Rochmady
Coastal And Isle Research Group, College Of Wuna Agriculture, Raha Pusat Studi Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, Sekolah Tinggi Pertanian Wuna, Jl. Letjend. Gatot Subroto Km.7 Lasalepa Raha 93654

Published : 99 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

The growth of seaweed (Eucheuma cottoni) at different fertilizing doses in the waters of the village of Ghonebalano, Duruka District, Muna Regency, Indonesia Fendi Fendi; La Lili; Abdul Rakhfid; Rochmady Rochmady
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.3.1.17-22

Abstract

The study was conducted aiming to test different fertilizer doses on the optimal growth rate of Eucheuma cottonii seaweed. The study was conducted from July to August 2016 in the waters of Ghonebalano Village, Duruka District, Muna Regency, Southeast Sulawesi. The study used NPK fertilizer with the composition of the element nitrogen (N) 15%, phosphate (P2O5) 15%, and potassium (K2O) 15%. The study used a Randomized Block Design (RBD) with 3 (three) levels of fertilizer doses and 3 (three) groups so that the number of experimental units was 9 (nine) units. While the treatments tested in the study were treatment A (without fertilizer/control), treatment B (fertilizer dose 1 g/L), and treatment C (fertilizer dose 2 g/L). The results showed that the difference in fertilizer dose significantly affected the growth rate of Eucheuma cottonii seaweed. A dosage of 2 g/L of fertilizer gives the best rate of growth of Eucheuma cottonii seaweed while the water quality at the study site shows that it is still in the optimal range for the growth of Eucheuma cottonii seaweed.
Growth and survival of post larvae of tiger shrimp (Penaeus monodon Fabr.) through the administration of probiotics with different doses Ali Usman; Rochmady Rochmady
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.1.1.19-26

Abstract

One of the factors that affect the growth of tiger shrimp is the quality of feed. Nutrient content in feed such as protein, carbohydrate and fat, generally used as a parameter of feed quality. Feed consumed by shrimp is not all digested, one of which depends on the enzymatic ability of the shrimp digestive tract. The use of probiotic bacteria in addition to having the ability to reduce colonies, inhibit the growth of pathogenic bacteria, and neutralize water quality, probiotic bacteria can help digestibility of the intestine. The aim of this research is to know the growth and survival of post larvae of shrimp (Penaeus monodon Fabr.) Through the provision of probiotics with different doses. The research was conducted at Balai Fish Fishing Hall of Muna Regency, Southeast Sulawesi, Indonesia. Post larva shrimp tiger (PL-20) of 120 tails, maintained for 28 days. The tested treatment was probiotic dose 5 ml (treatment A), dose 10 ml treatment B), dose 15 ml (treatment C), and without probiotics (control). Probiotics are given every 7 days on water maintenance media using a pipette (0.5-20 ml scale). Weighing results showed relatively high post-larva shrimp larvae growth of 400.00% (treatment B); 291.67% (treatment C); of 233.33% (treatment A) and equal to 58.33% (Control). Variation analysis result showed that giving of probiotic with different dose gave real effect (P<0,01) to relative growth of postlarva prawn weights (P. monodon Fabr.). Provision of probiotics has no significant effect on postlarva tiger prawn survival rate (P. monodon Fabr.). The survival rate of post larvae of tiger shrimp during the study was in the range 66.67-83.33%.
Survival rate and growth of juvenile vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) in different media water salinity Abdul Rakhfid; Erna Erna; Rochmady Rochmady; Fendi Fendi; Muhammad Zayani Ihu; Karyawati Karyawati
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.3.1.23-29

Abstract

Shrimp commodities in Indonesia have been cultivated, either traditionally, traditionally plus, semi intensive, or intensively. One type of shrimp that is constantly strived to increase its production is the shrimp vaname (Litopenaneus vannamei). The environmental conditions of pond waters are closely related to pond water quality. One of the water quality parameters affecting the survival and growth of vaname shrimp is salinity. The study was conducted from May to June 2018 at the Fish Seed Hall (BBIP) Ghonebalano, Ghonebalano Village, Duruka District, Muna Regency. This study aims to determine the effect of water salinity on different media on the survival and growth of vaname shrimp. The study used a Completely Randomized Design with four treatments and three replications. Treatment A salinity 20 ppt, B treatment salinity 25 ppt, C treatment salinity 30 ppt and treatment D salinity 35 ppt. The results showed that the treatment had significant effect on the survival of the animals in the 95% confidence level where the survival in sequence, the treatment of A 87.50%, the treatment of B 83.33%, the C treatment 80.56% and the treatment D 69.44% . The treatment also had a significant effect on the growth of test animal at 95% confidence level. Successive growth was, treatment A 2.01 g, treatment B 1.91 g, treatment C 1,71 g and treatment D 1.51 g.
Hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi ikan baronang (Siganus guttatus, Bloch 1787) di Perairan Sei Carang Kota Tanjungpinang, Indonesia Yuri Indriyani; Susiana Susiana; Rochmady Rochmady
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 13, No 2 (2020)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.13.2.327-333

Abstract

Perairan Sei Carang merupakan perairan yang menjadi habitat ditemukannya ikan baronang (Siganus guttatus). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi ikan baronang (S. guttatus) di perairan Sei Carang. Pengambilan sampel dilakukan seminggu sekali dari bulan September sampai bulan Oktober 2019 berdasarkan aktivitas penangkapan nelayan dan keadaan air. Hubungan panjang dan bobot ikan baronang (S. guttatus) betina dan jantan berturut-turut menunjukkan bahwa model pertumbuhannya adalah W = 2,0895E-05L2,9575 dan W = 1,30073E-05L3,0424, berdasarkan nilai tersebut pertumbuhan ikan baronang (S. guttatus) betina dan jantan di perairan Sei Carang yaitu isometrik (b = 3). Nilai faktor kondisi (K) ikan baronang (S. guttatus) betina dan jantan di perairan Sei Carang berturut-turut yaitu 1,735 dan 1,633.
Nisbah kelamin dan ukuran pertama matang gonad kerang lumpur (Anodontia edentula, Linnaeus 1758) di pesisir Pulau Buton, Kecamatan Wakorumba Kabupaten Muna Rochmady Rochmady; Abdul Rakhfid
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.7.1.1-9

Abstract

Penelitian dilakukan di pesisir Pulau Buton Kecamatan Wakorumba Kabupaten Muna dengan tujuan untuk menganalisis nisbah kelamin dan ukuran pertama matang gonad kerang lumpur. Data nisbah kelamin dianalisis menggunakan Metode Chi-square (X2) dan ukuran pertama matang gonad dianalisis menggunakan Metode Spearmen-Karber (Udupa, 1986). Nisbah kelamin kerang lumpur Anodontia edentula Linnaeus, 1758 berdasarkan waktu pengambilan sampel berada pada proporsi seimbang (nilai X2 19,6447>4,3027), sementara menurut stasiun pengamatan (plot) berada pada proporsi yang tidak seimbang dimana jenis jantan lebih banyak dibanding jenis betina (nilai X2 0,7185>4,3027). Ukuran pertama matang gonad kerang lumpur Anodontia edentula Linnaeus, 1758 jenis kelamin jantan memiliki rata-rata panjang cangkang sebesar 38,60 mm (38,14-39,06 mm), sementara jenis kelamin betina mencapai rata-rata panjang cangkang sebesar 34,14 mm (33,56-34,73 mm). Kerang lumpur di pesisir Pulau Buton, ukuran pertama matang gonad sebenarnya untuk jenis kelamin jantan sebesar 39,7 mm dan jenis kelamin betina sebesar 38,0 mm.
Hubungan panjang bobot dan faktor kondisi kerang lumpur Anodontia edentula, Linnaeus 1758 di pulau Tobea Kecamatan Napabalano, Kabupaten Muna Rochmady Rochmady
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.5.1.1-8

Abstract

Penelitian dilakukan di Pulau Tobea dengan tujuan untuk menganalisis hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi kerang lumpur. Data dianalisis untuk mengetahui hubungan panjang-bobot kerang lumpur dianalisis dengan menggunakan persamaan hubungan kuasa (power regresion) (Ricker, 1975) dan uji-T sedangkan faktor kondisi dengan menggunakan Metode Condisional Factor (CF) (King, 1995). Hasil analisis hubungan panjang-bobot kerang lumpur jantan digambarkan melalui persamaan W=0,0001.L3,366, dengan nilai korelasi (r=0,8559). Hasil uji-t koefisien b>3, dengan harga t=5,4053, diperkuat dengan hasil uji sigF=0,00<0,05, berarti bahwa antara laju pertumbuhan panjang dan bobot total kerang lumpur jantan tidak seimbang, yang bersifat alometrik positif atau alometrik mayor. Untuk kerang lumpur betina digambarkan melalui persamaan W=0,0001.L 3,381, dengan nilai korelasi (r=0,8865). Hasil uji-t koefisien b>3, dengan harga t=7,0811, diperkuat dengan hasil uji sig F=0,00<0,05 hal ini bahwa antara laju pertumbuhan panjang dan berat total kerang lumpur betina tidak seimbang, yang bersifat alometrik positif atau alometrik mayor. Hasil analisis condisional faktor (CF) kerang lumpur jantan, rata-rata sebesar 1,0319 (kisaran 0,4025-1,6613), kerang lumpur betina rata-rata sebesar 1,0203 (kisaran 0,4780-1,5625).  Hal ini menunjukkan bahwa faktor kondisi antara jantan dan betina rata-rata sebesar 1 yang berarti bahwa berat rata-rata kerang contoh lebih besar dibanding dengan berat rata-rata prediksi. Hal ini diakibatkan oleh kondisi lingkungan yang cukup baik dalam mendukung pertumbuhan kerang lumpur.
Nisbah kelamin dan ukuran pertama matang gonad kerang lumpur Anodontia edentula, Linnaeus 1758 di pulau Tobea, Kecamatan Napabalano, Kabupaten Muna Rochmady Rochmady; Sharifuddin Bin Andy Omar; Lodewyck S Tandipayuk
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.5.2.25-32

Abstract

Penelitian dilakukan di Pulau Tobea dengan tujuan untuk menganalisis nisbah kelamin dan ukuran pertama matang gonad kerang lumpur. Data dianalisis untuk mengetahui nisbah kelamin dan ukuran pertama matang gonad kerang lumpur Pulau Tobea dengan menggunakan analisis chisquare (χ2) dan Metode Spearmen-Karber (Udupa, 1986). Hasil analisis nisbah kelamin dengan menggunakan chi-square berdasarkan stasiun pengambilan sampel, waktu pengambilan dan tingkat kematangan gonad (TKG) menunjukkan nisbah kelamin jantan kerang lumpur lebih sedikit dibandingkan dengan jenis kelamin betina. Hal ini ditunjukkan dengan nilai chi-square hitung > chi-square tabel baik berdasarkan waktu pengambilan sampel (6,3700>4,3027), berdasarkan stasiun pengamatan (6,6673>4,3027), berdasarkan tingkat kematangan gonad (TKG) (6,6673>4,3027). Ukuran pertama matang gonad kerang lumpur, jenis kelamin jantan mencapai ukuran matang gonad rata-rata panjang cangkang sebesar 39,62 mm, pada kisaran panjang cangkang sebesar 39,20-40,04 mm. Untuk jenis kelamin betina mencapai ukuran pertama matang gonad rata-rata panjang cangkang sebesar 39,58 mm, pada kisaran panjang cangkang sebesar 39,21-39,96 mm. Kerang lumpur di Pulau Tobea, ukuran pertama matang gonad sebenarnya untuk jenis kelamin jantan mencapai ukuran panjang cangkang sebesar 39,7 mm dan jenis kelamin betina mencapai ukuran panjang cangkang sebesar 38,0 mm.
Length and weight relationship bronze featherback (Notopterus notopterus, Pallas 1769) in Sei Pulai Reservoir, Bintan Regency, Riau Island Susiana Susiana; Dedy Kurniawan; Ulfa Rianti; Rapita Rapita; Daza Septian Nugraha; Edo Edo; Kamal Rudin; Bim Aprilyanto; Hardi Wiradinata; Pangga Kurnia Dialam; Rochmady Rochmady
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 14, No 2 (2021)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.14.2.353-357

Abstract

Sei Pulai Reservoir is one of the sources of raw water for the people of Bintan Island, Riau Islands, to be precise in Tanjungpinang and its surroundings. Sei Pulai Reservoir is also a habitat for belida fish (Notopterus notopterus). The purpose of this study was to determine the relationship between length and weight of belida fish (N. notopterus) in Sei Pulai Reservoir, Bintan Regency. Sampling was carried out once a week from April to May 2021 based on fishermen's catch areas and fish habitats. The relationship between length and weight of male fish is W = 0,00000006L3,4839 which indicates a positive allometric growth pattern and for female fish is W = 0,000002L2,761which indicates a negative allometric growth pattern.
Editorial - Publikasi Perdana versi Online (daring) Rochmady Rochmady
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 10, No 2 (2017): Edisi Perdana Publikasi Online
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.10.2.IFC

Abstract

Pengaruh bobot bibit berbeda terhadap pertumbuhan rumput laut (Kappaphycus alvarezii) strain coklat metode long line menggunakan rumpon ganda Rochmady Rochmady; Sulaeman Sulaeman; La Saluddin
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.8.2.1-7

Abstract

Pengetahuan tentang budidaya rumput laut terkait upaya mendapatkan hasil produksi yang besar diduga terkait erat dengan penggunaan bobot awal bibit. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh bobot awal bibit yang berbeda terhadap pertumbuhan rumput laut K. alvarezii strain coklat metode long line menggunakan rumpun ganda. Penelitian dilaksanakan bulan Maret-April 2014. Perlakuan penelitian terdiri atas bobot awal bibit sebesar 50±0,05g, 75±0,05g, dan 100±0,05g. Pengamatan bobot rumput laut dilakukan dengan interval waktu 9 hari sekali pengamatan, selama 45 hari pemeliharaan. Desain penelitian menggunakan model Rancangan Acak Lengkap (RAL). Parameter yang diuji Pertumbuhan Mutlak (PM) dan Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS). Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA). Hasil analisis menunjukkan pertumbuhan mutlak tertinggi diperoleh pada rumput laut dengan bobot awal bibit sebesar 100±0,05g mencapai  bobot sebesar 556,41g dan terendah pada bobot awal bibit sebesar 50±0,05g mencapai bobot sebesar 366,71g. Sementara Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) tertinggi diperoleh pada rumput laut dengan bobot awal bibit sebesar 50±0,05g mencapai 15,55% dan terendah pada bobot awal bibit sebesar 100±0,05g mencapai 13,99%. Perlakuan bobot awal bibit rumput laut K. alvarezii strain coklat metode long line menggunakan rumpun ganda memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan mutlak (PM), laju pertumbuhan spesifik (LPS) selama masa pemeliharaan.