep indikator perencanaan pembinaan tenaga kependidikan ; 2) Pelaksanaan pembinaan tenaga kependidikan dilakukan dengan 2 cara, pertama pembinaan secara internal dilaksanakan dalam bentuk seminar, rapat, dan penegasan tugas, kedua pembinaan secara eksternal dalam bentuk pelatihan, workshop, lokakarya dan bimtek ; 3) Tindak lanjut pembinaan tenaga kependidikan dilakukan oleh kepala madrasah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dengan bentuk adanya reward dan funishment.