Muhammad Syahrir
Institut Teknologi dan Kesehatan Tri Tunas Nasional

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PENCEGAHAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI DI SMP KARTIKA XX-2 MAKASSAR Chitra Dewi; Marisna Eka Yulianita; Muhammad Syahrir; Renaldi. M; Muti Sahida; Yosina Naomi Leterulu
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 3 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i3.753

Abstract

Keputihan (fluor albus) merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan apabila tidak dicegah dengan perilaku higiene yang baik. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi diyakini berperan dalam membentuk perilaku pencegahan keputihan, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan inkonsistensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan pencegahan keputihan pada remaja putri di SMP Kartika XX-2 Makassar. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VIII dan IX sebanyak 58 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup (62,1%) dan perilaku pencegahan keputihan kategori cukup (94,8%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pencegahan keputihan pada remaja putri (p=0,681). Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku pencegahan keputihan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kebiasaan personal hygiene, dukungan keluarga, lingkungan sekolah, dan akses informasi kesehatan. Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan reproduksi di sekolah perlu mengintegrasikan peningkatan pengetahuan dengan pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat agar pencegahan keputihan dapat dilakukan secara optimal.
CACING SIRNA: MODEL EDUKASI INTERAKTIF DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN PRAKTIK PENCEGAHAN KECACINGAN PADA SISWA SDN 63 TOMBOLO Chitra Dewi; Nurfitri; Muhammad Syahrir; Andi Tilka Muftiah Ridjal; Renaldi. M; Husnul Arbma Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT) Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jgs.v6i2.750

Abstract

Latar belakang: Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) atau kecacingan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak terjadi pada anak usia sekolah akibat rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi kesehatan yang interaktif diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik pencegahan kecacingan sejak dini. Tujuan: Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan praktik pencegahan kecacingan pada siswa sekolah dasar melalui model edukasi interaktif CACING SIRNA (Cacing Hilang, Anak Sehat dan Gembira). Metode: Pengabdian dilaksanakan di SDN 63 Tombolo dengan melibatkan 10 siswa menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif. Kegiatan meliputi pre-test, penyampaian materi, permainan edukatif, demonstrasi cuci tangan pakai sabun, simulasi perilaku hidup bersih dan sehat, kuis interaktif, serta post-test untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan peserta. Hasil: Program menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa, ditandai dengan meningkatnya kategori pengetahuan baik dari 30% pada pre-test menjadi 70% pada post-test, sedangkan kategori pengetahuan rendah menurun dari 20% menjadi 10%. Selain itu, siswa menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan kuku, menggunakan alas kaki, dan mengonsumsi obat cacing secara berkala. Kesimpulan: Model edukasi interaktif CACING SIRNA efektif meningkatkan pengetahuan dan praktik pencegahan kecacingan pada siswa sekolah dasar serta berpotensi direplikasi sebagai inovasi edukasi kesehatan berbasis sekolah.