Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Edukasi dan Implementasi Pengelolaan Limbah Minyak Jelantah untuk Mewujudkan Lingkungan Bersih dan Ekonomi Kreatif Masyarakat Balikpapan Utara Putri, Nita Ariestiana; Ananda, Alviano
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.21206

Abstract

Background: Pengelolaan limbah minyak jelantah yang dilakukan secara tidak tepat masih menjadi isu lingkungan yang signifikan di kawasan perkotaan, termasuk di RT 29 Karang Joang, Balikpapan Utara. Pembuangan minyak jelantah tanpa pengolahan terlebih dahulu berpotensi menimbulkan pencemaran pada media tanah dan perairan. Oleh karena itu, dilakukan kegiatan pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi produk turunan ramah lingkungan berupa sabun cair dan lilin aromaterapi sebagai bentuk inovasi dalam upaya pengurangan limbah serta peningkatan nilai tambah ekonomi masyarakat. Metode: Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan dengan menerapkan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Forum Group Discussion (FGD), yang berorientasi pada partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahap pelaksanaan program kerja. Pelatihan dilakukan melalui tahapan sosialisasi, pelatihan dan pembuatan, serta evaluasi menggunakan kuesioner untuk menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Hasil: Pelaksanaan program ini memperoleh respon positif dari peserta dengan menyatakan kegiatan ini bermanfaat dan mudah dipahami terlihat dari peningkatan hasil kuesioner sebesar 9%. Kesimpulan: PKM ini terbukti efektif dalam mewujudkan tujuan pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan melalui inovasi pengolahan minyak jelantah menjadi produk bernilai ekonomi, yaitu sabun cair dan lilin aromaterapi ramah lingkungan.
Optimasi formula plasticizer gliserol dan filler carboxymethyl cellulose terhadap kekuatan mekanik pada biodegradable film packaging berbasis pati singkong Siti Munfarida; Amalia Nur Kumalaningrum; Nita Ariestiana Putri; Jefri Pandu Hidayat; Rizka Ayu Yuniar; Lasma Barbara Naibaho
AGROINTEK Vol 20, No 1 (2026)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v20i1.28410

Abstract

The use of conventional plastics, which are difficult to degrade, has caused serious environmental problems, necessitating alternatives in the form of biodegradable plastics (bioplastics). Biofilms are anticipated to address social issues in line with the 12th SDG goal, namely the management and reduction of packaging waste generated daily. By utilizing abundant local cassava starch, the produced biofilms are anticipated to possess good mechanical properties and low water absorption, making them a potential eco-friendly alternative for food packaging while supporting the use of local resources. This study aims to develop cassava starch-based biofilms as environmentally friendly packaging by optimizing the formulation of carboxymethyl cellulose (CMC) and glycerol. The research employs cassava starch as the primary matrix, CMC as a filler to enhance mechanical properties, and glycerol as a plasticizer to improve the flexibility of the biofilm. The research methods include cassava starch extraction, mixing of materials with stirring and heating, and drying the gel into a biofilm. The biofilm's characteristics were analyzed through tensile strength and elongation tests. The results showed that the formula with a cassava starch concentration of 15 grams, 1% CMC, and 6% glycerol yielded the highest tensile strength value of 1.56 MPa, meeting the Japanese Industrial Standard (JIS) for edible films (≥ 0.392 MPa). The best elongation value reached 199.6%, demonstrating excellent flexibility according to JIS and Indonesian National Standards (SNI). This study indicates that the appropriate combination and concentration of materials can produce biofilms with the potential to replace conventional plastics, support environmental sustainability, and optimally utilize local resources
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANGGAR MELALUI INOVASI BIOPELET SRF BERBASIS CAMPURAN LIMBAH KAYU DAN SAMPAH ORGANIK UNTUK MENDUKUNG EKONOMI SIRKULAR Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Asful Hariyadi; Rizka Lestari; Nita Ariestiana Putri; Aryo Setyo Nugroho; Azis Andi Nugroho; Arif Fadhlur Rohman; Julio Firhan Hidayat Gazali; Ariel Guntur Pamungkas
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.38525

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberdayakan pekerja dan komunitas sekitar tempat pemrosesan akhir sampah (TPAS) dalam mengolah sampah organik dan limbah kayu menjadi biopelet sebagai bahan bakar alternatif co-firing biomassa pada PLTU. Metode pelaksanaan mencakup tiga tahapan, yaitu pra-kegiatan berupa identifikasi potensi dan koordinasi mitra, pelaksanaan melalui sosialisasi ekonomi sirkular dan pelatihan teknis produksi biopelet meliputi pengeringan, pencacahan, pencampuran, pencetakan, dan pendampingan operasional, serta evaluasi melalui uji mutu produk dan survei kepuasan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan biopelet yang dihasilkan memenuhi spesifikasi umum co-firing biomassa dengan kadar air 8–12%, nilai kalor 3.300–4.100 kkal/kg, dan kadar abu 7–10%. Survei terhadap 25 peserta mencatat respons positif rata-rata 80%, dengan 86% melaporkan peningkatan keterampilan teknis dan 72% menyatakan minat melanjutkan produksi secara berkelanjutan. Program ini terbukti meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, mengurangi beban timbunan sampah, serta membuka peluang usaha berbasis energi terbarukan yang berpotensi direplikasi pada TPAS lain.Abstract: This community service program aimed to empower workers and residents surrounding an urban municipal solid waste landfill (TPAS) to process organic waste and wood residue into biopellets for biomass co-firing fuel for PLTU. Implementation comprised three phases: pre-activity, involving potential identification and partner coordination; implementation, encompassing circular economy socialization and technical training in biopellet production covering drying, shredding, blending, molding, and operational mentoring; and evaluation through product quality testing and participant satisfaction surveys. Quality assessments confirmed that the biopellets produced met general co-firing biomass specifications, achieving moisture content of 8–12%, calorific value of 3,300–4,100 kcal/kg, and ash content of 7–10%. A survey of 25 participants recorded an average positive response rate of 80%, with 86% reporting improved technical skills and 72% expressing interest in continuing production. The program demonstrably enhanced human resource capacity, reduced landfill waste accumulation, and created renewable energy-based livelihood opportunities replicable at other sites.
Pemberdayaan Masyarakat Karang Joang Balikpapan Utara Melalui Pelatihan Pengolahan Sampah Organik Menjadi Pupuk Cair Organik Alviano Ananda; Nita Ariestiana Putri; Eka Diani Aprilia; Regan Arci Falerian; Ade Irma; Adi Tria Wahyu Aprilianto; Brithanio Marubeni Kila Seno Padang; Dzaky Alfaridzi Sosang; Rizka Lestari
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v7i1.1058

Abstract

Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan sebagai upaya memberikan solusi terhadap permasalahan pengelolaan sampah organik rumah tangga di RT.29 Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara. Selama ini, limbah organik di wilayah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai tambah berupa pupuk organik cair. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup tahap sosialisasi, pembuatan komposter berbahan drum bekas berkapasitas 150 liter, percobaan trial and error, pelatihan tatap muka bersama masyarakat dan juga evaluasi kegiatan PKM. Proses fermentasi dilakukan melalui sistem anaerobik dengan memanfaatkan sampah organik rumah tangga yang dikombinasikan dengan EM4, air beras, dan molase. Evaluasi program dilakukan melalui penyebaran kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga sekitar. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman, keterampilan, serta minat masyarakat dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk cair. Produk pupuk cair yang dihasilkan terbukti mampu mendukung pertumbuhan tanaman dan memiliki prospek sebagai peluang usaha. Dengan demikian, kegiatan PKM ini berkontribusi pada pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
UTILISASI LIMBAH MINYAK JELANTAH MENJADI PRODUK SABUN PADAT DAN LILIN SEBAGAI UPAYA PENERAPAN ZERO WASTE Lusi Ernawati; Rizka Lestari; Rizka Ayu Yuniar; Nita Ariestiana Putri; Asful Hariyadi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 5 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i5.25997

Abstract

Abstrak: Limbah minyak goreng merupakan salah satu limbah rumah tangga yang berpotensi mencemari lingkungan. Residu dari proses penggorengan ini banyak mengandung asam lemak yang memiliki potensi untuk diolah menjadi produk sabun padat dan lilin. Kegiatan pengabdian masyarakat ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan mitra baik hard skill dan soft skill yakni mencakup: (1) mitra mampu memahami prosedur pembuatan sabun dan lilin dengan bahan dasar minyak jelantah, (2) terbentuknya ketrampilan mitra dalam membuat produk berupa sabun padat dan lilin aroma terapi, (3) mengasah kemampuan komunikasi mahasiswa ITK yang terlibat dalam tim panitia kegiatan pengabdian melalui presentasi dan hubungan sosial dengan peserta pelatihan. Selain itu kegiatan ini menjadi salah satu bentuk upaya penerapan zero waste untuk mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan bernilai ekonomi. Adapun metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui transfer of knowledge dan technology dengan langkah-langkah: (1) persiapan, (2) pelaksanaan, dan (3) evaluasi kegiatan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di kampus ITK sebagai host kegiatan berlokasi di lab kimia dasar dengan peserta siswa dan guru SMP 5 Balikpapan sebanyak 20 orang. Kegiatan ini dilakukan melalui beberapa metode yaitu ceramah, tanya jawab dan diskusi kemudian dilanjutkan praktik pembuatan sabun padat dan lilin. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan disambut antusias oleh peserta pelatihan. Perubahan pemahaman peserta sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan tentang proses pembuatan sabun dan lilin dari limbah minyak minyak jelantah menjadi indikator keberhasilan kegiatan. Sebanyak 90% peserta (termasuk guru dan para siswa) belum mengetahui bagaimana cara pembuatan sabun padat dan lilin aroma terapi dari minyak jelantah sebelum mengikuti kegiatan pelatihan. Setelah dilakukan pelatihan dan praktik pembuatan, seluruh peserta telah mengetahui cara pembuatan sabun maupun lilin dari minyak jelantah serta diharapkan peserta pelatihan memiliki keterampilant memanfaatkan limbah minyak goreng di rumah.Abstract: One of the household pollutants that might contaminate the environment is cooking oil waste. Many fatty acids found in the frying residue have the ability to be converted into solid soap and wax compounds. This community service project aims to enhance partners' abilities, both hard and soft skills. These abilities include: (1) partners' comprehension of the steps involved in creating soap and candles from used cooking oil; and (2) partners' development of skills in creating solid soap and candle products. aromatherapy; (3) through presentations and interpersonal interactions with training participants, ITK students participating in the committee team for the service activity will improve their communication abilities. Aside from that, this activity is an attempt to achieve zero waste by turning rubbish into useful and valuable goods. The method for implementing activities is carried out through the transfer of knowledge and technology with the steps: (1) preparation, (2) implementation, and (3) evaluation of activities. Twenty students and teachers from SMP 5 Balikpapan participated in the program, which was hosted on the ITK campus in the basic chemistry lab. A variety of techniques were used to carry out this activity, including lectures, Q&A sessions, and group discussions. The process of creating solid soap and candles was the next step. The training participants eagerly welcomed and the activity proceeded smoothly. An indicator of the activity's success is how participants' knowledge of how to make soap and candles from leftover used cooking oil changed before and after the activity. Prior to taking part in the training session, up to 90% of participants—including teachers and students—did not know how to produce solid soap and aromatherapy candles out of spent cooking oil. All participants learned how to produce soap and candles from spent cooking oil after completing training and manufacturing practice, and it is anticipated that training participants would be able to use leftover cooking oil at home.
Quality Control Analysis of Export-Grade Barramundi (Lates calcarifer) Fillet Using Statistical Process Control and Failure Mode and Effect Analysis Resti Nurmala Dewi; Sevira Rini Antika; Nita Ariestiana Putri; Jefri Pandu Hidayat; Siti Munfarida
International Journal of Marine Engineering Innovation and Research Vol. 11 No. 3 (2026): In Progress
Publisher : Department of Marine Engineering, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25481479.v11i3

Abstract

Ensuring consistent product quality in export-oriented seafood processing is essential to comply with international standards and maintain market competitiveness. This study evaluates the quality control performance of export-grade barramundi (Lates calcarifer) fillet production using an integrated approach combining Statistical Process Control (SPC) and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). The research was conducted over a seven-month period (August 2025-February 2026) at a seafood processing company in Denpasar, Bali, Indonesia. SPC tools, including check sheets, Pareto diagrams, p-control charts, and fishbone diagrams, were applied to monitor process stability and identify dominant defect types. The results indicated four primary defects: improper fillet cutting (42.65%), vacuum leakage (35.29%), labeling errors (10.29%), and residual scales (11.76%). The p-chart analysis showed that the process remained statistically under control, although defect proportions increased during peak production in December. Pareto analysis revealed that improper cutting and vacuum leakage contributed nearly 78% of total defects, highlighting critical control points in processing and packaging stages. FMEA further identified vacuum leakage as the highest-risk failure mode, with a Risk Priority Number (RPN) of 2160 due to its severe impact on product shelf life and export compliance. The integration of SPC and FMEA proved effective in distinguishing statistically stable processes from high-priority operational risks. The study demonstrates that combining quantitative monitoring with structured risk assessment enhances decision-making, supports targeted corrective actions, and strengthens quality assurance systems in seafood fillet processing industries.