Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Oaths in The Short Chapters of Al-Mufaṣṣal from the Qur'an (Analytical Study based on the Tafsir Mafatih Al-Ghaib): القسم في قصار المفصل من القرآن (دراسة تحليلية من تفسير مفاتيح الغيب) Salsabila, Dafina; Sulthoni, Akhmad; Saputra, Akhmadiyah; Balqis, Madiha Syarifah
ZAD Al-Mufassirin Vol. 7 No. 2 (2025): Zad Al-Mufassirin December 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) ZAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55759/zam.v7i2.311

Abstract

This study aims to explore the meanings contained in the oath verses within those found in the surahs from Adh-Dhuha to An-Nas (qiṣar al-mufaṣṣal). The research adopts a qualitative approach using the method of library research. The analytical method employed in this study is the thematic method focusing on a particular scholar. Based on the discussion, it is evident that al-Rāzī possesses a distinctive methodology in interpreting verses, including the oath verses. His methodology is characterized by a systematic approach in initiating interpretation, explaining the differences in Qirā'at (variant readings of the Qur'an), citing interpretations from various classical scholars, and utilizing imaginary dialogue. This finding highlights al-Rāzī's distinctive approach in elucidating moral values embedded within religious teachings through the interpretive analysis of oath-related verses. The oath verse in Surah Adh-Dhuha teaches that worldly life is never free from changes and trials. In Surah At-Tin, it emphasizes the sanctity of sacred places and the honor of the prophets associated with the oath. The oath verse in Surah Al-‘Adiyat highlights that Allah swears by the horses of the warriors due to their significant benefits in both worldly and religious affairs. This also serves as an indication that horses should be used not for pride and luxury but for the purpose of jihad.
Studi Penciptaan Manusia dari Tanah dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir An-Nur Apriliani, Putri; Sulthoni, Akhmad; Astuti, Indri
Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 2 (2026): Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Isy Karima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/bunyanalulum.v2i2.412

Abstract

Manusia merupakan salah satu ciptaan Allah yang memiliki tujuan paling jelas sebagai khalifah fil ‘ardh yang Allah pilih langsung sekaligus sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan Allah. Penelitian ini mengkaji tentang penciptaan manusia dari tanah dalam Al-Qur’an perspektif Tafsir An-Nur. Penelitian ini merujuk pada penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam yang disebutkan dalam Al-Qur’an, sebagai makhluk yang Allah ciptakan pertama kali menggunakan unsur tanah. Pemilihan penelitian ini mencakup beberapa tujuan dan hikmah penting terkait hakikat manusia dan hubungannya dengan alam. Tafsir An-Nur merupakan salah satu tafsir kontemporer yang monumental di abad ini, bahasa yang efektif dan mudah di pahami bagi seluruh kalangan masyarakat, sekaligus relevan untuk penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tafsir ayat-ayat penciptaan manusia dari tanah dan hikmah dari penafsiran tersebut bagi umat islam saat ini dengan menggunakan metode library research atau penelitian kepustakaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah dengan bahan baku tanah. Manusia yang diciptakan setelahnya berasal dari nuthfah dan sel telur yang keduanya memiliki asal muasal dari tanah sebagai pengingat dan hikmah bagi umat islam saat ini. Agar manusia selalu mengingat keagungan dan kemuliaan Allah dengan melihat diri mereka sendiri, memahami tujuan manusia diciptakan serta mengingat ajal dan kematian mereka, bahwa sejatinya mereka berasal dari tanah dan nantinya akan kembali ke tanah (meninggal). Sehingga, perlu merenungi keajaiban yang Allah perlihatkan dengan memahami kondisi manusia itu sendiri serta mempersiapkan diri menghadapi yaumul akhir sehingga akan bertambah iman seseorang. Semua hal diatas dilakukan sebagai bentuk kesadaran dan kepasrahan diri bahwa Allah adalah sebaik-baik pencipta dan Maha Kuasa atas segala sesuatu yang terjadi di dalamnya.