Claim Missing Document
Check
Articles

Lama Rawat Kurang dari Empat Jam di Instalasi Gawat Darurat sebagai Indikator Mutu Pelayanan dan Penerapannya di Indonesia: Tinjauan Pustaka Sulistio, Septo; Gani, Ascobat
Cermin Dunia Kedokteran Vol 52 No 12 (2025): Kedokteran Umum
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v52i12.1917

Abstract

The emergency department (ED) operates 24 hours in a day, 7 days, in a a week, to provide emergency medical care, but with the growing number of visits, delays in patient assessment and treatment can impact care quality. A common performance indicator used to measure ED efficiency is the length of stay (LOS) of less than four hours, reflecting both service quality and patient flow management. This target has been widely implemented in a few countries, such as the United Kingdom and Australia to enhance ED operations. In Indonesia, a similar target has been set for national referral hospitals, aiming for 90% compliance. However, initial evaluations show that only a small fraction of hospitals meet this target, raising concerns about its feasibility. Despite these challenges, the four-hour LOS remains a relevant quality indicator in EDs. Achieving this goal requires collaborative efforts from allhealthcare stakeholders to improve ED efficiency and patient care. This literature review explores the feasibility and challenges of this target in all parts of Indonesia.
OPTIMALISASI STRATEGI PEMELIHARAAN PREVENTIF UNTUK ALAT KESEHATAN DENGAN KAJIAN SISTEMATIS DARI PENDEKATAN UTAMA DAN APLIKASINYA Kurniadi, Irwin; Gani, Ascobat
Journal of Hospital Administration and Management (JHAM) Vol 6 No 2 (2025): Journal of Hospital Administration and Management (JHAM)
Publisher : LPPM Universitas Awal Bros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54973/jham.v6i2.755

Abstract

Preventive Maintenance (PM) is crucial for ensuring the reliability, safety and longevity of medical equipment in healthcare settings. This review evaluates key PM strategies emphasizing their applicability to resource-constrained hospitals. A systematic review was conducted, analyzing 19 articles selected from 37 screened, focusing on standardization, predictive maintenance, criticality-based prioritization, lifecycle management and data-driven approaches. Advantages, limitations and contextual relevance were concluded. Five main approaches were identified, standardization improves operational consistency and efficiency, while predictive maintenance enhances diagnostic accuracy and reduces downtime. Criticality-based prioritization optimizes resource allocation for high-risk devices and lifecycle management ensures sustainable use of high-value equipment. Data-driven strategies provide decision-making support but require significant technological investment. Combining standardization, criticality-based prioritization and basic predictive techniques is ideal for small and medium-sized hospitals. Larger hospitals can benefit from integrating lifecycle management and advanced data systems. A phased, flexible implementation ensures the reliability of medical equipment and the safety of patients.
Kesediaan Vaksinasi dan Kesediaan Bayar Vaksinasi Booster Covid 19 : Literature Review: Willingness to Vacinate dan Willingness to Pay Vaksinasi Booster Covid19 : Literature Review Puspitasari, Ias Tarina; Ascobat Gani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 5 (2023): May 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i5.3355

Abstract

Latar Belakang : Capaian vaksinasi booster masih belum mencapai cakupan yang optimal. Cakupan vaksinasi booster (dosis 3) di Indonesia masih terbilang cukup rendah yaitu sekitar 29.83%. Pelaksanaan program vaksinasi booster memberikan banyak tantangan. Di antaranya yang sangat penting menyangkut pertanyaan apakah masyarakat mau menerima dan mau membeli vaksin tersebut apabila diperlukan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penting yang mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk menerima dan membayar vaksinasi booster Covid19. Metode: Tinjauan sistematik menggunakan panduan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review or Meta-Analysis). Pencarian data menggunakan search engine yaitu Pubmed, ScienceDirect, Embase dan Scopus mulai tahun 2021 sampai dengan tahun 2022. Penulis menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi untuk mengidentifikasi studi yang akan direviu. Ditemukan 22 studi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Sebagian besar studi menunjukkan hasil bahwa responden bersedia untuk menerima vaksinasi booster (> 60%) dan satu studi yang menunjukkan hasil yang rendah yaitu < 50%. Beberapa studi menunjukkan kesediaan responden untuk membayar vaksinasi booster, yaitu <RM50, Mean 109 – 189 CNY, 0-300 CNY, dan <100 - ≥500 CNY. Kesediaan untuk menerima dan membayar vaksinasi booster dipengaruhi oleh faktor sosio-demografi, faktor persepsi individu dan faktor eksternal berupa kebijakan dari pemerintah maupun saran dari tenaga kesehatan. Kesimpulan: Temuan studi dapat memberikan informasi bagi pembuat kebijakan untuk merancang program vaksinasi dan skema keuangan yang lebih baik di masa depan. Dukungan keuangan tetap diperlukan untuk sebagian masyarakat yang kurang mampu dari sisi ekonomi.
Determinan Sosial Ekonomi Praktik Swamedikasi di Indonesia: Analisis Data Susenas 2019 : Determinants of Socio-Economic Practices of Self-medication in Indonesia: 2019 Susenas Data Analysis Dian Pratiwi Andini; Ascobat Gani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 7 (2023): July 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i7.3362

Abstract

Latar Belakang: Swamedikasi adalah upaya mandiri yang dilakukan seseorang untuk mengobati dirinya sendiri saat mengalami keluhan penyakit. Tren swamedikasi meningkat di Indonesia. Tujuan: Sebuah model dibangun untuk mengetahui determinan praktik swamedikasi di Indonesia. Metode: Penelitian menggunakan data Susenas 2019 dengan 258.633 Orang sebagai sampel penelitian. Analisis regresi logistik dilakukan untuk mengetahui variabel sosial ekonomi yang signifikan terhadap praktik swamedikasi. Hasil: Perilaku swamedikasi dilakukan oleh 73.49% orang dengan variabel determinan yang berhubungan secara signifikan antara lain usia 15-25 tahun (OR: 1,254; 95% CI: 1,209 – 1,301), usia 26-65 tahun (OR: 1,254; 95% CI: 1,161 – 1,230), jenis kelamin (OR: 1,059; 95% CI: 1,035 – 1,085), tingkat pendidikan (OR: 0,885; 95% CI: 0,866 – 0,904), status perkawinan (OR: 0,948; 95% CI: 0,927 – 0,970), status bekerja (OR: 1,151; 95% CI: 1,128 – 1,175), status merokok (OR:1,352; 95% CI: 1,316 – 1,387), status kepemilikan jaminan kesehatan (OR:1.487; 95% CI: 1,456 – 1,519), status lokasi tempat tinggal (OR: 1,032; 95% CI: 1,012 – 1,050), akses teknologi informasi (OR: 1. 074; 95% CI: 1,031 – 1,079) dan status ekonomi. Kesimpulan: Usia, jenis kelamin, status pendidikan, status perkawinan, status merokok, lokasi tempat tinggal, status bekerja, status kepemilikan asuransi kesehatan, status akses teknologi informasi dan status ekonomi berpengaruh signifikan terhadap keputusan individu melakukan praktik swamedikasi. Determinan tidak memiliki jaminan kesehatan menjadi faktor yang paling mempengaruhi praktik swamedikasi.