Muh. Fatoni Rohman
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Brawijaya, Indonesia

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Widyaparwa

BUNYI CEMPALA YANG KEHILANGAN GAUNG (PEMAHAMAN GENERASI MUDA JAWA ATAS RAGAM PANGGUNG BAHASA JAWA) (THE LOST OF CEMPALA REVERBERATION (UNDERSTANDING OF JAVANESE YOUNG SPEAKERS IN A PERFORMANCE VARIANT OF JAVANESE)) Wahyu Widodo; Dany Ardhian; Muhamad Fatoni Rohman
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.05 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.141

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemahaman generasi muda Jawa atas ragam panggung bahasa Jawa (RPBJ). Instrumen yang dibuat untuk penelitian ini berupa pertunjukan wayang kulit dalam dua adegan. Adegan pertama menggambarkan deskripsi pertapaan (kandha) dan adegan kedua memuat pemberian wejangan Dewa Ruci kepada Werkudara (ginem). Kedua adegan tersebut diperagakan oleh dalang Ki Purbo Asmara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Responden penelitian sejumlah 100 responden, yang diambil dari dua kampus: mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (FS-UM), yang tentu saja memenuhi kriteria sebagai responden penelitian. Teknik wawancara mendalam dilakukan untuk mengungkap keinginan dan tanggapan generasi muda Jawa atas RPBJ. Selain itu, digunakan juga dua responden yang mampu menguasai RPBJ dengan baik, sebagai contoh ideal penggunaan RPBJ (bench-mark). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman generasi muda Jawa atas RPBJ: kategori baik 2%, kategori cukup 7%, kategori kurang 5%, dan kategori sangat kurang sejumlah 86%. Hasil tersebut mengisyaratkan bahwa RPBJ sangat asing bagi generasi muda Jawa dan keadaan ini akan menuntun RPBJ mengalami status keterancaman bahasa, yakni berpotensi rawan punah (Seriously endangered). Keadaan seperti itu mendesak untuk dilakukan revitalisasi bahasa melalui serangkaian program rekayasa kebijakan bahasa. This research aims to reveal the understanding of Javanese young speakers in a performance variant of Javanese (PVJ). A research instrument are two performance scenes of Javanese shadow puppet. The first scene portrays hermitage (pertapan) (kandha) and the second scene describes pontificate of Dewa Ruci to Werkudara (ginem) performed by Ki Purba Asmara as shadow puppeteer (dalang). This research uses quantitative descriptive methods. The respondents of this research are 100 undergraduate students taken from two Universities: faculty of cultural science from Brawijaya University and faculty of letters from state university of Malang. They are selected based on some of criteria. In-depth interview techniques is employed to reveal aspiration and response of Javanese young speakers on PVJ. Furthermore, two respondents who master the performance variant of Javanese (PJV) well are chosen as ideal model or bench-mark of PVJ. The finding shows that Javanese young speakers understanding on PJV as follows: good criteria amounted to 2%, sufficient criteria amounted to 7%, poor criteria amounted to 7%, and very poor amounted to 86%. This result indicates that Javanese young speakers is very unfamiliar with PJV and this situation leads to vulnerability of language, which is going to seriously endangered. Such circumstance is urgent to revitalize the language through a series of language policy engineering program.
ASKETISME RELIGI MELALUI PERTENTANGAN TOKOH AJO SIDI DAN HAJI SALEH DALAM CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA AA. NAVIS Mumtaz, Tsabitah Zain; Rohman, Muh. Fatoni; Vidiyanti, Made Oktavia
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1895

Abstract

The intensity of worship of Islamic communities in Indonesia is a normal everyday sight. However, some ignore the realities of social life by focusing on their respective deeds of worship. AA writers tried to frame this phenomenon. Navis in a short story entitled Robohnya Surau Kami. The general description of this short story is religiosity with a strong Islamic culture set in Minangkabau. The religious frame that surrounds the short story is contrary to the message the poet wants to convey. To find contradictory meanings, the author analyzes the short story using a qualitative descriptive method with a deconstruction theory approach from Jacques Derrida. The analysis steps are carried out through four stages which include, determining the center and concept of the text (undecidable), dismantling the ideology of the text in binary logic, reversing the metaphysical hierarchy, and neutralizing it by disseminating or spreading meaning. The results obtained from this analysis are that the short story Robohnya Surau Kami contains criticism of religious practices in Indonesia. This criticism regarding religion is an excuse not to work and try in the world. Unlike the title and the atmosphere that is created, it is the misfortune of someone who is devout in worship.Intensitas peribadatan masyarakat Islam di Indonesia menjadi pemandangan wajar sehari-hari. Namun, beberapa mengesampingkan realita kehidupan bermasyarakat dengan memfokuskan diri pada amal ibadah masing-masing. Fenomena ini mencoba dibingkai oleh sastrawan AA. Navis dalam sebuah cerpen berjudul Robohnya Surau Kami. Gambaran umum cerpen ini adalah religiusitas dengan budaya keIslaman yang kental dengan latar tempat Minangkabau. Bingkai religi yang membungkus cerpen bertolak belakang dengan pesan yang ingin disampaikan pengarang. Untuk menemukan makna-makna yang bertolak belakang, penulis menganalisis cerpen menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida. Langkah-langkah analisis dilakukan melalui empat tahap yang meliputi, penentuan pusat dan konsep teks (undecidable), pembongkaran ideologi teks dalam logika biner, pembalikan hierarki metafisik, dan penetralisiran dengan diseminasi atau penyebaran makna. Hasil yang didapatkan dari analisis tersebut adalah cerpen Robohnya Surau Kami mengandung kritik terhadap pelaksanaan keagamaan di Indonesia . Kritik tersebut mengenai agama menjadi alasan untuk tidak bekerja dan berusaha di dunia. Tidak seperti judul dan suasana yang dibangun yaitu kemalangan seseorang yang taat beribadah.