Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

THE EFFECT OF CALCIUM HYDROXIDE PARTICLE SIZE ON DENTIN TUBULI HARDNESS Sidiqa, Atia Nurul; Rajasa, Pahargyan Arya; Endrowahyudi, Hartanto; Zakaria, Myrna Nurlatifah
Dentino: Jurnal Kedokteran Gigi Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : FKG ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v9i2.20404

Abstract

Background: Calcium hydroxide (Ca(OH)2) is an effective root canal treatment, with calcium and hydroxyl ions effectively released on day 7. However, prolonged use can diminish dentinal tubule hardness and dissolve the hydroxyapatite crystals within them. Nanoparticle Ca(OH)2 demonstrated superior antimicrobial activity compared to conventional Ca(OH)2 because of its deeper penetration into the dentinal tubules.. Purpose: This study aimed to evaluate the effect of particle size on dentinal tubule hardness. Methods: True experiment with fifteen premolars with one root canal, no caries, and apical closure were divided into three treatment groups: conventional Ca(OH)2 (group 1, n=5), Ca(OH)2 nanoparticles (group 2, n=5), and untreated (control group), n=5. All samples were incubated for 7 days, and hardness was measured using a micro-Vickers hardness tester at 1/3 of the root canal. Kruskal-Wallis test followed by Mann-whitney post hoc analysis was used to compare the mean microvickers hardness values among different groups. The level of significance was set at p<0.05. Results: The results showed that there was significant difference between conventional Ca(OH)2 (73.00 ± 2.71) and Ca(OH)2 nanoparticles (67.40 ± 0.62) p=0.01 and the control group (70.68 ± 1.70; p>0.05) and Ca(OH)2 nanoparticles p=0.03. Conclusions: The use of Ca(OH)2 nanoparticles as an intracanal medicament for 7 days reduced dentin microhardness, whereas conventional Ca(OH)2 did not result in any change in microhardness. Particle size affects the hardness of dentinal tubules.
FLOWABILITY OF NANOPARTICLES OF CALCIUM HYDROXIDE PALIMANAN IN DENTINAL TUBULE Sidiqa, Atia Nurul; Muqdas, Faza Annisa; Artilia, Ira; Zakaria, Myrna Nurlatifah; Joni, I Made; Maskoen, Ani Melani
Odonto : Dental Journal Vol 11, No 2 (2024): December 2024
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/odj.11.2.282-289

Abstract

Background: Intracanal medicaments Ca(OH)₂ must have the ability to contact directly with bacteria adhering to the dentinal tubules. However, the narrow and complex shape of the root canal makes it difficult for Ca(OH)2 to penetrate the root canal apically. This research aimed to assess the flowability of nanoparticle Ca(OH)₂ Palimanan by quantifying the penetration of the coronal, middle, and apical thirds of the root canal.Methods: This research comprised two distinct groups: one group included nanoparticles of Ca(OH)₂ Palimanan, while the other consisted of conventional Ca(OH)₂. The paste was then applied to standardized root canals (n=3 per group) with 5 times measurements for each sample. All samples were then incubated at 37oC, 100% humidity. The flowability of the root canals was measured using scanning electron microscopy (SEM) on day 14. The data was analyzed using ANOVA and a post-hoc t-test, with a significance level of p<0.05.Results: The use of Ca(OH)₂ Palimanan has been found to be more effective in reaching deeper into the dentinal tubules of the root canal, particularly in the coronal, middle, and apical areas, compared to traditional Ca(OH)₂. This occurs because the particle size of Ca(OH)₂ Palimanan is smaller with a more rounded shape than conventional Ca(OH)₂ so that it to flow into narrow and complex areas, especially in the apical root canals.Conclusion: Nanoparticle Ca(OH)₂ Palimanan flow deeper than conventional Ca(OH)₂
FLOWABILITY OF NANOPARTICLES OF CALCIUM HYDROXIDE PALIMANAN IN DENTINAL TUBULE Sidiqa, Atia Nurul; Muqdas, Faza Annisa; Artilia, Ira; Zakaria, Myrna Nurlatifah; Joni, I Made; Maskoen, Ani Melani
Odonto : Dental Journal Vol 11, No 2 (2024): December 2024
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/odj.11.2.282-289

Abstract

Background: Intracanal medicaments Ca(OH)₂ must have the ability to contact directly with bacteria adhering to the dentinal tubules. However, the narrow and complex shape of the root canal makes it difficult for Ca(OH)2 to penetrate the root canal apically. This research aimed to assess the flowability of nanoparticle Ca(OH)₂ Palimanan by quantifying the penetration of the coronal, middle, and apical thirds of the root canal.Methods: This research comprised two distinct groups: one group included nanoparticles of Ca(OH)₂ Palimanan, while the other consisted of conventional Ca(OH)₂. The paste was then applied to standardized root canals (n=3 per group) with 5 times measurements for each sample. All samples were then incubated at 37oC, 100% humidity. The flowability of the root canals was measured using scanning electron microscopy (SEM) on day 14. The data was analyzed using ANOVA and a post-hoc t-test, with a significance level of p<0.05.Results: The use of Ca(OH)₂ Palimanan has been found to be more effective in reaching deeper into the dentinal tubules of the root canal, particularly in the coronal, middle, and apical areas, compared to traditional Ca(OH)₂. This occurs because the particle size of Ca(OH)₂ Palimanan is smaller with a more rounded shape than conventional Ca(OH)₂ so that it to flow into narrow and complex areas, especially in the apical root canals.Conclusion: Nanoparticle Ca(OH)₂ Palimanan flow deeper than conventional Ca(OH)₂
Penyuluhan Tentang Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Karies pada Siswa Kelas VI SDN Mandiri 4 Cimahi Sidiqa, Atia Nurul; Himawati, Marlin; Lestari, Ayu Asri
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 5 No 3 (2024): Jurnal Abdimas Kartika Wijaya Kusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v5i3.480

Abstract

Penyuluhan kesehatan gigi merupakan salah satu upaya promotif pada masalah kesehatan gigi dan mulut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan gigi kepada siswa kelas VI SDN Mandiri 4 Cimahi untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang pencegahan karies gigi. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, diskusi, dan demonstrasi tentang praktik kebersihan mulut yang benar. Peserta terdiri dari 50 siswa kelas enam sekolah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan pencegahan karies setelah diberikan intervensi edukasi. Sebelum kegiatan dilaksanakan, hanya 30% siswa yang memiliki pemahaman yang baik tentang kesehatan gigi, sedangkan setelah diberikan penyuluhan, 85% siswa menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan gigi. Para siswa juga menunjukkan peningkatan antusiasme dan kemauan untuk menerapkan kebiasaan kebersihan mulut yang baik, seperti menyikat gigi secara teratur dan mengurangi konsumsi makanan manis. Kesimpulannya, pendidikan kesehatan gigi terbukti menjadi pendekatan yang efektif untuk meningkatkan kesehatan mulut dan mencegah karies gigi di kalangan anak sekolah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menyoroti pentingnya menerapkan program pendidikan di sekolah untuk menumbuhkan kesadaran dan praktik kesehatan gigi yang lebih baik sejak usia dini.
Peran Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dalam Pengembangan Desa Binaan Melalui Edukasi Potensi Bahan Alam Bumbu Dapur Sebagai Terapi Alternatif pada Penyakit Gigi Sidiqa, Atia Nurul; Rahaju, Asih; Dewi, Zwista Yulia; Widyasari, Ratih; Endrowahyudi, Hartanto; Soerachman, Badi
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v3i1.170

Abstract

Mayoritas penduduk Desa Mekarsaluyu memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Selain petani, mata pencaharian penduduk Desa Mekarsaluyu adalah pedagang dan tenaga pertukangan. Secara geografis, Desa Mekarsaluyu berada pada jalur wisata. Pandemi global virus Covid-19 telah berlangsung selama 2 tahun, kondisi tersebut menyebabkan masyarakat perlu melakukan beberapa adaptasi dan perubahan perilaku. Kesehatan gigi pun menjadi bagian penting yang harus dijaga kebersihan dan kesehatannya agar sistem kekebalan tubuh kita secara menyeluruh tetap optimal. Gigi dan mulut merupakan pintu gerbang masuknya kuman penyakit. Kehadiran alam sekitar sangat membantu masyarakat yang hidup dari alam. Kesehatan akan terjaga apabila masyarakat tahu bahwa alam sekitar memberikan manfaat kesehatan yang luar biasa. Salah satu contohnya dari mengkonsumsi bahan-bahan yang sering digunakan sebagai bumbu dapur. Pendekatan yang dilakukan pada pendayagunaan peran mahasiswa sebagai implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat. Program ini dilaksanakan dengan efektif dan efisien karena dilakukan secara berkesinambungan dari hulu ke hilir. Edukasi dengan tema bumbu dapur yang berasal dari alam sekitar sebagai alternatif penanganan masalah kesehatan gigi di Desa Binaan Wilayah Desa Mekarsaluyu Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Edukasi mengenai potensi bahan alam terutama bumbu dapur sebagai alternatif terapi kesehatan gigi dengan pendekatan melalui metode audio visual pada Ibu-ibu PKK di di Desa Binaan telah berhasil dilakukan dengan antusias dengan minat yang tinggi.
Penyuluhan Pengetahuan Gangguan Sendi Rahang Pada Masyarakat di Kota Cimahi Nawawi, Azkya Patria; Isnaeni, Rheni Safira; Arifianti, Isti; Fadillah, Rina Putri Noer; Widyasari, Ratih; Darwis, Rudi; Asri, Ayu; Herryawan, Herryawan; Sidiqa, Atia Nurul
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v4i2.331

Abstract

Gangguan sendi masih banyak terjadi di Indonesia. Penyebab terjadinya temporomandibular joint (TMJ) bersifat multifaktorial seperti faktor biomekanik, neuromuskuler, biopsikososial, dan biologis. Pengetahuan mengenai gangguan sendi rahang diperlukan untuk mencegah terjadinya gangguan tersebut. Artikel ini menguraikan tentang kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pendayagunaan peran mahasiswa Pembelajaran Luar Kelas (PLK). Metode yang dilaksanakan berbentuk penyuluhan kepada warga RW.16 Kecamatan Cimahi Tengah tentang gangguan pada sendi rahang. Kegiatan diikuti oleh 21 warga dan berjalan efektif. Penyuluhan dilakukan dalam bentuk audio visual dan pengisian kuesioner pretest dan post test. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias.
Antimicrobial efficacy of calcium hydroxide nanoparticle and nisin against Enterococcus faecalis in root canal therapy: an experimental study Sidiqa, Atia Nurul; Zakaria, Myrna Nurlatifah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i2.63132

Abstract

Introduction: Failure in root canal therapy is often attributed to the incomplete elimination of pathogenic bacteria within infected canals. Enterococcus faecalis is the commonly identified bacteria in persistent cases. Its resistance to high pH environments is primarily mediated by a proton pump mechanism, which reduces the antimicrobial efficacy of calcium hydroxide (Ca(OH)2). Nisin, an antimicrobial peptide, exerts its bactericidal action by disrupting bacterial plasma membranes, leading to cell lysis. The study aimed to evaluate antimicrobial efficacy of Ca(OH)2 nanoparticles and their combination with nisin against E. faecalis. Methods: In the first phase, eight concentration of nisin (10-200 mg/mL) and three concentrations of Ca(OH)2 nanoparticles (0.425-1.7 mg/mL) were tested using the agar diffusion method against E. faecalis on days 1 and 5. In the second phase, Ca(OH)2 nanoparticles were combined with the most effective nisin concentration identified in phase one (100 and 150mg/mL), and antimicrobial activity was assessed on days 1, 3, 7, and 14. All experiments were conducted in triplicate to ensure reproducibility, and data were analyzed using one-way ANOVA followed by post hoc testing (α=0.05). Results: Nisin at 100 mg/mL and 150 mg/mL produced the largest inhibition zones (14.33 mm and 13.83 mm, respectively). The combination of Ca(OH)2 nanoparticles and nisin demonstrated reduced antimicrobial activity compared with Ca(OH)2 nanoparticles alone on days 7 and 14. Conclusions: Both Ca(OH)2 nanoparticles and nisin exhibited antimicrobial effects against E. faecalis. Nisin alone was more effective than Ca(OH)2 nanoparticles; however, their combination resulted in a diminished antimicrobial effect, suggesting a possible interaction or interference between the two agents. Efektivitas antimikroba nanopartikel kalsium hidroksida dan nisin terhadap Enterococcus faecalis pada perawatan saluran akar: studi eksperimenPendahuluan: Kegagalan perawatan saluran akar umumnya disebabkan oleh pembersihan bakteri patogen yang tidak efektif di saluran akar yang terinfeksi. Bakteri E. faecalis adalah bakteri persisten yang menjadi etiologi pada kasus ini. Bakteri E. faecalis memiliki mekanisme pompa proton yang mampu melawan aksi ion OH-, sehingga menghambat efektivitas Ca(OH)2. Antimikroba lain, yaitu Nisin merupakan peptida yang mampu menembus membran plasma bakteri dan menyebabkan lisis sel. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi efektivitas nanopartikel Ca(OH)2 dan kombinasinya dengan nisin terhadap E. faecalis. Metode: Pada tahap pertama, penelitian terdiri dari 8 kelompok nisin dengan konsentrasi (10-200 mg/mL) dan 3 kelompok nanopartikel Ca(OH)2 konsentrasi (0,425-1,7 mg/mL). Semua kelompok diuji dengan metode difusi terhadap E. faecalis pada hari ke-1 dan ke-5. Bagian kedua, nanopartikel Ca(OH)2 dikombinasikan dengan konsentrasi nisin paling efektif dari penelitian tahap pertama (100 dan 150 mg/mL), kemudian diuji efektivitasnya pada hari ke-1, 3, 7, dan 14. Semua perlakuan diulang sebanyak tiga kali untuk memastikan standarisasi hasil. Analisis statistik dilakukan dengan uji ANOVA dan analisis post hoc (α=0,05). Hasil: Nisin dengan konsentrasi 100 mg/mL dan 150 mg/mL menunjukkan zona hambat terbesar, yaitu 14,33 dan 13,83 mm. Kombinasi nanopartikel Ca(OH)2 dan nisin menghasilkan zona hambat yang lebih kecil di pada pengukuran di hari ke-7 dan 14 dibandingkan dengan nanopartikel Ca(OH)2. Kesimpulan: Nanopartikel Ca(OH)2 dan nisin memiliki efek antimikroba terhadap E. faecalis. Nisin menunjukkan efek antimikroba yang lebih tinggi dibandingkan dengan nanopartikel Ca(OH)2, namun kombinasinya dengan nanopartikel Ca(OH)2 menghasilkan penurunan efektivitas antimikroba pada bakteri E. faecalis.