Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Derajat Lesi Radiografi Toraks pada Pasien Tuberkulosis Paru Dewasa Disertai Diabetes Melitus Tipe 2 tidak Terkontrol dengan Nilai Rasio Neutrofil Limfosit di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan Periode 2024 Syabla, Syazin; soekardi, Adi; Anggraini, Tri Lidya
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i10.62373

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia dan menjadi lebih berat bila disertai Diabetes Melitus Tipe 2 (DM tipe 2) tidak terkontrol, karena hiperglikemia kronis melemahkan sistem imun dan memperparah kerusakan jaringan paru. Kondisi ini tampak melalui derajat lesi radiografi toraks dan peningkatan rasio Neutrofil-Limfosit (NLR) sebagai penanda inflamasi sistemik. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara derajat lesi radiografi toraks dan nilai NLR pada pasien TB paru dewasa dengan DM tipe 2 tidak terkontrol di RSU Royal Prima Medan. Metode penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional dilakukan pada 36 pasien TB paru dewasa dengan DM tipe 2 tidak terkontrol tahun 2024. Data diperoleh dari pemeriksaan radiografi toraks dan laboratorium, dianalisis menggunakan uji Chi-Square (p < 0,05). Hasil menunjukkan mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki (80,6%), usia >65 tahun (33,3%), dan memiliki derajat lesi Moderately Advanced (50%), diikuti Far Advanced (38,9%) dan Minimal (11,1%). Gambaran radiologis tersering adalah infiltrat dan kombinasi konsolidasi-infiltrat (masing-masing 11,1%). Sebanyak 72,2% pasien mengalami neutrofilia dan 47,2% memiliki NLR kategori intermediate. Terdapat hubungan bermakna antara derajat lesi radiografi toraks dan nilai NLR (p = 0,003), menunjukkan semakin berat lesi paru, semakin tinggi tingkat inflamasi sistemik. Kesimpulannya, terdapat hubungan signifikan antara derajat lesi radiografi toraks dan NLR pada pasien TB paru dengan DM tipe 2 tidak terkontrol. Disarankan pasien menjaga kontrol gula darah dan kepatuhan terapi, tenaga kesehatan melakukan skrining ganda TB-DM, serta memanfaatkan NLR sebagai indikator inflamasi.
Hubungan Derajat Lesi Radiografi Toraks Pada Pasien Tuberkulosis Paru Dewasa Disertai Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol dengan Nilai Rasio Neutrofil Limfosit Di Rumah Sakit Umum Royal, Prima Medan Periode 2024 Ara, Siti Marshanda; soekardi, Adi; Anggraini, Tri Lidya
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i10.62382

Abstract

Tuberkulosis paru (TBC paru) masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, terutama bila disertai diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) yang dapat menurunkan imunitas dan meningkatkan inflamasi sistemik. Rasio neutrofil-limfosit (NLR) merupakan indikator sederhana untuk menilai tingkat inflamasi, sedangkan derajat lesi radiografi toraks menggambarkan tingkat keparahan penyakit paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter luas derajat lesi dan hubungan antara derajat lesi radiografi toraks dengan nilai NLR pada pasien TBC paru dewasa disertai DM tipe 2 terkontrol di RSU Royal Prima Medan periode 2024. Desain penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 32 pasien. Data diperoleh dari hasil pemeriksaan radiografi toraks, laboratorium, dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki derajat lesi Moderately Advanced (37,5%), dan kategori NLR terbanyak adalah intermediate inflammation (43,8%). Uji Chi-Square menghasilkan p = 0,960 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan signifikan antara derajat lesi radiografi toraks dan nilai NLR. Kesimpulannya, tingkat keparahan lesi paru tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat inflamasi sistemik pada pasien TBC paru dengan DM tipe 2 terkontrol. Disarankan pasien tetap menjaga kontrol glukosa darah, sementara fasilitas kesehatan memperkuat skrining TB-DM dan pemantauan biomarker inflamasi.
Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Amenore Sekunder Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Angkatan 2022 Universitas Prima Indonesia Sembiring, Revalina Br; Anggraini, Tri Lidya; Soekardi, Adi
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i12.8969

Abstract

Amenore sekunder adalah tidak adanya menstruasi selama tiga bulan atau enam bulan berturut-turut pada wanita yang sebelumnya telah mengalami menstruasi. Salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian ini, khususnya pada mahasiswi, adalah stres. Beban akademik, sosial, dan tuntutan lingkungan disekitarnya dapat mengganggu fungsi aksis hipotalamus-pituitari-ovarium (HPO) yang mengatur siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kejadian amenore sekunder pada mahasiswi. Penelitian ini menggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah mahasiswi di Universitas Prima Indonesia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan total sampel sebanyak 101 orang. Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner DASS 42, sementara kejadian amenore sekunder ditentukan berdasarkan riwayat menstruasi mahasiswi. Analisis data menggunakan uji statistik spearman rho untuk menguji hubungan antara dua variabel, dengan tingkat kemaknaan P<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswi memiliki tingkat stres tidak stres dan sebagian kecil mengalami amenore sekunder. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian amenore sekunder (p-value = <0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kejadian amenore sekunder pada mahasiswi. Peningkatan tingkat stres berpotensi menjadi faktor pemicu gangguan siklus menstruasi.
Autologous Dendritic Cell Immunotherapy Modulates Renal Perfusion and Hemodynamics in Diabetic Kidney Soekardi, Adi; Chiuman, Linda; Ginting, Chrismis Novalinda
The Indonesian Biomedical Journal Vol 18, No 1 (2026)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v18i1.3878

Abstract

BACKGROUND: Diabetic kidney disease (DKD) is driven by chronic inflammation and endothelial dysfunction, which often persist despite standard pharmacological treatments. Autologous dendritic cell (DC) immunotherapy offers a novel approach to restore immune homeostasis and improve renal vascular function. While the use of autologous DC for immune homeostasis has been previously discussed, not many studies have explicitly reported on the modulation of renal perfusion parameters, such as peak systolic velocity (PSV) and resistive index (RI), following DC immunotherapy. Therefore, this study was conducted to evaluate the effect of autologous DC administration on renal hemodynamics, including PSV and RI, as well as inflammatory biomarkers, including tumor necrosis factor (TNF)-α and vascular cell adhesion molecule (VCAM-1) in DKD patients.METHODS: Thirty-one DKD patients were selected via simple random sampling. All subjects underwent autologous DC therapy, which was administered via intravenous infusion at a concentration of approximately 1×107 cells suspended in 100 mL of normal saline. PSV and RI were measured using Renal Doppler Ultrasonography, while TNF-α and VCAM-1 were quantified using the Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method. All measurements were conducted before intervention and 60 days after intervention to evaluate the therapeutic efficacy.RESULTS: DC therapy led to significant alterations in renal hemodynamic parameters. The mean PSV decreased from 52.74 to 38.21 cm/s (p=0.016), while RI showed a modest increase from 0.7350 to 0.7550 (p=0.028). Greater hemodynamic effects were observed in patients with well-controlled glycemia, lower serum urea, and microalbuminuria. In contrast, no significant changes were detected in TNF-α and VCAM-1 levels.CONCLUSION: Autologous DC therapy delivers measurable, statistically significant benefits in renal vascular parameters for DKD, particularly in early-stage disease and metabolically stable patients. These findings may support DC therapy as a promising adjunctive strategy to improve renal microcirculation in DKD. KEYWORDS: diabetic kidney disease, dendritic cell therapy, TNF-α, VCAM-1, PSV, RI