Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Asuransi Dan Koperasi Syariah Di Indonesia: (Kajian Filosofis, Historis, Yuridis Dan Sosiologis) Wahyu Akbar; Khasyi’in, Nuril
At-Tasyri': Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol. 4 No. 02 (2023)
Publisher : Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Riyadlatul Mujahidin Ngabar (IAIRM) Ponorogo.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55380/tasyri.v4i2.463

Abstract

This paper aims to optimize Islamic insurance and cooperatives in Indonesia, reviewed from philosophical, historical, juridical and sociological studies. The method used is library research which examines literature analyzed qualitatively using a sociological, historical, juridical, and philosophical approach. The study results show that insurance and cooperatives carry the spirit of togetherness and help each other. The spirit of insurance and cooperatives is deeply rooted in Indonesian society; it's just that they are not institutionalized regularly. The Indonesian government is trying to accommodate insurance and cooperatives in various laws and regulations legally. However, there is still a need for firmness and clarity regarding the Sharia insurance and cooperatives law, especially if there is a dispute. In addition, insurance and cooperatives must improve their practice and understanding so that the community feels their benefits.
Asuransi dan Koperasi Syariah di Indonesia: (Kajian Filosofis, Historis, Yuridis dan Sosiologis) Wahyu Akbar; Anshary, A. Hafiz; Umar, Masyitah; Khasyi’in, Nuril
AT-TASYRI': JURNAL ILMIAH PRODI MUAMALAH Vol. 16 No. 1 (2024): At-Tasyri': Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syariah STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/tasyri.v16i1.1973

Abstract

This paper aims to optimize Islamic insurance and cooperatives in Indonesia, reviewed from philosophical, historical, juridical and sociological studies. The method used is library research which examines literature analyzed qualitatively using a sociological, historical, juridical, and philosophical approach. The study results show that insurance and cooperatives carry the spirit of togetherness and help each other. The spirit of insurance and cooperatives is deeply rooted in Indonesian society; it's just that they are not institutionalized regularly. The Indonesian government is trying to accommodate insurance and cooperatives in various laws and regulations legally. However, there is still a need for firmness and clarity regarding the Sharia insurance and cooperatives law, especially if there is a dispute. In addition, insurance and cooperatives must improve their practice and understanding so that the community feels their benefits.
PENDEKATAN FEMINIS (HISTORIS NARATIF) DAN GENDER DALAM HUKUM ISLAM Hikmah, Hikmah; Aseri, Akhmad Fauzi; Umar, Masyithah; Khasyi’in, Nuril
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.42460

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripkan tentang feminism dan gender dalam kajian sejarah dan implikasinya terhadap hukum Islam. Feminis dan gender adalah dua kata yang saling berkaitan dan menunjukan eksistensinya dalam perkembangan hukum di dunia. Tidak hanya hukum barat, dalam hukum Islam sendiri terjadi diskursus tentang feminis dan gender ini. Namun sampai saat ini, masih belum terjadi titik temu dan kesepakatan bahwa isu gender dan feminism ini di kalangan umat Islam pada umumnya. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, data yang diperoleh berasal dari sumber kepustakaan yang beragam, seperti buku-buku tafsir, fikih, jurnal akademik, dan hasil penelitian sebelumnya, yang secara khusus menyoroti perspektif gender dalam konteks historis hukum dan sosial. Penelitian ini menunjukan bahwa pendekatan feminism dan gender telah lama dimunculkan, tidak hanya di negara-negara Barat saja yang menerapkannya, tetapi negara Islam juga terimplikasi atas kajian tersebut. Termasuk Indonesia, yang saat ini banyak mengadopsi teori feminism dan gender dalam banyak regulasi baik hukum positif secara umum maupun hukum Islam itu sendiri (anak perempuan menghijab ahli waris saudara pewaris, syibhul iddah bagi laki-laki, harta bersama, dll).
Kedudukan Siyasah Dusturiyyah Studi Kasus Politisasi Pemilu 2024 Analisis Peradilan Hukum Islam Jaidi, Muhammad; Hasan , Ahmadi; Umar , Masyithah; Khasyi’in, Nuril
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.543

Abstract

Abstract Analysis of the position of siyasah dusturiyyah (constitutional politics) in the context of the politicization of the 2024 Elections in Indonesia and from the perspective of Islamic judicial law. The research employs a qualitative approach with descriptive-analytical methods, examining relevant literature and secondary data to reveal how siyasah dusturiyyah is applied in the political and legal processes of elections. The findings indicate that siyasah dusturiyyah is a fundamental element in the formation of state law, encompassing legislation, government administration, and the enforcement of fair and transparent laws in accordance with Sharia principles. In the context of the 2024 Elections, integrity and neutrality are highlighted as key factors in ensuring fairness and representativeness in governance. The Constitutional Court (MK) plays a strategic role in resolving electoral disputes, upholding the rule of law, and ensuring the electoral process is fair. The research asserts that the collaboration between law and politics through the siyasah dusturiyyah framework can create a stable, just, and accountable governance system. By applying Sharia principles in political and legal processes, the government can reflect Islamic teachings while fulfilling the aspirations of society as a whole. Integrity and transparency in elections are identified as imperative to achieve a representative and just government. Keywords: Siyasah Dusturiyyah, Election Politicization, 2024 Elections, Islamic Law, Judicial Analysis, Position. Abstrak Analisis kedudukan siyasah dusturiyyah (politik perundang-undangan) dalam konteks politisasi Pemilu 2024 di Indonesia dan dari perspektif peradilan hukum Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, mengkaji literatur dan data sekunder yang relevan untuk mengungkap bagaimana siyasah dusturiyyah diterapkan dalam proses politik dan hukum pemilu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa siyasah dusturiyyah merupakan elemen fundamental dalam pembentukan hukum negara, mencakup pembuatan undang-undang, administrasi pemerintahan, dan penegakan hukum yang adil dan transparan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Dalam konteks Pemilu 2024, integritas dan netralitas dinyatakan sebagai faktor kunci untuk menjamin keadilan dan representativitas pemerintahan. Mahkamah Konstitusi (MK) berperan strategis dalam menyelesaikan sengketa pemilu, menegakkan aturan hukum, dan memastikan proses pemilu berjalan dengan adil. Penelitian ini menegaskan bahwa kolaborasi antara hukum dan politik melalui kerangka siyasah dusturiyyah dapat menciptakan sistem pemerintahan yang stabil, adil, dan akuntabel. Dengan menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam proses politik dan hukum, pemerintah dapat mencerminkan ajaran Islam sekaligus memenuhi aspirasi masyarakat secara menyeluruh. Integritas dan transparansi dalam pemilu diidentifikasi sebagai keharusan untuk mencapai pemerintahan yang representatif dan berkeadilan. Kata Kunci: Siyasah Dusturiyyah, Politisasi Pemilu, Pemilu 2024, Hukum Islam, Analisis Peradilan, Kedudukan.
Pendekatan Sosio-Legal Terhadap Fatwa: Analisis Kedudukan dan Peran Fatwa MUI di Indonesia Luthfi, Fuad; Aseri, A. Fauzi; Umar, Masyithah; Khasyi’in, Nuril
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 4 (2024): This volume covers topics such as women's rights, inheritance law, crime preven
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i4.824

Abstract

Abstract Fatwa, as a legal opinion issued by Islamic scholars, plays a significant role in Indonesian society. While the normative approach to fatwa analysis emphasizes textual and doctrinal aspects, the sociological (socio-legal) approach offers a more comprehensive understanding by considering the social dynamics influencing fatwa issuance. In Indonesia, the Indonesian Ulema Council (MUI) is the authorized institution to issue fatwas on various religious issues. The socio-legal approach explores the interaction between legal norms and societal values in the fatwa-making process and its impact on social behavior and legal compliance. Fatwas are not only influenced by religious texts but also by the social, cultural, and political context in which they are issued. The socio-legal approach aims to understand the role of fatwas in societal dynamics and their relevance in facing modern challenges. Although fatwas do not have formal binding power like laws, they are often used as references in policy-making and legislation. The socio-legal approach to fatwas in Indonesia demonstrates that fatwas are not solely derived from religious texts but also result from the interaction between law, social norms, and contemporary societal conditions. This approach ensures the relevance of fatwas to changing social dynamics while maintaining the fundamental principles of sharia. The role of fatwas in modern society is significantly influenced by the social context and prevailing legal system, requiring religious authorities to carefully consider both aspects in the fatwa-making process. Keywords: Approach, Sociology, Fatwa Abstrak Fatwa, sebagai pendapat hukum yang dikeluarkan oleh para ulama, memainkan peran penting dalam masyarakat Indonesia. Sementara pendekatan normatif terhadap analisis fatwa menekankan pada aspek tekstual dan doktrinal, pendekatan sosiologis (sosio-legal) menawarkan pemahaman yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan dinamika sosial yang mempengaruhi penerbitan fatwa. Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga yang berwenang mengeluarkan fatwa tentang berbagai masalah keagamaan. Pendekatan sosio-legal mengeksplorasi interaksi antara norma-norma hukum dan nilai-nilai masyarakat dalam proses pembuatan fatwa dan dampaknya terhadap perilaku sosial dan kepatuhan hukum. Fatwa tidak hanya dipengaruhi oleh teks-teks agama tetapi juga oleh konteks sosial, budaya, dan politik di mana fatwa tersebut dikeluarkan. Pendekatan sosio-legal bertujuan untuk memahami peran fatwa dalam dinamika masyarakat dan relevansinya dalam menghadapi tantangan modern. Meskipun fatwa tidak memiliki kekuatan mengikat secara formal seperti undang-undang, fatwa sering digunakan sebagai referensi dalam pembuatan kebijakan dan legislasi. Pendekatan sosio-legal terhadap fatwa di Indonesia menunjukkan bahwa fatwa tidak semata-mata berasal dari teks-teks agama, tetapi juga merupakan hasil dari interaksi antara hukum, norma-norma sosial, dan kondisi masyarakat kontemporer. Pendekatan ini memastikan relevansi fatwa dengan dinamika sosial yang terus berubah dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip dasar syariah. Peran fatwa dalam masyarakat modern sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan sistem hukum yang berlaku, sehingga mengharuskan otoritas keagamaan untuk mempertimbangkan kedua aspek tersebut secara hati-hati dalam proses pembuatan fatwa. Kata kunci: Pendekatan, Sosiologi, Fatwa
Maslahah Mursalah Dan Istidlal Sebagai Dasar Kewajiban Pencatatan Nikah: Analisis Normatif Terhadap Perlindungan Hak Perempuan Dan Anak Yoandini, Elitta; Khasyi’in, Nuril
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1613

Abstract

Praktik nikah siri masih menjadi fenomena yang menimbulkan dampak serius terhadap perlindungan hak perempuan dan anak di Indonesia. Ketiadaan pencatatan nikah menyebabkan hilangnya kepastian hukum atas status perkawinan, sehingga perempuan dan anak rentan kehilangan hak-hak fundamental seperti nafkah, waris, identitas hukum, dan perlindungan dari kekerasan. Penelitian ini menggunakan metode normatif-regulatif dengan menelaah ketentuan fikih klasik, ijtihad kontemporer, serta regulasi nasional, termasuk Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 dan Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2024 tentang Pencatatan Pernikahan. Analisis berfokus pada Maslahah Mursalah sebagai basis perlindungan hukum bagi perempuan dan anak serta Istidlal para ulama kontemporer yang menegaskan urgensi administratif pencatatan nikah dalam konteks sosial modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencatatan nikah merupakan manifestasi kemaslahatan syariah yang sejalan dengan maqasid al-shari‘ah, terutama hifz al-nasab, hifz al-‘ird, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa kewajiban pencatatan nikah, baik secara hukum positif maupun syariah, merupakan keharusan yang didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan publik dan pencegahan mudarat, sehingga menjadi wajib dalam kerangka perlindungan hukum keluarga di Indonesia.
Pendekatan Sosial-Reliji Sir Ahmad Khan Dalam Justifikasi Penundaan Usia Perkawinan Karena Pendidikan: Suatu Kajian Normatif-Reformis Azizah, Noor Syifa Amaliah; Khasyi’in, Nuril
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1635

Abstract

Fenomena menunda perkawinan semakin menguat dalam masyarakat Muslim kontemporer seiring meningkatnya akses pendidikan dan kebutuhan kualitas sumber daya manusia. Namun, secara teologis, sebagian pandangan klasik masih menekankan percepatan nikah sebagai idealitas syariah. Penelitian ini menggunakan metode normatif-sosiologis dengan menggabungkan kajian nash, literatur fikih, karya-karya Ahmad Khan, serta realitas sosial pendidikan sebagai konteks modern. Pendekatan historis, konseptual, maqasid al-syariah, dan perundang-undangan digunakan untuk memperkuat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahmad Khan memandang pendidikan sebagai fondasi rasionalitas, kemajuan, dan reformasi umat. Dalam kerangka reformisme Islam, penundaan perkawinan bukan bentuk pengabaian ajaran agama, tetapi strategi sosial untuk mencapai maslahat melalui peningkatan kapasitas intelektual dan kesiapan individu. Pendidikan ditempatkan sebagai bagian integral dari pemeliharaan akal dan penjamin kualitas keturunan. Pemikiran ini sejalan dengan kebijakan hukum positif Indonesia, khususnya kenaikan batas usia perkawinan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang menekankan perlindungan anak dan kesiapan pendidikan. Dengan demikian, penundaan usia perkawinan karena pendidikan memiliki landasan normatif dan relevansi syariah dalam perspektif reformisme Islam. Penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi maqasid dan reformisme hukum keluarga untuk merespons kebutuhan masyarakat modern.
TA‘ABBUDI AND TA‘AQQULI OBJECTS IN THE DETERMINATION OF IDDAH MAINTENANCE: A NORMATIVE MAQASIDI STUDY Rizani, Muhammad; Khasyi’in, Nuril
International Journal of Multidisciplinary Reseach Vol. 1 No. 5 (2025): Desember
Publisher : International Journal of Multidisciplinary Reseach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the normative structure of iddah maintenance in Islamic family law through an integrative framework that combines classical fiqh, maqāṣid al-sharī‘ah, and Indonesian positive law. Although the Qur’an affirms the obligation to provide financial protection for women after divorce, the practice of Religious Courts in Indonesia demonstrates significant disparities in determining the amount of iddah maintenance. These irregularities arise from the lack of a clear distinction between the ta‘abbudi dimension, which is fixed and ritual in nature, and the ta‘aqquli dimension, which is rational and contextual, in understanding this legal provision. This study employs a normative legal research method using statutory, conceptual, historical, and comparative approaches. The findings indicate that the obligation of iddah maintenance is grounded in a ta‘abbudi dimension derived directly from the Qur’anic and Prophetic texts. Nevertheless, the form, amount, and mechanism of its fulfillment fall within the ta‘aqquli domain, determined by the husband’s economic capacity, the wife’s reasonable needs, and prevailing socio-economic conditions. An examination of classical fiqh reveals methodological diversity, in which the Hanafi and Maliki schools emphasize maslahah and the protection of women, while the Shafi‘i and Hanbali schools adopt a more textualist and restrictive approach. Judicial practice in Indonesian Religious Courts demonstrates a growing tendency to employ maqāṣid-based reasoning, particularly with regard to the protection of life (ḥifẓ al-nafs), property (ḥifẓ al-māl), and the principle of al-ma‘rūf. This study concludes that iddah maintenance constitutes a hybrid legal norm whose obligation is fixed, while its implementation is context-dependent, and therefore recommends the formulation of more comprehensive judicial guidelines.