Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Psyche 165 Journal

Menerima dan Memaknai Diagnosis: Pengalaman Family Caregiver dalam Proses Penyampaian Diagnosis Skizofrenia Dewi, Elsa Fairuza; Poerwandari, Elizabeth Kristie
Psyche 165 Journal Vol. 16 (2023) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v16i4.289

Abstract

The diagnosis of schizophrenia is something important that needs to be informed, not only to the patient but also to the family caregiver. Delivering a clear diagnosis and related information, can help the family caregiver understand their family member's condition and their role as a family caregiver. This, in turn, can impact the success of the patient's treatment process. However, in practice, there are still many healthcare professionals who are hesitant to explicitly communicate a diagnosis of schizophrenia. In Indonesia, some family caregivers experiencing a lack of information about the diagnosis of schizophrenia provided by healthcare providers. This study aims to understand the experiences of family caregivers of individuals with schizophrenia regarding the process of diagnosis communication and other aspects related to the diagnosis of schizophrenia. Semi-structured interviews were conducted with 5 family caregivers who were aware of the diagnosis process of their family members. The data analyzed using a reflexive thematic analysis approach. The results revealed several themes in the experiences of family caregivers during the diagnosis communication process, including pre-diagnosis assumptions, uncertainty about diagnosis-related information, various responses after receiving the diagnosis, the presence of additional sources of information, communication patterns with healthcare providers, and expectations related to the diagnosis communication process. In conclusion, most family caregivers expect a clear, detailed, and comprehensive diagnosis communication. Additionally, family caregivers emphasize the importance of warmth, empathy, and a willingness to spend time discussing their family member's condition with caregivers.
Sikap Kompetitif dan Problematic Gambling pada Pemain Game Gacha: Studi Kasus Tunggal Danilasari, Keyni; Poerwandari, Elizabeth Kristi
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i4.460

Abstract

Problematic gaming dan problematic gambling menjadi semakin bercampur dengan satu sama lain, dengan meningkatnya popularitas mobile gacha game. Game gacha sudah terancang dari sananya untuk mendorong para pemain untuk melakukan transaksi untuk mendapatkan hadiah atau maju dalam game. Hadiah yang didapatkan bisa berupa karakter, senjata, atau hal lainnya yang dapat menolong para pemain dalam berprogres. Dengan melakukan transaksi, para pemain dapat mendapatkan mata uang virtual, yang digunakan untuk transaksi dalam game. Mendapatkan hadiah ini, tidak selalu dijamin untuk menadapatkan hal yang diinginkan. Dengan memasukkan lebih banyak jumlah uang, maka semakin meningkatnya peluang untuk mendapatkan hadiah tersebut. Dengan adanya harta yang dipertaruhkan maka transaksi yang terjadi dalam game pada dasarnya adalah perjudian. Di beberapa game, lebih banyak hadiah bisa didapat dengan bersaing dengan pemain lainnya. Sistem ini mendorong pemain untuk membeli lebih banyak mata uang virtual untuk mengalahkan yang lain dan mendapatkan jalan pintas. Pengeluaran yang tidak bertanggung jawab dalam jangka panjang dapat mengakibatkan terbentuknya problematic gaming dan problematic gambling. Menggunakan tinjauan literatur dan wawancara mendalam, penelitian dilakukan pada seorang laki-laki asal Vietnam mantan pemain mobile gacha game berusia 24 tahun yang mengalami problematic gambling dengan menghabiskan banyak uang dalam permainan gacha hingga sempat tidak dapat mengurus dirinya sendiri dalam sebuah rentang waktu. Dirinya menghabiskan kurang lebih 20.000 Dolar AS dalam tujuan untuk mendapatkan rasa puas setelah mengalahkan para pemain lainnya.