Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Analisis Implementasi dan Tantangan Pengurusan Legalitas Usaha Pada UMKM Sektor Kuliner: Studi Kasus Gorengan Nusantara di Ruko Maggriore, Gading Serpong Aditya Riski Putra Septyadi; Diana Michiko; Felix Effny; Salwa Alzena Salsabila; Budi Setiawan
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Vol. 3 No. 1 (2025): November
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjpp.v3i1.5243

Abstract

This study aims to analyze the implementation and challenges of business legality fulfillment in culinary MSMEs through a case study of Gorengan Nusantara located in Ruko Maggriore, Gading Serpong, and to evaluate the effectiveness of technical assistance in supporting the licensing process. The research employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation during November–December 2025. Observations focused on operational activities and administrative readiness, interviews explored the owner’s experiences and perceptions regarding business legality, and documentation included licensing records and supporting files.The results show that Gorengan Nusantara initially did not possess business legality for the new venture due to time constraints and limited managerial capacity, despite the owner having prior experience with the OSS system. Through structured technical assistance, the MSME successfully obtained a new Business Identification Number (NIB) via the OSS–Amdalnet system. The assistance played a crucial role in determining the appropriate Indonesian Standard Industrial Classification (KBLI), completing environmental screening requirements, and navigating digital licensing procedures. Furthermore, the trademark application as part of Intellectual Property Rights (IPR) registration was submitted on 20 November 2025 and is currently under substantive examination. Although the certificate has not yet been issued, the proof of application provides initial legal protection for the business identity. Overall, the findings demonstrate that technical and administrative assistance significantly improves MSME compliance with business legality requirements by reducing procedural errors, enhancing understanding of digital licensing systems, and accelerating the legalization process. This study highlights the importance of structured assistance programs in strengthening MSME readiness within Indonesia’s digital licensing framework.
Strategi Pengembangan Atraksi Seni Tari Jaipong Sebagai Daya Tarik Wisata Berbasis Kearifan Lokal Di Kampung Tematik Ranca Indah Serpong Tangerang Selatan Sandra Mudita Tanumihardjo; Chan Michael Raditya; Lianny Pangesa; Joseph Denny Radaza Ong; Budi Setiawan
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Vol. 3 No. 2 (2026): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjpp.v3i2.5800

Abstract

Pengembangan pariwisata berbasis budaya menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tarik wisata sekaligus melestarikan budaya lokal. Kampung Wisata Tematik Ranca Indah di Serpong, Tangerang Selatan memiliki potensi budaya berupa seni Tari Jaipong yang sebelumnya pernah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Namun, sejak pandemi COVID-19, kegiatan wisata dan aktivitas seni di kawasan tersebut mengalami penurunan sehingga Tari Jaipong tidak lagi berjalan secara rutin dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai atraksi wisata budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan strategi pengembangan atraksi seni Tari Jaipong sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal di Kampung Wisata Tematik Ranca Indah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Jaipong masih dipertahankan melalui kegiatan latihan komunitas dan pertunjukan pada acara sosial masyarakat. Selain itu, keberadaan rumah tua yang masih dipertahankan oleh warga juga menjadi bagian dari identitas budaya kawasan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perpaduan antara seni pertunjukan tradisional dan unsur budaya fisik memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya yang memberikan pengalaman autentik bagi wisatawan. Pengembangan wisata budaya di Kampung Wisata Tematik Ranca Indah memerlukan keterlibatan masyarakat, pengelolaan yang lebih terstruktur, serta dukungan promosi agar potensi budaya lokal dapat terus dilestarikan dan menjadi daya tarik wisata yang berkelanjutan
Analisis Kemudahan Akses, Informasi, dan Orientasi Wisatawan dalam Meningkatkan Pelayanan di Kampung Wisata Tematik Ranca Indah Gabriella Hidayat; Diana Michiko; Muhammad Thio Faza Saidina; Tania Jayadiputri; Budi Setiawan
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Vol. 3 No. 2 (2026): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjpp.v3i2.5814

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peningkatan kualitas layanan pada destinasi pariwisata berbasis masyarakat melalui kemudahan akses, ketersediaan informasi, dan orientasi wisatawan. Ketiga aspek tersebut berperan penting dalam membentuk pengalaman, kepuasan, serta keberlanjutan pengelolaan destinasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa aksesibilitas, informasi digital, sistem penunjuk arah, serta tata kelola berbasis masyarakat menjadi faktor utama dalam meningkatkan daya saing desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran akses, informasi, dan orientasi wisatawan dalam meningkatkan layanan di Kampung Wisata Tematik Ranca Indah, Tangerang Selatan. Penelitian dilaksanakan pada Februari hingga Maret 2026 dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Ketua Kampung Wisata dan Ketua Pokdarwis, serta didukung oleh observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan dipengaruhi oleh akses masuk dan keluar yang terintegrasi, identitas destinasi yang jelas, ketersediaan informasi layanan, serta penataan elemen orientasi di dalam kawasan. Program seperti pembuatan logo, penyusunan SOP wisata, penetapan aturan pengunjung, dan pemasangan banner terbukti meningkatkan visibilitas, alur layanan, dan kesiapan pengelolaan. Hal ini menunjukkan bahwa optimalisasi ketiga aspek tersebut mampu meningkatkan citra destinasi dan kenyamanan wisatawan.
Pelestarian Bacang Vegan Sebagai Kuliner Khas Kampung Wisata Tematik Ranca Indah, Serpong, Kota Tangerang Selatan Joshua Imanuel; Talitha Ferina Aileen; Olivia; Kelly Virginia Putri; Budi Setiawan
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Vol. 3 No. 2 (2026): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjpp.v3i2.5838

Abstract

Gastronomic tourism is a rapidly growing form of tourism because it integrates culinary experiences with the local cultural values of a destination. This study aims to analyze efforts to preserve vegan bacang as a signature dish of the Ranca Indah Thematic Tourism Village in Serpong, South Tangerang City, and to examine its role in supporting the development of community-based gastronomic tourism. The study employs a qualitative approach using a descriptive method. Data collection was conducted through observation, semi-structured interviews, and documentation. Informants were selected using purposive sampling, involving tourism village managers, Pokdarwis (Community-Based Tourism Group) officials, culinary business operators, and community members involved in gastronomic tourism activities. Data were analyzed using interactive analysis techniques, including data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that culinary management in the Ranca Indah Thematic Tourism Village is carried out in a participatory manner by involving the community in the production, innovation, and promotion of local cuisine.  Vegan bacang is a culinary innovation that preserves traditional processing techniques while using plant-based ingredients as an adaptation to changing consumer preferences, which are increasingly focused on health and sustainability. Beyond serving as a food product, vegan bacang functions as a vehicle for cultural preservation, a symbol of local culinary identity, a tool for gastronomic tourism education, and a source of income for the community. Nevertheless, its development still faces challenges, including limited human resources and suboptimal digital promotion. Therefore, collaboration among the community, government, academia, and industry stakeholders is essential to strengthen the management, marketing, and sustainability of community-based gastronomic tourism.
Peran Amenitas dalam Mendukung Daya Tarik Wisatawan Kampung Tematik Ranca Indah Serpong Tangerang Selatan Daniel Axel Gerrits; Gracia Nathania; Muhamad Farkhan Aziz; Trefi Ikva Putri; Budi Setiawan
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Vol. 3 No. 2 (2026): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjpp.v3i2.5892

Abstract

Kampung Tematik Ranca Indah di Serpong, Tangerang Selatan adalah lokasi wisata berbasis komunitas yang selalu mengembangkan fasilitas untuk menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan kualitas destinasi. Amenitas memainkan peran vital dalam menghadirkan kenyamanan, keamanan, kebersihan, serta pengalaman wisata yang baik bagi para pengunjung. Studi ini bertujuan untuk menganalisis keadaan amenitas dan menilai peran amenitas dalam meningkatkan daya tarik pengunjung di Kampung Tematik Ranca Indah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari pengelola kampung wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang dipilih secara sengaja. Analisis data dilaksanakan dengan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sementara keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan metode. Penelitian menunjukkan bahwa amenitas yang ada mencakup toilet umum, mushola, tempat sampah terintegrasi, fasilitas kesehatan dasar, tempat pengisian air minum, area memancing, serta fasilitas edukasi berupa sudut baca. Adanya amenitas itu dapat meningkatkan kenyamanan, keamanan, kebersihan, dan kualitas pengalaman wisatawan saat berkunjung. Selain itu, penggabungan fasilitas dengan atraksi lokal seperti Rumah Tua 1932 dan Sumur Tujuh juga memperkuat identitas destinasi wisata yang berbasis masyarakat. Penelitian ini mengungkapkan bahwa partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan amenitas memiliki kontribusi signifikan terhadap daya tarik pengunjung dan keberlanjutan tujuan wisata perkotaan berbasis komunitas.
Peran Atraksi Pemancingan dalam Menngkatkana Kunjungan Wisatawan di Kampung Wisata Tematik Ranca Indah Serpong Tangerang Selatan Tiara Oktavia; Nelsen Dwiputra; Hana Bella Sartika; Salwa Alzena Salsabila; Budi Setiawan
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Vol. 3 No. 2 (2026): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjpp.v3i2.5925

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran atraksi pemancingan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di Kampung Wisata Tematik Ranca Indah, Serpong, Tangerang Selatan. Pengembangan atraksi wisata menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan daya tarik destinasi berbasis masyarakat sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk mengkaji potensi dan peran atraksi pemancingan dalam mendukung pengembangan kampung wisata. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola kampung wisata, masyarakat setempat, dan pengunjung, serta dokumentasi kegiatan wisata di lokasi penelitian. Penelitian juga dilakukan melalui kegiatan pendampingan kampung wisata sehingga peneliti terlibat langsung dalam proses pengembangan atraksi wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atraksi pemancingan berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan karena menawarkan aktivitas rekreasi yang santai dan ramah keluarga. Selain itu, atraksi pemancingan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal melalui usaha kuliner, penyewaan alat pancing, dan layanan wisata lainnya. Oleh karena itu, pengelolaan yang baik, fasilitas yang memadai, serta keterlibatan aktif masyarakat diperlukan untuk mendukung pengembangan atraksi pemancingan secara berkelanjutan dan meningkatkan daya tarik Kampung Wisata Tematik Ranca Indah
Developing Culture-Based Tourism Attractions through Pentahelix Collaboration in Satupam Tourism Village Ellan Jaya Adi Putra; Luisa Cornelia Wijaya; Jessica Natania Vinata; Steven Ryan Tedja; Budi Setiawan
Jurnal Sains Terapan Pariwisata Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Sains Terapan Pariwisata
Publisher : Politeknik Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56743/jstp.v11i1.543

Abstract

This study analyzes the development of culture-based tourist attractions in Satupam Tourism Village, South Tangerang, by focusing on the implementation of the pentahelix collaboration model. Utilizing a qualitative method with a Participatory Rural Appraisal (PRA) approach, the research involves active collaboration between academics, tourism managers, and local communities. The findings reveal that pentahelix collaboration has been initiated through the academic sector's role in providing legal assistance and human resource training, as well as local government support via a formal Memorandum of Understanding (MoU). A significant cultural transformation is identified within the Rumpun Betawi community, where the "Palang Pintu" performance has evolved from a private traditional ritual into a symbolic attraction for welcoming tourists. Furthermore, while media outlets have begun promoting the village’s potential, the business sector’s involvement remains limited to incidental service usage without long-term investment. The research concludes that integrated synergy among these five pillars serves as a vital strategic foundation for building a sustainable cultural tourism destination. Despite the village being in the preparation phase for general visitors, the internal readiness and collective spirit of local actors indicate strong potential for Satupam to grow as a representative hub for Betawi cultural identity in the region.