Ragil Kristiawan
Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega, Jawa Tengah

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Urgensi Manajemen Emosi Bagi Pendidik Kristen: Menurut Kitab Amsal Kristiawan, Ragil; Zalukhu, Itoloni
Edukris: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 02: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54793/edukris.v1i02.225

Abstract

Manajemen Emosi memegang peranan yang penting dalam keberhasilan Pendidikan. Kitab Amsal sebagai kitab hikmat ikut memberikan sumbangsih besar bagi manajemen emosi khususnya dalam pengendalian diri terhadap amarah. Mengingat Pentingnya manajemen emosi dalam kitab Amsal ini, pendidik Kristen masa kini harus dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan pengajaran yang dijalankan. Pertanyaan yang hendak diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah implementasi manajemen Emosi menurut Kitab Amsal bagi para pendidik Kristen masa kini? Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan. Kitab Amsal memberikan nasehat untuk selalu mengedepankan kesabaran sebagai bentuk manajemen emosi. Emosi yang tidak diatur akan berpengaruh kepada kepemimpinan seseorang. Kitab Amsal juga memberikan cara praktis untuk mengelola emosi dengan mengedepankan perkataan yang lemah lembut. Orang percaya juga perlu menghindari konflik yang tidak perlu sebagai bagian pengelolaan emosi. Amsal juga melukiskan tentang dampak negatif jika seseorang tidak dapat memanajemen emosinya. Sebagai Implikasinya, guru Kristen masa kini haruslah mampu menunjukkan kesabaran sebagai bagian integral dari manajemen emosinya. Para pendidik Kristen juga perlu menyadari bahwa pengelolaan manajemen emosi turut menentukan keberhasilan proses pendidikan. Para pendidik Kristen perlu mengelola perkataan yang baik dalam setiap proses pengajaran yang dijalaninya. Dalam setiap kondisi, para pendidik Kristen juga dituntut untuk menghindari konflik yang tidak perlu. Terakhir, para pendidik Kristen perlu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk menjaga kestabilan emosi mereka.
Rancangan Kurikulum Sekolah Minggu bagi anak Usia 7 Tahun di Sinode Gereja Bethel Tabernakel Ragil Kristiawan; David Priyo Susilo; Gregorius Suwito; Willyanto Pontonuwu; Tri Astuti
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 1 (2025): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i1.209

Abstract

The curriculum is a vital part of the implementation of Sunday school. The GBT Synod understands this so they plan to create a curriculum that can be used nationally. As a concrete step, the GBT Synod collaborated with STT KAO to produce Sunday school curriculum teaching for 7-year-old children. What is the right curriculum design for 7-year-old Sunday schoolchildren at the GBT Synod? By using this type of qualitative research, literature studies are obtained several important things to answer this question. Some aspects that need to be considered in making this curriculum include: the urgency of the curriculum itself, the characteristics of 7-year-old Sunday school children, and the spirituality of Sunday school children at the age of 7. As a result, several things can be mentioned in this curriculum. First, the curriculum is set in a span of one year. Second, the content in the curriculum must pay attention to the themes that have been the dogma of GBT. Third, the content of the curriculum must also pay attention to the ecclesiastical calendars. Finally, 7-year-old Sunday schoolchildren are equipped with the creation stories in the Bible as the basis for an introduction to Christian doctrine.Abstrak:Kurikulum menjadi bagian yang vital dalam penyelenggaraan sekolah minggu. Sinode GBT memahami akan hal ini sehingga mereka merencanakan adanya pembuatan kurikulum yang dapat dipakai secara nasional. sebagai langkah konkritnya, Sinode GBT bekerjasama dengan STT KAO untuk menghasilkan pengajaran kurikulum sekolah minggu bagi anak usia 7 tahun. Bagaimanakah rancangan kurikulum yang tepat bagi anak sekolah minggu usia 7 tahun di Sinode GBT? Dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif studi pustaka didapatkan beberapa hal penting untuk menjawab pertanyaan ini. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan kurikulum ini diantaranya: urgensi dari kurikulum itu sendiri, karakteristik anak sekolah minggu usia 7 tahun, serta kerohanian anak sekolah minggu di usia 7 tahun. Sebagai hasilnya, beberapa hal dapat disebutkan dalam kurikulum ini. Pertama, kurikulum ditetapkan dalam rentang satu tahun. Kedua, Isi dalam kurikulum harus memperhatikan tema-tema yang selama ini menjadi dogma GBT. Ketiga, isi kurikulum juga harus memperhatikan kalender-kalender gerejani. Terakhir, anak sekolah minggu usia 7 tahun dibekali dengan cerita-cerita penciptaan dalam Alkitab sebagai dasar pengenalan doktrin Kristen. Kata Kunci: Kurikulum Sekolah Minggu, Anak 7 Tahun, Sinode GBT
Yesus Hadiah Terindah: Pembinaan Iman Berdasarkan Lukas 2:10-11 di PPA ID0983 Anugrah Ngareanak, Singorojo, Kabupaten Kendal Ragil Kristiawan; Eni Rombe
Journal Of Social Empowerment Publications Vol 2 No 2 (2025): JOSEP (Journal Of Society Empowerment Publications) 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69668/josep.v2i2.31

Abstract

Abstract Faith building activities today are considered very important for the lives of youth and adolescents. In terms of spirituality, adolescents and young people often seek the meaning of life where this meaning will shape the existence of their lives. The need to bring the Savior together in the lives of youth and youth is also urgent. PPA ID0983 Anugrah Ngareanak understands this basic need very well. The solution that can be offered to introduce the Savior to PPA children is to hold a Faith Building in the context of PPA Christmas. The verse used for faith building is taken in Luke 2:10-11 which tells of shepherds who often experience discriminatory behavior from those around them. But in the frame of Christmas, God uses these shepherds to show that the most beautiful gift for the world has been born in the image of the Lord Jesus Christ as the Savior of the world. This activity was held on December 7, 2024 at STT Kristus Alfa Omega Semarang. PkM activities are divided into 2 classes, namely the Youth class for the 12-22 year age group and the teenager class for the 9-11 year age group. The provision method for the youth class uses interactive lectures, while the teenager class uses puppet stage props. The results of this faith development show positive things both from the enthusiasm of the participants and from the testimonies of the PPA mentors. Keywords: Christmas, The birth of Jesus, Salvation, Forgiveness, Luke 2:10-11 Abstrak Kegiatan pembinaan iman di masa kini dirasa sangat penting bagi kehidupan pemuda dan remaja. Dalam hal kerohanian, remaja dan pemuda sering mencari makna hidup dimana makna ini akan membentuk eksistensi kehidupan mereka. Kebutuhan untuk mempertemukan Juruselamat dalam kehidupan pemuda dan remaja juga dirasa sangat mendesak. PPA ID0983 Anugrah Ngareanak sangat mengerti akan kebutuhan mendasar ini. Solusi yang dapat ditawarkan untuk mengenalkan Juruselamat kepada anak-anak PPA adalah dengan mengadakan Pembinaan Iman dalam rangka Natal PPA. Ayat yang digunakan untuk pembinaan iman terambil dalam Lukas 2:10-11 yang mengisahkan para gembala yang sering mengalami perilaku diskriminatif dari orang-orang disekitarnya. Namun dalam bingkai natal, Allah memakai para gembala ini untuk menunjukkan bahwa hadiah terindah bagi dunia telah lahir dalam rupa Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dunia. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2024 di STT Kristus Alfa Omega Semarang. Kegiatan PkM dibagi menjadi 2 kelas yaitu kelas Pemuda untuk kelompok usia 12-22 tahun dan kelas remaja untuk kelompok usia 9-11 tahun. Metode pembekalan untuk kelas pemuda menggunakan ceramah interaktif, sedangkan kelas remaja menggunakan alat peraga panggung boneka. Hasil dari pembinaan iman ini menunjukkan hal yang positif baik dari antusias peserta maupun dari testimoni pembina PPA. Kata kunci: Natal, Kelahiran Yesus, Keselamatan, Mengampuni, Lukas 2:10-11
Pendalaman Alkitab Berbasis Mazmur 32: Dari Pengakuan Dosa Menuju Pemulihan Sukacita bagi Jemaat GKB Bahtera Hayat Semarang Pujiati Pujiati; Ragil Kristiawan
Journal Of Social Empowerment Publications Vol 3 No 1 (2026): JOSEP (Journal Of Society Empowerment Publications) 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69668/josep.v3i1.158

Abstract

This Community Service Program presents a spiritual intervention through "Bible Study Based on Psalm 32" for the congregation of GKB Bahtera Hayat Semarang. The context of modern urban life often gives rise to psychospiritual challenges in the form of unacknowledged guilt, leading to an identity crisis and spiritual alienation. This program was designed to address these issues by offering a comprehensive exposition of Psalm 32, which maps the transformative journey from confession of sin to the restoration of joy. The implementation methods included in-depth library research, interactive lectures, and practical spiritual exercises. The discussion results indicate that the literary structure and theological themes of Psalm 32 encompassing honest confession, the assurance of forgiveness, and the promise of divine protection successfully provided an applicable framework. This program concludes that a Bible study model based on Psalm 32 is an effective and contextual model for restoring the spiritual joy of urban congregations, while also contributing to the formation of a community grounded in grace and openness.
Spiritualitas Kekudusan Dalam Pacaran Pemuda Kristen Berdasarkan Kidung Agung 3:5 Ragil Kristiawan
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 01: Mei 2026: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67066/3s3hqa74

Abstract

Penurunan pemahaman teologis tentang kekudusan dalam relasi pacaran di kalangan pemuda Kristen masa kini menjadi latar belakang utama penelitian ini, di mana terjadi kesenjangan antara doktrin yang diajarkan dengan praktik hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Kidung Agung 3:5 sebagai dasar bagi spiritualitas kekudusan dalam pacaran pemuda Kristen. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan kualitatif dengan pendekatan hermeneutik naratif, eksegesis, teologi sistematis, dan praktis-teologis. Pembahasan terdiri dari tiga sub bab: pertama, analisis eksegesis Kidung Agung 3:5 yang menemukan bahwa ayat ini mengandung prinsip penantian aktif melalui pengulangan kata te'oreru dalam bahasa Ibrani; kedua, konstruksi teologi kekudusan yang merumuskan tiga pilar utama, yaitu penantian aktif, pengendalian diri yang sadar, dan kesetiaan perjanjian; ketiga, implementasi spiritualitas kekudusan dalam tiga ranah, yakni pendidikan dan pembinaan pemuda, konseling pastoral, serta spiritualitas personal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kidung Agung 3:5 menawarkan fondasi teologis yang kokoh bagi spiritualitas kekudusan dalam pacaran, di mana cinta dikelola dalam bingkai waktu, karakter, dan komitmen yang berpusat pada kehendak ilahi, sehingga relevan untuk diterapkan dalam konteks pembinaan pemuda Kristen masa kini.