Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

RELEVANCE BETWEEN PRINCIPLES OF USEFULNESS AND HUMANITARIAN PRINCIPLES IN A MUSLIM FRIENDLY TOURISM PERSPECTIVE Nihayatul Maskuroh; Itang; Mukhlisotul Jannah; Elsa; Ratu Humaemah; M. Indrajit Roy; Surahman; Asep Dadan Suganda; Hadi Peristiwo
International Journal Mathla’ul Anwar of Halal Issues Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Mathla’ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The trend of Muslim friendly tourism is a new phenomenon in tourism. Judging from the principle of usefulness, the presence of Muslim friendly tourism provides a significant blessing to all parties involved in Muslim friendly tourism, especially in improving the economy. The demands of the Muslim community for a Muslim friendly tourism destination are not only limited to increasing the economy and the attractiveness of a tourist destination to Muslim friendly tourism, but also having an impact on the comfort factor and guarantees in carrying out worship are also part of Muslim friendly tourism which has basic value humanity. The purpose of this study is to identify and analyze the relationship between the principle of usefulness and humanitarian principles and their impact on Muslim friendly tourism. The research method used in this research is library research. The results of the study show that Muslim friendly tourism is a form of expression that the presence of Islamic law in the aspect of Muslim friendly tourism is rahmatan lil 'alamin which can provide the principle of benefit to stakeholders at large, and highly upholds the value of human principles and respects the existence of the form of human nature.
The Role and Strategy of Islamic Banking Management in Sustainable Financing of the Halal Tourism Industry Itang; Arifeen Yama
Best Journal of Administration and Management Vol 4 No 1 (2025): Best Journal of Administration and Management
Publisher : International Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56403/bejam.v4i1.340

Abstract

Islamic banking management is the most rapidly developing part of the Islamic financial system. The significant market share gap between the management of the Islamic banking industry and the real sector (the halal tourism industry) represents a current challenge. Islamic banking management should recognize the opportunities for developing this halal tourism industry and working together in tandem. The halal tourism industry has enormous potential for development. Innovation must be carried out by Islamic financial institutions, especially Islamic banking. In the current digital era, halal tourism industry players and tourists prioritize everything that is practical. The development and improvement of sustainable halal tourism in a country is very important, because the existence of well-maintained and organized halal tourism industry destinations and supported by a strong financial sector will increasingly attract tourists, both domestic and international. The method used in this study is a literature review approach, namely research with a series of activities related to library data collection methods, reading and recording, and processing research materials. From the results of the literature search, it can be seen that Islamic banking management needs to increase branch office access and digital networks in tourist destination areas so that they are easily accessible to tourists. Several other strategies that can be implemented include collaboration with tour and travel companies that will issue tourism products with halal labels, to financially use Islamic banking.
IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS CINTA DI MAN 1 SERANG: REKONSTRUKSI PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM HUMANIS DALAM ISU-ISU KONTEMPORER Ani Anggrayani; Ahmad Qurtubi; Ali Muhtarom; Itang
KENDALI: Economics and Social Humanities Vol. 4 No. 2 (2025): KENDALI: Economics and Social Sciences Humanities, November 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/kendali.v4i2.1227

Abstract

Pendidikan Islam kontemporer dihadapkan pada tantangan serius dehumanisasi sebagai akibat dari orientasi pendidikan yang berlebihan pada aspek kognitif dan instrumental, sehingga menyebabkan erosi nilai-nilai afektif dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merekonstruksi paradigma pendidikan Islam humanis melalui implementasi kurikulum berbasis cinta (mahabbah) sebagai respon terhadap krisis moral dan spiritual dalam pendidikan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Serang. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Konsep kurikulum berbasis cinta dipahami sebagai pendekatan pendidikan yang menjadikan nilai mahabbah sebagai landasan filosofis, etis, dan pedagogis, yang berakar pada nilai teologis Ar-Rahman dan Ar-Rahim. (2) Implementasi di MAN 1 Serang berlangsung secara sistematis melalui tiga tahap: perencanaan (integrasi nilai cinta dalam visi, misi, dan RPP), pelaksanaan (pembelajaran dialogis, empatik, dan reflektif), serta evaluasi dan pembudayaan (penilaian holistik yang menyentuh EQ/SQ dan penciptaan budaya sekolah yang humanis). (3) Faktor pendukung utama adalah komitmen kepemimpinan madrasah dan guru, sementara hambatannya mencakup pemahaman guru yang belum seragam dan orientasi kurikulum nasional yang masih dominan kognitif. (4) Kurikulum ini secara praksis merekonstruksi paradigma pendidikan Islam humanis dengan menggeser fokus dari transfer pengetahuan (transfer of knowledge) menjadi transformasi nilai (transfer of value) dan spiritualitas, yang terbukti efektif memperkuat dimensi afektif dan karakter peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurikulum berbasis cinta bukan sekadar utopia, melainkan sebuah model praksis yang fungsional untuk mengembalikan esensi pendidikan Islam sebagai proses humanisasi dan spiritualisasi, serta menjadi solusi alternatif dalam menghadapi problem dehumanisasi pendidikan di era kontemporer.
ISLAM DAN BARAT: BENTURAN DAN KERJASAMA Ani Anggrayani; Wasehudin; Erdi Rudjikartawi; Agus Gunawan; Itang
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 2 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Desember 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i2.1132

Abstract

Hubungan antara Islam dan Barat merupakan salah satu tema sentral dalam sejarah peradaban manusia yang senantiasa diwarnai oleh dinamika antara benturan dan kerjasama. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis relasi historis dan filosofis antara kedua peradaban tersebut, dengan fokus pada bagaimana filsafat pendidikan berperan sebagai arena utama pertemuan ide dan nilai. Melalui pendekatan kualitatif-filosofis berbasis studi literatur, penelitian ini menelusuri tiga fase penting dalam sejarah hubungan Islam dan Barat, yakni masa keemasan transfer ilmu pengetahuan, periode konfrontasi kolonial dan era kontemporer dialog antar-peradaban. Hasil kajian menunjukkan bahwa benturan utama antara kedua peradaban terletak pada aspek epistemologis dan aksiologis. Pendidikan barat modern dibangun di atas paradigma sekuler-rasionalistik yang memisahkan wahyu dari pengetahuan ilmiah, sedangkan pendidikan Islam berpijak pada prinsip tauhid yang menegaskan kesatuan ilmu dan nilai-nilai transendental. Meskipun demikian, terdapat titik temu yang potensial untuk kerjasama, antara lain melalui rasionalisme, humanisme universal, dan tanggung jawab etis global. Filsafat pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menjembatani dialog ini melalui penerapan konsep tauhid sebagai dasar kesatuan ilmu dan kemanusiaan, prinsip wasathiyah (moderasi) untuk menolak ekstremisme, serta semangat ijtihad sebagai sarana kreatif menghadapi tantangan modernitas. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya mempertahankan identitas keilmuannya, tetapi juga berkontribusi aktif dalam membangun perdamaian dan keadilan global.