Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Dampak

Persebaran Emisi Karbon Dioksida (CO2) dari Aktivitas Permukiman di Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Yolanda Romadhanti; Dyah Ratri Nurmaningsih; Sulistiya Nengse; Amrullah Amrullah
Dampak Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.18.2.44-50.2021

Abstract

The high level of population density in Menganti District is a potential contributor to CO2 carbon dioxide emissions. The resulting carbon emissions are from the transportation, energy, agriculture, livestock and solid waste. The formulation of the problem of this research is how much the value of carbon emissions generated from settlement activities in Menganti District and how to map the carbon footprints generated from settlement activities in Menganti District. The purpose of this study was to determine the value of carbon emissions and to map the value of carbon emissions. Based on the data obtained, the emission value of the Animal Husbandry Sector is 461.78 tons CO2-eq / year, the Waste Sector is 1537.01 tons CO2 / year, the Agriculture Sector is 2523.68 tons CO2-eq / year, the Transportation Sector is 2607, 86 tons CO2-eq / year and the Energy Sector 11203.96 tons CO2-eq / year. The results of the mapping of the highest carbon emission value for residential activities in Menganti District are Kelurahan Menganti with a range of 12275.03-16904.7 tonnes of CO2-eq /   year, the largest contributors are from the Transportation Sector, Energy Sector, Agriculture Sector and Solid Waste Sector. This has resulted in high carbon emissions in Kelurahan Menganti Keywords: Carbon emissions, CO2, Carbon Footprint, Settlements ABSTRAK Tingginya tingat kepadatan penduduk di Kecamatan Menganti menjadi potensi sebagai salah satu penyumbang emisi karbondioksida CO2. Emisi karbon yang dihasilkan yaitu dari sektor transportasi, energi, pertanian, peternakan dan persampahan. Rumusan Masalah dari penelitian ini adalah berapa nilai emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan permukiman di Kecamatan Menganti dan Bagaimana pemetaan jejak karbon yang dihasilkan dari kegiatan permukiman di Kecamatan Menganti. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai emisi karbon dan pemetaan nilai emisi karbon. Berdasarkan data yang diperoleh, nilai emisi dari Sektor Peternakan sebesar 461,78 ton CO2-eq/tahun, Sektor Persampahan sebesar 1537,01 ton CO2/tahun, Sektor Pertanian sebesar 2523,68 ton CO2-eq/tahun, Sektor Transportasi sebesar 2607,86 ton CO2-eq/tahun dan Sektor Energi sebesar 11203,96 ton CO2-eq/tahun. Hasil Pemetaan nilai emisi karbon tertinggi aktivitas permukiman di Kecamatan Menganti adalah Kelurahan Menganti dengan range 12275,03-16904,7 ton CO2-eq/tahun, penyumbang terbesar yaitu dari Sektor Transportasi, Sektor Energi, Sektor Pertanian dan Sektor Persampahan. Hal ini mengakibatkan tingginya Emisi Karbon di Kelurahan Menganti Kata Kunci: Emisi karbon, CO2, Jejak Karbon, Permukiman
Meninjau Efisiensi Penurunan Kadar CO2 oleh Living Moss Wall: Studi tentang Potensi dan Tantangan dalam Mengatasi Pencemaran Udara di dalam Ruangan Fanani, M Alif; Nurmaningsih, Dyah Ratri; Nengse, Sulistiya
Dampak Vol 20, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.20.2.55-62.2023

Abstract

Indoor air pollution is dangerous for human health because almost 90% of human activity occurs indoors. An important factor when assessing indoor air quality is the concentration of carbon dioxide (CO2). Even at very low concentrations, it can have a marked effect on the health of those in it. The purpose of this study was to review the ability of moss used as a living wall to absorb CO2 and study its potential application in improving indoor air quality. In addition, this research will also identify challenges that may be faced in implementing living moss walls. This study used the true experimental method with a pretest and posttest control group observation design. The study was conducted by comparing CO2 levels from 2 white cigarette smoke with and without living moss wall in a prototype room made of glass with dimensions of 40 cm x 40 cm and 55 cm high.The research results show that the use of living moss wall as a solution to overcome indoor air pollution, especially CO2, cannot be separated from several obstacles that must be faced in its implementation. Living moss wall has a relatively low CO2 reduction efficiency value by using blumei’s moss (Macromitrium blumei). The use of a living moss wall must also pay attention to the suitability of the environment where it is installed so that the living moss wall can function properly.Keywords: Living moss wall, carbon dioxide (CO2), indoor air pollution  ABSTRAK Pencemaran udara dalam ruangan berbahaya bagi kesehatan manusia karena hampir 90% aktivitas manusia terjadi di dalam ruangan. Faktor penting dalam menilai kualitas udara dalam ruangan adalah konsentrasi karbon dioksida (CO2). Bahkan pada konsentrasi yang sangat rendah, CO2 dapat memiliki efek yang signifikan pada kesehatan orang yang berada di dalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan lumut yang digunakan sebagai dinding hidup untuk menyerap CO2 dan mempelajari potensi aplikasinya dalam meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Selain itu, penelitian ini juga akan mengidentifikasi tantangan yang mungkin dihadapi dalam mengimplementasikan dinding lumut hidup. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen sejati dengan desain observasi kelompok kontrol pretes dan postes. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan tingkat CO2 dari asap rokok putih dengan dan tanpa dinding lumut hidup dalam sebuah ruangan prototipe yang terbuat dari kaca dengan dimensi 40 cm x 40 cm dan tinggi 55 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dinding lumut hidup sebagai solusi untuk mengatasi pencemaran udara dalam ruangan, terutama CO2, tidak dapat dipisahkan dari beberapa hambatan yang harus dihadapi dalam implementasinya. Dinding lumut hidup memiliki nilai efisiensi pengurangan CO2 yang relatif rendah dengan menggunakan lumut Macromitrium blumei. Penggunaan dinding lumut hidup juga harus memperhatikan kesesuaian lingkungan di mana dinding lumut hidup dipasang agar dapat berfungsi dengan baik.Kata Kunci: Living moss wall, karbon dioksida (CO2), pencemaran udara dalam ruangan      
Meninjau Efisiensi Penurunan Kadar CO2 oleh Living Moss Wall: Studi tentang Potensi dan Tantangan dalam Mengatasi Pencemaran Udara di dalam Ruangan Fanani, M Alif; Nurmaningsih, Dyah Ratri; Nengse, Sulistiya
Dampak Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.20.2.55-62.2023

Abstract

Indoor air pollution is dangerous for human health because almost 90% of human activity occurs indoors. An important factor when assessing indoor air quality is the concentration of carbon dioxide (CO2). Even at very low concentrations, it can have a marked effect on the health of those in it. The purpose of this study was to review the ability of moss used as a living wall to absorb CO2 and study its potential application in improving indoor air quality. In addition, this research will also identify challenges that may be faced in implementing living moss walls. This study used the true experimental method with a pretest and posttest control group observation design. The study was conducted by comparing CO2 levels from 2 white cigarette smoke with and without living moss wall in a prototype room made of glass with dimensions of 40 cm x 40 cm and 55 cm high.The research results show that the use of living moss wall as a solution to overcome indoor air pollution, especially CO2, cannot be separated from several obstacles that must be faced in its implementation. Living moss wall has a relatively low CO2 reduction efficiency value by using blumei’s moss (Macromitrium blumei). The use of a living moss wall must also pay attention to the suitability of the environment where it is installed so that the living moss wall can function properly.Keywords: Living moss wall, carbon dioxide (CO2), indoor air pollution  ABSTRAK Pencemaran udara dalam ruangan berbahaya bagi kesehatan manusia karena hampir 90% aktivitas manusia terjadi di dalam ruangan. Faktor penting dalam menilai kualitas udara dalam ruangan adalah konsentrasi karbon dioksida (CO2). Bahkan pada konsentrasi yang sangat rendah, CO2 dapat memiliki efek yang signifikan pada kesehatan orang yang berada di dalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan lumut yang digunakan sebagai dinding hidup untuk menyerap CO2 dan mempelajari potensi aplikasinya dalam meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Selain itu, penelitian ini juga akan mengidentifikasi tantangan yang mungkin dihadapi dalam mengimplementasikan dinding lumut hidup. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen sejati dengan desain observasi kelompok kontrol pretes dan postes. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan tingkat CO2 dari asap rokok putih dengan dan tanpa dinding lumut hidup dalam sebuah ruangan prototipe yang terbuat dari kaca dengan dimensi 40 cm x 40 cm dan tinggi 55 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dinding lumut hidup sebagai solusi untuk mengatasi pencemaran udara dalam ruangan, terutama CO2, tidak dapat dipisahkan dari beberapa hambatan yang harus dihadapi dalam implementasinya. Dinding lumut hidup memiliki nilai efisiensi pengurangan CO2 yang relatif rendah dengan menggunakan lumut Macromitrium blumei. Penggunaan dinding lumut hidup juga harus memperhatikan kesesuaian lingkungan di mana dinding lumut hidup dipasang agar dapat berfungsi dengan baik.Kata Kunci: Living moss wall, karbon dioksida (CO2), pencemaran udara dalam ruangan     Â