p-Index From 2021 - 2026
6.536
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan dan Pendampingan Pengolahan Produk Lokal untuk Kelompok PKK dalam Meningkatkan Kemandirian Ekonomi Yuniti, I Gusti Ayu Diah; Sukanteri, Ni Putu; Apriada, I Kadek; Igo Tanggela, Astrosani; Karvila Senia, Maria
Mejuajua: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Penelitian dan Inovasi Sumatera (YPIS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52622/mejuajuajabdimas.v5i1.271

Abstract

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberdayakan ibu-ibu PKK Jatiluwih dalam pengolahan kopi bubuk, mulai dari pemilihan biji, penyangraian, penggilingan, pengemasan hingga pemasaran. Melalui pelatihan dan pendampingan partisipatif, kegiatan ini meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota PKK agar mampu menghasilkan produk berkualitas, higienis, dan bernilai jual tinggi. Program ini juga mendorong terbentuknya usaha kecil berbasis rumah tangga sebagai sumber pendapatan alternatif dan sarana penguatan ekonomi keluarga. Selain meningkatkan kapasitas teknis, kegiatan ini menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan kreativitas dalam mengelola potensi lokal. Strategi pemasaran difokuskan pada jejaring offline maupun digital, guna memperluas jangkauan pasar. Partisipasi aktif dan antusiasme peserta mencerminkan bahwa kegiatan ini relevan dan membawa manfaat nyata. Hasil program menunjukkan peningkatan keterampilan serta munculnya inisiatif usaha kopi rumahan oleh anggota PKK. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah desa dan mitra, diharapkan usaha kopi bubuk ini dapat dikembangkan secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus menjadi model pemberdayaan perempuan yang dapat direplikasi di daerah lain.
PENDAMPINGAN KELOMPOK TANI PADA AGROWISATA SALAK DI DESA SIBETAN BERBASIS PRODUK UNGGULAN DAERAH Sukanteri, Ni Putu; Lestari, Putu Fajar Kartika; Pratiwi, Luh Putu Kirana; Susanti, Ida Ayu Made; Amaral, Ni Putu Anglila; Budiasa, I Made
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i2.1546

Abstract

Sibetan Village agrotourism has been open since 2003, but the hope is that tourists coming to Sibetan Village can increase the selling power of salak. In fact, tourists who visit agrotourism are not yet optimal consumers of the salak produced in Sibetan Village, so the salak produced during the main harvest cannot yet be fully marketed. . This condition requires assistance to groups in supporting agrotourism, especially strengthening human resources in Sibetan Village. The service was carried out in Sibetan Village, Banyakdem District, Karangasem Regency. Service is carried out using several methods, namely: Socialization, Training, Mentoring, Evaluation, Follow-up. The service involves 5 groups engaged in the production and marketing of salak fruit in Sibetan Village, these groups include: Dukuh Lestari Group, Kerta Semaya Group, Werdi Guna, Mekar Sari. The total number of group members is 118 people. The service activities showed that there was a change in the knowledge of group members in the field of marketing salak fruit, packaging and hygiene of products marketed in agro-tourism areas. Assistance provided to farmer groups in Sibetan Village shows that there has been a change in the group's skills in marketing products using online media, packaging salak and product hygiene reaching 80%. This is due to several obstacles faced by group members, such as their weak mastery of technology in using Android. There are not many properties for packaging snake fruit in Sibetan Village, and product hygiene is not commonly carried out during the snake fruit harvesting process. So further assistance is needed to overcome the obstacles faced by the group.
Sinergi Tiga Pilar Pembangunan Dalam Pariwisata Berkelanjutan Suryadarmawan, I Gusti Agung Gede; Sukanteri, Ni Putu; Suryana, I Made
Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK Vol. 3 No. 1 (2019): Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Dhyana Pura – Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.7 KB) | DOI: 10.36002/jpd.v3i1.946

Abstract

ABSTRAKABSTRACTKeywords: agro tourism, terracing, three pillars, sustainable developmentPemerintah Kabupaten Tabanan sejak tahun 2010 telah mencanangkan beberapa gebrakan yang sangat menyentuh kehidupan masyarakat perdesaan terutama petani, peternak dan rumah tangga miskin melalui Gerakan Pembangunan Pangan (Gerbang pangan) Serasi, Gerakan Pembangunan Ekonomi Kemasyarakatan (Gerbang Emas Serasi), Gerbang Wisata (Dewi), dan yang terakhir adalah Gerbang Besar Serasi. Gerakan-gerakan pembangunan tersebut berjalan bersinergi dan berbasis desa. Desa Gunung Salak adalah salah satu desa yang dicanangkan sebagai desa wisata agro. Secara topografi Desa Gunung Salak adalah daerah dengan perbukitan dan terasering yang sangat indah, Panorama perkebunan yang sangat luas sehingga sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata seperti wisata treking, wisata agro, maupun wisata religius. Di Desa Gunung Salak juga terdapat lokasi yang sangat potensi seperti: Air Terjun Br. Kanciana, Goa Lindung di Br Gunung Salak, view persawahan dan perkebunan yang yang sangat indah, areal wisata treking /oprouder, sanggar lukisan Kresnadana, tari tradisional Okokan Mebarung Br Apit Yeh, dan didukung oleh keramah tamahan penduduk. Tim Pengembangan Kemitraan Wilayah (PKW) Universitas Mahasaraswati Denpasar telah melakukan beberapa pembinaan industri pendukung Desa Wisata Gunung Salak, seperti kuliner yang diproduksi oleh Kelompok Wanita Tani Mawar dan Kenanga. Keberhasilan desa Gunung Salak menjadi desa Wisata memerlukan komitmen semua pihak baik pemerintah, masyarakat dan pelaku wisata.Kata kunci: agro wisata, terasering, tiga pilar, pembangunan berkelanjutan The Tabanan district government since 2010 has launched a number of moves that have touched the lives of rural communities, especially farmers, ranchers and poor households through the Food Development Movement (Food Gate) Serasi, Community Economic Development Movement (Serasi Gold Gate), Tourism Gate (Dewi) and the last is the Great Gate of Serasi. These development movements run in synergy and are village-based. Gunung Salak village is one of the villages proclaimed as an agro tourism village. In Topography, Gunung Salak Village is an area with very beautiful hills and terraces, Panorama Perkebunan is very wide, so it has the potential to be developed for tourism such as Treking tourism, Agro Tourism and Religius tourism. In the area of Salak Judga Mountain, there is a very potential location such as: Waterfall Br. Kanciana, Protected Goa at Mount Salak Br, View of Rice Fields and very beautiful Plantation, Oprouder trekking area, Lukisan Kresnadana Studio, Okokan mebarung Br Apit Yeh traditional dance and supported by people's hospitality. Mahasaraswati University Regional Partnership Development Team (PKW) has carried out several coaching industries supporting Gunung Salak Tourism Village, such as culinary produced by Mawar and Kenanga Farmer Women Groups. The success of the Gunung Salak village as a tourism village requires the commitment of all parties, including the government, community and tourism actors.
IMPLEMENTASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA SOLAR DYER HOUSE DAN PENINGKATAN MUTU DAN NILAI TAMBAH KOPI RAKYAT DI DESA SUANAE Wolfrit Matoneng, Ody; M. P. Keraf, Fransiskus; Peter Gellu, Leonard; V. Feka, Gonsianus Pakaenoni, Wolfhardus; Yuniti, I Gusti Ayu Diah; Putu Sukanteri, Ni; Yuesti, Anik
Mejuajua: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Yayasan Penelitian dan Inovasi Sumatera (YPIS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52622/mejuajuajabdimas.v5i2.289

Abstract

Suanae Village, North Central Timor Regency, is one of the centers of smallholder coffee farming with great potential for coffee agribusiness development. However, the post-harvest process of coffee in this village still faces various obstacles, especially in drying coffee beans and utilizing coffee husk waste. This community service research aims to improve the quality and added value of smallholder coffee through the implementation of appropriate technology, namely Solar Dryer Houses (SDH) and the processing of coffee husk waste into organic fertilizer. The activity methods use a participatory and collaborative approach, including socialization, training, mentoring, as well as monitoring and evaluation. The results of the activities show an average increase of 80% in farmers' knowledge and skills, a reduction in coffee bean drying time from 7-10 days to 3-5 days, and an increase in the selling price of dried coffee by 10-15% which was previously purchased at an estimated price by collectors of 30,000, but with the solar dyer house technology, coffee farmers hope to get a price of more than Rp. 39,000. In addition, coffee husk waste is utilized as solid organic fertilizer that supports sustainable agriculture and opens up additional business opportunities for the community. The implementation of this technology emphasizes the importance of local-based innovation to increase productivity, product quality, and community empowerment in rural areas.
Meningkatkan Pemasaran Dodol Bali di Desa Kesiut Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan Ni Putu Sukanteri; Putu Fajar Kartika Lestari; Ida Ayu Dwi Susanti; Luh Putu Kirana Pratiwi
Konsienti : Community Services Journal Vol. 1 No. 01 (2023): July
Publisher : PT. TAKAZA INNOVATIX LABS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61536/konsienti.v1i01.1

Abstract

Kesiut Village, Kerambitan District, Tabanan Regency is one of the villages where there is a Women's Group producing Balinese dodol. The aims of the service are: to increase group administrative knowledge, to increase members' knowledge of consumer wants and needs, to improve the skills of group members in marketing Balinese dodol. Increase member income in the future through product marketing analysis. Community service is carried out in Kesiut Village, Kerambitan District, Tabanan Regency. The implementation of this service is carried out in an effort to increase the knowledge and skills of group members in managing processed products and preparing products ready for market. Based on the results of implementing community activities in the Merta Sari Werdhi Group in Kesiut Village, it shows that: There was an increase in the knowledge of group members before and after the socialization was carried out by 90% in product labeling and product packaging. The skills of group members increased by 90%. This shows that the existence of socialization and training provides increased knowledge and skills of group members. Processed Balinese dodol products made by group members before and after mentoring show a clear change in identity.
PELATIHAN PEMBUATAN PESTISIDA NABATI DI DESA BUNUTIN, KECAMATAN BANGLI, KABUPATEN BANGLI Sukanteri, Ni Putu; Kardi, Cening; Susanti, Ida Ayu Made Dwi; Gollu, Alfonsus Wolla; Cahyani, Ni Putu Lisa Novia; Indrawan, I Dwi
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 12 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i12.3303

Abstract

Program pelatihan pembuatan pestisida nabati di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli diselenggarakan sebagai langkah strategis guna memperkuat wawasan dan kemampuan petani dalam pengendalian hama padi dengan pendekatan berwawasan lingkungan dan berkesinambungan. Latar belakang kegiatan ini adalah masih tingginya ketergantungan petani terhadap pestisida kimia yang berbiaya mahal dan berdampak negatif pada ekosistem sawah, sementara sumber daya alam lokal yang berpotensi sebagai bahan pestisida alami belum dimanfaatkan secara optimal. Kegiatan dilaksanakan selama sepuluh bulan, dimulai dari tahap persiapan berupa studi literatur, perizinan, dan penyediaan alat-bahan, dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan berupa sosialisasi, pendampingan, serta praktik langsung pembuatan pestisida nabati menggunakan bahan lokal contohnya daun pepaya, sirih, serta sirsak. Bahan-bahan tersebut dipilih karena memuat senyawa bioaktif acetogenin, tanin, eugenol, papain, serta alkaloid yang terbukti efektif menghambat aktivitas makan, pertumbuhan, maupun reproduksi hama utama padi (Penggerek batang, walang sangit, ulat grayak, dan wereng). Melalui pre-test dan post-test, evaluasi program memperlihatkan peningkatan nyata pada aspek pengetahuan dan keterampilan petani; pengetahuan peserta meningkat dari kategori kurang paham menjadi cukup hingga sangat paham, sementara keterampilan praktik meningkat dari 23% kurang baik menjadi 78% sangat baik. Hasil ini menunjukkan bahwa peserta mampu membuat dan menerapkan pestisida nabati secara mandiri di lahan pertanian mereka. Pelaksanaan program memberikan manfaat ganda, yakni mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, menekan biaya produksi, menjaga keseimbangan lingkungan, dan mendorong replikasi di kelompok tani lain demi ketahanan pangan serta pertanian berkelanjutan di wilayah lokal.
Inovasi Produk Keripik Berbasis Beras Merah sebagai Upaya Peningkatan Nilai Tambah dalam Usaha Agribisnis Rumah Tangga: Penelitian Ni Putu Sukanteri; I Gede Made Artha Sudewa Wijaya
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2012

Abstract

Beras merah organik merupakan komoditas lokal yang memiliki nilai gizi tinggi dan potensi ekonomi yang belum tergarap optimal. Salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas ini adalah melalui pengolahan menjadi produk olahan oleh industri rumah tangga, khususnya yang dikelola oleh ibu rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi, tantangan, dan dampak ekonomi dari pengembangan produk olahan berbasis beras merah organik, dengan fokus pada usaha rumah tangga. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif, melalui observasi, wawancara, dan analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan beras merah menjadi produk seperti keripik, bubur instan, dan cookies dapat meningkatkan nilai jual produk hingga dua kali lipat dibandingkan beras mentah. Selain itu, keterlibatan ibu rumah tangga dalam kegiatan ini turut berkontribusi pada peningkatan pendapatan keluarga, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi lokal berbasis agribisnis. Meskipun menghadapi tantangan dalam aspek permodalan, teknologi, dan pemasaran, industri rumah tangga berbasis beras merah organik memiliki prospek yang baik sebagai model usaha mikro yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.
Economic Viability and Ecological Outcomes of Organic Horticulture: Evidence from Highland Farming Communities in Bali, Indonesia Sukanteri, Ni Putu; Joshi, Ravindra Chandra; Yuniti, I Gusti Ayu Diah; Kamarudin, Ahmad Syazni
Journal of Tropical Crop Science Vol. 13 No. 01 (2026): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jtcs.13.01.212-226

Abstract

Organic horticulture is an essential component of sustainable agriculture, offering agronomic, ecological, economic, and social benefits. This study investigates the economic viability and ecological outcomes of organic horticultural practices among highland farming communities in Bali, Indonesia. Utilizing a case study of certified organic farmer groups, data were collected via interviews, field observations, and secondary sources. Analysis included market trends, cost-benefit ratios, productivity, and environmental indicators. Findings show that organic horticulture enhances soil fertility with compost and manure, and manages pests through crop rotation, intercropping, and plant derived pesticides. Economically, organic horticulture is highly profitable, with a benefit-cost (B/C) ratio of 14.18, driven by strong consumer demand for pesticide-free produce in urban and tourist markets. Environmentally, organic farming reduces chemical contamination, boosts soil organic matter, and strengthens agroecosystem resilience. Socially, it promotes cooperative farming, knowledge sharing, and community engagement. Challenges include higher input costs, complex certification processes, and limited access to organic farming technology. This research’s novelty is its integrative assessment of agronomic productivity, environmental sustainability, and economic feasibility in a unique tropical context, offering a holistic sustainability model. Findings contribute to organic agribusiness theory, sustainable development, and resilient food system policymaking.
Peran Subak dalam Memanajemen Perilaku Petani untuk Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan di Bali Ni Putu Sukanteri; I Gusti Ayu Diah Yuniti; I Made Suryana; Yenny Verrawati
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 11 No. 2 (2021): Volume 11 No 2 Oktober 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2021.v11.i02.p09

Abstract

Subak is a farmer organization that regulates the irrigation system for rice cultivation in Bali. The research examines the behavior (knowledge, attitudes, skills) of subak members within the framework of the Hindu religious philosophy of Tri Hita Karana, three forms of harmony, namely spiritual, social, and environmental. The case study was conducted in Subak Aseman III, Selemadeg Timur District, Tabanan Regency. This study applies a qualitative method with data collection techniques by observation, interviews, and literature review. The results showed that the behavior of farmers in mastering knowledge was obtained both formally and informally. Farmers are selective in accepting various technological innovations. In implementing the values ??of Tri Hita Karana, subak members carry out rituals on auspicious days to pray for a better harvest result, maintain social harmony through collective decision making, and preserve the environment. This spirit in implementing the Tri Hita Karana philosophy is in line with the spirit to realize sustainable agriculture.
Co-Authors Ali Djamhuri Amaral , Ni Putu Anglila Amaral, Ni Putu Anglila Amaral, Ni Putu Anglila Amaral Amaral, Putu Anglila Ambarwati, Firly Annaza Anak Agung Gede Sugianthara Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Anglila Amaral, Ni Putu Anik Yuesti Anum, Hendrika Apriada, I Kadek Arisandhi, I Made Dimas Azi, Rosalia Firman Dae Cahyani, Ni Putu Lisa Novia Cakranegara, Pandu Adi Cening Kardi Crisdayanti Manggut Dastra, I Gede Dewi, Luh Gede Panca Dian Tariningsih Diantariningsih Diantariningsih Dionisius Jokong Dionisius Jokong Dudi Septiadi Dwi Susanti, Ida Ayu Made Elisabet Isa Farida Hanum Ferdinandus Kewu Ferdinandus Kewu Firly Annaza Ambarwati Gollu, Alfonsus Wolla Hendrika Anum I Dewa Nyoman Raka I Gede Made Artha Sudewa Wijaya I Gusti Agung Gde Suryadarmawan I Gusti Ayu Diah Yuniti I Gusti Ngurah Putu Yudi Darma Putra I Ketut Arnawa I Ketut Widnyana I Made Ariana Darma Satriya Banjar I Made Budiasa I Made Budiasa I MADE DEDY SETIAWAN . I Made Dwi Adnyana I Made Suryana I Made Suryana I Made Suryana I Made Tamba I WAYAN BUDIASA Ida Ayu Dwi Susanti Ida Ayu Dwi Susanti Ida Ayu Dwi Susanti Ida Ayu Made Dwi Susanti Igo Tanggela, Astrosani Indrawan, I Dwi Jandi, Yohanes Jarut, Grasiani Agusta Joshi, Ravindra Chandra Kamarudin, Ahmad Syazni Karvila Senia, Maria Ketut Arnawa Ketut Arnawa, Ketut Kirana Pratiwi, Luh Putu Komang Dean Ananda Leandro Banan Alla Luh Putu Kirana Pratiwi M. NARKA TENAYA M. P. Keraf, Fransiskus Made Budiasa Menardo Denis Villanueva Mikhael Rahmat Ranta Milasari, Ni Kadek Nabilah, Sharfina Ni Gst. Ag. Gde Eka Martiningsih Ni Luh Nilayani Ni Luh Nilayani Nyoman Utari Vipriyanti Nyoman Yudiarini Pande Komang Suparyana Peter Gellu, Leonard Pratiwi, Ni Luh Putu Kirana PRATIWI, NI PUTU EKA Putu Fajar Kartika Lestari Putu Lasmi Yulianti Sapanca Rosalia Firman Dae Azi Rosita Lagut Subadra, Komang Sundari, Ni Made Dwiradika Suryadarmawan, I Gusti Agung Gede Suryana, I M Susanti, Ida Ayu Made Tiara Carina V. Feka, Gonsianus Pakaenoni, Wolfhardus Victoria Kurniati Wolfrit Matoneng, Ody Yenni Verrawati Yenny Verawati Yenny Verrawati Yenny Verrawati Yohanes Jandi