Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Implementasi Terapi Bermain Brain Gym Untuk Meningkatkan MemoriJangka Pendek Pada Anak Usia Sekolah di Wilayah RT 007 / RW 07Kelurahan Tebet Barat Dinda Amelia; Anggraeni, Fitri Anggraeni; Ambarwati, Dwi Ambarwati
The Health Researcher's Journal Vol. 1 No. 02 (2024): The Health Researchers Journal
Publisher : The SDGS Forum Communication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.00000/ex5z7153

Abstract

After a child acquires information, he needs planned and consistent stimulation such as brain gym therapy so that he can recall whathe knew before. This short-term memory is usually lost instantly. Short-term memory in children is very poor, especially in education.This short-term memory is very important for remembering. The purpose of this researcher is to analyze the differences before andafter the implementation of Brain Gym Play Therapy to improve short-term memory in school-age children in RT 007 / RW 07 TebetBarat Village. Method This research design and type of quantitative research. The population in this study amounted to 15 childrenand the sample in this study amounted to 4 respondents. The measuring instrument used in this study is the Wechsler IntelligienceScale for Childern-Fourth Edition (WSIC-IV) Observation Sheet which consists of forwad digits and backward digits.The results ofthis study increased short-term memory did not experience a significant increase when after the brain gym play therapy was performed.
ANALISIS PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PENDIDIKAN SEKS ANAK USIA DINI PADA ORANG TUA Luluk Eka Meylawati; Fitri Anggraeni; Ridho Fidrajaya
Afiat Vol 11 No 1 (2025): Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak
Publisher : Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/afiat.v11i1.4604

Abstract

Fenomena di masyarakat sekarang ini adalah maraknya kasus pelecehan seksual pada anak usia dini seperti kekerasan dan penyimpangan seks, hal tersebut terjadi salah satunya karena kurangnya pendidikan seks dari orang tua pada anak, jika orang tua mendidik anaknya dengan baik maka anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang baik maupun sebaliknya dan hal tersebut harus dibarengi oleh sikap dan tingkat pengetahuan orang tua yang baik pula. Tujuan Penelitian untuk untuk mengetahui analisis pengetahuan dan sikap tentang pendidikan seks anak usia dini pada orang tua. Metode Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Jumlah sampel sebanyak 49 responden orang tua anak yang diambil dengan teknik total sampling. Analisis yang digunakan univariat untuk mengetahui frekuensi variabel yang tekait. Hasil Penelitian uji statistik didapatkan hasil analisis univariat jumlah responden terbanyak dengan umur 30-34 tahun (30,61%), pendidikan terakhir didominasi lulusan sarjana (51%), jenis media yang sering digunakan media elektronik (61,22%), sikap positif yang dimiliki responden sebanyak (51%) dan negatif (49%). Tingkat pengetahuan responden yang baik sebanyak (95,9%), cukup sebanyak (4,1%) dan (0%) untuk yang kurang. Simpulan sebagian besar orang tua memiliki sifat yang positif dan mayoritas orang tua memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai pendidikan seks anak usia dini.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN METODE ROLEPLAY TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN EVAKUASI MEDIK UDARA PADA MAHASISWA KEPERAWATAN ASTUTI, HARWINA WIDYA; MEYLAWATI, LULUK EKA; ANGGRAENI, FITRI
Afiat Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak
Publisher : Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/afiat.v11i2.5339

Abstract

Evakuasi medik udara merupakan kegiatan memindahkan korban tempur, bencana alam, kecelakaan lainnya atau pasien dengan menggunakan transportasi pesawat terbang atau jalur udara guna mendapatkan pertolongan medik secara maksimal dan sesegara mungkin yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dan tenaga pendukung lainnya. Proses ini dilaksanakan dengan rangkaian evakuasi yang dibagi menjadi EMU I, II, dan III. Tahapan EMU ini penting dipahami mahasiswa keperawatan. Salah satu metode yang tepat untuk pembelajaran ini digunakan adalah metode pembelajaran roleplay. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi efektivitas pembelajaran metode role play terhadap tingkat pengetahuan evakuasi medik udara pada mahasiswa keperawatan. Rancangan penelitian yang dilakukan yakni deskriptif dengan teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah total sampling yang berjumlah 51 responden. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner pengetahuan pembelajaran metode role play evakuasi medik udara. Hasil penelitian yang diperoleh nilai rata-rata pretest tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan sebesar 4.75 dengan standar error 0.078, nilai minimum 3 dan maksimum 5. Setelah dilakukan intervensi, nilai rata-rata pengetahuan menjadi 4.88 dengan standar error 0.053, nilai minimum 3 dan maksimum 5. Uji statistic menunjukkan peningkatan pengetahuan bermakna secara signifikan dengan nilai p sebesar 0.018. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran role play efektivitas positif terhadap tingkat pengetahuan evakuasi medik udara.
Implementasi Edukasi terhadap Pengetahuan Bahaya Seks Bebas pada Usia Remaja Deby Indriastuti; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/eqc3cs61

Abstract

Pergaulan bebas pada remaja di era milenial masih menjadi isu serius, terutama karena kemajuan teknologi yang memudahkan akses informasi, termasuk yang berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi Edukasi terhadap pengetahuan bahaya seks bebas pada usia remaja. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif, melibatkan 32 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner berisi 20 pertanyaan dengan skala Guttman, di mana setiap jawaban yang benar diberikan nilai 1 dan jawaban yang salah diberikan nilai 0. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu dimulai dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, kemudian dilanjutkan dengan pemberian edukasi mengenai bahaya seks bebas, dan diakhiri dengan post-test guna mengevaluasi efektivitas dari edukasi yang telah diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, 31,25% siswa berada pada kategori pengetahuan rendah, 46,87% cukup, dan 21,80% baik. Setelah edukasi, siswa dengan pengetahuan rendah menurun menjadi 15,62%, kategori cukup menjadi 25%, dan kategori baik meningkat menjadi 59,38%. Rata-rata nilai pengetahuan meningkat dari 62,81 menjadi 78,90 setelah edukasi dilakukan. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa edukasi efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja terhadap bahaya seks bebas.   Free socializing among teenagers in the millennial era remains a serious issue, especially due to technological advances that facilitate access to information, including risky content. This study aims to examine the implementation of Health Education on teenagers' knowledge about the dangers of free sex. The research uses a case study design with a descriptive approach, involving 32 students selected through purposive sampling. Data collection was conducted using a questionnaire containing 20 questions with a Guttman scale, where each correct answer was scored 1 and each incorrect answer scored 0. The data collection process was carried out in three stages: starting with a pre-test to measure initial knowledge, followed by providing education about the dangers of free sex, and concluding with a post-test to evaluate the effectiveness of the education given. The results showed that before the education, 31.25% of students were in the low knowledge category, 46.87% moderate, and 21.80% high. After the education, the percentage of students with low knowledge decreased to 15.62%, moderate to 25%, and those with high knowledge increased to 59.38%. The average knowledge score rose from 62.81 to 78.90 after the education was conducted. The conclusion indicates that health education is effective in improving teenagers' understanding of the dangers of free sex.
Efektivitas Terapi Bermain Kata Terhadap Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Pra Sekolah Natasha Putri Azrina; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/av91jy21

Abstract

Menurut World Health Organization (WHO), gangguan perkembangan bahasa terjadi cukup tinggi di seluruh dunia, dengan angka sebesar 27,5% atau sekitar tiga juta anak. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan pada tahun 2023 melaporkan sekitar 0,4 juta (16%) anak mengalami gangguan perkembangan. Salah satu hambatan umum pada anak usia pra sekolah adalah keterlambatan bicara yang berdampak pada kemampuan membaca, verbal, sosial, psikososial, dan prestasi akademik. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran, baik dari segi metode maupun media, untuk meningkatkan minat dan partisipasi anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi bermain kata terhadap perkembangan bahasa anak usia pra sekolah dengan keterlambatan bicara di PSAA Balita Tunas Bangsa. Desain penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Metode yang digunakan non probability sampling dengan pendekatan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 4 anak (2 laki-laki dan 2 perempuan) dengan mayoritas berusia 3 tahun 6 bulan. Instrumen yang digunakan berupa wawancara, lembar observasi bermain kata, dan KPSP. Hasil menunjukkan nilai rata-rata perkembangan bahasa sebelum terapi adalah 1,43 (kurang) dan setelah terapi meningkat menjadi 2,81 (baik) dengan selisih 1,38. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi bermain kata efektif meningkatkan perkembangan bahasa pada anak usia pra sekolah dengan keterlambatan bicara di PSAA Balita Tunas Bangsa.   According to the World Health Organization (WHO), language development disorders occur at a relatively high rate worldwide, with a prevalence of 27.5% (3million children. In Indonesia, the Ministry of Health reported in 2023 that around 0.4 million (16%) children experience developmental disorders. One common obstacle among preschool-aged children is speech delay, which affects reading ability, verbal skills, social and psychosocial development, and academic performance. Therefore, effective and enjoyable learning strategies, both in terms of methods and media, are needed to enhance children’s interest and participation. This study aims to examine the effect of word play therapy on the language development of preschool children with speech delays at PSAA Balita Tunas Bangsa. The research design uses a case study with a descr  iptive approach. The method applied is non-probability sampling with a purposive sampling technique. The sample consisted of 4 children (2 boys and 2 girls), the majority of whom were 3 years and 6 months old. The instruments used included interviews, word play observation sheets, and KPSP. The results showed that the average language development score before therapy was 1.43 (poor), which increased to 2.81 (good) after therapy, with a difference of 1.38. These results indicate that word play therapy is effective in improving language development in preschool children with speech delays at PSAA Balita Tunas Bangsa
Efektivitas Edukasi Hand Hygiene Dalam Upaya Menurunkan Penyakit ISPA Dengan Metode Audio Visual Pada Anak Usia Pra Sekolah Chintya Dewi; Fitri Anggraeni; Dwi Ambarwati
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 4 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/g0hkyx14

Abstract

Anak usia prasekolah merupakan kelompok rentan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat sistem imun yang belum berkembang optimal. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah peningkatan perilaku hand hygiene sejak dini melalui edukasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi edukasi hand hygiene menggunakan media audio visual serta kecenderungan perubahannya terhadap keterampilan mencuci tangan dan gejala ISPA pada anak usia prasekolah di PSAA Balita Tunas Bangsa. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian dipilih secara purposive sampling sebanyak empat anak prasekolah yang mengalami ISPA. Intervensi berupa edukasi hand hygiene berbasis audio visual diberikan selama tiga hari berturut-turut. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi keterampilan hand hygiene dan klasifikasi gejala ISPA sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor keterampilan hand hygiene dari 13,1 menjadi 17,4 serta penurunan rata-rata skor klasifikasi gejala ISPA dari 8 menjadi 3,5. Temuan ini menunjukkan adanya kecenderungan perbaikan keterampilan mencuci tangan yang diikuti dengan penurunan gejala ISPA setelah pemberian edukasi. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah subjek yang kecil dan desain deskriptif sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan. Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi edukasi kesehatan berbasis audio visual dalam praktik keperawatan komunitas anak.   Preschool-aged children are a vulnerable population to Acute Respiratory Infections (ARI) due to their immature immune systems. One preventive strategy to reduce ARI risk is promoting proper hand hygiene behavior through early health education. This study aimed to describe the implementation of audio-visual-based hand hygiene education and its observed tendency to improve handwashing skills and reduce ARI symptoms among preschool children at PSAA Balita Tunas Bangsa. This research employed a descriptive case study design. Four preschool children diagnosed with ARI were selected using purposive sampling. The intervention consisted of hand hygiene education delivered through audio-visual media over three consecutive days. Data were collected using observation sheets assessing hand hygiene skills and ARI symptom classification before and after the intervention. The results showed an increase in the average hand hygiene skill score from 13.1 to 17.4, along with a decrease in the average ARI symptom classification score from 8 to 3.5. These findings indicate a tendency toward improved hand hygiene skills accompanied by reduced ARI symptoms following the educational intervention. However, this study is limited by a small sample size and a descriptive design, which restrict the generalizability of the findings. Nevertheless, the results may serve as preliminary evidence to support the development of audio-visual-based health education interventions in pediatric community nursing practice.
The Effectiveness of Support Group Therapy on Depression and Anxiety Levels Among the Elderly in The Halim Subdistrict of East Jakarta Sri Hunun Widiastuti; Harwina Widya Astuti; Khaerul Amri; Santa Maria Pangaribuan; Luluk Eka Meylawati; Nawang Pujiastuti; Fitri Anggraeni
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 13 No. 2 (2025): December
Publisher : Faculty of Nursing, Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v13i2.10456

Abstract

Aging is often accompanied by physiological, psychological, and social changes that increase the risk of mental health problems, particularly depression and anxiety. Effective psychosocial interventions are needed to help older adults manage these challenges and improve their well-being. This study aimed to determine the effect of Support Group Therapy on reducing depression and anxiety levels among older adults in Halim Village, East Jakarta. This study employed a quantitative quasi-experimental design with a pre-test–post-test approach. The sample consisted of 34 older adults selected using purposive sampling based on predetermined inclusion criteria. The intervention was delivered through 10 structured sessions, each focusing on specific topics related to emotional well-being and peer support. Data normality was tested using the Kolmogorov–Smirnov test, while statistical analysis was conducted using paired t-tests and independent sample t-tests. The results showed a significant difference (p < 0.001) in depression and anxiety levels before and after the intervention, indicating that Support Group Therapy is effective in reducing depression and anxiety among the elderly. These findings contribute to nursing practice, particularly in mental health nursing, by supporting Support Group Therapy as an effective psychosocial intervention to improve the mental health of older adults. This intervention may be implemented sustainably in community settings and health care facilities that provide services for the elderly.
Optimalisasi manuver valsalva untuk mengurangi nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara Fitri Anggraeni; Luluk Eka Meylawati; Suroso Suroso; Ridho Fidrajaya
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.3935

Abstract

Background: Rapid changes in air pressure can create a pressure imbalance between the middle ear cavity and the external environment, often resulting in ear pain, a sensation of fullness, ringing in the ears (tinnitus), temporary hearing impairment, and other forms of discomfort. This condition, known as ear barotrauma, occurs due to environmental pressure changes such as during aircraft takeoff or landing, diving activities, or while inside pressurized environments like hyperbaric chambers. The Valsalva maneuver is a method used to alleviate this issue; it involves closing the nose and mouth and attempting to exhale, thereby increasing air pressure within the nasal cavity and Eustachian tubes. Purpose: To optimize the Valsalva maneuver technique as a non-invasive intervention for reducing ear pain caused by air pressure changes in patients undergoing hyperbaric chamber therapy. Method: This activity consisted of interactive education and practical training conducted at the Hyperbaric Unit of Dr. Mintohardjo Naval Hospital (RSAL). The target audience comprised patients at high risk of developing ear pain (ear barotrauma) due to air pressure fluctuations during hyperbaric therapy. Twenty-eight patients participated in the activity. Respondents' knowledge and understanding were assessed using a "one-group pretest-posttest" design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Practical proficiency was evaluated through observation of the respondents performing the Valsalva maneuver during a simulation. Evaluation involved comparing pretest and posttest results to measure knowledge gains and observing the practical skills demonstrated during the maneuver. The data were analyzed descriptively to assess the success of the education and training regarding the Valsalva maneuver in patients prone to ear pain. Results: The study showed that the mean age of participants was 52.9 years, with the majority (11 participants or 39.3%) falling within the 45–59 age range. Most participants were male (17 participants or 60.7%). Pre-test and post-test results indicated an improvement in category distribution, rising from 8 individuals (28.6%) to 23 individuals (82.1%) an increase of 53.5%. Conclusion: Community service activities comprising education via standing banners, demonstrations, and hands-on practice were highly effective in enhancing the knowledge and understanding of patients undergoing hyperbaric therapy regarding the application of the Valsalva maneuver. Improved proficiency in performing the maneuver also reduced anxiety associated with confined spaces (claustrophobia), prevented panic caused by ear pain or ringing resulting from pressure changes, and fostered the confidence needed for the procedure to proceed smoothly and without injury. Suggestion: It is recommended that RSAL dr. Mintohardjo specifically the hyperbaric unit provide standing banners and offer ongoing education to support the dissemination of health information regarding the Valsalva maneuver to the wider community. Keywords: Air pressure changes; Ear barotrauma; Hyperbaric therapy; Valsalva maneuver Pendahuluan: Perubahan tekanan udara yang terjadi secara cepat dapat menimbulkan tekanan tidak seimbang antara rongga telinga tengah dan lingkungan luar, sehingga sering menyebabkan nyeri telinga, rasa penuh, berdengung, gangguan pendengaran sementara dan ketidaknyamanan lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai barotrauma telinga yang terjadi karena ada perubahan lingkungan seperti saat pesawat lepas landas atau mendarat, aktivitas menyelam dan juga saat berada di dalam ruang bertekanan seperti hyperbaric chamber. Manuver valsalva merupakan salah satu metode untuk mengurangi masalah tersebut dengan menutup hidung dan mulut lalu mencoba menghembuskan napas sehingga tekanan udara di rongga hidung dan tuba eustachius meningkat. Tujuan: Mengoptimalkan teknik manuver valsalva sebagai intervensi non-invasif untuk mengurangi nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara pada pasien yang menjalani terapi di ruang hyperbaric chamber. Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan di Ruang Hyperbarik RSAL dr. Mintohardjo. Sasaran kegiatan ini adalah pasien yang memiliki risiko tinggi terjadinya nyeri telinga (ear barotrauma) akibat perubahan tekanan udara selama proses terapi hiperbarik. Kegiatan ini melibatkan 28 pasien untuk menjadi partisipan. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik manuver valsalva. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest untuk melihat peningkatan pengetahuan dan pengamatan dari keterampilan praktik menerapkan manuver valsalva. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan manuver valsalva pada pasien dengan terjadinya nyeri telinga. Hasil:  Menunjukkan bahwa usia rata-rata partisipan adalah 52.9 tahun dan mayoritas berada direntang usia 45-59 tahun yaitu sebanyak 11 partisipan (39.3%). Sebagian besar partisipan berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 17 partisipan (60.7%). Dengan hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya perubahan distribusi kategori menjadi lebih baik dari 8 orang (28.6%) menjadi 23 orang (82.1%), atau mengalami peningkatan sebesar 53.5%. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi menggunakan media standing banner, demonstrasi, dan praktik langsung sangat efektif meningkatkan pengetahuan serta pemahaman pasien yang sedang menjalani terapi hiperbarik dalam menerapkan manuver valsalva. Peningkatan kemampuan pasien dalam menerapkan manuver valsalva juga mengurangi rasa cemas pasien di ruang sempit (klaustrofobia), mencegah kepanikan saat telinga terasa sakit atau berdengung akibat perubahan tekanan, serta membangun rasa percaya diri agar prosedur berjalan lancar tanpa cedera.  Saran: Diharapkan kepada RSAL dr. Mintohardjo khususnya di ruang hiperbarik untuk menyediakan standing banner dan memberikan edukasi keberlanjutan sebagai upaya mendukung penyebaran informasi kesehatan tentang manuver valsalva agar dapat diterima kepada masyarakat yang lebih luas.
Implementasi Terapi Bermain Tebak Gambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara dan Berbahasa Pada Anak Usia Pra Sekolah di TK Islam Arafah Naila Harland’s Salsabila; Dwi Ambarwati; Fitri Anggraeni
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 3 No. 2 (2026): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan (Impress)
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/3nngkr70

Abstract

Speech and language abilities are essential aspects of preschool children’s development because they support communication, social interaction, and learning. Children with speech and language delays require appropriate stimulation suited to their developmental stages. This study aimed to analyze the implementation of a picture-guessing game in improving the speech and language abilities of preschool children at Arafah Islamic Kindergarten. A quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest–posttest design without a control group was employed. The participants were five children aged 3–5 years, selected through purposive sampling based on initial screening using the Developmental Pre-Screening Questionnaire (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan/KPSP) and an observation sheet. The picture-guessing stimulation was administered for four days. Data were collected before and after the intervention using the KPSP and observation sheet. The results showed an increase in the mean observation score from 16.44 to 19.11 and the mean KPSP score from 2.6 to 3.4. Improvements were observed in vocabulary production, responses to simple questions, comprehension of instructions, and verbal expression. Therefore, picture-guessing games have the potential to improve preschool children’s speech and language abilities.
Peningkatan Sarana Prasarana Pembelajaran Melalui Revitalisasi dan Penyediaan Alat Permainan Edukatif di TKQ/TPQ Al Mubtadi-in Muryan Awaludin; Hepi Nuryadi; Fitri Anggraeni
Journal Liaison Academia and Society Vol 5 No 3: September 2025
Publisher : Lembaga Komunikasi dan Informasi Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58939/j-las.v5i3.967

Abstract

p Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pembelajaran di TKQ/TPQ Al Mubtadi-in melalui revitalisasi fisik dan penyediaan Alat Permainan Edukatif (APE). Metode yang digunakan meliputi observasi, sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan penerapan teknologi. Hasilnya, sebanyak 13 jenis APE baru berhasil disediakan, ruang kelas direvitalisasi, sistem inventaris digital dibangun, serta website sekolah dikembangkan. Pelatihan guru dan orang tua juga dilaksanakan dengan tingkat partisipasi tinggi. Dampak yang terlihat antara lain peningkatan antusiasme belajar anak, kreativitas guru, efisiensi administrasi, dan partisipasi masyarakat. Simpulan dari program ini adalah pendekatan holistik yang menggabungkan revitalisasi fisik, penyediaan APE, dan pemanfaatan teknologi dapat secara signifikan meningkatkan kualitas pembelajaran dan tata kelola lembaga pendidikan anak usia dini.