Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strategi Peningkatan Volume Penjualan Boncabe Melalui Metode SOAR Nurul Qalbi; Suardi Bakri; Syamsinar Syamsinar
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7264

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemasaran produk BonCabe yang dihasilkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Teratai di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep. Produk BonCabe merupakan hasil olahan cabai lokal yang memiliki potensi nilai tambah ekonomi serta berperan dalam pemberdayaan perempuan pedesaan. Namun demikian, pengembangan pemasaran produk masih menghadapi berbagai kendala, baik dari aspek internal maupun eksternal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian dipilih secara purposive, meliputi ketua dan anggota aktif KWT Teratai yang terlibat langsung dalam proses produksi dan pemasaran. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan proses produksi dan pemasaran, serta menggunakan analisis SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results) untuk merumuskan strategi pemasaran yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasaran BonCabe dilakukan melalui saluran offline berupa bazar dan pameran, serta saluran online sederhana melalui media sosial WhatsApp. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu anggota dalam produksi sehingga ketersediaan produk belum stabil, serta persaingan dengan produk sejenis dari merek yang lebih dikenal. Hasil analisis SOAR menunjukkan bahwa kekuatan produk terletak pada cita rasa khas dan penggunaan bahan baku lokal, sementara peluang berasal dari meningkatnya tren konsumsi makanan pedas dan perkembangan pemasaran digital. Strategi pemasaran yang disarankan adalah penguatan promosi digital, peningkatan konsistensi produksi, serta pengembangan merek sebagai produk unggulan desa. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan strategi pemasaran produk olahan lokal berbasis pemberdayaan KWT.
Analisis pengaruh luas lahan, tenaga kerja, penggunaan pupuk, modal dan pengalaman petani terhadap produksi lada di Desa Bantilang, Kecamatan Towuti. Siti Kirana Tajwi; La Sumange; Syamsinar Syamsinar
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.11976

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi lada di Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur. Faktor-faktor yang diteliti meliputi luas lahan, tenaga kerja, penggunaan pupuk, modal, dan pengalaman petani. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 512 petani lada, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 50 petani yang dipilih secara purposive sampling. Data yang digunakan terdiri atas data primer yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan kuesioner, serta data sekunder yang diperoleh dari berbagai instansi terkait dan literatur pendukung. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan program IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel luas lahan, tenaga kerja, penggunaan pupuk, modal, dan pengalaman petani berpengaruh signifikan terhadap produksi lada dengan nilai F hitung sebesar 1076,394 dan nilai signifikansi 0,000. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,992 menunjukkan bahwa 99,2% variasi produksi lada dapat dijelaskan oleh kelima variabel independen dalam model, sedangkan sisanya sebesar 0,8% dijelaskan oleh faktor lain di luar penelitian. Secara parsial, luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi lada dengan nilai signifikansi 0,000. Sementara itu, tenaga kerja, penggunaan pupuk, modal, dan pengalaman petani tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi lada karena masing-masing memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, luas lahan merupakan faktor yang paling menentukan dalam peningkatan produksi lada di Desa Bantilang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dan pengembangan usahatani lada yang lebih produktif.
Respon Petani Terhadap Bantuan Pompanisasi Program PAT Terhadap Produktivitas Usaha Tani Padi Di Kecamatan Lappariaja Titin Nuryadin; Syamsinar Syamsinar; Majdah M. Zain; Helda Ibrahim
Jurnal Sains Agribisnis Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jsa.v6i1.2379

Abstract

Ketahanan pangan merupakan isu strategis nasional yang memerlukan dukungan kebijakan dan inovasi teknologi pertanian. Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah adalah Program Perluasan Areal Tanam (PAT) melalui bantuan pompanisasi untuk lahan sawah tadah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon petani terhadap bantuan pompanisasi Program PAT di Kecamatan Lappariaja, yang meliputi tingkat pemanfaatan, kepuasan, kemudahan penggunaan, manfaat, dan penerimaan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan 145 responden, ditentukan menggunakan rumus Slovin, dan data dianalisis dengan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks keseluruhan sebesar 90,9% dengan kategori sangat baik. Dimensi penerimaan (94%), kepuasan (93%), dan manfaat (92%) menjadi yang tertinggi, sedangkan kemudahan penggunaan (87%) relatif lebih rendah karena keterbatasan pemahaman teknis perawatan pompa (82%) yang menjadi bottleneck utama. Secara umum, program dianggap efektif meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Secara kebijakan, diperlukan penguatan pelatihan perawatan, kelembagaan pengguna pompa, serta dukungan pembiayaan operasional dan teknis berkelanjutan agar keberlanjutan program terjamin dan dapat direplikasi di wilayah tadah hujan lainnya.