Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

IMAJI DALAM KUMPULAN PUISI MENGAPA LUKA TIDAK MEMAAFKAN PISAU KARYA M. AAN MANSYUR DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA Mardhotillah, Nabila Rahma; Hapsari, Sangaji Niken
Alegori: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 4, No 1 (2024): Alegori : Jurnal Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/alegori.v4i1.11204

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti terhadap puisi Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau karya M. Aan Mansyur karena Pada kumpulan buku puisi karya M. Aan Mansyur ini dapat membuat pembaca terenyuh Ketika membaca rangkaian kata-kata indah memilukan dalam sebuah ironi yang cukup bagus. Puisi memiliki banyak arti yang berbeda dan susunan kata yang indah. Diksi dan imaji yang digunakan dalam penulisan puisi memiliki pengaruh yang besar karena dapat menonjolkan kepribadian pengarang melalui bahasa dan dalam pemilihan kata. Imaji merupakan suatu bentuk gambaran dalam pikiran manusia, serta penggunaan bahasa sebagai tugas untuk mendeskripsikannya. Wujud gambaran dalam angan tersebut yaitu sesuatu yang dapat ditangkap oleh alat indera seperti seolah-olah dapat dilihat, didengar, dirasakan, dicium, dan diraba. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis penggunaan imaji pada kumpulan puisi Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau Karya M. Aan Mansyur. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Dalam penelitian ini imaji yang dijelaskan ada enam jenis imaji, yaitu imaji penglihatan, imaji pendengaran, imaji penciuman, imaji pengecapan, imaji perabaan, dan imaji gerak. Imaji yang digunakan oleh penyair dapat meciptakan imajinasi pembaca lebih hidup dan nyata.
Nilai Sosial dalam Novel Dua Garis Biru Karya Lucia Priandarini: Social Values in the Novel "Dua Garis Biru" by Lucia Priandarini Riswanti, Syafi; Ahmad, Mirza Ghulam; Hapsari, Sangaji Niken
Wacana : Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran Vol 5 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.53 KB) | DOI: 10.29407/jbsp.v5i1.17631

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalis nilai sosial pada novel Dua Garis Biru karya Lucia Priandarini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis data. Hasil penelitian ini yaitu terdapat 82 temuan yang terdiri dari nilai kasih sayang, nilai tolong menolong, nilai religius, nilai kepedulian, nilai kebersamaan, nilai tanggung jawab, dan nilai saling memaafkan. Berdasarkan nilai sosial dalam novel Dua Garis Biru karya Lucia Priandarini terdapat tujuh nilai sosial, diantaranya: nilai kasih sayang 23,17%, nilai tolong menolong 6,09%, nilai religius 7,31%, nilai kepedulian 34,14%, nilai kebersamaan 9,75%, nilai tanggung jawab 12,5%, dan nilai saling memaafkan 7,31%. Dalam temuan tersebut nilai sosial yang dominan dalam novel Dua Garis Biru karya Lucia Priandarini, yaitu nilai kepedulian..
Stilistika dalam Hikayat Munding Giri Karya Yuliadi Soekardi: Stylistics in the Tale of Munding Giri by Yuliadi Soekardi Hapsari, Sangaji Niken; Ahmad, Mirza Ghulam; Nurdiayanti, Rahayu
Wacana : Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran Vol 6 No 1 (2022): JURNAL WACANA: JURNAL BAHASA, SENI, DAN PENGAJARAN
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/jbsp.v6i1.18328

Abstract

Tujuan dalam penelitian adalah untuk menganalisis penggunaan stilistika dalam hikayat Munding Giri karya Yuliadi Soekardi. Penulis ingin mengetahui seberapa banyak penggunaan stilistika yang terdapat dalam hikayat tersebut. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian ini berorientasi terhadap penggunaan stilistika yang terdapat dalam Hikayat Munding Giri Karya Yuliadi Soekardi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif di mana metode ini menggambarkan kenyataan yang sesuai dengan data-data kualitatif yang diperoleh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai Hikayat Munding Giri Karya Yuliadi Soekardi, dapat diketahui terdapat jenis-jenis penggunaan stilistika berupa ketepatan bunyi 7 temuan dengan persentase 5,22%, ketepatan bentuk 49 temuan dengan persentase 36,57%, ketepatan makna 46 dengan presentase 34,32% dan ketepatan sosial 32 temuan dengan persentase 23,88%. Dari data yang diperoleh, dapat ditarik simpulan bahwa penggunaan stilsitika ketepatan bentuk dan makna memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan penggunaan stilistika lainnya dalam hikayat tersebut. Ketepatan bentuk yang digunakan dalam buku hikayat tersebut adalah penggunaan stilistika berdasarkan ketepatan bentuk reduplikasi „dwilingga salin suara‟ dan kata majemuk. Ketepatan makna yang digunakan dalam buku hikayat tersebut adalah gaya bahasa hiperbola
Gaya Bahasa Perbadingan dalam Sepilihan Cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono: Figures of Speech in the Form of Comparison in Selected Short Stories "A Pair of Old Shoes" by Sapardi Djoko Damono Hapsari, Sangaji Niken; Ahmad, Mirza Ghulam; Anggraeni, Yunita
Wacana : Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran Vol 6 No 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/jbsp.v6i2.19237

Abstract

Dalam penelitian.ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan gaya bahasa perbandingan pada cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono. Penulis ingin mengetahui penggunaan gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam cerpen tersebut. Pendekatan yang terdapat pada penelitian ini berorientasi terhadap penggunaan gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Hasil dari penelitian berdasarkan penggunaan gaya bahasa dalam sepilihan cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapard Djoko Damono, terdapat 10 gaya bahasa, yaitu gaya bahasa perbandingan perumpamaan sebanyak 14 temuan, setara dengan 17%, metafora sebanyak 8 temuan, setara dengan 10%, personifikasi sebanyak 43 temuan, setara dengan 51%, depersonifikasi sebanyak 0 temuan, setara dengan 0% alegori sebanyak 2 temuan, setara dengan 3%, antitesis sebanyak 4 temuan, setara dengan 5%, pleonasme sebanyak 4 temuan, setara dengan 5%, perifrasis sebanyak sebanyak 6 temuan, setara dengan 7%, antisipasi sebanyak 0 temuan setara dengan 0% dan koreksio sebanyak 2 temuan, setara dengan 2%. Total temuan sebanyak 83 temuan, setara dengan 100%. Penilis akhirnya dapat menyimpulkan bahwa gaya bahasa perbandingan yang lebih dominan dalam sepilihan cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono yaitu gaya bahasa perbandingan perumpamaan dan gaya bahasa perbandingan perosnifikasi.
Sosialisasi Puisi-Puisi Religi untuk Meningkatkan Nilai Ketakwaan kepada Santri Pesantren Tahfidzul Qu’ran Ar Rahmani Ciputat Tangerang Selatan Sangaji Niken Hapsari; Sulistijani, Endang; Ahmad, Mirza Ghulam
Darma Cendekia Vol. 2 No. 2 (2023): Darma Cendekia
Publisher : CV Buana Prisma Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60012/dc.v2i2.72

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan media pikiran para santri dalammengungkapkan Nilai-nilai dalam karya sastra tersebut dapat dimanfaatkanpembaca dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah aspek religius. Puisi merupakan karya sastra yang mengungkapkan pikiran serta perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan memfokuskan kekuatan bahasa dalam struktur fisik serta struktur batin.Religius semula berasal dari bahasa Latin religare berarti mengikat, sedangkan reliigo berarti ikatan atau pengikatan, yakni manusia mengikatkan diri kepada Tuhan atau manusia menerima ikatan Tuhan. Bagian dasar agama Islam terdiri dari tiga aspek yakni akidah, syariat, dan akhlak yang terstruktur dan tidak dapat dipisahkan. Akidah, syariat, dan akhlak, Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode diskusi, tanya-jawab dan apresiasi terhadap karya, diharapkan pengabdian masyarakat ini dapat berjalan dengan efektif dan efisien
Analisis Struktural dalam Novel Tulisan Sastra Karya Tenderlova Ghulam Ahmad, Mirza; Praramadanti, Arini Haq; Hapsari, Sangaji Niken
Hortatori : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 2 (2023): Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jh.v7i2.2511

Abstract

Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan unsur struktural dalam novel Tulisan Sastra karya Tenderlova dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik Analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan terdapat tokoh utama yaitu, Sastra. Tokoh tambahan yang terdapat dalam novel Tulisan Sastra karya Tenderlova ialah Sahara, Tama. Ibu Sastra, Jovan, Nana, Cetta, Kak Ros, Jaya, dan Jeffrey. Tema yang terkandung dalam novel Tulisan Sastra karya Tenderlova adalah kehidupan seorang pemuda yang sangat menyayangi keluarganya dan mencintai kekasihnya walaupun kekasihnya masih tidak bisa melupakan sang mantan. Novel Tulisan Sastra karya Tenderlova memiliki latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Alur dalam novel Tulisan Sastra karya Tenderlova menggunakan alur campuran yaitu alur yang bersifat progresif tetapi terdapat adegan-adegan dengan sorot-balik (flash back). Amanat dalam novel Tulisan Sastra karya Tenderlova mengajarkan kita untuk selalu mencintai diri sendiri dan menjadi manusia yang apa adanya karena manusia tidak ada yang sempurna dan mengajarkan kita bagaimana cara menghargai orang lain dan memahaminya serta selalu bersyukur dengan apa yang terjadi. Kata Kunci: Analisis Struktural, Unsur Intrinsik, Nilai-Nilai dalam Karya Sastra, Novel Tulisan Sastra
EKRANISASI NOVEL KE DALAM FILM “7 HARI MENEMBUS WAKTU “KARYA CHARON Fathiya Qonita; Sangaji Niken Hapsari; Mirza Ghulam Ahmad
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 1 No. 1 (2021): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.738 KB) | DOI: 10.58218/alinea.v1i1.103

Abstract

Tujuan dibuatnya penelitian ini adalah untuk mencari tahu hasil dari proses ekranisas ipada alur, tokoh, dan latar novel 7 Hari Menembus Waktu karya Charon ke dalam film 7 Hari Menembus Waktu. Agar dapat mengetahui hal tersebut, penelitian ini dibuat dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sementara itu, data yang dipergunakan dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan metode studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses ekranisasi yang terjadi pada perubahan alur sebanyak 79 temuan, terdiri dari 39 penciutan, 13 penambahan, dan 27 perubahan bervariasi. Proses ekranisasi yang terjadi pada perubahan tokoh sebanyak 13 temuan, terdiri dari 6 penciutan, 4 penambahan, dan 3 perubahan bervariasi. Proses ekranisasi yang terjadi pada perubahan latar sebanyak 23 temuan, terdiri dari 12 penciutan, 3 penambahan, dan 8 perubahan bervariasi. Berdasarkan perubahan dalam proses ekranisasi dalam novel ke film 7 Hari Menembus Waktu karya Charon dapat ditemukan perubahan alur sebanyak 79 temuan setara 69%, perubahan tokoh sebanyak 13 temuan setara 11%, dan perubahan latar sebanyak 23 temuan setara 20%. Total keseluruhan hasil temuan sebanyak 115 atau setara dengan 100%.
Pemikiran Humanis Ahmad Tohari dalam Pendeskripsian Tokoh Secara Dramatik pada Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin Sulistijani, Endang; Hapsari, Sangaji Niken; Ahmad, Mirza Ghulam
Hortatori : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9, No 1 (2025): Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jh.v9i1.4146

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemikiran serta cara pandang seorang pengarang tentang nilai humanis dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin. Pemikiran pengarang atau pandangan dunia pengarang in  dapat dijumpai melalui pendeskripsian tokoh dalam karya sastra, baik secara langsung ataupun tak langsung. Pokok permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana pemikiran humanis Ahmad Tohari yang meliputi perilaku benar, perdamaian, kebenaran, cinta, non kekerasan, dan kecerdasan sosial pada deskripsi tokoh dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin. Penulis berharap agar penelitian ini dapat bermanfaat bagi penanaman nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat Kumpulan cerpen Senyum Karyamin ini dipilih untuk dianalisis karena tiga belas cerpen di dalam kumpulan tersebut sarat dengan nilai humanisme. Metode penelitian yang digunakan adalah dekriptif kualitatif dengan analisis isi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wujud nilai humanis yang terkandung dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin terdiri dari perilaku benar berjumlah 14.53%, perdamaian berjumlah 2.56%, kebenaran berjumlah 41.88%, cinta berjumlah 30.77%, Non-kekerasan berjumlah 2.56%, dan Kecerdasan Sosial berjumlah 7.7%. Hasilnya, wujud nilai humanis yang mendominasi kumpulan cerpen Senyum Karyamin adalah nilai humanis dengan jenis kebenaran sebanyak 41.88%. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa pemikiran Ahmad Tohari tentang nilai humanis adalah bagaimana hubungan antarsesama manusia mengarah pada kebenaran, kejujuran, berperilaku benar, dan selalu mengutamakan kasih atau cinta.
Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Kesantunan Berbahasa Kurniadi, Fajar; Hilaliyah, Hilda; Hapsari, Sangaji Niken
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 (2018): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v2i1.1023

Abstract

 Language is a self-reflection. The more polite the language is used, reflects politely in thought and action. However, polite and polite language in action is not easy to apply, especially for those who are still at an early age. This is also supported by the abundance of language use in the educational environment. The habit of using polite language should start early and need the maximum support from various environments, including the educational environment. The community service activities are done by growing the language-friendly culture in the school by doing counseling.The purpose of this activity is to provide understanding and understanding of the citizens of the school importance of language politeness. By using polite language, the learning climate in the school will be conducive to focus on the learning objectives, one of which is character education. This activity is a problem solving as well as an alternative to create a peaceful learning environment and support teaching and learning activities. The characters that can be trained with the use of polite language are faithful and devoted, tolerance, love the homeland, discipline, cooperation, solidarity, honesty, exemplary, and love the truth.  Kata Kunci: Pendidikan Karakter; Kesantunan Berbahasa.
Sosialisasi Teknik Pembuatan Pantun sebagai Media Pendidikan Karakter pada Guru Sekolah Bening Indonesia Sulistijani, Endang; Ahmad, Mirza Ghulam; Sangaji Niken Hapsari
Darma Cendekia Vol. 4 No. 1 (2025): Darma Cendekia
Publisher : CV Buana Prisma Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60012/dc.v4i1.178

Abstract

Pantun merupakan salah satu bentuk karya sastra lama yang terikat pada aturanbunyi, jumlah baris, jumlah suku kata. Pantun yang merupakan puisi lama berasal darisastra Melayu. Namun, bentuk puisi lama ini menyebar ke seluruh daerah di Indonesia.Misalnya, pantun dari Jawa Barat, Jakarta, parikan dari Jawa Tengah, panton dari Sulawesi, wewangsalan dari Bali, dan masih banyak lagi. Hingga saat ini pantun sering digunakan dalam acara-acara resmi dan diucapkan saat membuka atau menutup suatu acara. Hal ini menandakan pantun sudah banyak dikenal oleh masyarakat baik muda ataupun tua. Namun, pantun yang diucapkan kadang tidak sesuai dengan aturan pantun itu sendiri, misalnya hanya terdiri dari 2 baris, atau tidak bersajak abab. Membuat pantun sebetulnya tidak terlalu sulit, jika dilakukan secara rutin. Misalnya, satu hari menulis satu pantun untuk dijadikan semangat dalam berkarya, dalam memulai aktivitas, atau untuk menyapa orang terdekat. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode pembacaan pantun, diskusi, tanya-jawab dan apresiasi pantun. Dengan penggunaan metode ini diharapkan pengabdian masyarakat ini dapat berjalan dengan efektif dan efisien.