Claim Missing Document
Check
Articles

PENENTUAN MASA SIMPAN PRODUK OLAHAN SIOMAY BERBASIS KROKOT (Portulaca oleracea L.) : Determination Of The Shelf Period Of Krokot-Based Siomay ProductS (Portulaca oleracea L.) Evan, Luky; Musholaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Journal Of Industrial Engineering & Technology Innovation Vol. 1 No. 1 (2023): Journal Of Industrial Engineering & Technology Innovation (JIETI)
Publisher : LENVARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jieti.v1i1.15

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi parameter uji pada produk siomay berbasis krokot dengan pengemasan vacum, dan mengetahui lama umur simpan yang tepat pada suhu beku (-17˚C) berdasarkan hitungan perlakuan terbaik pada produk siomay berbasis krokot dengan pengemasan vacum. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. Uji laboratorium dengan metode Total Plate Count (TPC), kadar air, dan pengukuran pH. Rancangan Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak kelompok dengan 2 faktor yaitu pada setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 2 kali, sehingga total sampel terdapat sebanyak 18 unit sampel percobaan. Hasil penelitian diperoleh Kadar kimia pada siomay berbasis krokot dengan pengemasan vacum yaitu TPC (Total Plate Count) sebesar 1.43 cfu/g, kadar air sebesar 8.61%, dan pH (Power of Hydrogen) sebesar 6.10 dengan Lama umur simpan yang tepat berdasarkan hitungan perlakuan terbaik pada siomay berbasis krokot dengan pengemasan vacuum adalah selama 6 hari.
PEMANFAATAN LIMBAH IKAN TUNA DARI COLD STORAGE TUREN KABUPATEN MALANG SEBAGAI TERASI BUBUK: A Novel Method of Utilizing Tuna Waste from Turen Malang Regency’s Cold Storage to Make Powdered Shrimp Paste sephariadi, krisostomus; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Journal of Industrial Engineering & Technology Innovation Vol. 2 No. 1 (2024): Journal Of Industrial Engineering & Technology Innovation (JIETI)
Publisher : LENVARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jieti.v2i1.24

Abstract

Jeroan ikan tuna, (usus, hati, dan telur), merupakan sisa olahan ikan tuna yang baik dan tidak diolah menjadi makanan berkualitas, Salah satu metode penyimpanan dalam pengolahan jeroan ikan tuna yaitu terasi kering berbentuk bubuk dan padat dengan cara fermentasi. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengaruh kadar garam dan lama fermentasi terhadap mutu terasi jeroan ikan tuna bubuk dan mendapatkan kosentrasi garam dan lama fermentasi yang tepat untuk menghasilkan terasi jeroan ikan tuna bubuk yang memiliki kualitas terbaik. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang pada September 2022. Penelitian ini dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor. Data yang dapat dianalisis dengan analisis of variance (ANOVA) dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh pada perlakuan kosentrasi garam 8% dan lama fermentasi 8 hari. Untuk perlakuan terbaik terdapat pada kosentrasi kadar garam sebesar 2% dan lama fermentasi pada ke-8 hari. Pengaruh tersebut memiliki efek pada prameter kadar protein. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kandungan kosentrasi dengan rata-rata yang dihasilkan permasing-masing parameter yaitu kadar protein 31,33% 23.67%, kadar abu 44.03%, tekstur 4.78% aroma 4.73%, warna 4.63%, dan rasa 4.58%
PROSES PEMBUATAN MINUMAN CELUP DARI KOMBINASI KULIT KAYU AKWAY (Drimys .Sp) DAN KAYU MANIS (Cinnamomum .Sp): Processing and Production of Herbal Dipping Beverages: A Comparison of Akway (Drimys spp.) and Cinnamon (Cinnamomum spp.) Barks Ambu Kaka, Fransiska; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Journal Of Industrial Engineering & Technology Innovation Vol. 1 No. 2 (2023): Journal Of Industrial Engineering & Technology Innovation (JIETI)
Publisher : LENVARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jieti.v1i2.55

Abstract

Kayu akway digunakan terbatas oleh masyarakat papua barat sebagai peningkat stamina. Dengan manfaat yang hampir sama, kayu manis lebih sering digunakan dalam minuman. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan formulasi dan kelayakan ekonomi terbaik dari kombinasi serbuk kulit kayu akway dan kayu manis sebagai bahan dasar pembuatan serbuk minuman celup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik kombinasi serbuk kulit kayu akway dan kayu manis didapat pada rasio 30%:70%. Formulasi tersebut menghasilkan kadar abu sebesar 3,27%, total padatan terlarut 2,50° Brix. Panelis menyatakan suka dengan nilai rasa 4,20%, aroma 4,44%, serta warna 4,71%. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha, produksi dari minuman celup tersebut layak untuk diusahakan dengan nilai HPP sebesar Rp. 10.409, harga jual untuk 1 kotak minuman celup (setiap kotak berisi 20 kantong) adalah Rp. 15.000, BEP harga sebesar Rp. 128.143.439/tahun, laba/rugi tahunan sebesar Rp. 241.035.640/tahun dan RC/Ratio sebesar 1,44.
Analisis Kelayakan Finasial Produksi Jamu Beras Kencur Skala Rumah Tangga Moni, Kandida Juita; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Jurnal Riset Multidisiplin dan Inovasi Teknologi Том 2 № 01 (2024): Jurnal Riset Multidisiplin dan Inovasi Teknologi
Publisher : PT. Riset Press International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59653/jimat.v2i01.468

Abstract

Financial feasibility analysis is carried out to determine the financial feasibility of a product produced by industry, both large-scale industry and household-scale production. This research aims to obtain a calculation of the financial feasibility analysis of the kencur rice herbal drink product produced by the community on a household business scale. Aspects of financial feasibility analysis calculated in this research include COGS, BEP, R/C Ratio, NPV, IRR and PP. The results of the financial feasibility analysis show that the kencur rice herbal drink product is feasible to produce on a household scale or on a small scale. This is based on: (a) Cost of Production (HPP) of IDR 3,426; (b) selling price is IDR 6,500/bottle; (c) unit BEP of 16,255 and price BEP of IDR 105,655,630; (d) NPV with a positive value of IDR 524,143,499; (e) IRR for positive NPV is 60,390 and negative NPV is -287,375 which shows a higher figure compared to the bank interest rate, namely 212%; (f) R/C ratio of 1.90; (g) Payback Period which is shorter than the life of the project, namely 5 months.
Pendampingan Aplikasi Teknologi Pengolahan Sebagai Pakan Ikan Lele Di Bank Sampah Eltari M-230 Kelurahan Cemoro Kandang Kota Malang Menggunakan Maggot Tantalu, Lorine; Supartini, Nonok; Indawan, Edyson; Ahmadi, Kgs
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 4, No 2 (2022): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Oktober)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v4i2.11299

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan manfaat pentingnya maggot dalam meningkatkan taraf perekonomian menjadi bahan pakan khusus pelet ikan lele di POKJA Kelurahan Cemorokandang Kota Malang. Berkat kerjasama antara bank Sampah Eltari M-230 dan anggota kelompok kerja tersebut, kegiatan biokonversi sampah organik menggunakan maggot yang dilanjutkan dengan penentuan formulasi yang baik untuk dijadikan pelet bagi warga menjadi tujuan utama berlangsungnya program pengabdian kali ini. Tahapan yang dilakukan diantara pendekatan warga terkait kegiatan yang dilaksanakan, pengujian kandungan nutrisi yang ada pada fresh maggot dengan melalui tahapan pengeringan, formulasi pakan dengan hasil uji fresh maggot, dan pelatihan pemanfaatan maggot menjadi pakan yang tinggi nutrisi. Antusiasme setiap kegiatan terekam dengan baik dalam kegiatan pengabdian ini, hingga tercatat 29 71% peserta sangat paham dengan materi yang diberikan pada kegiatan pelatihan
ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL PRODUKSI JAMU KUNYIT ASAM SKALA RUMAH TANGGA (STUDI KASUS DI DESA JETAK PROGRAM KKNT-MBKM) Watang, Natalia D. Christy; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Referensi : Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/ref.v11i3.5228

Abstract

Jamu is a traditional medicine derived from plants which are processed into concoctions without the addition of chemicals. One of the herbal medicines that is widely known by the public is herbal turmeric tamarind. Herbal turmeric tamarind is a traditional drink whose raw materials are turmeric, tamarind and sugar. This tamarind turmeric herb can be categorized as an herbal drink that has health benefits. This research was conducted at the Process Engineering Laboratory, Tribhuwana Tunggadewi University, Malang, in April 2023. The analysis used in this study was qualitative analysis and quantitative analysis. For the business of the tamarind turmeric herbal product, it is said to be feasible, judging by the HPP of the tamarind and turmeric product, it is Rp. 2,911, the selling price of the tamarind and turmeric herbal product is Rp. 5,000 per bottle, BEP consists of two types, namely BEP units which are Rp. 22,725 and BEP prices which are Rp. 113.626.199, the RC Ratio is 1.72. The positive NPV is Rp. 389.722.401, the R/C ratio is 1.72. The IRR is 151% which is higher than the bank's interest rate depending on the NPV. PP is obtained for 239 days or 7 months 29 days shorter than the age of the business being carried out.  
Service quality and consumer satisfaction in a local agrifood café: a case study of Jazz Café, Malang Regency Mushollaeni, Wahyu; Sudirman, Sudirman; Tantalu, Lorine; Suhindra, Rahmad
Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE) Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Agricultural Socio-Economics (JASE)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jase.v6i1.23181

Abstract

Consumer satisfaction is an emotional response that arises when expectations toward a product or service are fulfilled; conversely, disappointment emerges when those expectations are not met. Amid the rapid growth of the café or coffee shop industry in Malang City, consumer satisfaction has become an increasingly important aspect to consider. However, many business operators have not yet systematically conducted surveys or evaluations of customer satisfaction regarding the services they provide. As a result, the potential for improving service quality remains underutilized. This study was conducted at Jazz Café, located in Jetak Ngasri, Mulyoagung, Dau District, Malang Regency, East Java. The objective of this research is to measure the level of customer satisfaction and to identify service elements that require improvement to enhance service quality. The study employs the Importance Performance Analysis (IPA) method. Data collection was carried out through the distribution of questionnaires containing 19 attributes to 50 respondents. The data processing stages included an analysis of respondent characteristics and IPA analysis, encompassing the measurement of conformity between performance and customer satisfaction, as well as the mapping of service attributes within a Cartesian diagram. The findings indicate that the overall customer satisfaction level is 89.30%, suggesting that the services have met customer expectations. The attribute with the highest satisfaction level is the ease of the payment process, 102.34%, while the lowest is the availability of supporting facilities, 54.78%. The quadrant analysis reveals that most attributes fall into Quadrants II, III, and IV, indicating that customers are generally satisfied with these attributes. However, there are five attributes located in Quadrant I that require greater attention: employee politeness in treating customers, the availability of supporting facilities, comfort and quantity of seating, product and service quality in relation to price, and the café’s interior design. These attributes are considered important by customers, yet their execution remains suboptimal.
Screening of Polysaccharide-Lytic Enzymes by Aspergillus Oryzae on Corncob (Zea mays) and Banana Peel (Musa acuminata Colla) Mufidah, Elya; Veliska, Audrya Nasywa; Mifzal, Adib Maula; Tantalu, Lorine
Reka Buana : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025): EDISI MARET 2025
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rekabuana.v10i1.6734

Abstract

Polysaccharide-lytic enzymes (PLEs)—xylanase, pectinase, amylase, β-glucosidase and endoglucanase—play key roles in the food, feed and bioenergy sectors by converting lignocellulosic waste into fermentable sugars. This study evaluated the ability of Aspergillus oryzae to produce these five PLEs on two abundant yet under-utilised agro-industrial residues: corn cobs (Zea mays) and banana peels (Musa acuminata balbisiana Colla). Submerged fermentation was performed using 1 % (w/v) substrate at 30 °C and 120 rpm. Enzyme activities were determined colorimetrically, and differences between substrates were analyzed using Mann–Whitney U test whereas the starch- and pectin-rich banana peels favour pectinase, amylase, glucosidase and endoglucanase, Spearman–Kendall correlation, and linear regression. The highest xylanase titre (12.8 ± 0.2 IU mL⁻¹) was achieved with corn cobs—about 1.5-fold higher than with banana peels (p 0.05). Conversely, banana peels significantly boosted pectinase (2.5 IU mL⁻¹), amylase (14.0 IU mL⁻¹), β-glucosidase (18.1 IU mL⁻¹) and endoglucanase (15.2 IU mL⁻¹) compared with corn cobs (p 0.05). Strong negative correlations (ρ ≈ −0.85 to −0.95) were observed between xylanase and the other enzymes, while the latter showed very strong positive intercorrelations (ρ ≈ 0.81–0.98). Linear regression confirmed that substrate type significantly affected enzyme yields (R² 0.90; p 0.001). These findings indicate that corn cobs are the most effective substrate for xylanase production, whereas banana peels better support pectinase, amylase, β-glucosidase, and endoglucanase synthesis. The results highlight the importance of selecting appropriate agro-waste substrates to maximise enzyme production and sustainably valorise agricultural residues 
Pembuatan Tempe Kacang Tunggak (Vigna Unguiculanta) Dengan Variasi Lama Fermentasi Menggunakan Inokulum Tempe Aliyah, Ni’matul; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 1 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i1.589

Abstract

Tempe merupakan produk bahan pangan fermentasi yang umumnya berbahan baku kedelai. Pemanfaatan kacang lokal dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah impor kedelai. Kacang Tunggak merupakan jenis kacang lokal yang masuk keluarga Leguminoceace yang selama ini hanya digunakan sebagai bahan pelengkap masakan nusantara. Kacang tunggak dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tempe untuk alternatif pengganti kedelai karena memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sumber protein nabati sehingga berpotensi menjadi pengganti kedelai dalam produksi tempe. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil tempe dari kombinasi jenis kacang tunggak putih dan merah dengan variasi lama fermentasi untuk mengetahui kualitas terbaik pada kadar air dan tingkat kesukaan konsumen terhadap tempe kacang tunggak. Penelitian ini menggunakan dua jenis kacang tunggak yaitu kacang tunggak putih dan kacang tunggak merah dengan variasi lama fermentasi 24 jam, 36 jam dan 48 jam. Inokulum tempe yang digunakan yaitu inokulum bubuk merk RAPRIMA dari LIPI. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 2 faktor dan diulang 3 kali maka diperoleh 18 sampel. Analisa data dilakukan dengan metode ANOVA (Analysis of varians) dan perlakuan terbaik (De Garmo atau indeks efektivitas). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik terdapat pada jenis kacang tunggak putih dengan lama fermentasi 36 jam dengan karakteristik kadar air 62% serta hasil uji kesukaan aroma 3,31 (netral), warna 3,48 (netral), tekstur 3,39 (netral) dan rasa 3,28 (netral). Berdasarkan analisis kelayakan finansial disimpulkan bahwa produksi tempe kacang tunggak layak untuk diusahakan. Total biaya yang digunakan dalam pertahun sebesar Rp. 85.697.954 dengan mark up yang diambil sebesar 10% sehingga harga jual untuk satu bungkus Rp. 27.000. BEP Unit dalam pembuatan tempe kacang tunggak sebesar 26.814 unit dan BEP harga sebesar Rp. 723.981.466/ pertahun. Nilai R/C (revenue cost ratio) sebesar 1,13 dan sudah melebihi 1 (1,13>1) sehingga dapat disimpulkan layak diusahakan.
Pembuatan Produk Fermentasi Kacang Uma (Vigna Sp.) Dengan Menggunakan Kapang Inokulum Tempe Dan Neurospora Sitophila Leonardo.S, Aldo; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 1 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i1.590

Abstract

Kacang Uma merupakan salah satu jenis kacang khas kalimantan barat yang tumbuh subur di daerah tropis. Kacang uma biasa ditanam oleh masyarakat kalimantan di uma dimana pertumbuhan dari kacang uma merambat. Pengolahan kacang uma, kacang uma biasanya dijadikan oleh masyarakat setempa sebagai sayur sehari hari, dimana kita tahu bahwa kacang dapat di lakukan pengolahan lebih lanjut menjadi produk seperti, tahu,tempe, kecap, tepung. Tempe merupakan makan tradisional yang sudah lama dikenal oleh masyarakat indonesia dan sering dikonsumsi sebagai cemilan berupa gorengan dan juga dimakan sama dengan Nasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan juli – agustus 2023 bertepatan di Laboratorium Rekayasa Proses dan Mikrobiologi Fakultas pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu jenis kapang (inokulum tempe dan Neurospora sitophila) dan lama waktu fermentasi ( 24 jam, 36 jam dan 48 jam), dengan masing-masing kombinasi perlakuan di lakukan 2 kali, sehingga diperoleh 18 unit sample dengan parameter pengamatan analisis kadar air, dan uji organoleptik dengangan mentode hedonik( kesukaan aroma, kesukaan rasa, kesukaan tekstur dan kesukaan warna). Hasil penelitian diperoleh tingkat kadar air 58,92% pada perlakuan K2L1( Kapang Neurospora sitophila dangan lama waktu fermentasi 24 jam) sebagai yang terbaik, sedangkan uji organoleptik dengan metode hedonik perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan K1L1( Inokulum Tempe dengan lama waktu fermenatsi 24 jam) yaitu( rasa (2,78( netral)), tekstur (3,22(suka)) warna (3,14(suka)) dan aroma(2,95(netral))). Untuk waktu tebaik dalam melakukan fermentasi adalah 36 jam. Dan R/C>1.