p-Index From 2021 - 2026
5.842
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Kesediaan Vaksinasi dan Kesediaan Bayar Vaksinasi Booster Covid 19 : Literature Review: Willingness to Vacinate dan Willingness to Pay Vaksinasi Booster Covid19 : Literature Review Ias Tarina Puspitasari; Ascobat Gani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 5 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i5.3355

Abstract

Latar Belakang : Capaian vaksinasi booster masih belum mencapai cakupan yang optimal. Cakupan vaksinasi booster (dosis 3) di Indonesia masih terbilang cukup rendah yaitu sekitar 29.83%. Pelaksanaan program vaksinasi booster memberikan banyak tantangan. Di antaranya yang sangat penting menyangkut pertanyaan apakah masyarakat mau menerima dan mau membeli vaksin tersebut apabila diperlukan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penting yang mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk menerima dan membayar vaksinasi booster Covid19. Metode: Tinjauan sistematik menggunakan panduan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review or Meta-Analysis). Pencarian data menggunakan search engine yaitu Pubmed, ScienceDirect, Embase dan Scopus mulai tahun 2021 sampai dengan tahun 2022. Penulis menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi untuk mengidentifikasi studi yang akan direviu. Ditemukan 22 studi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Sebagian besar studi menunjukkan hasil bahwa responden bersedia untuk menerima vaksinasi booster (> 60%) dan satu studi yang menunjukkan hasil yang rendah yaitu < 50%. Beberapa studi menunjukkan kesediaan responden untuk membayar vaksinasi booster, yaitu <RM50, Mean 109 – 189 CNY, 0-300 CNY, dan <100 - ≥500 CNY. Kesediaan untuk menerima dan membayar vaksinasi booster dipengaruhi oleh faktor sosio-demografi, faktor persepsi individu dan faktor eksternal berupa kebijakan dari pemerintah maupun saran dari tenaga kesehatan. Kesimpulan: Temuan studi dapat memberikan informasi bagi pembuat kebijakan untuk merancang program vaksinasi dan skema keuangan yang lebih baik di masa depan. Dukungan keuangan tetap diperlukan untuk sebagian masyarakat yang kurang mampu dari sisi ekonomi.
Determinan Sosial Ekonomi Praktik Swamedikasi di Indonesia: Analisis Data Susenas 2019 : Determinants of Socio-Economic Practices of Self-medication in Indonesia: 2019 Susenas Data Analysis Dian Pratiwi Andini; Ascobat Gani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 7 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i7.3362

Abstract

Latar Belakang: Swamedikasi adalah upaya mandiri yang dilakukan seseorang untuk mengobati dirinya sendiri saat mengalami keluhan penyakit. Tren swamedikasi meningkat di Indonesia. Tujuan: Sebuah model dibangun untuk mengetahui determinan praktik swamedikasi di Indonesia. Metode: Penelitian menggunakan data Susenas 2019 dengan 258.633 Orang sebagai sampel penelitian. Analisis regresi logistik dilakukan untuk mengetahui variabel sosial ekonomi yang signifikan terhadap praktik swamedikasi. Hasil: Perilaku swamedikasi dilakukan oleh 73.49% orang dengan variabel determinan yang berhubungan secara signifikan antara lain usia 15-25 tahun (OR: 1,254; 95% CI: 1,209 – 1,301), usia 26-65 tahun (OR: 1,254; 95% CI: 1,161 – 1,230), jenis kelamin (OR: 1,059; 95% CI: 1,035 – 1,085), tingkat pendidikan (OR: 0,885; 95% CI: 0,866 – 0,904), status perkawinan (OR: 0,948; 95% CI: 0,927 – 0,970), status bekerja (OR: 1,151; 95% CI: 1,128 – 1,175), status merokok (OR:1,352; 95% CI: 1,316 – 1,387), status kepemilikan jaminan kesehatan (OR:1.487; 95% CI: 1,456 – 1,519), status lokasi tempat tinggal (OR: 1,032; 95% CI: 1,012 – 1,050), akses teknologi informasi (OR: 1. 074; 95% CI: 1,031 – 1,079) dan status ekonomi. Kesimpulan: Usia, jenis kelamin, status pendidikan, status perkawinan, status merokok, lokasi tempat tinggal, status bekerja, status kepemilikan asuransi kesehatan, status akses teknologi informasi dan status ekonomi berpengaruh signifikan terhadap keputusan individu melakukan praktik swamedikasi. Determinan tidak memiliki jaminan kesehatan menjadi faktor yang paling mempengaruhi praktik swamedikasi.
Health Operational Assistance Funds : Literature Review Retno Prihastuti; Ascobat Gani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 6 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i6.5260

Abstract

Introduction: BOK funds are primarily intended for services at Puskesmas, reducing maternal mortality, reducing infant mortality and addressing malnutrition. The existence of BOK funds at Puskesmas is expected to have an impact on improving service coverage and programme effectiveness. However, the absorption of BOK funds is considered not optimal. Objective: This study aims to determine the factors that influence the implementation and absorption of BOK funds. Method: The research method is literature review by using the search engines Google Scholar, Crossref and Garuda Portal from 2014 to 2023. The papers to be reviewed were selected based on inclusion and exclusion criteria. 13 studies were found that fulfilled the criteria. Result: Delays in the disbursement of funds are an obstacle in the management of BOK which results in inefficiency and non-achievement of set targets. Limited human resources at Puskesmas and high workload or overlapping tasks are also an obstacle at Puskesmas including in the management of BOK. Competent human resources are needed in the management of BOK funds. Conclusion: Delays in fund disbursement and limited human resources hamper BOK management.
Integration of Indonesian National Trauma Guideline into the Emergency Room System (Cipto Code Trauma System) Radi Muharris Mulyana; Ascobat Gani
Journal of Epidemiology and Public Health Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Masters Program in Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26911/jepublichealth.2025.10.02.02

Abstract

Background: Indonesia has enacted the national trauma guideline since 2017 and Cipto Mangun-kusumo Hospital (CMH) has applied it since 2019 through the establishment of Cipto Code Trauma. This study aimed to describe the compliance, system adherence, performance and outcome associated with the Cipto Code Trauma system.Subjects and Method: This cross-sectional study was conducted at CMH Emergency Room (ER) using direct observations and data from electronic health records (EHRs). Observations were performed on 106 trauma cases by convenience sampling to map clinical and non-clinical components using a checklist. We compared the implemented ER components against the 2017 national trauma guidelines, assessing the system compliance. Total sampling from EHRs was performed on 4,317 trauma patients to assess performance and outcome of Cipto Code Trauma system. The data were analyzed descriptively.Results: Observations from 106 trauma cases indicate that the Cipto Code Trauma meets all criteria from the national trauma guidelines. Performance indicators from 840 patients were achieved, including trauma team activation (87.6%), on-site multidisciplinary consultation (87.6%), time to physician assessment within five minutes (84.4%), except for length of stay under 4 hours (18.5%) and time to operating theatre within two hours (45.5%). Among the 4,317 trauma cases, the mortality rate for patients in the resuscitation category was 0.4%, while 39% of these patients were discharged directly from the ER.Conclusion: The Cipto Code Trauma at CMH has successfully integrated the Indonesian national trauma guidelines, meeting all required standards. However, further improvements are needed to enhance system adherence and performance.
Efektivitas Kebijakan Pemasaran Iklan Makanan dan Minuman Tidak Sehat dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Diabetes Melitus: Literature Review Lupi Trijayanti; Ascobat Gani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 15 No 1 (2023): JIKM Vol. 15, Edisi 1, Februari 2023
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v15i1.430

Abstract

Abstrak Latar belakang: Indonesia merupakan negara kelima tertinggi di dunia dengan prevalensi kasus diabetes melitus pada tahun 2022 sebesar 13%. Diabetes melitus beserta penyakit komplikasinya mengambil porsi besar dalam pemanfaatan klaim jaminan kesehatan nasional sebesar 8,6% (kurang lebih Rp 12 triliun). Tingginya iklan makanan dan minuman tidak sehat (kandungan gula, garam, dan lemak yang tinggi) khususnya dengan sasaran anak-anak dan remaja menjadi faktor yang mempengaruhi pola konsumsi yang menyebabkan diabetes melitus. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dari artikel yang diterbitkan tahun 2018-2022 melalui database online yaitu PubMed sesuai dengan kriteria inklusi yang sudah ditetapkan peneliti. Hasil: Dari 4 artikel yang di analisis menyebutkan bahwa adanya pembelajaran dari negara lain terkait penetapan regulasi kebijakan makanan dan minuman tidak sehat (termasuk tinggi gula) yang dapat diadaptasi di Indonesia, salah satunya pembatasan iklan makanan dan minuman, baik dari pembatasan jam tayang, media pemasaran, dan lokasi penempatan iklan yang dekat dengan anak-anak atau remaja. Kebijakan tersebut mampu mempengaruhi masyarakat yang terlihat dari efek penurunan pembelian terhadap produk tersebut dengan diiringi kebijakan pemberian informasi label gizi. Kesimpulan: Proses adaptasi kebijakan di Indonesia perlu didukung dengan kebijakan lain seperti ada insentif pada produksi makanan dan minuman sehat, disinsentif untuk makanan dan minuman tidak sehat, serta menjaga kestabilan harga bahan pangan sehat. Kata kunci: Diabetes, Iklan makanan, Kebijakan pangan, Minuman manis, Pemasaran makanan Abstrak Background: Indonesia is the fifth highest country in the world with a prevalence of diabetes mellitus cases in 2022 of 13%. Diabetes mellitus and its complications account for a large portion of the utilization of national health insurance claims of 8.6% (approximately Rp. 12 trillion). The high advertising of unhealthy food and drinks (high content of sugar, salt and fat), especially targeting children and adolescents, has become a factor influencing consumption patterns that causes diabetes mellitus. Methods: This research is a literature review of articles published in 2018-2022 through the online database, namely PubMed according to the inclusion criteria set by the researcher. Results: Based on 4 articles analyzed, it was stated that there were lessons learned from other countries regarding the establishment of regulations on unhealthy food and beverage policies (including those high in sugar) that could be adapted in Indonesia, one of which was limiting food and beverage advertisements, both from broadcasting time restrictions, marketing media, and ad placement locations close to children or youth. This policy is able to influence the public as seen from the effect of reducing purchases of these products accompanied by a policy of providing information on nutritional labels. Conclusion: The process of adopting these policies in Indonesia needs supported by other policies such as incentives for the production of healthy food and drinks, disincentives for unhealthy food and drinks, and maintaining stable prices for healthy food. Keywords: Diabetes, Food advertisements, Food marketing, Food policy, Sugar-sweetened beverages