Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PKM PENDAMPINGAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH BERBASIS AI BERETIKA BAGI GURU BAHASA INGGRIS SMA DI MAROS Geminastiti Sakkir; Himala Praptami Adys; Ika Yuli Wahyuni; Fatimah Hidayahni Amin; Seny Luhriyani Sunusi
Jurnal Abdi Negeriku Vol 5, No 1 (2026): Jurnal Abdi Negeriku
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/jan.v5i1.84084

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru-guru Bahasa Inggris tingkat SMA di Kabupaten Maros dalam menulis artikel ilmiah berbasis Artificial Intelligence (AI) secara beretika. Mitra kegiatan ini adalah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMA Kabupaten Maros dengan jumlah peserta sebanyak 19 orang. Permasalahan utama mitra meliputi rendahnya pemahaman struktur artikel ilmiah, keterbatasan pengalaman publikasi, serta minimnya literasi penggunaan AI secara etis dalam penulisan akademik. Kegiatan dilaksanakan pada April 2026 melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, praktik, dan pendampingan. Rangkaian kegiatan diawali dengan penerimaan tim pengabdi oleh Bupati Maros di Kantor Bupati Maros sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pelatihan di SMAN 3 Maros sebagai pusat kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap struktur artikel ilmiah serta kemampuan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab dalam proses penulisan. Faktor pendukung utama adalah antusiasme tinggi peserta, sedangkan hambatan utama adalah keterbatasan waktu pelatihan. Program ini berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi profesional guru serta penguatan budaya publikasi ilmiah di tingkat sekolah menengah.
MEMBONGKAR MAKNA SIMBOLIK DALAM FILM BARBIE (2023): SEBUAH ANALISIS SEMIOTIKA Ahmad Azhari; Seny Luhriyani Sunusi; Fatimah Hidayahni Amin; Muhammad Fahri Jaya Sudding; Surya Anantatama Sembiring
MITZAL (Demokrasi, Komunikasi dan Budaya) : Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 10, No 1 (2025): MITZAL, VOLUME 10, NOMOR 1, MEI 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/mitzal.v10i1.6112

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi budaya dan gender dalam film Barbie (2023) melalui pendekatan analisis semiotika. Dengan berfokus pada tanda-tanda visual, naratif, dan simbol-simbol yang muncul sepanjang film, penelitian ini mengkaji bagaimana konstruksi identitas perempuan, relasi kekuasaan patriarkal, serta wacana feminisme dikomunikasikan secara simbolik. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, yang membedakan antara makna denotatif dan konotatif dari tanda. Studi ini menggunakan metode literature review untuk mengkaji artikel, jurnal, dan teori-teori pendukung tentang semiotika film dan representasi gender. Hasil kajian menunjukkan bahwa Barbie tidak hanya menampilkan ulang citra boneka ikonik tersebut, tetapi juga menyampaikan kritik budaya melalui estetika sinematik, dialog, dan setting yang sarat simbol. Dengan demikian, film ini menjadi media yang efektif dalam menyampaikan isu-isu sosial terkait peran gender dalam masyarakat kontemporer.Kata Kunci: Representasi Budaya, Gender, Film Barbie, Semiotika Roland Barthes, Feminisme, Patriarki, Analisis Visual
MENGAPA VAINGLORY GAGAL? ANALISIS PERUBAHAN EKOLOGI MEDIA DAN HILANGNYA IDENTITAS TAP CONTROL DALAM GAME DIGITAL Ahmad Azhari; Seny Luhriyani Sunusi; Fatimah Hidayahni; Muhammad Fahri Jaya Sudding; Surya Anantatama
MITZAL (Demokrasi, Komunikasi dan Budaya) : Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 10, No 2 (2025): Vol 10, No 2 (2025): MITZAL, VOLUME 10, NOMOR 2, NOVEMBER 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/mitzal.v10i2.6820

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kegagalan game Vainglory melalui perspektif teori Ekologi Media Marshall McLuhan dengan menyoroti perubahan medium dan dampaknya terhadap komunikasi digital serta partisipasi komunitas pemain. Vainglory, yang awalnya dikenal sebagai pelopor Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) berbasis kontrol sentuhan (tap control), mengalami penurunan drastis setelah beralih ke sistem joystick dan mode 5v5. Perubahan ini tidak hanya menggeser karakteristik teknologinya, tetapi juga mengubah ekologi komunikasi dan budaya partisipatif yang telah menjadi fondasi komunitasnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis wacana digital terhadap forum Reddit, grup Facebook, kanal Discord, dan dokumen resmi pengembang untuk menelusuri persepsi pemain terhadap transformasi medium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi yang dilakukan tanpa adaptasi sosial menciptakan disonansi dalam ekologi media: sistem joystick meningkatkan kompleksitas teknis (enhance), tetapi menghapus identitas orisinal game (obsolesce), mencoba menghidupkan kembali gaya MOBA klasik (retrieve), dan akhirnya menimbulkan efek balik berupa kehilangan komunitas dan kepercayaan pemain (reverse). Dengan demikian, kegagalan Vainglory merepresentasikan disfungsi ekologi media, di mana medium baru tidak lagi memperluas pengalaman manusia, melainkan memutus hubungan komunikasi antara pengembang dan pengguna. Temuan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara inovasi teknologi dan adaptasi sosial dalam menjaga keberlanjutan ekosistem digital.
Influencing through Language: Skincare Advertising Discourse on Instagram Fatimah Hidayahni Amin; Seny Luhriyani Sunusi; Amra Ariyani; Geminastiti Sakkir; Nur Ainun Rahmat
Proceeding of Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies Vol. 5 No. 1 (2026): Proceeding of Conference on Literature, Linguistic, and Cultural Studies: ICONE
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/pcllcs.v5i1.6561

Abstract

This study examines the linguistic strategies employed in Instagram skincare advertisements and their role in constructing persuasive messages and reinforcing dominant beauty ideologies. The study adopts a qualitative method through Critical Discourse Analysis (CDA), utilizing Fairclough’s three-dimensional framework: textual analysis, discursive practice, and social practice. Data were collected purposively from five Instagram posts by prominent skincare brands, selected based on relevance and audience engagement. The analysis reveals the use of imperatives, emotive vocabulary, structured narratives, and authoritative tone to build trust, appeal to emotions, and promote aspirational beauty ideals. These linguistic choices contribute to a discourse that equates beauty with confidence, self-worth, and social acceptance. The study identifies how these advertisements implicitly link consumption with self-improvement, positioning skincare not merely as a product but as a lifestyle necessity. The findings suggest that skincare advertisements on Instagram function not only as marketing tools but also as ideological texts that shape consumer identity and perpetuate societal norms regarding beauty and self-care. This study contributes to the growing body of literature on discourse and digital media by highlighting the intersection of language, ideology, and consumer culture in online marketing practices.
Exploring Blended Learning on the Students’ Academic Achievement in A Pragmatics Course Ahmad Wahyu Saputra; Andi Anto Patak; Seny Luhriyani Sunusi
Journal of Excellence in English Language Education Vol 5, No 2, April (2026): Journal of Excellence in English Language Education
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/joeele.v5i2, April.84056

Abstract

The use of blended learning has become increasingly important in higher education, particularly in language courses that require contextual understanding. This study investigates the implementation of blended learning in the Pragmatics course at the Business English Communication (BEC) program and examines its impact on students’ learning experience, engagement, and academic achievement. A qualitative descriptive approach was employed, involving six BEC students who participated in semi-structured interviews. The data were analyzed using reflexive thematic analysis. The findings reveal that blended learning is implemented through a combination of face-to-face instruction and online activities, which provides learning flexibility and supports students’ understanding of pragmatic concepts. Most students reported positive learning experiences, increased engagement, and improvements in academic performance and pragmatic skills, although some challenges related to online interaction were identified. In conclusion, blended learning contributes positively to the learning process and academic achievement of BEC students in the Pragmatics course when effectively integrated with both online and face-to-face components.
Integrating Civic Themes into English Language Instruction: A Task-Based Approach to Enhancing Academic Literacy Himala Praptami Adys; Seny Luhriyani Sunusi; Geminastiti Sakkir
Journal of Excellence in English Language Education Vol 5, No 3, July (2026): Journal of Excellence in English Language Education
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/joeele.v5i3, July.88270

Abstract

The integration of discipline-specific content into English for Specific Purposes (ESP) instruction has emerged as a pivotal pedagogical strategy in higher education, yet empirical evidence regarding its implementation in civic education contexts remains scarce. This article reports on a task-based pedagogical intervention designed to enhance academic literacy among Indonesian civic education students through the integration of civic themes into ESP instruction. Drawing upon data from 82 second-semester students at Universitas Negeri Makassar, the study employed a mixed-methods design combining vocabulary discovery tasks, text analysis, and academic writing exercises centered on authentic civic-themed articles. Findings reveal that while the task-based approach facilitated meaningful engagement with civic content and disciplinary vocabulary, persistent challenges emerged, including students' tendency to select generic civic vocabulary rather than to explore specialized terminology and their increasing reliance on artificial intelligence tools for writing tasks rather than developing independent academic expression. These findings contribute to the growing body of ESP research by demonstrating both the affordances and limitations of content-language integration in civic education contexts. The study proposes a refined pedagogical framework that balances content engagement with explicit academic literacy development, addressing the identified gaps while leveraging the motivational potential of civic themes.