Claim Missing Document
Check
Articles

Pembuatan Tempe Kacang Tunggak (Vigna Unguiculanta) Dengan Variasi Lama Fermentasi Menggunakan Inokulum Tempe Aliyah, Ni’matul; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 1 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i1.589

Abstract

Tempe merupakan produk bahan pangan fermentasi yang umumnya berbahan baku kedelai. Pemanfaatan kacang lokal dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah impor kedelai. Kacang Tunggak merupakan jenis kacang lokal yang masuk keluarga Leguminoceace yang selama ini hanya digunakan sebagai bahan pelengkap masakan nusantara. Kacang tunggak dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tempe untuk alternatif pengganti kedelai karena memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sumber protein nabati sehingga berpotensi menjadi pengganti kedelai dalam produksi tempe. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil tempe dari kombinasi jenis kacang tunggak putih dan merah dengan variasi lama fermentasi untuk mengetahui kualitas terbaik pada kadar air dan tingkat kesukaan konsumen terhadap tempe kacang tunggak. Penelitian ini menggunakan dua jenis kacang tunggak yaitu kacang tunggak putih dan kacang tunggak merah dengan variasi lama fermentasi 24 jam, 36 jam dan 48 jam. Inokulum tempe yang digunakan yaitu inokulum bubuk merk RAPRIMA dari LIPI. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 2 faktor dan diulang 3 kali maka diperoleh 18 sampel. Analisa data dilakukan dengan metode ANOVA (Analysis of varians) dan perlakuan terbaik (De Garmo atau indeks efektivitas). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik terdapat pada jenis kacang tunggak putih dengan lama fermentasi 36 jam dengan karakteristik kadar air 62% serta hasil uji kesukaan aroma 3,31 (netral), warna 3,48 (netral), tekstur 3,39 (netral) dan rasa 3,28 (netral). Berdasarkan analisis kelayakan finansial disimpulkan bahwa produksi tempe kacang tunggak layak untuk diusahakan. Total biaya yang digunakan dalam pertahun sebesar Rp. 85.697.954 dengan mark up yang diambil sebesar 10% sehingga harga jual untuk satu bungkus Rp. 27.000. BEP Unit dalam pembuatan tempe kacang tunggak sebesar 26.814 unit dan BEP harga sebesar Rp. 723.981.466/ pertahun. Nilai R/C (revenue cost ratio) sebesar 1,13 dan sudah melebihi 1 (1,13>1) sehingga dapat disimpulkan layak diusahakan.
Pembuatan Produk Fermentasi Kacang Uma (Vigna Sp.) Dengan Menggunakan Kapang Inokulum Tempe Dan Neurospora Sitophila Leonardo.S, Aldo; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 1 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i1.590

Abstract

Kacang Uma merupakan salah satu jenis kacang khas kalimantan barat yang tumbuh subur di daerah tropis. Kacang uma biasa ditanam oleh masyarakat kalimantan di uma dimana pertumbuhan dari kacang uma merambat. Pengolahan kacang uma, kacang uma biasanya dijadikan oleh masyarakat setempa sebagai sayur sehari hari, dimana kita tahu bahwa kacang dapat di lakukan pengolahan lebih lanjut menjadi produk seperti, tahu,tempe, kecap, tepung. Tempe merupakan makan tradisional yang sudah lama dikenal oleh masyarakat indonesia dan sering dikonsumsi sebagai cemilan berupa gorengan dan juga dimakan sama dengan Nasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan juli – agustus 2023 bertepatan di Laboratorium Rekayasa Proses dan Mikrobiologi Fakultas pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu jenis kapang (inokulum tempe dan Neurospora sitophila) dan lama waktu fermentasi ( 24 jam, 36 jam dan 48 jam), dengan masing-masing kombinasi perlakuan di lakukan 2 kali, sehingga diperoleh 18 unit sample dengan parameter pengamatan analisis kadar air, dan uji organoleptik dengangan mentode hedonik( kesukaan aroma, kesukaan rasa, kesukaan tekstur dan kesukaan warna). Hasil penelitian diperoleh tingkat kadar air 58,92% pada perlakuan K2L1( Kapang Neurospora sitophila dangan lama waktu fermentasi 24 jam) sebagai yang terbaik, sedangkan uji organoleptik dengan metode hedonik perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan K1L1( Inokulum Tempe dengan lama waktu fermenatsi 24 jam) yaitu( rasa (2,78( netral)), tekstur (3,22(suka)) warna (3,14(suka)) dan aroma(2,95(netral))). Untuk waktu tebaik dalam melakukan fermentasi adalah 36 jam. Dan R/C>1.
Karakteristik Fisikokimia Biochar Ampas Kopi dengan Perbedaan Perlakuan Suhu dan Waktu Pirolisis Mohamad Mukhlis Sutiyoso; Razhika Faradila; Tantalu Lorine
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol. 10 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Gedung GA, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Jl. Raya Bukit Jimbaran, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali Telp/Fax: (0361) 701801

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2025.v10.i02.p07

Abstract

Indonesia's ever-increasing energy demand is driving the search for environmentally friendly and sustainable alternative energy sources. One potential renewable energy source is biomass, including abundant but underutilized coffee grounds. This study aimed to examine the effect of varying pyrolysis temperature and time on the physicochemical characteristics of biochar produced from coffee grounds. The pyrolysis process was carried out at varying temperatures of 500°C, 600°C, and 700°C with retention times of 30 minutes, 90 minutes, and 150 minutes. Biochar analysis included moisture content, ash content, volatile matter content, fixed carbon content, pore size, and pH. The results showed that increasing pyrolysis temperature and time significantly affected the physical and chemical properties of biochar. Higher temperatures produced biochar with higher fixed carbon content and calorific value, but decreased yield and increased ash content. Longer pyrolysis times also contributed to increased carbon stability, although they also decreased volatile matter content. Optimum conditions were achieved at a temperature of 500°C for 90 minutes, producing biochar with the best characteristics as an alternative fuel, low moisture content, low ash content, and a pore size of 20 µm,pH 7,63 This research confirms the high potential of coffee grounds to be processed into high-quality biochar through proper control of pyrolysis parameters. These findings can support sustainable coffee waste management strategies while providing environmentally friendly alternative energy Abstrak Beberapa kondisi menjadi perhatian atas permintaan energi yang terus meningkat sehingga sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan mengalami permintaan yang meningkat. Salah satu sumber energi terbarukan potensial adalah biomassa, termasuk ampas kopi yang melimpah namun belum dimanfaatkan optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh variasi suhu dan waktu pirolisis terhadap karakteristik fisikokimia biochar ampas kopi. Proses pirolisis dilakukan pada suhu 500 °C, 600 °C, dan 700 °C dengan waktu tinggal 30, 90, dan 150 menit. Analisis biochar meliputi kadar air, kadar abu, zat terbang, karbon tetap, nilai kalor, pH, serta morfologi pori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan waktu pirolisis secara signifikan memengaruhi sifat biochar. Suhu tinggi menghasilkan biochar dengan kadar air dan zat terbang rendah, pH alkalis, serta struktur pori yang lebih berkembang, meskipun diikuti dengan peningkatan kadar abu. Kondisi optimum diperoleh pada suhu 700 °C selama 150 menit dengan karakteristik unggul:  kadar air 1,48%, kadar abu 23.50%, karbon tetap 51.26%, dan pH 11.30. Temuan ini mengonfirmasi potensi ampas kopi sebagai bahan baku biochar berkualitas tinggi yang mendukung strategi pengelolaan limbah berkelanjutan sekaligus menyediakan sumber energi alternatif ramah lingkungan.
Pendampingan Pengelolaan Sampah Di Bank Sampah Eltari, Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang Ahmadi Kgs; Lorine Tantalu; Nonok Supartini; Edyson Indawan; Imroatus Sholiqah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 2 (2021): November
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpm.v6i2.5669

Abstract

The Eltari Waste Bank is one of the Malang Waste Banks under the guidance of the Malang City Environment Service. Located at Jalan Palmerah RT 02 RW 06, Cemorokandang, Kedungkandang District, Malang City, it provides a place for the process of collecting waste that has been sorted based on conditions and types of waste, both organic and non-organic. Not all residents have understood the importance of sorting waste by type, coupled with the not yet optimal use of non-organic or plastic waste to become goods needed by the community. Through the waste management assistance process by the service team in the form of the introduction of efforts to recycle plastic packaging waste into mats and bags, it is able to increase the productivity of the Eltari Waste Bank. The introduction activity succeeded in attracting the interest of residents around the Waste Bank because in addition to being able to increase the livelihoods of local residents, it can also increase family income up to 25%.
Optimalisasi Penggunaan Hyperlocal Marketplace Sebagai Strategi Perluasan Pasar Produk Gula Merah Tebu Ukaisya Wildan Eka Prastya; Wirawan; Lorine Tantalu; Muhammad Alfian Mizar; Sumarno; Nonok Supartini
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v8i1.2636

Abstract

Ukaisya is a brand of brown sugar produced by PT. Tiga Dewi Timur Raya in Kediri, has a production capacity of up to four tons per day to meet local and inter-provincial market demand. This study aims to optimize the digital marketing strategy of Ukaisya brown sugar through the development of a hyperlocal marketplace model integrated with social media and chat commerce systems. Digitalization is carried out by utilizing Linktree as a hub for integrating digital channels that connect Shopee, Blibli, and WhatsApp Business accounts. The research approach uses an implementative case study with direct observation of Ukaisya's digital channels, performance analysis through Linktree Insights and Shopee Analytics, and a descriptive-thematic review of customer interaction data. The results show that digital channel integration significantly increased visibility and customer engagement, with 106 views, 27 clicks, and a click rate of 25.5%, along with actual conversions through chat commerce. This improvement indicates the strengthening of brand awareness and trust-building among local consumers through community-based communication. These findings affirm the effectiveness of the hyperlocal marketplace strategy in expanding the market reach the agroindustry based on local wisdom and strengthen previous research indicating that the integration of multiplatform digital channels accelerates the digital transformation of SMEs in Indonesia. Abstrak Ukaisya merupakan merek gula merah tebu produksi PT. Tiga Dewi Timur Raya Kediri dengan kapasitas produksi mencapai empat ton per hari untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal hingga antar provinsi. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan strategi digitalisasi pemasaran produk gula merah tebu merek Ukaisya melalui pengembangan model hyperlocal marketplace yang terintegrasi dengan media sosial dan sistem chat commerce. Digitalisasi dilakukan melalui pemanfaatan Linktree sebagai pusat integrasi kanal digital yang menghubungkan akun Shopee, Blibli, dan WhatsApp Business. Pendekatan penelitian menggunakan studi kasus implementatif dengan observasi langsung terhadap kanal digital Ukaisya, analisis performa Linktree Insights dan Shopee Analytics, serta telaah deskriptif-tematik atas data interaksi pelanggan. Hasil menunjukkan bahwa integrasi kanal digital meningkatkan visibilitas dan keterlibatan konsumen secara signifikan dengan capaian 106 tampilan, 27 klik, dan click rate sebesar 25,5%, disertai konversi aktual melalui chat commerce. Peningkatan ini menandakan penguatan tahap brand awareness dan trust building konsumen lokal melalui komunikasi berbasis komunitas. Temuan ini menegaskan efektivitas strategi hyperlocal marketplace dalam memperluas jangkauan pasar agroindustri berbasis kearifan lokal, serta memperkuat hasil penelitian sebelumnya bahwa integrasi kanal digital multiplatform mempercepat transformasi digital UMKM di Indonesia.
Optimalisasi Penggunaan Hyperlocal Marketplace Sebagai Strategi Perluasan Pasar Produk Gula Merah Tebu Ukaisya Wildan Eka Prastya; Wirawan; Lorine Tantalu; Muhammad Alfian Mizar; Sumarno; Nonok Supartini
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v8i1.2636

Abstract

Ukaisya is a brand of brown sugar produced by PT. Tiga Dewi Timur Raya in Kediri, has a production capacity of up to four tons per day to meet local and inter-provincial market demand. This study aims to optimize the digital marketing strategy of Ukaisya brown sugar through the development of a hyperlocal marketplace model integrated with social media and chat commerce systems. Digitalization is carried out by utilizing Linktree as a hub for integrating digital channels that connect Shopee, Blibli, and WhatsApp Business accounts. The research approach uses an implementative case study with direct observation of Ukaisya's digital channels, performance analysis through Linktree Insights and Shopee Analytics, and a descriptive-thematic review of customer interaction data. The results show that digital channel integration significantly increased visibility and customer engagement, with 106 views, 27 clicks, and a click rate of 25.5%, along with actual conversions through chat commerce. This improvement indicates the strengthening of brand awareness and trust-building among local consumers through community-based communication. These findings affirm the effectiveness of the hyperlocal marketplace strategy in expanding the market reach the agroindustry based on local wisdom and strengthen previous research indicating that the integration of multiplatform digital channels accelerates the digital transformation of SMEs in Indonesia. Abstrak Ukaisya merupakan merek gula merah tebu produksi PT. Tiga Dewi Timur Raya Kediri dengan kapasitas produksi mencapai empat ton per hari untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal hingga antar provinsi. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan strategi digitalisasi pemasaran produk gula merah tebu merek Ukaisya melalui pengembangan model hyperlocal marketplace yang terintegrasi dengan media sosial dan sistem chat commerce. Digitalisasi dilakukan melalui pemanfaatan Linktree sebagai pusat integrasi kanal digital yang menghubungkan akun Shopee, Blibli, dan WhatsApp Business. Pendekatan penelitian menggunakan studi kasus implementatif dengan observasi langsung terhadap kanal digital Ukaisya, analisis performa Linktree Insights dan Shopee Analytics, serta telaah deskriptif-tematik atas data interaksi pelanggan. Hasil menunjukkan bahwa integrasi kanal digital meningkatkan visibilitas dan keterlibatan konsumen secara signifikan dengan capaian 106 tampilan, 27 klik, dan click rate sebesar 25,5%, disertai konversi aktual melalui chat commerce. Peningkatan ini menandakan penguatan tahap brand awareness dan trust building konsumen lokal melalui komunikasi berbasis komunitas. Temuan ini menegaskan efektivitas strategi hyperlocal marketplace dalam memperluas jangkauan pasar agroindustri berbasis kearifan lokal, serta memperkuat hasil penelitian sebelumnya bahwa integrasi kanal digital multiplatform mempercepat transformasi digital UMKM di Indonesia.